RAZAR - First Journey

RAZAR - First Journey
Journey 32: Siege



Riki dan Diane kembali ke markas. Mereka berdua kesal dengan kegagalan mereka. Kemudian, sang ketua muncul untuk memerintah para anggotanya untuk berkumpul. Hanya beberapa orang yang telah menunjukkan wujud asli mereka, diantaranya Thea, Michael, El Joque Bersaudara, Riki, Adinda, Hannibal, Diane, dan Mitra.


"Hadiri semuanya. Kita, Prime Syndicate, harus melakukan penyerangan pada pengganggu kita yang beranggotakan lima orang itu," ujar sang ketua.


"Hey, hey … kau menyuruhku menyerang mereka lagi setelah babak belur begini?!" Riki menentang perintah sang ketua, namun sang ketua tidak menghiraukannya dan tetap fokus memberi tahu rencana.


"Cih. Aku dicuekin …!" kesal Riki dalam hati.


"Boleh juga …," Mitra duduk sambil memegang dagu. "Aku taktahu siapa mereka sebenarnya. Tapi, kali ini kita pasti bisa, aha!"


Adinda menunjukkan senyum lebar seperti biasa seraya menyampaikan, "Mereka telah menyebut diri mereka sebagai 'RAZAR', hihihi!"


"RAZAR? Nama yang norak, haha …," cela Michael.


"Begitu, ya …." Sang ketua berdiri dan berseru, "Jadi, mulai sekarang kita menyebut mereka demikian. Kalian harus segera berangkat bersama, kemudian hadang sebelum mereka pulang!"


Para anggota menyahut sang ketua tanda merespon dengan baik pelaksanaan penyerangan. Prime Syndicate hendak menghadang Rheina sebelum mereka berlima sampai ke negeri Veroeland.


Adinda merasa tidak tertarik untuk bertarung dengan Rheina dan yang lainnya. "Aku menonton saja, haha …."


***


Rheina dan rekan-rekannya kembali dari kota bawah laut Zonaqua. Kini, mereka berlima hendak pulang ke Veroeland untuk mengabarkan keberhasilan mereka mendapatkan 4 zat mistis.


"Rheina. Bukankah sebaiknya kita singgah ke istana Prince Roodis dulu?" usul Zihan.


Andre bersemangat berkata, "Iya! Ayo kita makan-makan di sana!"


"Ish kau!" Andi kesal dan memukul kepala Andre. "Makan saja tahu kau!"


"Baiklah. Kita pergi ke istana." Rheina pun mengajak mereka ke istana untuk berpamitan. Sesampainya di sana, ada Duke Astoradis yang bermain di taman. Dia menyambut dan membawa mereka berlima ke ayahnya, sang prince.


"Ayah. Mereka sudah datang …." Duke Astoradis menunduk hormat pada ayahnya.


Prince Roodis menyambut Rheina dan rekan-rekannya. Sang prince ingin menawarkan mereka berlima untuk singgah sementara di istana. Meskipun mereka menginginkannya, terutama Andre, mereka harus segera pulang ke Veroeland untuk melaksanakan tugas baru.


"Itu pasti sangat sulit bagi kalian melakukannya. Kami berharap kalian bisa lebih lama berada di sini," ucap Prince Roodis.


Sang princess, istri Prince Roodis, juga ingin Rheina dan rekan-rekannya tinggal sementara di istana, begitu juga dengan sang duke, Astoradis. Rheina pun berkata sambil menunjukkan jari kelingking, "Kami akan datang di lain waktu. Janji!"


"Aku suka gaya kakak." Sang duke juga memberi jari kelingkingnya sebagai tanda janji pada Rheina.


Rheina dan rekan-rekannya pun berpamitan kepada seluruh penghuni istana beserta sang prince, princess, dan duke. Mereka berlima berjalan kaki melewati perbatasan negeri Boress dengan Zinslova-Laszi. Perjalanan dilalui selama lebih dari 5 jam.


"O ya," Andi mengusulkan, "Kita bikin pesta daging waktu pulang. Bagaimana?"


"Pesta daging? Maksudmu Barbeque?" tanya Zihan.


"Uwogh … Barbeque, ya? Ayo kita cepat-cepat pulang!" ajak Andre.


"Rheina juga setuju!" seru Rheina.


Di sela perjalanan, tiba-tiba, mereka dihadang oleh para anggota Prime Syndicate. Tidak hanya itu, sang ketua juga turut ikut dalam upaya penghadangan tersebut. Rheina dan rekan-rekannya terkejut dengan kedatangan mereka semua.


"Kalian?!" Zihan menggigit bibirnya. "Sialan. MAU APA KALIAN?!"


"Para bajingan ini kelihatannya masih belum jera juga." Rozza mengisi amunisi pada pistol.


"Mereka ini ternyata masih bocah, ya …," hina sang ketua Prime Syndicate.


"Siapa kau?!" Andi mengeraskan suaranya karena kesal.


Kemudian, sang ketua memperlihatkan dirinya. Dia terlihat seperti seorang pastor mengenakan kemeja elegan dengan memegang buku dan berkacamata. Rheina beserta yang lainnya merasa seperti pernah melihatnya di suatu media.


Mata Andre melebar seolah tahu. "J-jangan-jangan …!"


"Ben Juneau …," lanjut Rheina.


"Pastor yang terkenal itu dan dia … ketua organisasi?!" Zihan menyangkanya demikian.


"Kalian kenal aku, ya …." Sang ketua bernama Ben Juneau itu mengungkapkan, "Aku hanya tangan kanan dari sang master kami semua."


"Master?" Andi mengerutkan hidung keheranan. Ben menjelaskan bahwa dibalik Prime Syndicate, ada pemimpin sebenarnya dari organisasi tersebut. Mereka semua hanya bertujuan untuk merebut semua zat mistis yang sudah dikumpulkan Rheina dan rekan-rekannya.


Ben memerintah para anggotanya untuk menyerang RAZAR. Pertarungan tidak seimbang lantaran Rheina dan rekan-rekannya melawan 8 dari mereka semua. Mereka berlima hampir kewalahan, apalagi jumlah mereka yang tidak seberapa menghadapi organisasi tersebut.


Rheina dengan Andi berhadapan dengan Riki, Diane, dan Mitra. Rheina diserang dua orang tersebut secara langsung, sedangkan Andi melawan Riki lagi. Rheina hanya bisa menangkis serangan lantaran dia tidak ingin menyerang. Diane menghinanya dengan kalimat yang sama seperti pada waktu di kota Zonaqua. Rheina tidak memperdulikan hinaan Diane.


"Hey, Cewek Sialan. KEMARI SINI!" Mitra begitu semangat untuk menyerang. Namun, Rheina bisa menghindar dengan menggunakan sihir tanah pelindung.


[Grountier: Smash Boulder]


Sementara itu, Zihan, Andre, dan Rozza, melawan Thea, Michael, El Joque Bersaudara, serta Hannibal. Mereka bertiga kalah jumlah, namun bukan berarti mereka akan kalah. Andre memiliki kesulitan menghadapi El Joque yang di bawah kendali dari Hannibal. Dia hanya bisa bertingkah konyol dengan menari-nari, tapi Hannibal merasa kesal dengannya.


"Dasar nge-cheat! Satu lawan satu sini kalau kau berani!" tantang Andre.


Hannibal masih memiliki dendam pada Andre. Dia tidak menghiraukan apapun dan terus fokus menyerang tanpa henti.


Di samping itu, Ben hanya melihat pertarungan mereka. Dia berencana untuk menganalisa Rheina beserta rekan-rekannya. Hal itu dia lakukan agar kedepannya tidak ada masalah dalam menghadapi mereka berlima. Pertarungan pun berlangsung lama.


...Bersambung …....