Reki's Indigo Story

Reki's Indigo Story
Sungguhan Saja



Keno pun sangat memahami apa yang di rasakan oleh Reki itu, "Ya sudah, lu tidur saja sekarang, jangan banyak mikirin kisah cinta lu yang aneh ini" ucap Keno


"Iya, sana lu juga pergi, pantau Keyna buat gue" ucap Reki


"Ah play boy lu, ya sudah gue pergi" ucap Keno


Keno pun segera naik ke punggung si maung yang sekarang dalam mode bayangan kucing raksasanya, dan kemudian merkapun hilang dari hadapan Reki,


Keno pun segera berpindah tempat ke halaman depan rumah Keyna, diapun segera masuk dan menuju ke kamarnya


Keno melihat kalau Keyna belum tidur sekarang, dia seperti sedang mencari sesuatu di bawah tempat tidurnya


"Maung, kamu di mana sih?, apa kamu sedang cari tikus?, Ayolah keluar, aku butuh teman curhat, sepi tau" ucap Keyna sambil terus mencarinya di bawah tempat tidurnya


"Key, si maung itu peliharaan ku, dia ada di sini sekarang, kamu tidak perlu mencari nya" ucap Keno


Keyna pun seperti bisa merasakan kehadiran Keno itu, dia pun memperhatikan ke sekelililng kamarnya, dan kemudian dia terduduk di pinggir tempat tidur nya, dan perlahan air matanya pun menetes di pipinya, "Ken, aku sangat merindukanmu, semoga kamu bisa beristirahat dengan tenang di alam sana" ucap Keyna yang tiba-tiba mengingat Keno lagi


"Key, aku pasti akan tenang jika sudah melihatmu tersenyum lagi, jadi berhentilah menangisiku seperti ini" ucap Keno yang mencoba menghapus Air matanya, meskipun dia tidak bisa meraihnya


Keyna pun tidak menghiraukan Keno yang sekarang berada tepat di depanya itu, dia terus-menerus menitikan Air matanya, dan diapun perlahan merebahkan badanya di tempat tidur, dia memeluk gulingnya dengan erat, pandangan mata yang berair itu pun hanya menatapi langit langit kamarnya, dia membayangkan saat saat dirinya masih bersama Keno


Keno tidak bisa berbuat banyak sekarang, dia hanya bisa menemani tidur Keyna di sampingnya, tampa bisa melakukan apapun untuk meringankan beban di hatinya itu



Keesokan paginya, di sebuah kamar yang elegan dengan dekorasi yang khas dari kamar seorang gadis, Aira perlahan terbangun dari tidurnya, dia pun langsung melirik Reki yang masih tertidur di sofa


Dia memperhatikan nya sejenak, dan dia pun beranjak dari tempat tidurnya untuk ke kamar mandi, untuk segera membersihkan dirinya


Tidak lama Reky pun juga terbangun dari tidurnya, dan dia melihat kalau Aira sudah tidak ada di tempat tidur, dia pun medudukan dirinya di sofa


"Hoaaaam, sudah pagi lagi," ucap Reki


Dia pun beranjak ke pintu kamar untuk segera ke luar dari kamar Aira itu


"Hey, mau kemana kamu?" tanya Aira yang kebetulan baru keluar dari kamar mandinya, dia mengenakan handuk kimono putih di tubuhnya


"Keluar non, aku ada urusan di luar" ucap Reki


"Jangan pergi dulu, kamu selalu saja menghilang saat pagi pagi, mamah selalu tanyakan kamu saat sarapan, dia sepertinya sudah curiga kalau hubungan kita ini memang tidak harmonis" ucap Aira


Reki pun menghela nafas, "Baiklah, jadi aku harus sarapan di sini ya?" ucap Reki


Aira pun segera masuk ke ruangan ganti untuk memakai pakaiannya


Dan Reki pun menunggu Aira di Sofa lagi


Tidak lama Aira pun keluar dari ruang ganti dengan sudah memakai setelan formalnya "Kamu mandi dulu sana" ucap Aira


"Ah, dingin non, aku tidak biasa mandi pagi" ucap Reki


"Kamu jorok sekali, tapi sekarang kamu tetap harus mandi, karena kalau orang yang sudah berhubungan biasanya selalu di tandai dengan mandi pagi" ucap Aira


"Tapi kita kan tidak berhubungan non" ucap Reki


"Rekiiiiiii,,,, apa kamu tidak mengerti juga, ini hanya untuk meyakinkan ibuku saja, ini supaya terlihat kalau kita ini cukup harmonis di matanya, ayo buruan mandi," ucap Aira sedikit meninggi kan nada suaranya karena kesal


"Oh baiklah" Reki pun segera beranjak saat Aira sudah mengeluarkan aumanya


Diapun segera membersihkan dirinya di kamar mandi, dan segera merapihkan pakaianya lagi, Aira juga sudah menunggu nya di sofa


"Sudah non" ucap Reki


"Y sudah, kita keluar sekarang" ucap Aira yang langsung berdiri dari duduknya


Merekapun keluar kamar dengan bergandengan tangan, tentunya itu hanya untuk meyakinkan Veronika kalau mereka itu punya hubungan yang baik


"Heh menantu tidak berguna, mau apa kamu kemari?" tanya Veronika yang melihat mereka datang


"Ya mau sarapan mah, bukanya mamah selalu memaki dia di belakang kalau aku sarapan sendirian" ucap Aira


"Tapi tidak perlu kamu ajak dia untuk sarapan di meja yang sama dengan Mamah, mamah sangat muak melihatnya" ucap Veronika


'Sabar, ini ujian' pikir Reki


"Ini kan meja makan punya Kakek, bukan punya mamah, Kakek juga tidak keberatan kan kek kalau Reki sarapan di sini?" ucap Aira melirik Kakek Permadi dan mengedipkan satu matanya 'cling'


"Iya tidak papah" ucap Kakek Permadi


Aira pun segera membawa Reki duduk berdampingan dengannya, dia langsung mengambilkan sarapn untuk Reki "Ini sayang, makanlah yang banyak, biar kamu sehat" ucap Aira


Reki pun mencoba menahan dirinya untuk tidak tertawa, karena dia tau itu hanya akting Aira saja, "Terimakasih sayang" ucap Reki mencoba mengimbanginya


"Sayang sayang, mamah serasa mau muntah mendengarnya" ucap Veronika ketus


Merekapun sarapan bersama di meja ini dengan cukup harmonis, Aira sangat memperhatikan apa yang Reki perlukan, dia melakukan itu tidak ubahnya seperti seorang istri yang sangat pengertian pada suaminya


Reki merasa hangat di hatinya, dia merasa senang di perlakukan seperti ini oleh Aira 'Sayang sekali, ini hanya akting Aira saja, kalau tidak, mungkin akulah orang yang paling bahagia di dunia ini' pikir Reki


Selesai sarapan Aira pun memberikan segelas susu pada Reki, "Ini minumnya, kamu harus rajin minum susu, supaya kamu sehat" ucap Aira


Reki pun hanya mesem saja karena dapat perhatian selembut ini dari Aira, ini berbeda 180° dengan sikap aslinya, Reki serasa ingin menghentikan waktu di momen ini , dia tidak ingin melanjutkan nya lagi, karena kedepannya dia sudah tau kalau kelembutan Aira ini akan sirnah, dan tergantikan lagi oleh Aira yang sangat menyeramkan lagi


"Aira, apa bayi dalam kandungan mu itu masih ada?, apa kamu sudah pernah ceck up ke dokter kandungan?" tanya Veronika tiba tiba,


Insting keibuan Veronika memang mengatakan kalau Aira tidak benar-benar hamil, dia tidak melihat tanda-tanda kehamilan pada diri Aira, seperti mual muntah, dan juga dia tidak ada perubahan kebiasaan yang umum di alami oleh wanita hamil muda


Aira pun langsung tersentak mendengar pertanyaan ibunya itu "Aku aku belum ceck up sih, rencananya bulan ini baru mau melakukanya, Iya kan sayang?" ucap Aira melirik Reki


"I Iyah, kami akan melakukan nya bulan ini" ucap Reki


"Ya sudah, makanya sudah kan sayang?,, kita langsung berangkat kerja saja yuk, sudah siang" ucap Aira yang ingin segera menghindari topik ini


"Oh baiklah" ucap Reki


"Cepat cepatlah keluarkan anak kalian itu, aku harap bayi itu mati sebelum dia lahir, supaya kalian bisa cepat cepat berpisah" ucap Argi acuh tak acuh


Aira pun tidak menggubris perkataan ayahnya itu, dan segera menggandeng Reki pergi dari ruang makan


Aira pun langsung mengajak Reki masuk ke mobilnya


"Haduh, mamah sepertinya sudah curiga kalau aku memang tidak beneran hamil, bagaimana supaya bisa membuat mamah yakin ya?" ucap Aira


"Nona hamil sungguhan saja" ucap Reki tampa berpikir


"Kamuuuuuu, jangan sembarangan bicara, aku masih ingin bebas, jangan berani berpikir kalau aku mau memiliki anak darimu" ucap Aira yang langsung saja melemparkan tasnya pada Reki yang duduk di kursi belakang


"Aduh,,, kejam sekali, harusnya kita tidak pergi dari ruang makan tadi, aku sangat suka kamu yang di sana" ucap Reki blak blakan


"Kamu benar benar ya, kalau aku sudah tidak membutuhkan kamu, aku sangat ingin mengikatmu dan membuangmu ke kali" ucap Aira


Reki pun tidak berani menjawabnya lagi, karena dia tau emosi Aira akan semakin meledak ledak padanya kalau dia meladeninya lagi


"Kamu mau pergi kemana sekarang?" tanya Aira


"Aku mau pergi ke toko ku" ucap Reki


"Kamu punya toko?, di mana tempatnya?, aku antar saja kamu kesana" ucap Aira


"Di dekat Rumah sakit umum kota non" ucap Reki


"Oh" Aira pun segera melajukan mobilnya untuk mengantar Reki, karena ini memang masih terlalu awal untuk dia pergi ke kantornya