RAZAR - First Journey

RAZAR - First Journey
Journey 20: Truth



Di tempat sepi nan gelap, Riki Zin Ho sedang berlatih bela diri. Dia terlihat antusias memukul sampai membuat samsak tinjunya hancur. Itu dia lakukan lantaran berambisi ingin mengalahkan Andi. Masih belum cukup untuk menandingi musuh pilihannya itu. Tak lama kemudian, muncul Adinda diiringi nyanyian seramnya.


"Hee … kau tahu aku ada di sini, ya?"


"Habisnya kau terlalu bersemangat, hihihi …."


"Kau seperti penguntit. Bikin seram saja."


"Hey, yang merencanakan penyerangan di luar angkasa itu idemu, kan …?"


"Ah … kau sudah sadar, ya? Haha."


Kejadian di luar angkasa itu adalah rencana Riki yang telah memberi saran kepada si ketua untuk menyuruh El Joque Bersaudara melakukan penyelinapan dan penyerangan. Karena kegagalan itu, dia merasa tidak ingin kalah dari Rheina beserta rekan-rekannya, termasuk Andi.


"Dua orang bodoh itu ternyata sama saja seperti Thea dan Michael, haha," ucap Riki. "Yah … tunggu waktunya tiba baru aku beraksi."


"Sepertinya, aku juga harus bergerak, nih, hehehe …," batin Adinda.


***


Sebelumnya, Rheina beserta rekan-rekannya pulang dari Goza B10. Mereka berhasil mendarat ke pangkalan Space Center di Zinslova dan Laszi. Mereka berlima berpamitan kepada Kacper, serta tidak lupa berterima kasih telah mengizin mereka semua untuk pergi ke luar angkasa. Rheina dan yang lainnya pun kembali ke laboratorium di Veroeland dengan menggunakan mobil yang dipesan oleh Luca.


Sesampainya di sana, mereka berlima disambut dengan gembira oleh Luca dan Veronica. Tiga dari tujuh zat mistis telah didapatkan, artinya sisa 4 lagi yang harus mereka cari. Di samping itu, Rheina terlihat murung sehingga membuat suasana terasa canggung.


"Rheina … ingin ini diserahkan pada kalian saja …." Rheina menyerah zat mistis Technetium pada Luca.


Dengan khawatir, Luca bertanya, "Kau tak apa-apa, kan, Rheina?"


"Iya." Rheina mengangguk kepalanya. "Rheina tidak apa-apa …."


Rozza yang melihat hal itu merasakan keanehan pada diri Rheina. Dia berpikir bahwa Rheina begitu bukan karena tertekan pada peristiwa di luar angkasa, melainkan ada sesuatu di balik itu semua. Rozza pun hendak pergi ke luar.


"Kau mau kemana, Ozza?" tanya Zihan.


Rozza menjawab, "Aku ingin menjenguk adikku."


Saat itu juga, Luca memberi mereka berlima waktu cuti bertugas selama dua hari agar mereka bisa beristirahat dan bersenang-senang. Semuanya bergembira setelah Luca mengatakan demikian.


Andre mengajak Andi seperti biasa untuk bermain game online, sedangkan Zihan dengan Rheina pergi ke suatu tempat. Zihan berpikir bahwa Rheina sedang tidak baik-baik saja walaupun wajahnya terlihat bergembira. Sama halnya dengan Rozza yang curiga padanya tadi.


Di lain tempat, Rozza menjenguk adiknya, Rosalina, yang dirawat secara intensif di rumah sakit dekat kerajaan. Dia senang adiknya baik-baik saja dan mendapatkan perawatan khusus. Rosalina juga senang dengan aktivitas baru kakaknya.


"Kak, bagaimana dengan pekerjaan barumu?"


"Aku menikmatinya atas kemauanmu."


"Kemauanku? Bukan kemauan sendiri?"


"Emm … yah, tentu saja aku juga menyukainya."


"Sepertinya, kakak punya masalah. Coba ceritakan …."


Rozza berberat hati untuk menjelaskan keluhannya pada Rosalina. Dia mengaku bahwa Rheina bukan seperti dirinya yang suka ceria. Setelah peristiwa di luar angkasa itu, dia yakin Rheina masih memiliki rahasia yang belum diketahui oleh rekannya yang lain.


"Kak. Karena dia adalah rekanmu, maka kakak harus percaya padanya," saran Rosalina.


"Baiklah, kakak terima saranmu. Permisi, adikku." Rozza mengelus kepala adiknya dan pamit pergi. Dia hendak kembali ke laboratorium. Tak lama kemudian, dia dikejutkan oleh datangnya Adinda dihadapannya.


"Adinda!" Rozza menodong pistol ke arahnya. "Mau apa kau?!"


"Hey, hey … aku kan sudah bilang selama tidak ada orang-orang bodoh dari organisasi, aku tak akan menyakiti kalian …," tawa Adinda.



Adinda tersenyum lebar, kemudian berkata, "Aku akan memberi tahu rahasia ini …, tapi kau harus menyampaikan ini juga pada Rheina dan yang lainnya."


Sementara itu, Andi dan Andre sibuk bermain game online dengan hebohnya. Suasana heboh itu membuat mereka berdua menjadi sorotan para pemain lainnya di sekitar mereka. Tak lama kemudian, Andre bertanya pada Andi, "Andi. Apa kau tidak merasa aneh pada Nona Rheina?"


"Kenapa? Kau khawatir dengannya?"


"Tidak. Hanya saja, ini pertama kalinya aku melihatnya begitu, sih."


"Benar juga. Dia kelihatan sedih waktu di Goza B10 kemarin."


"Hmm … eh, itu kau Knock!"


"Waduh! Lupa pakai skin Alok tadi!"


Di sisi lain, Rheina dan Zihan sedang duduk di sebuah taman pusat kota. Zihan ingin mengatakan sesuatu, tapi dia ragu lantaran berpikir itu membuat Rheina bersedih lagi. Akhirnya, dia memilih untuk bertanya hal lain.


"Rheina. Menurutmu, bunga apa yang kau sukai?"


"Tentu saja, bunga mawar!"


"Begitu, ya …."


"Kalau Zihan sendiri bagaimana?"


Mereka berdua membicarakan tentang kesukaan mereka. Rheina bertingkah seolah bergembira walau sebenarnya Zihan belum merasa yakin dengannya. Di sela perbincangan, mereka dihubungi oleh Rozza untuk berkumpul di suatu danau.


Setelah semuanya berkumpul, Rozza ingin menyampaikan sesuatu. Dia mulai menginterogasi Rheina dengan menanyakan semua tentangnya. Andi dan yang lain heran dengannya. Tak lama, dari situ Rozza mengungkapkan hal mengejutkan.


"Jangan sembunyikan lagi dari kami, Merena Nazenthe," ungkap Rozza.


Andre sontak kaget mendengar hal itu, kemudian berkata, "A-apa? J-jangan-jangan …!"


"Rheina ….," tanya Zihan. "Princess dari Roe St. Kingdom yang dikabarkan menghilang itu … benaran kau, ya?"


"Jadi, selama ini … aku berpetualang bersama dengan … seorang Princess?!" ucap Andi juga kaget.


"E-eh … kok Rozza bisa tahu, sih …," tanya Rheina.


Rozza mengungkapkan lagi bahwa sewaktu mereka di Hutan Kejujuran Jade, dia berasumsi Rheina tidak sepenuhnya mengatakan yang sebenarnya tentang latar belakang keluarganya. Dia hanya mengatakan latar kejadian bagaimana dia bisa terdampar di sebuah pulau saja. Itu membuat Rozza yakin saat sebelumnya pernah mendengar kabar adanya sebuah pemberontakan di istana kerajaan Roe St. Kingdom.


"M-maafkan Rheina …." Rheina mulai menangis setelah memendam semuanya. "Rheina tidak bermaksud menyembunyikan ini dari kalian. Rheina hanya takut kalian tidak menerimanya …."


Akhirnya, telah terungkap tentang identitas asli Rheina sebagai Princess dari negeri Roe St. Kingdom. Semuanya juga merasakan apa yang Rheina rasakan. Walaupun telah mengetahui kebenarannya, Andi dan yang lainnya justru senang telah berpetualang bersama dengan seorang bangsawan rendah hati seperti Rheina.


"Tenanglah. Kami tak begitu, kok." Andi mengelus kepala Rheina. "Benar, kah, teman-teman?"


"Meski begitu, kau tetaplah Rheina yang kami kenal," ucap Zihan.


Andre memegang tangan Rheina dengan erat. "Aku tak percaya, sumpah, dah …. Nona Rheina yang kukenal ternyata seorang bangsawan!"


"Aku merasa … kau berbeda dari yang lainnya. Itu membuatku tertarik karena kau tidak mengandalkan statusmu itu dan bersikap seperti rakyat biasa," jelas Rozza.


Rheina menangis senang mendengar ungkapan Andi dan yang lain tentang dirinya. Itu membuat Rheina makin bersemangat untuk bisa mencapai tujuannya, serta menolong siapapun yang membutuhkan bantuan. Meski nama aslinya adalah Merena Nazenthe, rekan-rekannya tetap menganggapnya sebagai Rheina sebagai tanda penghubung mereka berlima.


Di samping itu, Adinda melihat mereka berlima diam-diam. Ternyata, dia yang telah membocorkan identitas Rheina pada Rozza. Rozza juga diminta untuk menyampaikan pada rekannya untuk merebut zat mistis selanjutnya di suatu tempat saat mereka bersedia nanti. Dia juga memberi tahu Rozza keberadaan zat mistis yang ingin dicari mereka.


"Ini pasti sungguh menyenangkan …," gumamnya seraya tertawa kecil. "Tak sabar melihat mereka beraksi lagi nanti …."