RAZAR - First Journey

RAZAR - First Journey
Journey 25: Escort



Di sisi lain, sang Master pemimpin Prime Syndicate datang menemui seluruh anggotanya. Mereka semua tunduk patuh terhadapnya. Sang ketua perwakilan memberi tahu rencana barunya. Dia menemukan sesuatu di suatu negeri bernama Boress. Mereka menduga zat mistis ada di kota tersembunyi dalam negeri tersebut.


"Itu luar biasa!" puji sang Master. "Aku mengandalkan kalian semua!"


"Kami pasti akan berhasil kali ini, Master," ucap sang ketua.


Sang Master pun pergi meninggalkan mereka semua. Sang ketua menegaskan akan beraksi untuk mendapatkan zat mistis yang diduga berada di negeri Boress. Kali ini, Diane sendiri ditugaskan untuk menghalangi Rheina dan rekan-rekannya.


Diane berkata dengan remehnya, "Serahkan padaku, Ketua. Ini akan mudah karena si penyihir itu masih takut akan kejadian itu, haha."


Kemudian, sang ketua juga menyuruh satu anggota yang lain untuk bergerak ke arah perbatasan antara negeri Zinslova dan Laszi dengan negeri Boress. Orang yang dikirim oleh sang ketua adalah prajurit haus darah yang ganas.


"Waduh … si barbar turun tangan, nih, hehe …," ringis Riki dengan senyuman mengejek.


El Joque Bersaudara diberi tugas untuk menyerbu mencari kota tersembunyi di Boress. Sudah ada empat anggota yang dikirim sang ketua. Mereka semua bergerak sesuai tujuan masing-masing. Adinda yang mendengar rencana itu secara diam-diam tersenyum lebar. Seperti biasa, dia harus mengawasi Rheina dan rekan-rekannya lagi.


***


Keesokan harinya, Rheina beserta rekan-rekannya kembali ke laboratorium. Luca dan Veronica kembali memberi arahan kepada mereka berlima. Luca membuat perangkat ponsel canggih yang telah diperbaharuinya, sedangkan Veronica memberi rute perjalanannya. Dikarenakan seluruh transportasi dalam masa perbaikan, mereka harus memesan kendaraan umum.


Rheina berseru, "Ayo kita berangkat, teman-teman!"


"Ayo!" sahut Andi, Zihan, Andre, dan Rozza.


Rheina dan rekan-rekannya kembali memulai perjalanan. Mereka berlima sampai ke kota lain. Di tengah jalan, tiba-tiba kelompok anak-anak berlarian melewati arah mereka berlima. Mereka kebingungan dengan orang-orang itu. Kemudian, Andre menemukan dompet yang terjatuh. "Eh … ini dompet punya orang tadi?"


Tiba-tiba, ada kerumunan orang-orang mendatangi mereka berlima dan menuduh, "ITU PENCURINYA!"


Rheina beserta rekan-rekannya dikepung massa. Mereka berlima heran bercampur panik lantaran orang-orang menuduh mereka sebagai pencuri. Lalu, mereka hendak dibawa ke kantor polisi.


"APA-APAAN INI!" teriak Andi. "LEPASKAN KAMI!"


"KALIAN SALAH MENUDUH ORANG!" protes Zihan.


Sesampainya di kantor polisi, mereka diinterogasi oleh salah satu petugas. Andi bersikeras protes bahwa mereka semua tidak bersalah. Andre dituduh oleh si petugas karena mengambil dompet milik seorang wanita.


"Kok kau memegang dompet itu, sih, bodoh!" kesal Zihan.


"Ya maaf. Kupikir itu dompet milik orang–" Andre berkata demikian dengan terputus, "jangan-jangan mereka pelakunya!"


Mereka berlima malah dikenakan tuduhan fitnah. Di saat seperti itu, Andre menelepon seseorang secara diam-diam, "Kak. Kemari sini aku ada masalah. Tolong, ya."


Mereka tetap protes dengan sang petugas, hingga setelah beberapa jam kemudian, muncul seorang wanita berseragam seperti karyawan kantoran, serta dua orang bertubuh besar di belakangnya. Rheina dan yang lainnya sontak kaget dengan kedatangan mereka, kecuali Andre. Wanita itu mendatangi petugas.


"Hey, Pak. Cabut tuntutan mereka. Jika kau masih menuduh mereka, maka aku akan membuat perhitungan di sini." Si wanita menantang petugas polisi itu. Setelah wanita itu beradu mulut, mereka berlima terbebas dari tuntutan.


Andre pun berterima kasih padanya, "Ahaha beruntung saja ada kakak. Terima kasi–"


Si wanita menendang perut Andre. "Beruntung katamu?! Enak sekali kau memanggilku di saat aku sibuk!"


Rheina dan yang lainnya turut berterima kasih, serta meminta maaf telah merepotkannya. Si wanita pun memaklumi mereka semua. Malahan, dia tertarik karena berpikir Andre memiliki teman baru. Mereka berempat memperkenalkan diri masing-masing.


"Wah, jarang-jarang Andre bisa bertemu dengan orang-orang hebat seperti kalian, haha," ucap si wanita sambil memperkenalkan diri juga. "Aku Bella Hildane. Sama seperti Andre, aku seorang pebisnis."


Bella Hildane merupakan anak direktur perusahaan ternama yang sudah lama berteman baik dengan Andre. Dia termasuk wanita paling berpengaruh dalam urusan perdagangan internasional.


Bella memperhatikan Rheina, kemudian berkata, "Wah, kau pasti gadis yang luar biasa dari kelihatannya. Aku tebak kau paling kuat dari si Bodoh Andre, kan?"


"Jangan gitu, dong, Kak …," resah Andre.


"Tidak kok, hehe," jawab Rheina. "Rheina hanya bisa bertahan dan memberi kekuatan yang dari depan saja."


Bella semakin tertarik dengan Rheina. Kemudian, dia bertanya tentang tujuan mereka. Andi menjelaskan bahwa mereka akan pergi ke suatu negeri, namun tidak ada kendaraan umum yang bisa mereka kendarai.


"Bukankah kau memiliki banyak mobil, Dre?" tunjuk Bella pada Andre.


"Oh, itu …," Andre menjawab, "sudah kujual semua untuk aset perusahaan, hehe."


Bella memukulnya dengan keras karena kesal. "Seharusnya kau sisakan satu saja, Bodoh!"


Beruntung, Bella mau menawarkan bantuan pada Rheina beserta yang lainnya. Mereka disuruh ikut dan akan dikawal oleh kedua 'bodyguard' Bella. Semuanya masuk ke dalam mobil milik Bella. Rheina dan rekan-rekannya senang mendapat tumpangan gratis.


Rheina berkata, "Terima kasih, Tante Bella. Repot-repot sudah memberi kami–"


"Panggil saja kakak, Rheina …," potong Bella.


"Haha, kau ini …." Zihan tertawa sambil memukul pundak Rheina. "Kemarin Veronica, sekarang Kak Bella kau panggil Tante juga."


Bella ingin tahu lebih banyak tentang Rheina dan yang lainnya. Dimulai dari Rozza sampai Rheina. Bella semakin tertarik dengan latar belakang masing-masing, kecuali Rheina dan Andi. Meskipun penasaran, Bella pun memaklumi mereka berdua.


Tanpa disadari, mereka semua telah memasuki daerah di negeri Fienest. Karena hari sudah menjelang sore, mereka berlima harus singgah ke penginapan untuk beristirahat. Semuanya rebutan kamar yang paling bagus untuk dipesan. Mereka pun bersantai di kamar masing-masing.


Andre dan Andi sedang bermain game bersama. Andre tiba-tiba bersin sampai ingusnya keluar banyak. Andi menjauh karena jijik. "Jorok sekali kau, sialan!"


"Ah … akhir-akhir ini sepertinya aku kena flu," kata Andre.


"Kau suka dengannya?"


"Bodoh. Aku cuma bertanya saja."


"Oh. Sebenarnya, sih, tanpa dia aku tak bisa melanjutkan perusahaanku. Begitulah …."


Hari sudah larut malam. Rheina dan yang lainnya segera pergi tidur. Semuanya tidur di kamar mereka masing-masing, artinya satu kamar satu orang. Sebelum tidur, Rheina merasa aneh saat melihat di sebuah cermin. "Perasaan Rheina saja, mungkin?"


Mereka semua pun tidur. Pengawal yang menjaga Bella tidur secara bergantian untuk mengawal, sedangkan Bella masih belum tidur dan tengah memperhatikan sebuah batu berwarna kuning. Batu tersebut terlihat penting baginya.


Keesokan harinya, mereka semua pergi melanjutkan perjalanan. Tak lama, Veronica memberi tahu mereka semua bahwa ada radar merah yang terdeteksi dari arah barat mereka. Rheina dan rekan-rekannya harus memeriksa wilayah itu. Bella beserta dua bodyguard-nya turut mengikuti mereka.


Mereka semua dikejutkan oleh kerusuhan di suatu kota. Porcupine Veidro muncul untuk berbuat kerusakan di sana. Rheina dan yang lainnya hendak menolong para warga.


"SEMUANYA, AYO KEMARI SELAMATKAN DIRI!" tegas Andi.


Zihan turut membantu mengamankan para warga. "Jangan saling dorong-mendorong. Lewat sini!"


Porcupine Veidro menembakkan duri-duri ke arah para warga. Rheina, Andre, dan Rozza yang melihatnya langsung menghentikan tembakan itu dengan senjata mereka.


[Twistier: Wind Back]


Sihir angin milik Rheina dapat menghempas duri-duri itu hingga mengenai Porcupine Veidro itu sendiri. Mereka semua heran bagaimana Veidro itu bisa datang ke kota. Tak lama kemudian, muncul Diane Carter.


"Sialan. Ini ulahmu?" tanya Rozza dengan nada lantang.


Diane menyeringai dan berkata, "Kalau iya, memangnya kenapa?"


"Kau harus membayar semua akibat dari perbuatanmu ini!" Andi mulai menyerangnya, namun serangannya dapat dihindarkan. Diane malah datang ke arah Rheina. Dia menyerang dengan kasar menggunakan jarumnya. Beruntung, Rheina dapat menghindarinya juga.


"Hey, apa kau mau menyusul ibumu?" hina Diane.


"Rheina tidak akan lari lagi sekarang," tekadnya. "Rheina harus melindungi kebahagiaan semua orang!"


Bella melihat hal itu merasa panik lantaran dia tidak bisa melakukan apapun. Dia bisa saja bertarung, namun dia lupa membawa senjata. Para pengawal melindunginya. Dia melihat Rheina yang gigih seakan memiliki potensi kuat untuk menolong orang.


"Hey, ayo kembali ke mobil. Ada sesuatu di sana!" perintah Bella.


"Baik, Nona Bella!" sahut kedua pengawalnya.


Sementara itu, Rheina dan yang lainnya bersama melawan Diane dan Porcupine Veidro. Mereka semua kesulitan melawannya, apalagi Veidro itu juga suka menembak duri sembarangan.


[Grountier: Smash Boulder]


Rheina secara beruntun melepaskan sihir tanah penghempas ke arah Porcupine Veidro, namun Veidro itu bisa menghindari setiap serangan sihir Rheina. Dia terhempas akibat pukulan dari Veidro. Rekan-rekannya berteriak khawatir padanya. Dia pun bangkit seraya berkata, "Rheina harus kuat! Sebab itulah Rheina menentukan takdir ini!"


"Lucu sekali kau, Nak," ledek Diane. "Kau bahkan jauh lebih lemah!"


Tak lama kemudian, Bella muncul dan hendak melemparkan sesuatu pada Rheina. "RHEINA. TANGKAP INI!"


Rheina menangkapnya. Dia bingung dan bertanya, "Apa ini, Kak Bella?"


"Itu adalah batu petir. Beruntung, aku menyimpankannya. Gunakanlah!"


Rheina setuju untuk menggunakan batu itu. Dia menaruh ke tempat Magic Conductor berada. Batu itu memancar listrik yang membuat Diane didekatnya terhempas karena setruman listrik.


[Electric Gate]


"Luar biasa!" seru Rheina. "Akan Rheina coba, nih!"


[Electier: Thunderstorm]


Sihir petir itu digunakan oleh Rheina dengan mantra yang sama dengan sihir angin. Sihir itu mengeluarkan badai petir yang dapat menyambar Veidro itu dengan cepat. Rheina pun mencoba sihir lainnya.


[Electier: Lightning Burst]


Sihir tembakan petir itu dapat menyambar Diane dan Porcupine Veidro. Diane kesal dan hendak menyerang Rheina, namun dicegah oleh Andi. Rheina harus menyelesaikannya dengan sihir lainnya dari batu elemen petir itu.


[Electier: Shockwave]


"Mari kita selesaikan yang ini!" Rheina menghempas sihir gelombang kejut ke arah Porcupine Veidro, seketika membuat Veidro itu hancur karena tegangan listrik yang dahsyat.


"Awas kau!" Diane pun kabur setelah gagal menghentikan mereka semua.


"KITA BERHASIL LAGI, YUHU …!" teriak Zihan.


Rheina senang dengan keberhasilannya itu. Dia merasa bukan apa-apa jika tidak ada rekan-rekannya. Bella mendatangi Rheina dan memujinya. Rheina pun berkata, "Terima kasih, Kak Bella. Berkat kakak juga, Rheina jadi terbantu dengan ini …."


"Kegigihanmu itu membuatku semakin tertarik padamu, Rheina," ucap Bella. "Simpan saja batu itu untukmu. Itu cukup membantumu kedepannya."


"Ayo kita lanjut!" ajak Andre.


Semuanya pun melanjutkan perjalanan lagi. Bella juga harus tetap mengantar Rheina dan yang lainnya untuk sampai ke tempat tujuan dengan selamat. Mereka tiba di perbatasan negeri Zinslova dan Laszi. Akan muncul adanya peristiwa setelahnya.