
Sesampainya di kamarnya, Aira pun melepaskan dirinya dari Reki dan langsung cekikikan pelan, karena dia merasa sudah berhasil dengan tipuanya itu
"Aku cukup meyakinkan mamah kan?" ucap Aira
"Iya, nona memang pandai berakting, kenapa nona tidak jadi penyanyi saja?" ucap Reki asal
"Aaah,, Candaan mu basi Rek, kenapa tidak sekalian saja menyuruhku jadi tukang jahit, gak nyambung" ucap Aira yang langsung menjatuhkan dirinya di kasur empuknya
Reki pun hanya tersenyum, dia memang bisa sedikit melupakan patah hatinya saat dia bersama Aira, dan niatnya ingin menghentikan kontrak pun dia urungkan, dia sekarang tidak punya alasan untuk memutuskan kontraknya dengan Aira, karena Keyna juga sudah jadian dengan orang lain sekarang
Diapun kembali ke Sofa tempat biasa dia tidur dengan di ikuti si maung, dan diapun duduk di sana sambil memandangi Aira yang sedang memainkan ponsel di tempat tidurnya
"Rek, kamu malam ini jangan kabur lagi, kita harus sering terlihat harmonis di depan mamah, supaya mamah juga bisa berhenti menyuruhku untuk menikah dengan Ricard" ucap Aira dengan matanya tetap melihat layar ponsel
Reki pun tersenyum, 'Kalau saja Aira terus bernada lembut seperti itu, aku sepertinya akan betah di sini' pikir Reki
"Iya," ucap Reki
'meoouung'
"O yah, kucing mu lucu juga, tapi jangan biarkan dia buang poop di kamar ku yah, bau nanti" ucap Aira menoleh sjenak ke Reki
"Iya, dia tidak pernah sembarangan buang poop, tenang saja" ucap Reki
Reki pun hanya memperhatikan Aira yang terbaring dengan memainkan ponselnya di tempat tidur, dan kemudian Reki pun mulai melihat kalau Aira menjatuhkan ponselnya di dadanya, dan matanya pun sudah terpejam
Dia pun terus menatapi wajah Aira sambil mengelus si Maung yang ikut duduk di kursi sofa juga "Maung,, seandainya dia di takdirkan untuku, aku pasti akan merasa jadi orang yang paling beruntung" curhat Reki ke si Maung dengan suaranya yang di pelankan
'Meoung?'
"Aku serius" ucap Reki seakan dia mengerti ucapn si Maung yang entah apa artinya
'Mmmeoouung'
"Iya, aku juga tau,, aku tidak akan pantas untuknya" ucap Reki pelan seolah-olah mereka memang mengobrol normal
Dia pun mulai merebahkan dirinya di sofa panjang itu, dan terus memperhatikan Aira yang hanya nampak wajah sampingnya saja, dia tidak berniat untuk tidur siang, Reki hanya ingin terus melihat Aira yang sangat tenang saat dia tertidur
Raut wajah Aira yang seperti itu terlihat sangat indah di matanya, itu sangat berbeda jauh dengan raut saat dia marah marah padanya, tapi tampa sadar Reki pun juga perlahan jatuh ke alam mimpi nya
…
~
Hari pun mulai beranjak sore, kedua insan yang sekarang tertidur di kamar yang sama ini pun belum terlihat ada yang membuka matanya, hanya si Maung yang tetap terjaga di dekat Reki
Dan sesaat kemudian mata lentik Aira pun perlahan terbuka, dia pun langsung bangun dan duduk sejenak di kasurnya, dia memperhatikan Reki yang masih tertidur di sofa, diapun bergeser dan duduk di tepian tempat tidurnya
"Hey, bangun, ini sudah sore" ucap Aira pelan
Suara lembut dari Aira itu pun mampu terdengar hingga ke alam mimpi Reki, dan perlahan Reki pun terbangun karenanya
"Oh, sudah sore ya," ucap Reki yang langsung mendudukan dirinya di sofa dan sedikit menggeliat
Aira pun langsung pergi dari hadapan Reki menuju ke kamar kecil
"Maung kenapa kamu tidak membangunkan ku, dia keburu bangun kan, ga bisa lihat lagi wajah tenangnya itu kan" ucap Reki pada si Malung
'Meoouung'
"Ah kamu tidak mendukung ku" ucap Reki
Reki tidak berniat keluar dari kamar Aira sekarang, alasannya dia tidak ingin bertemu Veronika, dan juga tidak ingin pergi ke tokonya lagi sore ini, jadi dia pun hanya duduk di sofa itu
Tidak berselang lama Aira pun keluar dengan sudah berpakaian santai dan berbalut handuk di kepalanya
Reki pun sampai tertegun memperhatikannya
"Apa kamu lihat lihat?" ucap Aira
"Ah, tidak,,,, tidak papa" ucap Reki sedkit gelagapan dan segera mengalihkan pandangannya lagi
"Tumben kamu tidak menghilang saat aku mandi, biasanya sudah kabur duluan" ucap Aira
"Iya, aku hanya tidak ada urusan saja sekarang" ucap Reki
"Apa kamu tidak kembali ke toko mu?" tanya Aira yang sekarang duduk di meja rias dan mengeringkan rambutnya dengan hairdryer
"Tidak, aku sedikit malas" ucap Reki
"Malas atau malas,??" ucap Aira yang sebenarnya paham kalau Reki sedang patah hati sekarang
"Ya itulah pokonya" ucap Reki,
Dia memang merasa sedikit malas bertemu dengan Keyna sekarang, karena itu hanya akan membuat dadanya sesak lagi
Setelah Aira selesai dengan kegiatannya, merekapun keluar kamar dan menghampiri Kakek Permadi yang sedang duduk santai di teras belakang Rumahnya
"Kek, lagi apa di sini?" tanya Aira yang langsung duduk di kursi rotan di dekat Kakeknya
"Tidak, Kakek hanya sedang memeriksa berkas berkas kantor Ayahmu" ucap Kakek Permadi
"Oh, memangnya kenapa kek?" tanya Aira
"Entah lah, Ayah mu sudah bertahun-tahun memimpin kantor itu, tapi Kakek tidak melihat kemajuan yang signifikan pada kantor Ayahmu itu" ucap Kakek Permadi
"Begitu kah, mungkin kemampuan Ayah itu tidak sehebat Kakek,, O yah kalau kantorku gimana menurut Kakek" tanya Aira penasaran
"Kamu kan baru memimpin setahun belakangan, jadi Kakek belum bisa menyimpulkannya, tapi jujur, Kakek melihat kalau kamu lebih punya potensi dari pada Ayahmu itu" ucap Kakek Permadi
"Begitu kah?, ini juga kan karena Kakek yang mengajariku langsung" ucap Aira
"Ya memang pada dasarnya kamu memang pintar dan mau menerima masukan, jadi Kakek tidak susah untuk mengajarimu, kalau ayahmu kamu tau sendiri kan, dia sedikit keras kepala, dia jarang sekali menerima saran dari Kakek" ucap Kakek Permadi
"Ya papah memang begitu orangnya, keras kepala" ucap Aira
"O Iya, tumben kamu kesini Rek, duduk lah, apa tidak pegal terus berdiri di sana?" ucap Kakek Permadi
"Oh iya baik kek, terimakasih" ucap Reki yang memang sedari tadi berdiri di belakang kursi Aira
"Ngomong ngomong bagaiman perkembangan toko mu sekarang Rek?" tanya Kakek Permadi
"lumayan kek, intensitas penjualan sudah lumayan meningkat sekarang" ucap Reki
"Kamu juga sepertinya punya potensi dalam berbisnis Rek, kamu gampang tanggap dengan informasi yang baru kamu pelajari, otak mu sebenarnya pintar, hanya saja hambatan untuk anak anak muda sekarang itu biasanya malas,, malas belajar dan malas berkembang, apa kamu tidak tertarik dengan dunia bisnis Rek?" ucap Kakek Permadi
"Aku sangat tertarik kek, kalau ada kesempatan untuk belajar, saya pasti akan belajar, cuma sayangnya, saya memang tidak menempuh pendidikan sampai ke jenjang lebih tinggi kek, jadi tidak banyak ilmu dan wawasan yang saya punya" ucap Reki
"Ya memang sulit hidup di jaman sekarang jika tidak punya wawasan, kalau kamu bersungguh-sungguh ingin belajar, kamu bisa Kakek titipkan kepada Rogers, itu juga kalau kamu berminat" ucap Kakek Permadi
Reki pun merasa termotivasi oleh perkataan Kakek Permadi ini, dia pun berpikir sejenak,, kalau dia ingin memantaskan dirinya untuk bersama Aira, itu Artinya dia memang harus bisa berkembang, dan cara yang paling instan ialah belajar langsung pada ahlinya, jika dia harus menempuh jalur pendidikan, itu jelas mebutuhkan waktu yang tidak sebentar
"Aku sangat berminat kek, tapi apa tidak bisa Kakek yang mengajariku? aku sedikit segan jika bersama Om Rogers" ucap Reki
Kakek Permadi pun langsung tertawa "Aha ha, kamu ini, apa kamu tidak bisa melihat kalau Kakek ini sudah reyot begini, mengunjungi kantor saja kakek sudah jarang, mana bisa mengajarimu di lapangan" ucap Kakek Permadi
"Oh, Baiklah, saya paham" ucap Reki
Obrolan mereka pun berlanjut ke topik yang lebih santai, dan suasana pun terasa semakin hangat tampa adanya gangguan dari sang induk monster, sementara anaknya sekarang sudah tidak terlalu ganas lagi, Aira sudah sdikit melunak karena seringnya melihat keakraban kakeknya bersama Reki