
El Joque Bersaudara ingin meminta pengampunan pada sang ketua atas kegagalan mereka sewaktu di kota. Mereka bertiga beralasan terpaksa mundur lantaran memikirkan Hannibal. Sang ketua hanya diam di saat El Joque Bersaudara menjelaskannya. Hal itu juga menjadi bahan tertawaan beberapa anggota lainnya. Hannibal sangat murka karena kehilangan harga diri.
Kemudian, sang ketua berujar, "Jangan pinta pengampunan kepadaku. Pinta saja pada Sang Master kita."
"Wah, takbisa begitu …." Riki malah membuat mereka kesal dengan ledekannya. "Gagal tetaplah gagal. Jangan pakai kata 'mundur' sebagai alasan, dong, haha."
Matias merasa geram dengan tingkah Riki itu. Tak lama, adiknya, Alejandro, menghentikan kakaknya. Sementara itu, Hannibal masih tidak percaya bahwa dirinya dipermalukan oleh Andre di hadapan para warga. Dia pun menggerutu, "Bajingan … bajingan … manusia rendahan bajingan …!"
"Oh … hey, si paling–" Saat Riki hendak mengatakan sesuatu, tiba-tiba sebuah jarum hampir mengenainya. Itu adalah jarum dari salah satu anggota yang belum diketahui identitasnya. Orang itu menghentikan Riki untuk tidak meledek Hannibal. Riki pun meminta maaf walau sebenarnya tidak tulus.
Di samping itu, sang ketua memberi rencana baru setelah dia berkonsultasi pada Sang Master. Dia meminta Thea, Michael, dan salah satu anggota lain untuk tugas itu. Tak lama, Hannibal berdiri berhadapan dengan sang ketua.
"Aku harus ikut juga …. Akan kubunuh … kubunuh mereka!" ringis Hannibal merasakan kebencian luar biasa terhadap kelompok Rheina.
Adinda berbatin, "Kira-kira … Rheina bakalan gimana, ya, setelah rencana itu datang … hihihi."
***
Pada liburan hari kedua, Rheina dan rekan-rekannya berencana pergi ke istana setelah disuruh oleh Luca. Sesampainya di sana, seperti biasa mereka berlima disambut oleh seisi istana. Raja Rovin telah mengetahui keberhasilan Rheina dalam merebut kembali zat mistis Astatine, karena itulah mereka semua diundang dalam acara perjamuan istimewa untuk merayakannya.
"Terima kasih, Yang Mulia. Kami senang dengan hal itu …," kata Rheina.
Untuk pertama kalinya, Zihan dan Andi merasa bergembira telah diundang untuk merayakan sesuatu. Itu adalah hal yang diimpi-diimpikan mereka berdua. Acara akan dimulai pada malam hari, artinya masih ada sisa 4 jam sebelum itu dimulai.
Princess Lira mendatangi Rheina. "Aku senang kau bisa kembali dengan selamat …."
"Kamu mengkhawatirkan Rheina, Princess? Syukurlah kalau begitu!" Rheina menjabat tangannya.
Kemudian, Rheina diajak oleh sang princess ke ruangannya. Andi dan yang lainnya pergi menuju halaman istana setelah dipanggil Perdana Menteri Jovi.
Di lain tempat, Rheina memasuki kamar Princess Lira. Dia senang melihat isinya yang begitu rapi dan bersih. Rheina juga memiliki kamar yang sama dengan sang princess mengingat dia juga seorang princess.
"Bersih sekali kamarnya, Princess!"
"Tentu saja. Servant-servant sangat rajin mengurus kamar ini."
"Begitu, ya. Rheina hanya membersihkan kamar sendiri tanpa dibantu oleh siapapun."
"Hey … aku hanya ingin tahu sesuatu."
"Apa itu, Princess?"
Sang princess menyatakan bahwa dia pernah melihatnya di suatu tempat. Tapi, dia yakin pernah bertemu Rheina saat pertemuan para bangsawan. Rheina mendengar penjelasannya itu merasa ragu lantaran dia harus menyembunyikan identitasnya kepada siapapun. Namun, sang princess tetap ingin mengetahui siapa Rheina yang sebenarnya.
Karena tidak punya pilihan, Rheina pun memberi tahu secara tidak langsung, "Di sini tidak ada siapa-siapa, kan?"
"Memangnya kenapa?" tanya sang Princess.
Rheina mulai membocorkan segala kebiasaan para princess seluruh dunia yang seharusnya hanya diketahui oleh keluarga bangsawan saja. Hal itu membuat Princess Lira kaget setelah Rheina membicarakannya. Lantas, dia bertanya, "Kenapa kau bisa tahu hal itu …. Siapa kau ini?!"
"Apa … Kamu tahu ini?" Rheina memperlihatkan sebuah mahkota miliknya dan segera dia gunakan ke kepalanya.
"T-takmungkin …!" Princess Lira berdiri kaget seolah tidak percaya. "Kau … ternyata …."
"Lira. Ini saya, haha …," ucapnya.
Princess tidak bisa berkata-kata lagi setelah itu. Rheina ingin sang princess untuk tidak memberi tahu tentang identitasnya itu, karena dia harus tetap menyembunyikannya sampai waktunya tiba. Dia juga menyatakan bahwa rekan-rekannya juga sudah tahu tentangnya.
"Oh temanku, Merena ….." Sang princess memeluk Rheina dengan erat. "Kenapa kau tampak jauh berbeda dari penampilanmu sebelumnya. Setelah mendengar kejadian itu, kupikir kau sudah mati!"
Semua orang di penjuru negeri tahu tentang insiden pemberontakan di istana Roe St. Kingdom. Berbagai berita juga mengungkapkan bahwa Rheina dinyatakan menghilang saat insiden itu terjadi. Princess Lira pun berjanji untuk merahasiakan keberadaannya.
"Panggil Rheina saja, Lira."
"Ah … baiklah, Mere– maksudku … Rheina."
"Kamu mau bantu memasak?"
"Dari dulu kamu selalu suka membantu, ya, haha. Tentu saja."
"Ayo, Lira."
Sementara itu, Andi dan yang lainnya diminta menceritakan petualangan mereka pada Perdana Menteri Jovi. Andi menjelaskan, "Itu sangat rumit untuk dijelaskan, Yang Terhormat Tuan Jovi."
"Berbagai rintangan kami hadapan sampai membuat kami terluka," sambung Rozza. "Tapi, itu pengalaman yang cukup seru …."
"Sangat menarik. Saya sendiri juga awalnya ragu menugaskan kalian semua atas perintah Yang Mulia. Tapi tak disangka kalian mampu melakukannya," ucap Perdana Menteri Jovi.
"Kan kami bukan rakyat miskin. Jadi, kami mampu, haha!" canda Andre.
Tak lama, Zihan melihat sekelebat bayangan. Dia hendak pergi dengan alasan ingin buang air. Di ruangan lain, dia dikagetkan oleh kedatangan Adinda Putri.
"KAU?!" teriak Zihan. "Apa yang kau lakukan di sini, hah?!"
Seraya tertawa, Adinda berucap, "Wow … santai sajalah, hahaha. Aku tak bermaksud jahat di sini …."
Adinda memperingatkan Zihan, bahwa akan terjadi sesuatu di dalam istana saat acara dimulai. Namun, Adinda hanya memberinya sebuah petunjuk supaya dapat ditebak sendiri. "Cawan kekuningan, di dalamnya mengundang burung gagak."
"Apa …?" Zihan keheranan dengan petunjuk itu. Tak lama kemudian, Adinda menghilang.
Zihan berbatin, "Dia serius mengatakan itu?"
Sore hari pun telah tiba. Rheina dan rekan-rekannya beserta seluruh anggota kerajaan berkumpul di ballroom. Mereka memulai acara dengan sebuah pidato dari Perdana Menteri Jovi. Setelah pidato selesai, semuanya pun berpesta meriah. Raja Rovin, sang Ratu, Princess Lira, Rheina beserta rekan-rekannya menjamu makanan. Mereka semua tengah menikmati makan sepuasnya dengan bebas.
Rheina dan yang lainnya menikmati segalanya, namun tidak dengan Zihan. Dia memperhatikan sekitar seolah mencurigai sesuatu. Rheina yang melihatnya bertanya, "Ada apa, Zihan?"
"O-oh … tak apa, haha …," jawabnya.
Luca dan Veronica turut hadir dalam acara. Acara itu juga dimeriahkan oleh pertunjukkan tarian, theater, dan juga permainan. Raja Rovin mengadakan ini semua atas permintaan Doctor Damon untuk merayakan keberhasilan Rheina dan rekan-rekannya.
Di samping itu, Zihan melihat ada dua orang mendekati keluarga raja. Awalnya, dia menganggap mereka adalah pelayan biasa. Tak lama, sang raja disuguhkan minuman jeruk oleh salah satu pelayannya. Dari situ, Zihan menyadari perkataan Adinda tadi. "Mungkinkah …!"
"Ini spesial untuk Yang Mulia. Silahkan diminum …," ucap seseorang yang diduga salah satu dari pelayan tadi.
Di saat sang raja ingin meraih gelas itu, Zihan secara diam-diam menunduk ke bawah kolong meja, kemudian menyiapkan panah untuk menembak kaki si pelayan pemberi minuman itu.
Shot!
"AKHH …!" Si pemberi minuman kesakitan, seketika minuman itu terciprat ke wajah Perdana Menteri Jovi. Saat itu terjadi, Zihan cepat-cepat kembali ke tempat asalnya.
Raja Rovin hendak menegur si pelayan. Tiba-tiba, sang raja dipukul olehnya sehingga membuat seisi istana kaget dan heboh melihat kejadian itu. Tak lama, Princess Lira ditangkap oleh dua orang pelayan itu.
Raja Rovin berteriak, "LIRA!"
"PRINCESS …!" Rheina hendak menghampiri, namun dua orang tadi menodong senjata tajam ke arah Princess Lira. Setelah itu, mereka berdua membuka penyamaran. Sangat mengejutkan bahwa mereka adalah Thea dan Michael.
"KALIAN …!" teriak Andi.
Thea mengancam, "JANGAN ADA YANG BERGERAK ATAU DIA TAK AKAN SELAMAT!"
Suasana istana berubah menjadi kepanikan setelah melihat sang princess ditangkap oleh Thea dan Michael. Mereka semua ketakutan dan tidak bisa berbuat apa-apa.