RAZAR - First Journey

RAZAR - First Journey
Journey 24: Determination



Setelah Rheina beserta rekan-rekannya membereskan kasus pemberontakan, mereka berlima menginap semalaman di istana, kemudian kembali ke laboratorium. Rheina masih ketakutan atas kejadian itu meski sudah berkali-kali melawan traumanya. Hal itu membuat Zihan kesal saat Rheina mengeluh.


"Hey …," ucap Zihan pada Rheina, "sampai kapan kau harus terus memikirkan itu?!"


"Duh … jangan kasar begitu, dong. Kasihan Nona Rheina," mohon Andre.


Zihan membentak, "Kalau begini terus, kita tidak akan bisa melanjutkan perjalanan!"


Suasana menjadi canggung. Semuanya merasa khawatir dengan Rheina. Di sela kecanggungan itu, Doctor Damon datang menyambut mereka semua. Namun, sang doctor bingung dengan situasi di laboratorium. "Kok kalian murung?"


"Ah … itu karena peristiwa kemarin makanya jadi begini, Doctor," kata Veronica.


"Begitu, ya?" Doctor Damon berpesan pada mereka, "Ayolah semangat! Yang berlalu biarlah berlalu."


Doctor Damon mengganti topik pembicaraan dengan menyampaikan sesuatu pada mereka berlima. Mereka harus menentukan tujuan selanjutnya dari perjalanan mereka. Setelah menyampaikan hal itu, Doctor Damon pamit pergi.


"Emm … yah, mungkin sebaiknya kalian pikirkan dulu tentang tugas kalian. Akan kuberi kalian waktu sampai besok," kata Luca.


"Maksudmu kita libur lagi?" Andre berseru, "Yeah!"


Andi memukul kepalanya. "Libur saja pikiranmu!"


Setelah itu, Rozza mulai mengungkapkan sesuatu tentang dia bertemu dengan Adinda dua hari yang lalu. Zihan pun bertanya, "Kau juga bertemu dengan dia?"


Lalu, Rozza memberi tahu bahwa dia harus menyampaikan ini pada Rheina dan yang lainnya untuk pergi ke negeri bernama Boress. Konon, ada kota tersembunyi yang tidak semua orang tahu di negeri tersebut.


"Rheina …," tanya Andi, "bagaimana menurutmu? Kamu yang menentukan."


"Sudahlah jangan pikirkan masalahmu. Lagi pula, kau yang memimpin tugas ini," ujar Zihan.


Rheina pun menjawab, "Baiklah. Tapi, Rheina masih ingin memikirkan persiapan kita semua."


Luca ingin mereka menentukan kapan waktunya mereka akan bersedia. Waktu sudah menjelang siang hari. Mereka berlima pun masing-masing pergi untuk memikirkan hal itu.


***


Di lain sisi, dalam markas Prime Syndicate, seperti biasa Thea dan Michael merasa kesal atas kegagal mereka. Hannibal sedang tidak baik-baik saja lantaran masih murka dengan Rheina beserta rekan-rekannya, terutama Andre.


"Sial!" Michael menendang barel di sampingnya. "Padahal tinggal sedikit lagi kita akan merebut zat mistis dari mereka!"


"Jika saja bukan karena lima orang itu, kita sudah bisa mendapatkannya!" ucap Thea.


Riki datang untuk meledek mereka lagi. Michael kesal dan terjadilah adu mulut. Beruntung, sang ketua muncul untuk menghentikan pertengkaran itu. Sebenarnya, sang ketua juga kesal dengan kegagalan itu.


"Zat mistis harus segera kita rebut. Aku tahu mereka telah mengambil 3 bagian. Tapi …." Sang ketua menoleh ke arah Riki. "Harusnya itu tidak diambil sembarangan …."


"Waduh … sepertinya aku dalam masalah, nih," batin Riki.


Tak lama kemudian, Adinda datang mengusul sang ketua untuk merencanakan perebutan salah satu zat mistis di tempat lain. Sang ketua menyetujui usulan Adinda. Dia pun merencanakan hal itu dalam waktu yang lama.


"Kalau sudah begini … aku harus bertindak juga, hehe," batin Adinda.


***


Rheina pergi ke istana untuk menemui Princess Lira di taman bunga. Dia mulai curhat kepada sang princess mengenai keputusan dan penentuan atas dirinya pada sebuah tugas. Sang princess juga merasa khawatir padanya.


"Apa kau masih memikirkannya, Rheina?"


"Begitulah …."


"Jangan, ya. Aku bakalan sedih kalau kau sedih lagi."


"Lira …."


"Kau harus jadi pahlawan untuk semua orang. Lagi pula, kau sendiri pernah bilang tidak ingin mengecewakan siapapun, bukan?"


Rheina mulai sedikit tergerak hatinya saat sang princess berpesan padanya. Dia menjadi sadar karena telah mengkhawatirkan rekan-rekannya waktu tadi. Kemudian, dia pun hendak pamit pada sang princess untuk menemui rekan-rekannya.


Sementara itu, Andre sendirian berada di atas pohon sambil menjilat lolipop. Dia juga bernyanyi sebuah lagu sambil mengulurkan tangan hormat di sana. Di sela asyiknya bernyanyi, tiba-tiba dia dikagetkan oleh kemunculan Adinda di bawah.


GEDEBUK!



Andre terjatuh dari atas, seketika dia bertingkah dengan melakukan gerakan konyol. "Woy, sini maju kau! Biar kupatok pakai jurus ular, nih!"


Adinda menggerenyotkan bibir seraya berkata, "Jangan banyak tingkah …."


"Apa maumu?" tanya Andre.


Adinda ingin minta uang darinya. Andre ingat bahwa dia dan rekan-rekannya telah terikat sebuah perjanjian Adinda untuk menuruti keinginannya. Terpaksa Andre memberi uang padanya. Setelah itu, Adinda ingin Andre menebak sebuah tebak-tebakan.


"T-tunggu," kata Andre, "pikiranku agak kacau nih gara-gara tebakkanmu itu!"


"Tidak … Andre. Aku sungguh memberi tahumu sekarang. Kau tak punya waktu untuk menjawabnya nanti, lho …." Adinda mendekati dan menatap wajahnya dari dekat.


Andre menutup hidungnya sambil berkata, "Eww … kau tak pernah sikat gigi, ya? Napasmu bau sekali."


Mendengar celetukan Andre, Adinda menolaknya sampai terjatuh. Setelah bangkit, tiba-tiba Adinda menghilang. Andre merasa heran dengannya. Tak lama, Andre mencium bau kotoran. Ternyata, tangannya terkena lumuran kotoran sapi saat dia terjatuh tadi.


Andre berkata dengan wajah merasa jijik, "IHHH … anjir. Kok jadi sial begini, sih!"


Di lain sisi, Rheina berjalan ke arah taman kota. Dia melihat banyak anak-anak bermain bersama, ibu dengan buah hatinya, dan para orang tua yang menikmati masa tuanya. Hal itu membuatnya tersenyum, walau dia sendiri tidak bahagia sama sekali.


Andi, Zihan, dan Rozza kebetulan berjalan di taman. Mereka bertiga melihat Rheina, kemudian mendatanginya, disusul oleh Andre juga. Mereka berlima berkumpul untuk bertanya soal penentuan.


Tak lama, Andre berkata, "Bro. Aku ketemu si Adinda tadi."


"Kau bertemu dengannya juga?" tanya Andi keheranan. "Kenapa dia hanya bisa menemui kita satu per satu, ya?"


"Memangnya dia bilang apa padamu?" sambung Zihan bertanya.


Andre ingat Adinda memberi sebuah tebak-tebakan padanya. Dia mengatakan hal itu pada mereka semua. Kalimat dari tebakan darinya sangat ambigu untuk didengar. Kemudian, Zihan menyimpulkan, "Mungkin itu tengkorak?"


"Bisa jadi!" kata Andi.


Setelah mereka mencoba menebak, tiba-tiba terdengar teriakan dari arah padang rumput. Mereka berlima bergegas ke tempat suara teriakan itu berasal. Tak lama, mereka dikejutkan oleh Veidro berbentuk tulang belulang bernama Fossil Veidro.


"Sebentar …," kata Zihan menyadari hal itu, "maksud dari tebakannya adalah ini!"


Mereka terkejut setelah mengetahui fakta bahwa Adinda memberi petunjuk akan datangnya monster Veidro di tempat itu. Monster itu menghancurkan rumah warga dan orang-orang menangis tidak rela. Rheina miris melihat semua itu.


"Tak bisa dimaafkan! Mari kita habisi dia!" ajak Andi.


Andi dan yang lainnya melawan Fossil Veidro, sedangkan Rheina membantu warga sekitar untuk mengungsi dari tempat kejadian. Veidro itu sangat mudah dikalahkan. Andi bersama dengan Andre menebasnya berkali-kali sampai hancur, serta Zihan dengan Rozza menembakinya sampai menembus tulang.


Andre berucap seru, "Berhasil, kah?!"


Tak lama kemudian, tiba-tiba tulang Fossil Veidro itu menyatu kembali ke wujud semua. Itu membuat yang lainnya kaget. Terlebih, Veidro itu bertambah kuat. Andi dan yang lainnya pun terdesak. Rheina yang melihat hal itu tidak bisa berbuat apa-apa karena yakin mereka akan kalah.


Zihan melihat Rheina yang terlihat gelisah, kemudian menegurnya, "Woy, apa yang kau lakukan, Rheina? Ayo bantu kami!"


Rheina bingung karena tidak bisa menentukan sihir yang ingin digunakan. Semuanya dihajar habis-habisan oleh Fossil Veidro. Melihat semuanya terdesak, Rheina merasa tidak percaya diri.


"Sudahlah, Rheina! Kamu harus jadi kuat untuk bisa menolong semua orang!" ucap Andi.


Mendengar ucapan Andi, akhirnya, Rheina teringat kembali pesan terakhir ibunya itu. Hal yang sama persis diucapkan padanya untuk menjadi orang kuat. Begitu juga dengan apa yang dikatakan Princess Lira padanya. Dia sampai lupa sesuatu yang penting itu.


"Benar … apa yang Rheina pikirkan selama ini …." Rheina sadar bahwa tidak seharusnya dia bersikap seperti itu. Rekan-rekannya menunggu dan mengkhawatirkannya. Akhirnya, dia telah menentukan takdirnya untuk menolong dan melindungi kebahagiaan orang lain. Dia pun bangkit dan mulai beraksi.


[Firatier: Flamethrower]


Dengan ceria, Rheina menembak sihir tembakan api sembur ke arah Fossil Veidro. Andi dan yang lainnya senang melihat Rheina kembali ceria. Kemudian, dia mengeluarkan sihir tanahnya.


[Grountier: Rock Smash]


Sihir berbentuk kepalan tangan dari tanah itu mengenai Fossil Veidro, seketika Veidro itu hancur. Meski begitu, tulang belulang Veidro itu akan menyatu lagi. Di saat itu juga, Rheina ingat dia belum pernah mencoba sihir dari zat mistis Astatine.


"Baiklah! Kita akan menggunakan ini!" seru Rheina.


[Astatine Radiance]


Rheina mencoba sihir barunya itu dalam sekali pakai. Fossil Veidro mulai membentuk tulangnya lagi. Di saat-saat tepat, Rheina mencoba menggunakan pola yang sama waktu menggunakan sihir air.


[Astatier: Acid Radioactive Burst]


Sihir berupa cairan asam berkekuatan besar ditembak ke arah Fossil Veidro. Tak lama, Veidro itu meleleh perlahan-lahan dan semua tulangnya menghilang tanpa bekas. Rheina pun berhasil mengalahkan Fossil Veidro.


"BERHASIL, RHEINA!" seru Zihan.


Andi turut senang dan memuji, "Tadi itu luar biasa, Rheina. Kami senang kamu bisa bersemangat lagi!"


"Terima kasih, teman-teman. Berkat kalian, Rheina bisa termotivasi kembali," ujar Rheina. "Rheina juga minta maaf telah membuat kalian khawatir lagi …."


Andre mengelus kepala Rheina. "Itu bukan masalah, Nona Rheina! Kau sudah berusaha keras selama ini, hehe!"


"Sudah ditentukan, bukan? Kami mengandalkanmu, Nona," kata Rozza.


Setelah itu, Rheina meminta rekan-rekannya untuk kembali ke laboratorium. Mereka semua sudah menentukan tujuan dan harus bersedia untuk hari esok. Di samping itu, Adinda datang melihat Rheina begitu antusias dengan keberhasilannya.


"Bersenanglah dahulu, bersakit-sakit kemudian, haha … haha … haha!" gelak Adinda.