RAZAR - First Journey

RAZAR - First Journey
Journey 23: Rebellion



Princess Lira ditahan oleh Thea dan Michael. Semuanya tidak ada yang berani bergerak sama sekali setelah diberi peringatan, serta ancaman oleh kedua orang tersebut. Para pengawal kerajaan juga tidak bisa bergerak aktif walau sudah melaksanakan pengepungan. Thea berkata akan melepaskan sang princess jika mereka menyerahkan zat mistis Astatine yang telah direbut itu.


"Apa?!" marah Raja Rovin. "Setelah kami mempertahankan zat mistis itu dan sekarang kalian ingin kami serahkan begitu saja pada orang macam kalian?!"


"Jika kau mau putrimu selamat, itu akan menjadi tebusan yang sah untuk dibayar!" tegas Michael.


Di samping itu, Zihan melihat situasi menjadi memanas. Dia hendak mencari segala cara untuk membebaskan sang princess dari jeratan Thea dan Michael. Akhirnya, setelah memikirkan rencana, dia pun meminta Rozza untuk meminjaminya sebuah pistol. Rozza pun memberikan pistolnya pada Zihan.


Bang …!


Zihan menembaki gelas-gelas kaca di sampingnya secara diam-diam, seketika membuat Thea dan Michael menjadi lengah karena heboh. Pada kesempatan itu, Zihan secepatnya menembaki Thea dan Michael. Princess Lira pun terlepas dari jeratan mereka berdua.


"PRINCESS!" Rheina meraih sang princess. Dia jadi teringat lagi kejadian pada dirinya waktu itu. Namun, dia berusaha melawan traumanya agar tidak membuat rekan-rekannya kerepotan. Zihan datang beserta dengan yang lainnya.


"CUKUP SAMPAI DI SINI," teriak Zihan, "THEA … MICHAEL!"


Michael maju seraya berkata, "Oh … jadi kau yang menembaki kakiku, ya? Bersiaplah untuk mati!"


Zihan dan yang lainnya bersiaga untuk melindungi keluarga kerajaan. Rheina membawa Princess Lira pergi, sedangkan Raja dan Ratu dilindungi oleh para pengawal mereka. Sebelum pergi, Rheina menitipkan Magic Conductor berwarna biru kepada Andi.


"Ayo, Princess!" Rheina membawa pergi sang princess.


Tak lama kemudian, terjadi guncangan yang mengakibatkan pilar-pilar retak. Tiba-tiba, muncul Hannibal dengan raut wajah marah dan kesal seakan memiliki hasrat membunuh. Andre yang melihatnya sontak kaget. "Hannibal?!"


Kemudian, Hannibal memanggil Claydoll Veidro lagi yang sebelumnya dikalahkan oleh mereka berlima. Veidro itu ternyata masih hidup, karena pecahan tubuhnya terserap oleh Hannibal dan dapat dibentuk lagi.


"A-apa?" kata Zihan terkejut. "Bukannya kita sudah mengalahkannya, ya?"


"Bisa jadi si bocah itu memanggilnya lagi," pikir Rozza.


"Manusia rendahan … mati … MATI!" Hannibal dengan penuh kemurkaan menyerang semuanya dengan mengendalikan Claydoll Veidro. Andi dan Andre menyerang Veidro itu, sedangkan Zihan dan Rozza melawan Thea dan Michael. Pertarungan menjadi semakin sengit.


Di sela pertarungan, Adinda datang menyaksikan peristiwa itu. Dia hanya bisa melihat dan tersenyum lebar. "Semoga beruntung …."


Sementara itu, Rheina dan Princess Lira pergi menjauhi kekacauan itu untuk menuju ke belakang taman kerajaan. Tak lama kemudian, muncul seseorang mengenakan jubah abu-abu hendak menghadang mereka.


Rheina bertanya heran, "Siapa Anda …?"


Tiba-tiba, orang itu mengeluarkan jarum untuk dilemparkan ke arah Rheina dan sang princess. Rheina mendorong sang princess untuk menghindari jarum itu. Lagi-lagi, dia teringat pada pemberontakan di istananya. Dia ingat ada salah satu pemberontak menggunakan senjata jarum yang sama persis dengan orang berjubah itu.


"Anda … J-jangan-jangan …," simpul Rheina dengan nada keras, "anda salah satu pemberontak waktu di istana Roe St. Kingdom itu, kan?!"


Orang berjubah itu tertawa, lalu berkata, "Jadi kau sudah ingat, ya …."


"Iya. Itu benar." Orang itu membuka jubah untuk memperlihatkan yang sebenarnya pada Rheina. "Aku adalah Diane Carter, pemimpin dari pemberontakan itu, haha!"


"T-tidak …." Mendengar hal itu, Rheina kembali trauma. Dia tidak bisa menahan emosinya lagi, serta ketakutan meliputinya. Saking takutnya akan trauma itu, dia menjerit sembari melepaskan sihir tembakan apinya ke arah Diane.


[Firatier: Flamethrower]


"Rheina …," lirih Princess Lira.


Di dalam ruangan ballroom istana, Andi dan yang lainnya melawan Thea, Michael, Hannibal, dan Claydoll Veidro. Mereka semua hampir didesak oleh anggota Prime Syndicate tersebut.



Zihan dan Rozza kesulitan melawan Thea dan Michael. Tak lama kemudian, Zihan memberi isyarat pada Rozza untuk merencanakan sesuatu. Setelah itu, mereka berdua mengincar lawan mereka masing-masing. Rozza berlari ke arah Michael dengan gerakan pola zig-zag.


"Aku bisa lihat dengan jelas, bodoh!" ledek Michael.


Rozza tahu bahwa Michael bisa membaca gerakannya, oleh karena itu dia melompat menjauh dan menembakinya secara beruntun, sehingga membuat Michael terus-menerus menangkis sampai dirinya mundur secara tidak sadar.


Di samping itu, Thea dengan mudah dikecoh oleh Zihan. Zihan cerdik dalam bergerak sesuai strateginya. Dia bersembunyi di bawah meja, kemudian berlari ke meja lainnya untuk membuat Thea kebingungan. Thea semakin sulit meraihnya sampai dia kesal. "Jangan main petak umpet, sialan! Sini maju hadapin aku!"


Tanpa disadari, Zihan sudah ada di belakang Thea. Dia menendang Thea sampai terhempas mengenai Michael yang sedang bertahan dari serangan Rozza. Mereka berdua pun terpojok. Saat itu juga, Zihan dan Rozza menghampiri mereka.


"Thea. kita harus bagaimana?!"


"Kita maju saja!"


Perubahan rencana dimulai, Zihan mengincar Michael, sedangkan Rozza dengan Thea. Ternyata, dengan bergantian lawan, kedua anggota Prime Syndicate itu kewalahan melawan Zihan dan Rozza. Pertarungan segera diakhiri. Zihan memukul Michael dengan keras menggunakan ujung busur ke bagian samping kepalanya, sedangkan Rozza memukul perut Thea dan menendangnya.


Sementara itu, Andi dan Andre menghadapi si Hannibal bersama dengan Claydoll Veidro. Mereka dapat menanganinya yang emosian. Saking emosinya, dia hanya menyerang asal-asalan. Andre pun meledeknya, "Woy, kau ini stres, kah?"


"DIAM KALIAN, MANUSIA SAMPAH!" murkanya.


"Berisik!" Andi datang dan menebas Hannibal, sehingga membuatnya terjatuh lengah. Hannibal semakin marah karena harga dirinya itu.


Di waktu yang tepat, Zihan dan Rozza datang, kemudian mengusulkan untuk menggunakan meriam Mixture Arsenal. Beruntung, Andi menyimpan Magic Conductor milik Rheina. Mereka berempat pun menggabungkan senjata. Mixture Arsenal siap digunakan.


"TEMBAKAN GANDA … WATER BLAST." Tembakan sihir air diluncurkan ke arah Hannibal. Tiba-tiba, Claydoll Veidro datang melindunginya, seketika Veidro itu hancur lebur.


Thea dan Michael kabur bersama dengan Hannibal. Kekacauan itu pun berakhir. Seisi istana yang melihat kejadian itu bertepuk tangan atas aksi mereka berempat tadi. Zihan meminta semuanya memeriksa keadaan Rheina dan Princess Lira.


Di samping itu, Rheina dihajar oleh Diane. Dia hanya menahan serangan dan tidak fokus lantaran kepikiran kejadian itu. Princess Lira yang melihatnya tidak bisa berbuat apa-apa.


"Sepertinya, aku harus membuatmu menyusul ibumu." Diane bersiap-siap untuk menusuk Rheina dengan jarumnya yang panjang. "Selamat tinggal!"


Di waktu yang tepat, secepatnya Rozza menembak tangan Diane. Mereka berempat datang melindungi Rheina dan sang princess.


"Kau!" Rozza menodong pistolnya. "Apa yang kau perbuat padanya?!"


"Sudah pada berkumpul, ya? Sepertinya aku harus mundur dulu, haha!" Diane pun kabur. Zihan dan yang lainnya merasa khawatir melihat keadaan Rheina. Wajah Rheina pucat dan ketakutan meliputinya. Tak lama, Raja Rovin beserta pengawal datang menemui mereka semua.


"Lira! Kamu tak apa-apa, Nak?" tanya sang raja khawatir.


Princess Lira menjelaskan apa yang terjadi pada mereka berdua. Mendengar penjelasan sang princess, Raja Rovin sangat khawatir melihat kondisi Rheina. Dia pun memerintah para pengawal untuk membawa Rheina beserta rekan-rekannya ke ruang perawatan. Karena sudah larut malam, mereka berlima menginap sementara di kediaman istana sampai menjelang hari esok.