
Ben dan seluruh anggota berkumpul. Meskipun gagal menahan RAZAR, mereka senang telah berhasil mendapatkan yang mereka incar, yaitu Astatine, Jadeite, Technetium, dan Aquamarine dari genggaman Rheina. Mereka mengira keempat zat mistis tersebut adalah sungguhan. Saat itu juga, Adinda pun datang dan memberi tahu kepada Ben bahwa empat zat mistis itu hanya tiruan.
"Kau ini bercanda, kan?" tanya Ben.
"Untuk apa aku bercanda, haha …," gelak Adinda seraya menunjukkan, "Coba kau periksa dulu semuanya …!"
Adinda juga berbatin, "Bajingan. Dia pikir aku selalu bercanda."
Setelah Ben memeriksa semua zat mistis tersebut, ternyata semuanya palsu. Para anggota yang lain kaget setelah mengetahui hal itu. Adinda menertawai secara diam-diam karena melihatnya merasa dibodohi.
"Wah, wah …," ucap Riki sambil makan permen karet, "ternyata mereka telah mempersiapkannya, ya …."
Ben marah dan memukul meja sembari bergumam "Sialan! Beraninya para serangga itu menipuku …!"
Melihat situasi tersebut, para anggota yang lain meninggalkan Ben. Adinda mendatanginya yang sedang marah dan membisikkan suatu hal. Dia ingin membantu memulihkan harga diri Ben dengan mengusulkannya sebuah rencana yang berbahaya. Ben pun menyetujui usulannya.
"Kalau begitu … aku harus mengutuskan dua orang yang belum ada satu pun melakukan pekerjaan ini," kata Ben.
"Ah … si pene–ror dan si mantan hitman, ya?" simpul Adinda seraya pamit. "Akan kunantikan, hehe …."
Ben, sebagai tangan kanan sang master, mempercayai tugas apapun kepada para anggotanya. Meskipun begitu, dia masih merasa kesal karena kegagalannya tersebut. Dia berjanji akan menghancurkan RAZAR dengan segala cara agar dapat melampiaskan amarahnya. Dua orang yang diutusnya pun datang.
"Kalian harus mulai bergerak sekarang. Aku takpeduli mau dengan cara yang bagaimana. Kalian harus bisa melakukannya." tegas Ben.
Dua orang itu tersenyum dan menyahut Ben bersamaan, "Demi sang master, kami siap menerimanya."
***
Rheina beserta rekan-rekannya berada di istana Veroeland bersama dengan Bella dan Duke Astoradis dari Boress. Raja Rovin sangat bangga terhadap mereka berlima yang telah berjuang mendapatkan keempat zat mistis.
"Kami ucapkan selamat kepada kalian berlima. Dengan begini, dunia ini akan terselamatkan dari organisasi …," Raja Rovin mengucapkan ungkapan selamat, namun dia lupa nama organisasinya.
"Prime Syndicate, Yang Mulia," tambah Andre.
Raja Rovin melanjutkan, "Ah … benar. Kami sangat menghargai kemampuan kalian dalam menangani semua kesulitan dari tindak kejahatan mereka (Prime Syndicate) pada kalian."
"Itu bisa dilaksanakan dengan baik berkat kerja sama kami. Terima kasih atas pujiannya, Yang Mulia," ucap Rheina sambil menundukkan kepala.
Saat itu juga, Raja Rovin pun memberi tahu sesuatu pada mereka berlima. Dia merasa khawatir dengan ancaman dari Prime Syndicate yang berusaha merebut zat mistis, karena itu Rheina beserta rekan-rekannya dibebastugaskan sampai mereka dipanggil kembali untuk melaksanakannya.
"Untuk sementara, kalian boleh bersenang-senang dulu," perintah sang raja. "Kalian pasti lelah berhari-hari melakukan perjalanan, bukan?"
Rheina dan rekan-rekannya senang dengan keputusan sang raja membebastugaskan mereka berlima. Raja Rovin juga memberi mereka tempat tinggal lagi di vila yang sama. Mereka berlima pun pamit dan bebas melakukan segala aktivitas.
Di ruangan aula, Rheina mendatangi Duke Astoradis. Dia bingung dan bertanya, "Duke. Bagaimana bisa Anda mengikuti kami bersama dengan rombongan? Prince Roodis pasti akan mencarimu jika Anda tidak segera pulang …."
"Itu tak apa-apa, Kak," ungkap sang duke. "Aku tadi menyelinap masuk, hehe. Lagi pula, tak ada yang lebih menyenangkan selain bersenang-senang di negeri lain."
Di sela perbincangan, Princess Lira mendatangi Rheina dan Astoradis. Sang princess justru senang dengan kehadiran Astoradis, namun dia juga khawatir padanya lantaran pergi kemari sendirian.
"Duke. Bagaimana kamu akan pulang nanti?"
"Itu bisa diatur, Princess. Aku bosan berada di negeri sendiri, hehe."
"Begitu, ya. Mau bermain-main?"
Rheina diajak juga oleh mereka, namun dia ingin menemui Andi dan yang lainnya. Sang princess beserta Astoradis pun pergi ke suatu tempat. Rheina bergegas untuk mencari Andi.
Di samping itu, Andi tengah berbicara dengan Perdana Menteri Jovi di halaman depan istana. Dia mengungkapkan rasa kagumnya kepada sang menteri. "Pak. Saya melihat Anda melawan musuh dengan kemampuan berpedang yang Anda miliki. Itu keren!"
"Terima kasih, Tuan Andi," jawab sang menteri. "Hamba dilatih untuk melindungi keluarga kerajaan dan para warga jika itu perlu."
Di sela percakapan, tak lama, Rheina menghampiri Andi yang tengah berbicara dengan Perdana Menteri Jovi. Rheina mengajak Andi untuk menemui rekan-rekan yang lain. Mereka berdua pun berpamitan kepada sang menteri.
"Apa yang kamu bicarakan pada Menteri Jovi, Andi?" tanya Rheina.
Andi menjawab, "Aku suka saat dia membantu kita waktu kejadian itu. Aku juga memintanya untuk menjadi pembimbing agar bisa mempelajari kemampuannya itu padaku."
"Kamu ingin berguru dengannya?" Rheina takjub matanya berbinar-binar. "Itu bagus, Andi!"
Tak lama, Zihan, bersama dengan Andre menghampiri Rheina dan Andi. Rheina menyadari bahwa Rozza tidak ada bersama mereka. Zihan berpikir bahwa Rozza berada di rumah sakit tempat adiknya dirawat. Rheina dan yang lainnya pun segera meninggalkan istana.
"Bro. Nanti kita makan barbeque, yuk!" ajak Andre.
Andi berkata, "Ide bagus! Aku juga ingin makan daging!"
"Rheina juga suka!" jawab Rheina. "Tapi, kita harus menemui Rozza dulu."
"Bagaimana kalau kita membeli sesuatu untuk adiknya Oza?" Zihan mengusulkan demikian pada Rheina dan yang lainnya. Mereka bertiga pun menyetujui usulan Zihan dan mendatangi pasar untuk membeli makanan. Setelah itu, mereka berempat pergi menuju ke rumah sakit dekat pusat kota.
Sesampainya di rumah sakit, Rheina dan yang lainnya masuk ke kamar Rosalina, adiknya Rozza. Kamar pasiennya sangat istimewa karena dikhususkan untuk pasien VIP saja. Rozza juga sudah berada di samping adiknya. Rosalina dengan senang menyambut datangnya mereka berempat.
"Hai, Rosalina! Rheina rindu sekali denganmu …." Rheina sangat senang dan memeluk Rosalina.
"Bagaimana keadaannya, Bro?" tanya Andre.
Rozza menjawab, "Dokter telah menanganinya dengan baik. Dia akan segera pulih."
"Syukurlah, Rosalina …." kata Zihan sambil memegang tangan Rosalina.
Saat itu juga, Rozza mengungkapkan rasa senangnya dalam hati. Dia beranggapan bahwa semua pertolongan itu ada karena dia bertemu dengan Rheina dan yang lainnya. Dia juga tidak lupa dengan janji dari adiknya, Rosalina, untuk terus bersama dengan Rheina.
"Jangan lupa diminum obatnya," pesan Rozza pada adiknya. "Aku akan pergi bersama mereka."
"Baik, Kak! Hati-hati di jalan, ya!" sahut Rosalina.
Rheina dan rekan-rekannya berpamitan kepada Rosalina. Kini, mereka berlima memiliki waktu luang untuk bersenang-senang. Tidak lupa juga Andre mengajak semuanya untuk berpesta barbeque. Rozza pun senang karena ingin memakan makanan kesukaannya, yaitu steak.
Rheina mengusulkan, "Bagaimana kalau kita ajak Luca dan Veronica juga?"
"Benar juga. Tanpa mereka, kita takbisa sejauh ini!" kata Andi.
"Berkat mereka juga," sambung Zihan, "kita mendapat senjata dan peralatan baru."
"Tunggu apa lagi? Ayo ke laboratorium!" ajak Andre.
Perjalanan Rheina beserta rekan-rekannya berhenti untuk sementara. Mereka hanya menunggu sampai waktunya tiba agar dapat berpetualang lagi. Empat zat mistis telah mereka dapatkan dan masih tersisa 3 lagi yang harus mereka cari.
...Selesai …....