
Rheina beserta rekan-rekannya mencari Adinda yang menculik seorang anak kecil. Mereka berlima berpencar ke beberapa arah untuk mencarinya. Rheina mencari di taman kota, Andi menuju ke pasar, Zihan serta Rozza pergi ke arah perkotaan, sedangkan Andre malah mencari di suatu tempat tongkrongan para preman. Dia juga berlagak seperti agen mata-mata di sana.
"Kijang satu, ganti …!" ucap Andre dengan konyolnya.
Di samping itu, Rheina menemukan sebuah jejak kaki saat mencoba mencari di lorong gang. Dia mengambil sampel jejak kaki itu menggunakan perangkat dari Luca.
"Ini pasti berguna sebagai petunjuk." Rheina melanjutkan pencarian.
Sementara itu, di pasar, Andi mulai bertanya dengan orang sekitar mengenai wanita berjubah. Setelah itu, dia menemukan salah satu orang yang melihat pergerakan Adinda.
"Benarkah …?!" Andi bertanya, "Apa dia membawa seorang anak kecil?!"
"Benar. Dia berlari sambil menggendong anak-anak," jelas seseorang yang merupakan saksi mata. "Kurasa dia pergi ke arah sana."
Saksi mata itu menunjuk ke arah di mana Adinda pergi. Andi bergegas pergi ke tempat yang telah ditunjuk oleh si saksi mata. Tak lama, Rheina datang memanggil, "Andi!"
"Eh, Rheina …?" Andi bertanya, "Kenapa bisa ke sini?"
"Rheina mendapatkan jejak kaki seseorang. Mungkin akan jadi bukti bahwa ini jejaknya Adinda."
"Kalau begitu ayo ikut aku."
"Apa kamu tahu sesuatu, Andi?"
"Ada saksi yang mengatakan bahwa seorang wanita berjubah menuju ke arah depan kita."
"Baiklah. Mari kita cari bersama …!"
Di tempat lain, Rozza dan Zihan tengah mencari-cari juga. Tak lama kemudian, Rozza melihat ada beberapa kamera CCTV yang terpasang di setiap sudut jalan. Itu mengingatkannya sesuatu pada saat dia bekerja sebagai Hitman dulu.
"Zihan. Ikuti aku," ajak Rozza.
Zihan bertanya, "Mau kenapa?"
"Ada sesuatu yang ingin kuperiksa." Rozza dan Zihan pergi ke suatu tempat. Mereka sampai ke kantor sistem kendali lalu lintas. Rozza meminta izin untuk melihat monitor CCTV pada petugas. Sang petugas pun mengizinkannya.
Rozza mengecek kondisi jalanan pada rekaman 30 menit yang lalu. Hasilnya, di suatu jalan raya, tertangkap seorang berjubah merah membawa seorang anak pada kamera CCTV. Zihan menunjuknya, "Itu dia! Si Brengsek itu!"
Mereka berdua bergegas keluar untuk menuju ke tempat yang dimaksud. Tak lama kemudian, di tengah jalan dia dikagetkan oleh Andre yang terhempas keluar dari tempat. Dia diusir karena mengusik para preman.
Zihan menolong si Andre sambil berkata dengan kesal, "Apa yang kau lakukan, Bodoh!"
"Ya maaf, kupikir itu cewek ada di tempat ini, haha …," jawab Andre.
"Jangan buang-buang waktu." Rozza pergi duluan. Andre dan Zihan turut mengikutinya. Mereka bertiga pun akhirnya bertemu Rheina dan Andi. Zihan memberi tahu bahwa Rozza tahu arah Adinda melalui rekaman CCTV. Rozza memimpin arah jalan. Akhirnya, Rheina dan rekan-rekannya menemukan sebuah gudang besar yang kelihatannya sudah tidak terpakai lagi.
"Jangan bilang," simpul Rheina, "dia ada di sana …?"
"Bisa jadi. Si Brengsek itu mencoba menjebak kita lagi sepertinya!" kata Zihan.
"Okelah. Ayo masuk Pak Eko!" Andre memasuki gudang itu duluan. Rheina dan yang lainnya pun juga ikut masuk tempat tersebut. Kesunyian meliputi seisi gudang itu. Mereka berlima mencari sampai ke dalam. Tak lama, mereka dikejutkan oleh si anak yang terikat di tiang-tiang.
"Dik …!" Rheina hendak mendekat si anak. Andi melihat sesuatu yang aneh berupa bayangan. Dia pun menarik baju Rheina untuk menghindari bayangan itu. Tak lama, ternyata benar bayangan itu mengeluarkan semacam tangan-tangan seperti jebakan berduri.
"HIHIHIHIHIHI …!" Suara tertawa cekikikan itu membuat suasana berubah menjadi seram. Semuanya menjadi ketakutan setelah mendengarnya.
"Selamat datang, Rheina … Andi … Zihan … Andre … Rozza. Kalian gampang sekali menemuiku, haha," Adinda berkata dengan suara nyaring.
"Bajingan. Keluar kau!" geram Rozza. "Jangan merepotkan kami!"
Tak lama, Adinda memperlihatkan dirinya dari belakang mereka berlima. Zihan langsung berbalik badan hendak memanahinya, namun Adinda dilindungi oleh perisai dari sihir kegelapannya. Dia mendatangi Zihan dengan cepat dan memukulnya sampai terhempas.
BUMP …!
"SIALAN!" Andi menghampiri untuk menyerang. Akan tetapi, Andi dihajar oleh tangan-tangan bayangan. Dia berteriak dan terjatuh. Adinda menggunakan sihir penghilang, kemudian dia mendatangi Andre.
Andre merasa merinding ketakutan. "Ke mana cewek itu?!"
Tiba-tiba, Andre ditolak oleh Adinda sampai terhempas ke mesin dan dia pun kesetrum. Rozza bersiaga menerima serangan. Adinda tahu bahwa dia akan menghindar, oleh karena itu dia melompat ke atas dan memukul dengan kepalan tangan bayangan.
Adinda menghampiri Rheina dan berbisik, "Jangan takut, Rheina …. Aku akan buat ini jadi pelajaran, haha."
Rheina yang takut dengan Adinda tidak sengaja mengeluarkan sihir bola apinya ke arah wajahnya. Adinda menahan sihir itu dengan tangannya, kemudian dia menyeringai sambil berkata, "Api, ya … hahahaha!"
"Kau sepertinya terlalu percaya diri sekali, Rheina. Lihatlah ini." Ternyata, Adinda juga bisa mengendalikan sihir api. Api merupakan sihir keduanya. Rheina dipukul perutnya oleh Adinda.
"KYAAA …!" Rheina terjatuh sampai menabrak tiang. Dia berusaha bangkit, namun Adinda mendatanginya lagi untuk melakukan sesuatu. Andi dan Rozza hendak menyerang bersamaan. Tiba-tiba, mereka berdua terhempas oleh sihir kegelapan saat hendak menghampirinya. Andi dan Rozza menabrak Andre yang berada dibelakang mereka.
"Kalian bodoh …!" tawa Adinda. "Menyerang tanpa rencana, haha."
Di samping itu, anak yang disandera itu kembali siuman. Zihan melihat si anak dan menghampirinya diam-diam. Dia segera melepaskan sanderaan anak itu. Kemudian, si anak berbisik, "Kak. Itu …."
Anak itu menunjuk ke arah atas. Di sana, terdapat bola batu besar yang bergelantungan. Zihan mendapat ide setelah melihatnya. Dia pun memanah ke arah tali yang menggantung bola batu itu.
"RHEINA … AWAS!" Zihan memperingatkan ada bola yang menghampiri Rheina dan Adinda. Adinda menjadi lengah melihat bola batu. Pada kesempatan itu, Rheina mengeluarkan sihir tanah untuk memukul Adinda.
[Grountier: Smash Boulder]
Adinda terpukul mundur oleh sihir batu pendorongnya Rheina. Saat itu juga, Andi mencoba untuk membanting Adinda yang datang menghampirinya dengan teknik membanting ala gulat.
[Wrestling: Slam Choke]
Adinda dicekik dan dibanting oleh Andi dengan kuat sampai tanahnya retak. Untuk pertama kalinya, Adinda berteriak saat kepalanya terhantam ke tanah. Tak lama, saat Andi hendak memukul, tiba-tiba dia dilempar oleh Adinda sampai terhempas jauh dan mengenai tumpukan balok.
Zihan meminta Rozza untuk merencanakan penyerangan. Si anak juga diam-diam melemparkan besi ke arah bola batu yang mengayun itu. Rozza dan Zihan menyerang secara serentak. Namun, mereka pun berhasil dihajar oleh Adinda.
"KALIAN … BERANI SEKALI MEMOJOKKU!" pekik Adinda seraya tertawa.
Dia lanjut berbicara, "AKU AKAN–"
CRASH … BUMP!
Tiba-tiba, bola batu itu menghantam Adinda sampai mengenai dinding. Darah mengalir deras sampai lantainya banjir. Mereka berlima merasa terkejut dan histeris dengan darahnya yang keluar banyak. Anehnya, Adinda bisa tertawa di saat seperti itu. Suasana menjadi lebih menyeramkan dari biasanya.
"D-dia ini hantu, kah?!" Andre merasakan ketakutan yang luar biasa lantaran melihat Adinda bisa bangkit dengan wajah dan tubuh penuh dengan darah dan luka serius.
Zihan menjadi kaku setelah melihat Adinda yang seperti itu. "Dia gila …!"
"LUAR BIASA, HAHAHAHA … KALIAN HEBAT …!" seru Adinda sampai darahnya bercucuran.
"Sialan … kau telah melanggar perjanjian yang kau buat sendiri!"
"SIAPA BILANG?!" ketus Adinda, "AKU HANYA INGIN MENGUJI KEMAMPUAN KALIAN, HAHAHAHA!"
Motivasi Adinda tidak begitu jelas di mata Rheina dan rekan-rekannya. Dia begitu misterius dan cenderung licik akan rencananya. Perjanjian Adinda dan mereka berlima masih terikat dengan kutukan yang dia berikan pada Rheina.
"AKU BENCI MENYEBUT SATU PER SATU. KUBERI KALIAN JULUKAN SAJA. RAZAR …!" Adinda pun menghilang setelah mengatakan demikian.
"RAZAR? Apaan itu …?" kata Andi keheranan.
Rheina dan rekan-rekannya bersama dengan si anak kecil keluar dari gudang. Anak itu berkata dengan nada lirih, "Maafkan aku telah menipu kalian sebelumnya …."
"Tidak apa-apa, Dik," jawab Rheina sambil mengelus pundak si anak. "Yang berlalu, biarlah berlalu. Kami akan mengantarkanmu pulang sekarang juga."
Setelah itu, anak itu memberi tahu alamatnya. Mereka berlima pun pergi mengantarkannya pulang. Tak lama, mereka heran si anak menunjuk arah ke istana.
"Kau ini sebenarnya siapa?!" tanya Andi keheranan.
Si anak pun melepaskan pakaian usangnya dan memperkenalkan diri. "Duke Astoradis, Putra dari Roodis."
Mereka berlima pun kaget setelah mendengar fakta bahwa orang yang mereka tolong adalah seorang duke. Lalu, beberapa orang keluar dari istana dan mendatangi sang duke tersebut.
"Astoradis, anakku!" ucap wanita yang diduga adalah ibunya anak bernama Astoradis itu.
Mereka semakin kaget dengan kehadiran Princess Boress itu. Astoradis menjelaskan yang terjadi pada ibunya. Dia menunjuk Rheina dan rekan-rekannya sebagai penyelamatnya. Sang princess pun berterima kasih kepada mereka semua telah menyelamatkan anaknya.
"Tidak apa-apa, Yang Mulia Princess." Rheina menjelaskan, "Kami sebenarnya hanya ingin melanjutkan perjalanan dan kebetulan menemui Duke Astoradis."
"Begitu, ya …. Bagaimana jika kalian masuk dulu?" ajak sang princess.
"Apa Yang Mulia yakin?" tanya Zihan.
Sang princess mengungkapkan rasa terima kasihnya terhadap Rheina dan rekan-rekannya karena telah menolong anaknya, Duke Astoradis. Mereka berlima pun dipersilahkan masuk ke dalam istana kerajaan Boress.