
Adinda kembali ke markas dengan wajah penuh bercucuran darah dan luka yang serius. Meskipun dalam kondisinya yang cukup parah, dia masih bisa bertahan tanpa adanya keluhan. Tak lama, Diane muncul untuk melihatnya. Dia terkejut saat melihat kondisi si Adinda.
"Mengerikan sekali dirimu kembali dengan wajah seperti itu," ringis Diane. "Apa yang kau lakukan bisa jadi begini?"
"Hanya bermain sebentar saja dengan Lima orang itu …," balas Adinda.
"O ya," Diane bertanya tentang Rheina, "gadis itu … bukannya kau sudah singkirkan dia secepatnya? Mengapa dia masih hidup?"
"Menurutmu kenapa …?" Adinda menanyakan kembali pada Diane. Diane pun kesal dengan tingkahnya. Tak lama, akhirnya Adinda mengungkapkannya. Dia hanya mengasingkan Rheina ke pulau terpencil yang di mana tidak ada kehidupan seperti permukiman desa maupun kota. Itu semua hanya tempat berhutan dan sangat banyak sekali binatang buas hidup di sana.
Matanya Diane melebar seolah tidak percaya. "Dia bisa bertahan di tempat seperti itu …?"
"Hehehe …. Ajaib, bukan?" Adinda tersenyum.
Di sela perbincangan itu, sang ketua menghampiri mereka berdua. Dia melihat wajah Adinda yang penuh dengan darah. Lantas dia bertanya, "Sungguh malang sekali dirimu bisa dikalahkan oleh mereka yang menjadi penghalang kita.
Adinda hanya menyeringai menanggapi sang ketua. Dia justru mengusulkan suatu rencana untuk memata-matai dan menyerang balik dengan merebut zat mistis dari Rheina beserta rekan-rekannya.
"Baiklah." Sang ketua menyetujui usulan itu. "Hmm … kau harus bergerak lagi, Diane."
"Dimengerti," sahutnya.
"Ajak Riki juga. Dia selama ini hanya bersantai-santai saja." Sang ketua meninggalkan mereka berdua setelah menyampaikan pesan itu. Diane pun harus melaksanakan tugasnya, sedangkan Adinda hanya duduk manis seraya tersenyum sinis.
***
Rheina dan rekan-rekannya dipanggil ke istana untuk mendengarkan Prince Roodis. Para penghuni istana yang tadinya memandang aneh mereka berlima, sekarang menyambut dengan penuh hormat. Rheina dan yang lainnya senang suasananya menjadi lebih baik dari senyuman mereka. Saat hendak berlutut, Prince Roodis memerintah mereka untuk tidak melakukannya.
"Beri tahu kami kembali nama kalian," pinta Prince Roodis.
Rheina dan rekan-rekannya memperkenalkan diri masing-masing. Kemudian, Rheina ingat perkataan Adinda sewaktu kejadian itu. Dia pun menambahkan, "Kami adalah RAZAR, Yang Mulia."
"Hah?" Zihan memandang heran Rheina. "Bukankah itu julukan yang diberikan Adinda pada kita?"
"Apakah tidak apa-apa, Rheina?" tanya Andi.
Rheina mengungkapkan, "Julukan itu memberi arti dari inisial nama kita yang sangat indah. Rheina menyukainya!"
"Kurasa itu tidak buruk juga …," kata Rozza.
Andre mengangguk. "Aku pun setuju jika kita pakai itu saja!"
Mereka berlima setuju menggunakan nama itu. Mulai sekarang, mereka dikenal sebagai RAZAR untuk mempermudahkan penyebutan nama. Prince Roodis semakin tertarik dengan mereka. Dia pun mengakui hal itu pada Rheina dan rekan-rekannya.
"Selamat atas kemenangan kalian, RAZAR. Aku telah percaya sepenuh hati atas tekad kuat kalian semua," ujar sang prince. "Sebutkan apa yang ingin kalian mau?"
"Emm …," Rheina mengungkapkan seraya mengerutkan dahinya," kami sebenarnya tidak ingin apapun. Hanya ingin tahu keberadaan kota tersembunyi di negeri ini saja …."
"Hadeh. Harusnya kita makan-makan di sini dulu, Nona Rheina …," batin Andre.
"Baiklah. Dengan senang hati kami akan memenuhi keinginan pemenang." Prince Roodis meminta para pengawal untuk mengantarkan mereka ke kota tersembunyi. Mereka semua dibawa ke sebuah dermaga. Ada sebuah pintu di tanah dekat dermaga. Mereka semua pun masuk ke dalam. Di dalam terdapat terowongan bawah tanah.
"Gila …." Zihan melirik kiri kanan. "Ternyata ada tempat seperti ini."
Rheina menambahkan, "Sepertinya ini akan menyenangkan!"
"Kurasa … jalan menuju kota tersembunyi lewat di sini," simpul Andi.
Mereka berlima berjalan ke depan dan betapa kagetnya setelah melihat ada kota di bawah laut. Pemandangannya indah seperti berada di taman wisata akuarium raksasa. Lapisan kaca penghalangnya terbuat dari kaca akrilik tujuh lapis sehingga tahan pada benturan apapun. Pada warga di sana terlihat ramah.
"Ya Tuhan!" Mata Rheina berbinar-binar. "Ini luar sekali!"
"Jadi ini kota tersembunyinya, ya? Lebih dari sekadar yang kubayangkan," ucap Rozza.
Para pengawal menjelaskan bahwa mereka sedang berada di kota bawah laut bernama 'Zonaqua'. Kota tersebut sebenarnya terinspirasi dari seorang filsuf terkenal yang membangun dongeng di tulisannya. Mereka dibawa lagi ke tempat wali kota Zonaqua.
Mereka sampai di kantor wali kota dan hendak masuk ke dalam atas izin penjaga di sana. Rheina beserta rekan-rekannya merasa takjub setelah masuk ke dalam. Lantainya dilapisi kaca tembus pandang yang dapat terlihat isinya. Mereka semua disambut oleh wali kota Zonaqua.
"Wahai orang-orang yang telah datang di kota ini," ujar sang wali kota. "Apa yang membawa kalian datang kemari?"
"K-kami dari Veroeland atas perintah dari Raja Rovin untuk mengunjungi kota ini, Tuan Wali Kota." Rheina menundukkan kepala.
Sang wali kota bertanya, "Apakah kalian juga mendapatkan izin dari Prince Roodis?"
"Sudah, Tuan," sahut Andi.
Mereka berlima menunduk hormat, namun sang wali kota tidak memerlukan hal itu. Dia justru ingin semua orang bersikap santai padanya. Dia pun memperkenalkan diri, "Aku Clidermes, pemilik kota yang indah ini."
"Senang bertemu dengan Anda, Bapak Clidermes!" Rheina berjabat tangan dengannya.
Clidermes adalah wali kota sekaligus pencipta kota bawah laut Zonaqua. Dia memiliki impian untuk membangun kota tersebut sejak dulu. Atas izin sang prince, dia bisa mewujudkannya dan menjadikan Zonaqua menjadi kota resmi, walaupun dirahasiakan oleh umum.
"Biar kutebak. Pasti kalian … sedang mencari zat mistis, bukan?" Ucapan dari Clidermes membuat Rheina dan rekan-rekannya melebarkan mata mereka seolah kaget. Clidermes mengungkapkan bahwa dia adalah teman lama Luca. Luca memberi tahu semuanya pada Clidermes.
"Begitu, ya …," kata Zihan. "Syukurlah."
"Ayo ikut saya," ajak Clidermes.
Rheina dan rekan-rekannya mengikuti Clidermes ke suatu tempat. Tak lama, ada sebuah pancaran atau sinar yang membuat curiga Andi. Rheina bertanya, "Ada apa, Andi?"
"Ah, tidak apa-apa …." Andi menggelengkan kepalanya.
Mereka semua datang ke sebuah pondok berlapis kaca. Di sana, terdapat benda bercahaya memancar warna biru muda. Clidermes menjelaskan, "Ini adalah Aquamarine. Kami telah menjaganya bertahun-tahun. Benda ini harus dirahasiakan dari publik karena sesuatu yang tidak diinginkan."
"Ini berbahaya, kah?" tanya Andre.
"Ya. Terdapat massa air yang besar terkandung dalam zat ini. Itu dapat menghasilkan badai air atau yang kita sebut sebagai … Ombak Kematian," ungkap Clidermes.
Rozza menyimpulkan, "Kurasa … orang-orang akan menyalahgunakan ini untuk kepentingan pribadi."
Tak lama kemudian, terdengar alarm berbunyi dengan keras. Para penjaga dikejutkan kedatangan penyusup. Rheina beserta rekan-rekannya memeriksa ke luar. Tiba-tiba, sudah banyak pasukan penjaga yang pingsan.
"Perbuatan siapa ini?!" marah Clidermes.
Setelah itu, Diane dan Riki memperlihatkan diri mereka. Andi kaget dengan kehadiran Riki lagi, begitu pun Rheina yang sangat berhati-hati pada Diane.
"SIALAN …! Kok kalian bisa tahu kami ada di sini?!" Zihan menggigit bibirnya.
Diane menjawab, "Kami harus merebutnya dari kalian!"
"Langkahi dulu mayatku sini!" Andi menghampiri si Diane, namun dihalang oleh Riki.
"Hey … lawanmu adalah aku!" tantang Riki.
Andi menyerang Riki sampai beradu pedang. Tak sampai di situ, Riki memanggil Stingray Veidro yang sebelumnya pernah dilawan oleh Rheina dan rekan-rekannya. Andre dengan Rozza disibukkan dengan Veidro tersebut, sedangkan Rheina serta Zihan melawan Diane.
Slash …!
"Kau semakin kuat, ya!" Riki menangkis serangan dari Andi.
Andi membalas, "Itu karena aku harus mengalahkanmu dengan cepat supaya orang seperti kalian tidak menghalangi kami!"
"Wow, wow, wow …," Riki meledek, "yang jadi penghalang itu kalian, para serangga!"
...Bersambung …....