Rise Again As A Rich Man

Rise Again As A Rich Man
Rise 19 - Rencana lain



"Sebentar lagi anda akan bertemu dengan kakek dan nenek," gumam pria itu sambil terus melangkah masuk ke dalam rumah.


"Jemmy?" Tasya membuat perhatiannya beralih. Ia menoleh ke arah datangnya suara dan mendapati wanita itu berdiri di sana.


"Nyonya." Jemmy tersenyum ke arahnya. Pria itu berbisik di telinga George.


"Yang ini adalah nenek anda," katanya. Tapi tak ada respon dari George karena anak itu sama sekali tak paham dengan kalimatnya.


"Kau darimana? Dan anak siapa ini?" Tasya menghampirinya. Berdiri di depan Jemmy yang masih menggendong George.


"Oh, ini? Bukankah beliau lucu, nyonya?" Alih-alih menjawab, Jemmy malah mengalihkan pembicaraan. Meminta pendapat dari Tasya mengenai George.


Tasya menatap George. Ia terdiam sambil memperhatikannya cukup lama.


Tak lama, wanita itu tersenyum sambil menggerakkan tangannya menyentuh George.


"Dia sangat lucu, dan menggemaskan. Dari mana kau menemukan anak ini?"


"Itu—"


"Jemmy!"


Ucapan Jemmy terpotong saat Gerson tiba di sana. Pria itu langsung menghampirinya dan Tasya yang kini sibuk menyentuh pipi George.


"Sayang, lihat ini! Jemmy menemukan anak yang sangat menggemaskan," katanya sambil menoleh pada Gerson yang baru saja datang.


"Apa ini? Aku memintamu mengerjakan tugas yang kuberikan, tapi kenapa kau malah datang membawa anak tidak jelas seperti ini?"


"Itu… sebenarnya ini. Saya sudah…" Jemmy gelagapan dibuatnya.


"Apakah kau tidak bisa menyelesaikan tugasmu dengan benar?!"


"Saya sudah menemukan beliau, tuan!" katanya pada akhirnya.


"Apa?"


"Saya sudah menemukan tuan muda."


"Benarkah?" Tasya menyambar begitu mendengar ucapannya barusan. "Dimana? Sekarang dia dimana?"


"Tuan muda sekarang, di…"


"Kami di sini!" jawab Gerald yang membuat perhatian seketika tertuju ke arahnya.


Gerald berdiri di belakang Jemmy dengan Donna di sampingnya. Pria itu menggenggam tangan istrinya erat.


"Gerald!" Tasya berlari cepat menghampiri putranya dan memeluk anak satu-satunya itu. Tangisnya pecah dan dari setiap kalimatnya, Donna serta Gerald bisa menyimpulkan bahwa Tasya sungguh merindukannya.


"Mama senang akhirnya kau kembali," katanya yang kemudian melerai pelukannya.


"Untuk apa dia di sini?" Gerson menghampiri mereka. Ia melirik pada Donna—wanita yang sejak awal berhubungan dengan putranya tapi tak pernah dia berikan restu.


Donna seketika menunduk mendengar ucapan ayah mertuanya.


"Tentu saja Donna harus di sini. Karena mulai sekarang dimana pun aku berada, dia akan selalu ada di sampingku." Gerald kembali menggenggam tangan istrinya.


Gerson dan Tasya mengerutkan kening—bingung dengan ucapan putranya. Tapi semua perkataannya jelas begitu melihat cincin yang melingkar di jari manis mereka.


"Kami sudah menikah," katanya memperjelas.


"Apa?!" Gerson dan Tasya tak bisa menyembunyikan keterkejutannya.


"Dan bukan hanya itu. Kami sudah memiliki seorang putra." Gerald beralih menatap George yang kini berada di gendongan Jemmy.


Ekspresi Gerson dan Tasya semakin terlihat jelas bahwa mereka syok berat dengan apa yang mereka dengar.



...*...


2002


Gerson termangu. Rentetan ingatannya mendadak bermunculan ke permukaan, membuatnya kembali bernostalgia dengan kejadian tak terduga yang terjadi enam tahun lalu. Kejadian yang membuat situasinya berubah seperti sekarang.


Setelah aku pikir-pikir, sebenarnya aku tidak terlalu suka dengan George bukan hanya karena dia anak yang nakal. Tapi karena dia adalah anak yang lahir ketika aku masih menentang hubungan Gerald dengan Donna. Selain itu, setiap kali aku melihatnya, aku selalu teringat akan kejadian enam tahun lalu.


...*...


"Aku sudah menemukan jawaban atas alasan kenapa kakek membenci George. Walaupun aku tidak yakin kalau alasan yang kakek berikan adalah alasan yang sebenarnya."


"Untuk sekarang aku akan mengesampingkan hal itu dan biarkan kebenaran itu berjalan sesuai dengan yang seharusnya."


"Suatu saat, mungkin saja kebenaran itu akan terungkap. Yang jelas, sekarang aku harus fokus pada kedua orangtuaku dulu."


Isaac terdiam. Saat ini dirinya ada di dalam kamarnya. Setelah menunggu cukup lama di ruang Gerson, Isaac yang mulai bosan memutuskan untuk pergi ke kamarnya untuk menyusun rencana lain.


Isaac beralih fokus pada kalender yang ada di dinding. Ia beranjak menghampiri benda itu sambil menatapnya.


"Dari tanggal dan bulan saat ini, hanya tersisa sekitar satu bulan menuju momen itu."


"Momen ketika pada akhirnya, papa dan mama mengalami bangkrut hingga mengharuskan kami pindah ke Isotown City dan mengalami kesulitan hidup di sana."


"Aku tidak ingin hal itu terjadi lagi, dan untuk itu, maka aku harus membantu papa dan mama agar tidak bangkrut. Aku harus memastikan mereka tetap di ibukota, dan mempertahankan bisnisnya."


"Tapi, sebelum aku membantu mereka. Aku harus tahu apa penyebab utama papa mengalami kebangkrutan."


"Karena saat itu aku masih sangat kecil, aku jadi tidak tahu dan tidak terlalu ingin tahu juga dengan apa yang terjadi pada papa dan mama. Bahkan saat aku beranjak dewasa, aku juga tidak pernah berpikiran untuk mencaritahu alasan kenapa papa dulu bisa mengalami kebangkrutan."


"Tapi sekarang, aku akan mengubah itu. Aku akan menyelidikinya."


"Mungkin memang tubuh ini kecil, tapi di dalam diriku, ada aku dewasa."


"Sekarang… darimana aku harus memulai?" Isaac terdiam. Pikirannya mulai dipenuhi oleh berbagai pertanyaan.


Ia harus bergerak cepat guna menyelamatkan kedua orangtuanya, Lucas dan Trixie Hamilton.


"Jika aku ingin membantu kedua orangtuaku, maka aku harus bisa memiliki koneksi dengan keluarga mereka dan masuk di antara mereka. Tapi dengan kondisiku yang ada dalam tubuh Isaac, sepertinya akan sulit. Karena keluarga Hamilton tidak memiliki hubungan dengan keluarga Constantine."


"Aku harus mencari celah."


Isaac kembali terdiam. Otaknya terus berputar mencari cara agar dirinya bisa memiliki koneksi dengan keluarganya di kehidupan sebelumnya.


"Sebentar. Sepertinya, aku bisa menemukan celah agar bisa memiliki hubungan dengan keluarga Hamilton."


"Dengan kondisiku sekarang yang menyandang nama Constantine, sepertinya akan mudah untuk mendapatkan koneksi."


"Untuk sekarang, aku harus memanfaatkan kakek. Karena kakek sepertinya akan menjadi jembatan satu-satunya yang menghubungkan ku dengan keluarga lamaku."


"Pertama-tama, aku harus pastikan aku tetap berada di sisi kakek dan tak terpisahkan. Selanjutnya, aku akan mencari celah lain. Ketika kakek lengah, aku akan menggunakan nama kakek agar bisa dengan mudah terhubung dengan keluarga Hamilton."


"Yeah! Aku yakin rencana yang aku buat ini akan berhasil."


Isaac mengepalkan tangan, meyakinkan dirinya kalau rencana yang disusunnya akan berhasil membuatnya terhubung dengan keluarga Hamilton.


"Baiklah, sekarang lebih baik aku kembali menemui kakek dan menemaninya. Aku akan terus mendekatinya sampai kakek sampai aku bisa memastikan saat-saat kakek lengah. Dengan begitu, rencana yang aku buat akan berjalan lancar sesuai yang aku inginkan."


Isaac beranjak dari kamarnya. Ia hendak kembali ke ruangan Gerson.


...***...