
Reki pun memperhatikan kalung hitam berbentuk kotak itu, dan sekelebat gambaran pun bisa di lihat Reki di pikiranya, gambaran itu menyangkut asal mula dari kalung itu, kalung itu ternyata terbuat dari kulit kucing besar berwarna hitam, kucing ini adalah peliharaan leluhur Keno tempo dulu
Sebagai pria indigo, Reki memiliki kemampuan unik untuk bisa melihat masa lalu atau masa sekarang, dengan hanya memegang benda milik seseorang, tapi kemampuan nya itu tidak sampai bisa melihat masa depan
"Ken, ini kalung nenek moyang lu, coba lu panggil pemilik asli dari kulit ini" ucap Reki, diapun mengulurkan kalung itu pada Keno dan mereka pun memeganginya bersamaan
"Bagaimana caranya?" Keno pun bingng
"Sebut statusmu sebagai apa di Keluarga, dan sebut juga nama Kakek atau nenek atau buyutmu, dan panggil sang pemilik kulit ini untuk keluar," ucap Reki
"Oh baiklah" Keno pun memusatkan pikirannya pada kalung itu "Aku Keno, buyut dari Mbah Sugen, aku memanggil sang pemilik kulit untuk keluar, datanglah" ucap keno
Dan kemudian sedikit demi sedikit kalung itu pun mengeluarkan kepulan bayangan seperti asap yang mengarah kesamping Keno, dan perlahan asap itu pun membentuk sebuah mahluk menyerupai kucing raksasa, yang tingginya hampir setinggi orang dewasa, dengan taringnya yang tajam dan matanya yang putih menyala
Reki pun memperhatikan menampakkan wujud asli dari kalung itu "Lihatlah, peliharaan lu besar juga ken, keren " ucap Reki
Keno yang masih terduduk pun langsung mendongak ke atas melihat kucing raksasa itu "Mana?, wow, besar sekali, aku tidak tau kalau Klung itu ada penghuninya, apa yang bisa di lakukan kucing ini Rek?" tanya Keno
"Kamu suruh dia gigit mahluk kiriman itu saja" ucap Reki
"Oh, baiklah,,,, Pus, gigit dia" ucap Keno menunjuk ke Kakek Permadi
Tapi tidak ada respon dari si kucing bayangan itu
"Dia sepertinya tidak mau menurut padaku", ucap Keno
"Kamu salah menyebut Nama panggilanya, jangan samakan dia dengan kucing biasa,,,, sebentar, aku akan suruh Aira keluar dulu, takutnya ada efek lain yang bisa di timbulkan oleh mahluk itu, dan biar kita juga bisa bebas mengobrol" ucap Reki
Reki memang mengobrol dengan suara pelan di belakang semua orang,, dan semua yang ada di Ruangan itu pun memang tidak menyadari kalau Reki berbicara dari tadi, juga yang terdengar di kamar ini hanya Aira yang menangis, dan dia terus mencoba menenangkan kakeknya
Tidak ada yang tau juga kalau di belakang mereka sekarang berdiri sesosok kucing besar yang tak kasat mata
Reki pun menghampiri Aira yang menangisi kakeknya itu "Aira, apa kamu bisa tunggu di luar dulu sebentar?" tanya Reki
"Untuk Apa?,,,,, apa kamu tidak lihat Kakek ku sedang sekarat sekarang, aku tidak mungkin meninggalkanya, mending kita bawa kakek langsung ke Rumah sakit ya" ucap Aira sambil menangis, "Pak Dimaaaan, kemana dia?, bi cepat panggil dia" triak Aira memanggil supir kakeknya
"Aira, aku pastikan Kakek akan baik baik saja, aku punya cara untuk menenangkan Kakek sekarang, percayalah, tapi dengan syarat kalian harus tunggu di luar dulu" ucap Reki, dia tidak menyinggung soal mahluk tak kasat mata atau apapun, karena kebanyakan dari mereka tidak akan percaya dan menganggap itu hanya bualan Reki
"Sungguh?, baiklah, tapi kalau ada apa apa dengan kakeku nanti, kamu harus tanggung jawab" ucap Aira yang masih saja menangis
"Aku akan tanggung jawab, jadi tolong kalian semua tunggu di luar sebentar" ucap Reki
"Baiklah" ucap Aira, dia pun beranjak dari tempat tidur Kakeknya dengan enggan, dan diapun segera pergi keluar kamar dan di ikuti semua asisten Rumahnya
Dan sekarang di ruangan ini pun hanya ada Reki, Keno, dan Kakek Permadi, juga si kucing besar dan mahluk kiriman itu
"Hhhhhh, kita lihat, apa kamu bisa melawan kucing milik kami ini mahluk jelek" ucap Reki "Maung, tarik mahluk ini dari tubuh kakek" ucap Reki
Seketika bayangan yang di sebut Maung ini langsung meloncat ke tempat tidur Kakek Permadi, dan langsung menggigit bayangan hitam yang menyelimuti Kakek Permadi itu dan menarik nya, tarik menarik pun terjadi antara si maung dan mahluk itu, sepertinya mahluk itu juga sedikit sulit untuk di tarik dari tubuh kakek,
Namun tidak berselang lama si kucing itu pun bisa merobek bayangan itu, dan kemudian si maung pun bisa menarik semua bayangan hitam itu dari tubuh Kakek Permadi, dan kemudian dia pun langsung memakan bayangan hitam itu
Dan Kakek Permadi yang tadi seperti kesakitan pun perlahan mulai tenang karena nya, dan nafasnya pun perlahan lahan mulai normal kembali
"Apa kakek sudah baikan Rek?, apa dia tidak perlu di bawa ke Rumah sakit?" tanya Keno
"Entahlah, aku tidak tau" ucap Reki
"Kalau begitu aku pinjam tubuhmu untuk memastikanya" ucap Keno
"Silahkan saja, biasanya lu juga tidak pernah permisi" ucap Reki
"Baiklah" Keno pun segera masuk ke tubuh Reki
Dan kemudian dia memeriksa ke adaan Kakek Permadi dari denyut nadinya di beberapa bagian, dan memastikan kalau memang Kakek Permadi tidak perlu di khawatirkan sekarang
Keno pun segera membuka pintu kamar Kakek Permadi
"Bagaimana?, apa Kakek sudah baikan?" ucap Aira, dia pun langsung masuk kedalam kamar, dan langsung mendekap lagi Kakek Permadi yang sudah cukup tenang sekarang
"Dia sudah tidak papah, dia hanya butuh istirahat sekarang, beri dia minum untuk lebih menenangkanya" ucap Keno
"Bi, cepat ambilkan air minum" uacap Aira,
Setelah itu Aira pun menghampiri Reki yang masih berdiri di sana "Bagaimana kamu melakukannya, apa kamu pernah belajar ilmu medis sebelumnya?" tanya Aira
"Sedikit" uap Keno
"Terima kasih, kamu sudah ke dua kalinya menyelamatkan Kakek ku" ucap Aira
"Tidak, yang pertama bukan aku yang menolongnya kan, aku hanya memukul perampok saja waktu itu" ucap Keno
"Maaf, aku, aku selalu berbuat tidak baik padamu" ucap Aira
Keno hanya tersenyum, karena pada dasarnya yang selalu di maki Aira bukan dia, tapi Reki "Tidak apa, jangan terlalu di pikirkan, ibu dan ayahmu kemana?, kenapa tidak melihat Kakek di sini?" ucap Keno yang tidak melihat keduanya dari tadi
"Sepertinya mereka sudah tidur di kamar atas" ucap Aira
"Aira,,,,, Aira" Kakek Permadi pun mulai sadar kembali
"Iya kek, aku di sini" ucap Aira yang langsung menghampirinya
"Sakit Kakek sudah hilang, siapa yang mengobati Kakek?, apa kamu panggil dokter kemari?" tanya Kakek Permadi
"Tidak kek, Reki yang sudah mengobati Kakek tadi" ucap Aira
"Sungguh,?" Kakek Permadi pun melirik Reki "Terima kasih Reki, kamu memang orang baik" ucap Kakek Permadi
"Sama sama kek, kakek istirahat saja, biar kondisi kakek cepat pulih lagi,, O iya, kalau gitu saya kembali ke kamar dulu, Anda cepat sembuh ya" ucap Keno
"Iya, silahkan" ucap Kakek Permadi
Keno pun melihat si Maung yang masih memakan sisa sisa mahluk itu di dekat Kakek Permadi, dan masih di atas tempat tidur "Maung, ayo pergi" ucap Keno pelan
Seketika si Maung pun meloncat turun dan menghampiri Keno
"Kamua panggil aku apa? Maung?" ucap Aira yang masih bisa mendengar suara Keno, meskipun itu pelan, tapi ruangan ini memang sepi sekarang
"Ah?, tidak maksudku, mau, yah mau, aku mau pergi maksudnya" ucap Keno terbata
"Aku tau aku galak, tapi tidak perlu kamu samakan dengan Maung juga, aku tau Maung itu macan kan?" ucap Aira cemberut
"Tidak tidak seperti itu, sungguh,, aku rasa kamu salah dengar barusan, aku aku pergi dulu,, dadah" ucap Keno, dia pun langsung melarikan diri dan di ikuti si maung keluar kamar
Diapun kembali kekamar Aira lagi, "Maung, kamu hebat juga bisa bantu orang" ucap keno yang duduk di sofa dan menghadap ke si maung di depanya, "Aku tidak sadar kalau ada mahluk seperti mu di kalungku, ku pikir itu hanya benda jimat saja" ucap keno
"Sayangnya aku tidak bisa mengelus mu, dan kamu hanya bayangan" ucap Keno
"Siapa yang ingin kamu elus?, dan siapa juga yang hanya bayangan?" ucap Aira yang tiba-tiba masuk ke kamarnya
Keno tidak menyangka kalau perkataanya akan di dengar Aira lagi 'Aduuuh, bagaimana ini, kenapa ucapan ku selalu di dengar dia' pikir Keno
"Tidak, aku hanya bicara pada diri sendiri barusan,, aku hanya mengingat peliharaan ku saja,, o yah, selamat tidur" ucap Keno yang langsung mebaringkan dirinya di Sofa
"Oh, ku pikir kamu ingin mengelusku,,, awas saja kalau kamu berani melakukannya" ucap Aira yang sekarang juga sudah naik ke tempat tidurnya dan langsung membenahi selimut di tubuhnya sendiri, kemudian diapun tertidur lagi
Keno memperhatikan Aira yang di tempat tidurnya, setelah merasa Aira sudah tidak bergerak lagi, Keno pun mendudukan lagi dirinya di Sofa "Maung, mendekat lah" bisik keno, dia pun mencoba menyentuh kepala si maung yang mendekat itu,, dan ternyata dia bisa merasakan sentuhan pada permukaan bulu si maung, meskipun dia hanya hewan bayangan
"Aku bisa menyentuh mu?, kalau begitu aku juga bisa menunggangimu juga" ucap Keno
Si maung pun merendahkan badanya, dia sepertinya memang mengerti semua perkataan Keno, Hanya saja dia tidak bersuara
"Aku boleh naik?, baiklah, kalau begitu" Keno pun langsung naik ke punggung si Maung
Keno pun cukup terkesan dengan peliharaan leluhurnya ini, karena dia sangat patuh,
Setelah si maung berdiri dengan Keno yang berada di punggungnya, Ruangan kamar itu pun seketika menjadi gelap gulita
Keno pun sedikit kaget karena tidak bisa melihat apapun di kondisi gelap seperti ini, "Maung, apa kamu yang melakukan ini?" bisik Keno
Diapun bisa merasakan kalau si maung terus melangkah pelan, namun yang tidak habis pikir, keno perlahan melihat cahaya lampu di halaman rumah ibunya, dan si maung itu ternyata keluar dari linkungan gelap di samping Rumah ibu nya
"Hah???, ini kan Rumah ibu, bagai mana kita bisa berada di sini sekarang, bukan kah kita di kamarnya Aira tadi" ucap Keno
Keno yang masih berada dalam tubuh Reki pun turun dari punggung si maung yang sudah merendahkan tubuhnya lagi, dia penasaran ingin memastikan ini nyata atau hanya halusinasi nya saja, karena dia memang ingin pulang kemari