
"Tidak. Pokoknya aku tidak mengizinkan papa untuk membawa Isaac," ujar Donna kekeuh dengan keputusannya.
Perdebatan antara Donna dan Gerson tak berakhir begitu saja. Apalagi setelah Gerald tiba. Pria itu malah semakin memperkeruh suasana dengan ikut-ikutan berdebat menentang keputusan ayahnya.
Isaac terdiam seribu bahasa. Mendengar perdebatan mereka benar-benar membuat telinganya penuh. Kepalanya jadi pusing kalau terlalu lama mendengarkan mereka berdebat.
Apa yang bisa aku lakukan guna menghentikan perdebatan mereka? Aku harus melakukan sesuatu agar mereka tidak terus berdebat seperti ini.
Telingaku benar-benar penuh karena mereka terus saja berdebat.
Isaac memijat pelipisnya pelan. Sementara itu, otaknya kini berputar. Mencari cara supaya ketiga orang dewasa itu berhenti berdebat.
Sebentar. Kedua papa dan mama Isaac tidak ingin aku pergi, sedangkan kakeknya ingin aku ikut dengannya.
Keduanya memiliki keinginan yang saling bertolak belakang, dan sepertinya itu bisa aku manfaatkan untuk membuat si brengsek George semakin tidak disukai oleh ayah dan ibunya.
Isaac mengeluarkan smirk-nya. Ia mendapatkan ide cemerlang untuk situasi ini, dan dia yakin ini akan sangat menguntungkan bagi dirinya.
"Aku akan ikut!" potongnya sambil sedikit berteriak. Hal itu spontan membuat keadaan seketika hening.
Gerson, Gerald dan Donna. Serentak menoleh ke arahnya.
"A-apa?" Gerald terbata. Sementara Gerson tersenyum mendengar ucapannya barusan.
Donna berjongkok dihadapannya.
"Apa maksudmu, sayang?" tanyanya.
"Aku akan ikut dengan kakek."
"Huh? Kau akan ikut dengan—"
"Kalian lihat? Isaac saja bahkan tidak menolak untuk ikut denganku!" Gerson tersenyum penuh kemenangan, membuat Gerald dan Donna berubah cemas.
Gerald menghampiri putranya, ikut berjongkok di samping Donna.
"Apakah kau sungguh-sungguh dengan ucapanmu barusan, sayang?" Gerald meragukan keputusannya.
"Ya. Aku ingin ikut dengan kakek."
"Tapi kenapa?"
"Di rumah, George terus menggangguku. Dan sepertinya dia juga tidak ingin aku tinggal di sini." Isaac memasang wajah semurung mungkin agar rencananya berhasil.
"Apa yang kau katakan sayang? Tidak mungkin George seperti itu. Dia tidak mungkin ingin kau pergi dari rumah ini. Kau itu adalah adiknya." Donna menggenggam kedua tangan mungil putranya.
"Tapi tadi dia bilang kalau dia akan lebih bahagia kalau tidak ada aku. Jadi lebih baik aku pergi saja dan tinggal bersama kakek. Aku akan ikut dengan kakek!" Ia menekan kalimatnya. Berusaha mengiyakan pada Donna dan Gerald kalau ucapannya itu sungguh-sungguh.
"George pasti tidak bersungguh-sungguh mengatakan itu."
"Pokoknya aku akan tinggal bersama kakek!"
"Isaac, keadaanmu itu sedang tidak baik-baik saja. Ingatanmu masih hilang 'kan? Kalau kau pergi jauh-jauh dari papa dan mama, kami takut kalau nantinya terjadi sesuatu yang tidak diinginkan padamu."
"Aku akan baik-baik saja. Lagipula, walaupun aku tidak ingat apa-apa. Tapi aku bisa merasakan kalau kakek sayang padaku, dan dia akan melindungi ku apapun yang terjadi. Jadi aku ingin tinggal bersamanya saja. Selain itu… aku juga ingin memberikan ruang pada George agar dia merasa lebih baik."
"Kau… ingin memberikan ruang pada George?" ulang Donna, tak percaya dengan apa yang di dengarnya.
Isaac mengangguk pelan.
"Aku ingin membiarkannya sendiri, dan aku ingin memberikan kesempatan padanya agar dia bisa lebih dekat dengan papa dan mama. Dengan begitu, dia tidak akan membenciku lagi."
...*...
Mobil yang mereka tumpangi itu berhenti tepat di depan sebuah bangunan besar yang lebih mewah daripada kediaman rumahnya.
Bahkan halaman rumah itu terlihat lebih besar dengan adanya taman dan air mancur indah di bagian depannya.
Gerson melangkah keluar dari mobil lalu membukakan pintu untuk cucunya.
"Kita sampai." Pria itu tersenyum simpul.
Rumahnya megah sekali. Tidak aku sangka rumahnya ternyata akan sebesar ini, batin Isaac.
Matanya terus mengedar ke sekeliling.
Setelah melewati beberapa perdebatan dan negosiasi dengan Donna serta Gerald, akhirnya mereka mau mengizinkannya untuk pergi selama beberapa waktu di rumah kakeknya—Gerson. Tapi setelah keadaan lebih baik, ia di minta untuk pulang kembali.
Isaac menyetujui setiap permintaan mereka asalkan kedua orangtuanya itu memberikan izin untuknya tinggal di rumah Gerson.
"Ayo masuk. Sebentar lagi waktunya makan malam, dan kakek harus mengganti pakaian kakek dulu."
"Baiklah."
Isaac baru saja melenggang dua langkah, tapi dengan cepat Gerson menarik tubuhnya dan menggendongnya masuk ke dalam rumah.
...*...
Ini adalah kesempatan emas yang tidak boleh aku sia-siakan.
Lagipula kapan lagi 'kan, aku bisa masuk ke dalam rumah seorang Presdir Demi Corp?
Aku yakin, dengan aku berada di rumah ini. Aku akan bisa menemukan rahasia yang selama ini tak aku ketahui.
Tidak salah aku memilih untuk datang kemari.
Isaac terus memperhatikan setiap detail arsitektur bagian dalam rumah Gerson. Mereka terus melangkah hingga akhirnya tiba di rumah keluarga.
Begitu masuk, seorang wanita paruh baya menghampiri mereka.
"Sayang kau sudah pulang—oh, kau membawa Isaac kemari?" Wanita itu berubah sumringah begitu mendapati anak berusia lima tahun yang menjadi cucunya itu berada dalam dekapan suaminya.
"Ya, untuk sementara waktu dia akan tinggal bersama kita."
"Sungguh? Berita yang sangat bagus. Nenek senang mendengarnya." Tasya meraih tubuh cucunya lalu memeluknya erat.
Nenek? Jadi wanita ini adalah neneknya? Melihat dari raut wajahnya, seperti dia adalah wanita yang baik hati dan hangat.
Kalau begitu, aku tidak boleh mengabaikan kebaikannya begitu saja.
Isaac mengulurkan tangannya. Membalas pelukan Tasya.
"Aku juga senang karena bisa tinggal dengan nenek. Aku sungguh merindukan nenek."
"Benarkah? Nenek juga merindukanmu sayang."
...*...
"Nah, makan yang banyak. Okay?" Tasya memberikan banyak makanan padanya. Memberikan satu persatu hidangan yang ada di atas meja pada dirinya.
Isaac menatap semua makanan itu dengan wajah berbinar.
Sungguh, sepertinya semua makanan ini seenak makanan di rumah mama dan papa.
Tangan kecilnya meraih makanan di atas piringnya lalu melahapnya perlahan.
"Enak!" gumamnya sambil tersenyum. Ia lantas melahap semuanya dengan penuh semangat.
"Pelan-pelan makannya, nanti kamu tersedak." Gerson terkekeh melihat aksi cucunya yang terlihat menggemaskan itu.
"Rasanya sangat enak, aku tidak bisa makan semua ini pelan-pelan." Isaac tersenyum ke arahnya. Senyuman yang berhasil membuat Gerson dan Tasya tak berdaya. Mereka membiarkannya makan dengan semangat seperti itu.
Semua makanan ini seperti makanan di restoran bintang lima.
Apakah mereka punya koki pribadi? Setiap makanan di keluarga Constantine memiliki rasa yang benar-benar berkelas. Khas kalangan orang-orang kelas atas.
Ugh, ada untungnya juga aku masuk ke dalam tubuh Isaac.
Isaac tersenyum lebar.
...***...