RAZAR - First Journey

RAZAR - First Journey
Epilog - Another Mystery



RAZAR beserta Luca dan Veronica tengah menikmati makan siang yang meriah di bar milik Fendy. Itu sudah kedua kalinya Rheina dan rekan-rekannya makan bersama dengan kedua mentor mereka berlima. Suasananya ramai, serta keceriaan dari seluruh pengunjung mewarnai seisi ruangan.


"Aku senang kalian mengajak kami berdua lagi," ungkap Veronica sambil minum. "Ini akan jadi perjamuan yang meriah!"


"Kalian memesan sebanyak ini bagaimana membayarnya?" tanya Luca keheranan.


Andi memukul pundak Andre. "Orang ini yang bayar. Kan dia sultan."


"Eh … bukan. Tadi aku tanya pada Fendy si bartender dan dia bilang bahwa tempat ini disewa oleh Bella." Andre menggerakkan kedua tangannya seperti robot saat sedang menjelaskannya.


Rheina dan yang lainnya senang mendengar pernyataan Andre. Tak lama, salah satu pelayan datang membawa steak sapi serta beberapa makanan penutup lainnya. Rozza diam-diam tergiur melihatnya, karena mengingat steak adalah makanan favoritnya.


"Silahkan dinikmati, Tuan-Tuan dan Nyonya-Nyonya." Seorang pelayan menaruh makanan di meja mereka masing-masing, lalu segera kembali ke tempatnya. Rheina dan yang lainnya menyantap segala jenis masakan dengan lahap. Mereka sangat menikmatinya.


Tak lama, Andre memanggil si pelayan untuk bertanya, "Mas. Punya otak, tidak?"


Para pelanggan melihat ke arah Andre lantaran mengira itu tidak sopan. Andi memukul kepalanya, sedangkan Zihan menginjak kakinya. Tingkah Andre membuat seisi ruangan yang tadinya riuh menjadi diam canggung.


"M-maksudnya … apakah ada menu otak-otak?" ungkap Rheina bermaksud meredakan suasana.


Si pelayan mengangguk kepalanya membalas pertanyaan Rheina. Rheina pun memesankannya untuk Andre. Suasana ruangan kembali normal. Sambil makan, Rozza bertanya pada Luca tentang perjalanan selanjutnya. Luca hanya memberi tahunya untuk menunggu sampai Doctor Damon menyelesaikan penelitiannya, kemudian meminta izin kembali pada sang raja.


"Memangnya doctor itu bekerja, ya?" tanya Andre sambil menggaruk kepalanya.


Zihan berkata sambil mengerutkan alisnya, "Kau pikir pekerja ilmuwan tidur-tiduran, ha?"


"Kita taktahu kapan," jawab Veronica. "Yang pasti, kita hanya bisa menunggu keputusan darinya saja."


Luca menyuruh Rheina dan rekan-rekannya untuk menebak tentang sosok para legenda pertama di dunia Ezean. Mereka semua langsung tahu siapa orang-orang yang dimaksudnya. Para legenda itu disebut sebagai "Trinity Of Guts", atau disingkat ToG. Mereka adalah tiga pemuda/pemudi pemberani yang dulunya adalah para pahlawan pemberantas kejahatan.


"Kalian harus tahu banyak tentang mereka. Supaya mudah menjalaninya," ucap Luca.


"Apa maksudnya?" tanya Andi.


Luca berkata sambil tersenyum, "Kalian akan tahu sendiri, hehe …."


***


Di ruangan markas organisasi Prime Syndicate, Michael dan Thea duduk bersama sambil minum arak. Tak lama, Riki datang menyambut mereka berdua. Michael bertanya dengan lantang, "Apa?! Kau mau menghina lagi?!"


"Santai, Bro, haha." Riki berusaha mengungkapkan salah pahamnya dengan melambaikan tangan. "Aku kemari hanya ingin berdiskusi …."


Thea berdiri sembari membelai rambutnya. "Apa yang mau kau diskusikan, Riki?"


Riki mengungkapkan bahwa dia merasa aneh pada sang master mereka semua. Dia bertanya pada mereka berdua tentang sikap sang master yang biasa-biasa saja saat kehilangan zat mistis Astatine. Sang master juga malah memakluminya saat semua rencana dari Ben gagal.


"Aku juga berpikir demikian, tapi aku tetap mematuhinya!" ujar Michael sambil memegang dagunya.


Thea berkata, "Apa yang harus kita ragukan? Bukankah kita harus tetap mempercayai master?"


"Mereka belum paham juga ternyata … Aku harus cari tahu sendiri." Riki meninggalkan Thea dan Michael.


Masih banyak misteri yang belum terkuak tentang dunia Ezean, kebenaran Rheina dan yang lain, serta tujuan sang master pemimpin Prime Syndicate yang sebenarnya. Hal tersebut akan terungkap suatu hari, namun itu akan menjadi perjalanan panjang bagi RAZAR. Sebelum menjalankan tugas kembali, mereka berlima akan mengalami hal tidak terduga kedepannya.