Rise Again As A Rich Man

Rise Again As A Rich Man
Rise 11 - Papa



"Tapi karena aku sangat bahagia, aku jadi tidak bisa merahasiakannya darimu. Jadi tolong kau jangan katakan pada mama dan papa kalau aku bicara hal ini padamu, ya? Jadikan ini sebagai rahasia kita."


"Kau bersenang-senang?"


"Ya, tentu saja. Aku sangat bersenang-senang." Isaac tersenyum simpul.


"Jadi kalian bersenang-senang tanpa aku?" Wajah George tampak memerah, anak laki-laki itu sepertinya sedang berusaha menahan emosi yang mendadak memuncak dalam dirinya.


Cemburu? Tentu saja. Kau harus lakukan itu agar aku bisa melihat bagaimana perlakukan mu pada tubuh ini. Dengan begitu, aku bisa tahu tindakanmu. Aku juga akan lebih mudah memprediksi apa yang akan dilakukan mu kedepannya saat kau sedang dalam keadaan cemburu. Isaac mengeluarkan smirk-nya.


"Tentu saja. Bahkan mama dan papa bilang untuk pergi bersama lagi, tanpa kau."


"Apa?!"


"Papa bilang juga kalau dia lebih suka—"


Brukk!


Tanpa aba-aba lebih dulu, George mendorong tubuhnya. Membantingnya hingga tersungkur di lantai.


Isaac meringis menahan sakit begitu tubuhnya menyentuh lantai dengan sangat kasar.


"Arghh…"


"Berani sekali kau bersenang-senang dengan papa dan mama tanpa mengajakku!" teriaknya dengan wajah merah padam. Anak itu tampak sangat murka hanya karena hal kecil seperti ini.


"K-kau kenapa, George? Kenapa kau marah?"


"Kau tanya kenapa? Asal kau tahu saja, kalau kau tidak ada. Maka aku yang akan terus menghabiskan waktu dengan mama dan papa. Kami akan terus bersenang-senang bersama. Tapi semenjak kau ada, mama dan papa jadi lebih sayang padamu! Aku benci kau!" George tiba-tiba saja melompat ke atas tubuh Isaac, memukulnya bertubi-tubi hingga membuat Isaac kesakitan.


Sial. Anak macam apa dia? Kenapa tenaganya bisa sebesar ini? Padahal dia baru berusia enam tahun, tapi kenapa tenaganya hampir mengimbangi anak remaja? Isaac tak percaya dengan apa yang terjadi. Sungguh diluar dari perkiraan kalau tenaga George akan sebesar ini ketika menyerangnya.


"Aku benci kau! Seharusnya kau tidak pernah ada." Anak itu terus menyerangnya secara brutal. Isaac hanya bisa berteriak meminta ampun sambil melindungi wajahnya dengan kedua tangan.


Untuk sekarang tidak ada cara lain. Tubuh ini terlalu lemah, kalau aku melakukan serangan balik juga percuma karena hasilnya dia akan tetap menang.


Aku akan membiarkannya melukaiku, dengan begitu aku bisa melihat apa yang selanjutnya terjadi kalau dia ketahuan sudah melukaiku.


Aku ingin tahu reaksi dari papa dan mamanya.



...*...


"Aku yakin dengan kita terus membawa Isaac ke tempat-tempat yang dulu biasa kita kunjungi bersama, ingatannya akan lebih cepat pulih."


"Ya, kau benar sayang. Aku harap juga Isaac cepat ingat akan kita," tutur Donna sambil tersenyum. Wanita itu lantas meraih cangkir dihadapannya dan menyeruput teh hangatnya pelan.


Perhatian keduanya tiba-tiba saja beralih ketika secara mendadak salah satu maid datang menghampirinya dengan tergesa-gesa.


"Maaf tuan, nyonya. Ada yang harus saya sampaikan," tuturnya dengan kepala tertunduk.


"Apa yang ingin kau sampaikan?"


"Di depan, ada tuan Gerson."


"Apa?!" Gerald dan Donna refleks bangkit dari tempat duduk mereka.


"Argh, aku benci kalau papa sudah datang tanpa memberitahu lebih dulu," gerutu Gerald.


"Bagaimana ini sayang? Bagaimana kalau papa bertemu dengan Isaac? Kondisi Isaac saat ini sedang kurang baik 'kan? Kita bisa kena marah."


"Ah, kau benar. Kalau papa tahu, dia akan marah besar pada kita. Terlebih, George juga bisa kena hukuman."


"Itu dia. Sekarang apa yang harus kita lakukan?"


"Kita coba cegah papa agar tidak menemui Isaac."


"Tapi, bagaimana caranya?"


"Kita pikirkan itu nanti, yang terpenting sekarang kita pergi dulu dan menyambutnya."


"Baiklah, ayo."


...*...


Gerson Demi Constantine, atau yang lebih sering di kenal dengan Gerson Constantine. Pria paruh baya itu melangkah keluar dari mobil yang ditumpanginya setelah orang kepercayaan yang menjadi tangan kanannya itu membukakan pintu untuknya.


Gerson berdiri di depan rumah. Kepalanya mendongak menatap bangunan besar yang tak lain merupakan rumah putranya yang telah berkeluarga.


Perhatian pria itu seketika tertuju ke arah pintu masuk di mana Gerald dan Donna melangkah keluar dari rumah.


Mereka langsung menghampiri dirinya yang sejak tadi berdiam diri di sana.


"Papa kenapa datang tanpa menghubungi lebih dulu? Kalau papa memberitahu dulu, kami 'kan jadi bisa mempersiapkan segala makanan yang papa inginkan," tukas Gerald sambil berdalih, padahal ia memang pada dasarnya tidak suka kalau ayahnya sudah tiba-tiba datang tanpa memberi kabar. Itu selalu membuatnya sport jantung.


"Kenapa kau ketus sekali? Apakah kau tidak suka kalau papamu sendiri datang ke sini?! Kau sudah jadi anak durhaka, ya!" Wajah garang pria itu makin tampak jelas ketika ia marah seperti sekarang.


"Bukannya aku tidak suka. Tapi aku paling benci kalau papa datang tanpa memberitahu lebih dulu!"


"Memangnya kenapa kalau papa datang tanpa memberitahumu lebih dulu? Apakah papa harus minta izin lebih dulu hanya untuk berkunjung ke rumah putranya sendiri? Apa papa juga harus meminta izinmu hanya untuk menemui cucu kakek?!"


"Bukan begitu maksudku!"


Donna terdiam tanpa kata. Menyimak perdebatan antara ayah dan anak yang sama-sama keras kepala itu.


Perasaanku sedikit tertekan, batin Donna. Atmosfer pertengkaran antara suami dan ayah mertuanya itu benar-benar terasa tegang.


"T-tolong berhenti! Jangan bertengkar seperti ini, para tetangga akan mengira ada masalah besar yang terjadi di keluarga kita." Donna berusaha menengahi keduanya.


"Baik-baik, lain kali papa akan menghubungi kalian kalau papa akan berkunjung. Puas?!" tukas Gerson ngambek. Pria itu melipat kedua tangannya di depan dada dengan wajah memerah.


"Seharusnya papa lakukan itu sejak awal!" gerutu Gerald dengan wajah kesal.


Ayah dan anak sama saja. Sama-sama keras kepala, batin Donna.


"Sekarang ayo masuk, papa ingin segera bertemu dengan cucu papa." Pria itu melenggang lebih dulu masuk ke dalam rumah Gerald, bersikap seolah itu rumahnya.


"Aku baru saja bicara, tapi papa sudah langsung mengabaikannya." Gerald kembali menggerutu dengan wajah kesal. Pria yang jadi papanya itu memang sering kali tidak mau mendengarkan ucapannya.


"Sudahlah sayang. Sekarang kita masuk, kita harus mencegah papa bertemu dengan Isaac terlalu lama." Donna berusaha mengingatkan kembali tujuan awal mereka menemui Gerson di depan rumah mereka.


...***...