
Rheina beserta rekan-rekannya masih mendapat tumpangan oleh Bella. Mereka semua menuju ke daerah wilayah tengah negeri Zinslova dan Laszi. Tak lama kemudian, Bella secara mendadak ingin pergi dengan alasan ada sesuatu yang ingin dia urus. Dia pun pamit kepada Rheina dan yang lainnya.
"Kak Bella sudah pergi …," ucap Rheina. "Mari kita berjalan saja."
"Benar. Lagi pula, tinggal sedikit lagi kita sudah berada di perbatasan," pikir Andi.
Mereka berlima melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Mereka memasuki kawasan dataran rendah dengan nuansa sunyi, serta banyaknya pepohonan di sekitar. Tak lama kemudian, Adinda muncul di hadapan mereka semua. Andi kaget sampai-sampai memasang kuda-kuda seolah bersedia untuk menyerang. "Adinda!"
"Kau lagi?!" kata Rozza dengan nada lantang.
Adinda mengejek, "Kalian pikun atau memang bodoh, hahaha …."
"Kenapa Anda tahu kami di sini?" tanya Rheina. "Jangan-jangan, Anda menguntit kami semua, ya?"
Adinda ingin memberi tahu Rheina dan rekan-rekannya tentang 2 hal yang ingin dia sampaikan. Hal pertama adalah akan ada kekacauan di akhir batas. Itu artinya mereka akan mengalami kesulitan sepanjang jalan. Adinda pun menjelaskan hal kedua dengan menunjuk Rheina, "Kau … ya, itu kau, hahaha!"
"Memangnya kenapa dengan Rheina, hah?!" tanya Zihan.
Adinda menunjuk tangannya dengan tangan Rheina, kemudian memperagakan pose saling memegang tangan. "Ingat, tidak, waktu pertama kali kita bertemu …?"
Rheina mengecek tangannya, ternyata terdapat bercak hitam di telapak jarinya, serta mengeluarkan pancaran kegelapan dari tangannya. Hal itu membuat yang lain kaget setelah melihatnya.
Andre memasang wajah ketakutan. "K-kenapa tangan Nona bisa gitu …?!"
"HAHAHAHA …," gelak Adinda seraya menjelaskan, "Karena dia telah sukarela memberi tangannya padaku waktu itu … jadi aku tempelkan sihir kutukan di tangannya …."
"KAU, BERANINYA …!" Andi hendak menghampiri Adinda, namun Adinda menghilang tiba-tiba. Kecuali Rheina, Adinda menghempas yang lainnya dengan sihir kegelapan. Mereka berempat menjadi kaku dan merasakan kengerian saat terkena sihir Adinda.
"A-apa …." Zihan berusaha bangkit, namun tubuhnya tak bisa bergerak. "Badanku … gemetaran."
Adinda mendekati Rheina, kemudian berbisik, "Tanda itu akan menghilang saat aku mati, Rheina, hihihi …."
"T-takmungkin …," ucap Rheina dengan nada lirih.
"KALIAN SEMUA HARUS MENURUT PADAKU. DENGAN ITU … RHEINA BISA SELAMAT!" tegas Adinda. "Itulah mengapa aku mengajukan perjanjian pada kalian, HAHAHAHAHA!"
Adinda pun menghilang setelah berkata demikian. Andi dan yang lainnya sudah bisa bergerak seperti sedia kala. Mereka berempat takut dengan kekuatan kegelapan milik Adinda itu. Namun, mereka lebih takut dengan apa yang terjadi pada Rheina.
"Wanita itu …," geram Zihan, "dia telah memanfaatkan kita!"
"Anjir memang itu cewek. Licik sekali, dah!" kesal Andre.
"Rheina …." Andi melihat Rheina ketakutan karena pengaruh kegelapan di tangan Rheina. Namun, tak lama kemudian, Veronica menghubungi mereka berlima. Ada radar merah lagi di daerah perbatasan antara negeri Zinslova dan Laszi dengan Boress.
"Ayo kita periksa," ajak Rozza.
Mereka berlima memeriksa tempat itu. Tak lama, mereka terkejut melihat warga setempat rusuh. Mereka bertingkah seperti orang kelaparan dan memakan apapun itu, bahkan tanah sekalipun.
Andre berucap sambil menutup hidung, "Eww … jorok!"
"Apa yang sebenarnya terjadi …?" kata Zihan keheranan.
Mereka mencari tahu penyebab mereka seperti itu. Ternyata, para warga benar-benar kelaparan. Mereka seperti mayat hidup yang ingin memangsa daging. Tak lama kemudian, seseorang berjubah muncul. Mereka yakin orang itu pasti dari Prime Syndicate.
Orang itu membuka jubah untuk memperlihatkan diri sebenarnya. "Mitra Nukaumeme! Aku yang melakukan ini semua, aha!"
Mitra Nukaumeme adalah anggota paling bersemangat dalam bertarung. Dia bahkan tidak kenal ampun pada lawannya. Mereka berpikir bahwa kejadian yang dialami para warga adalah ulahnya.
"Benar. Mereka begini sudah seharian!" kata Mitra.
"Apa?!" kaget Rheina. "Itu kejam sekali …."
Mereka semua sangat terkejut saat mendengar para warga sudah kelaparan selama seharian. Mitra menghancurkan apapun yang bisa dimakan, bahkan tanaman hasil perkebunan sekalipun. Andi dan Zihan marah dengan Mitra, kemudian menghampiri untuk menyerangnya. Namun, Mitra memanggil Stag Veidro untuk menyerang Rheina beserta rekan-rekannya.
"Kenapa Prime Syndicate bisa menjinakkan Veidro seperti ini?!" kata Zihan keheranan.
Sementara itu, Andi dan Andre fokus bertarung dengan Mitra, kemudian mereka berdua mengincar belakang. Namun sayangnya, trik itu dapat dilihat oleh Mitra. Dia menghajar mereka berdua tanpa ampun.
"Ganas sekali ini cewek!" kata Andre sembari terengah-engah. "Kurasa di ranjang juga begitu."
Rozza dan Zihan hendak mengatasi Stag Veidro. Mereka direpotkan oleh serangan tanduknya. Zihan hendak diseruduk oleh Veidro itu. Rozza menahannya dengan kekuatan fisik. Zihan turut menahan, namun mereka berdua tidak bisa menahannya lagi dan terhempas.
Di momen yang sama, Rheina malah jadi incaran para warga. Saking laparnya, mereka ingin menggigitnya. Rheina tersandung batu dan terjatuh. Saat warga mulai mendekatinya, tak lama kemudian, muncul dua orang yang merupakan pengawal dari Bella. Rheina melihatnya terheran-heran. "P-paman … kalian?"
"Kau tak apa, Nak?" Bella menolong Rheina yang terjatuh.
Rheina bertanya, "Kenapa kakak bisa kembali lagi, Kak?"
Sebenarnya, Bella merasa khawatir dengan Rheina dan rekan-rekannya. Dia pergi ke suatu tempat hanya untuk membeli sebuah senjata karena itu akan menolong mereka semua. Lalu, Rheina menjelaskan yang terjadi sekarang padanya.
"Apa? Kau serius mereka-mereka ini kelaparan?"
"Benar, Kak. Rheina mohon jangan kasar pada mereka!"
"Tenang. Aku akan mengurus ini. Kau bantu temanmu saja!"
"Baik, Kak Bella!"
Rheina bergegas menolong temannya. Bella dan kedua pengawalnya hendak melakukan sesuatu. Mengingat para warga kelaparan, Bella harus memberi mereka makanan. Dia menyuruh salah satu pengawalnya untuk membeli beberapa makanan.
Sementara itu, Rheina beserta yang lainnya tengah berjuang menghentikan Mitra dan Stag Veidro. Mitra mengincar Rheina dengan alasan memastikan kekuatan. Rheina hanya menangkis dan tidak ingin melawan.
[Grountier: Earth Buckler]
Rheina berlindung dengan sihir pelindung dari tanah. Dia terus-menerus menangkis sampai kelelahan. Itu membuat Mitra merasa bosan. "Tak seru, ah. Enyahlah!"
Rheina dihajar olehnya. Andi dan yang lainnya panik melihat Rheina, kemudian menolongnya. Mitra bukan lawan yang mudah untuk dihentikan. Dia adalah wanita yang kuat dan liar. Rheina ingin bangkit. Namun, tiba-tiba, tubuh Rheina merasa seperti kesetrum. Ternyata, kegelapan dari tangan mengelilingi tubuhnya.
"AAAAKHH …!" Rheina merasakan sakit yang luar biasa.
"RHEINA!" teriak keempat rekan-rekannya setelah melihat apa yang terjadi pada Rheina.
Tak lama kemudian, Rheina menundukkan kepala dan bangkit. Saat mengangkat kepala, tiba-tiba matanya berubah menjadi merah menyala, seperti matanya Adinda.
Andi melotot kaget setelah melihat Rheina. "A-apa yang terjadi dengan Rheina?!"
"Dia sakit mata, kah?" kata Andre.
Di samping itu, Adinda melihat kejadian itu dan berkata, "Haha … mengamuklah, Rheina … tunjukkan padaku dirimu yang sebenarnya!"
[Shaditier: Dark Mist]
Rheina mengeluarkan sihir kabut kegelapan di tangannya tanpa tongkat sihir. Sihir itu mengarah ke Mitra dan Stag Veidro. Andi dan yang lainnya terkejut bercampur melihatnya. Hal itu juga membuat Mitra menjadi semakin liar dan ingin mengincarnya. Dia hendak menyerang Rheina, namun Rheina mulai mengeluarkan sihir lagi.
[Shaditier: Raven Dart]
Sihir berupa jarum besar mengarah ke Mitra. Dia menghindar setiap jarum yang datang. Tak lama, dia terkena jarum itu sampai berdarah.
"SIALAN!" Mitra mendatanginya lagi untuk menebas. Rheina menghindari serangannya. Setelah lama menghindari serangan, Rheina menangkap tangan si Mitra. Saat itu juga, dia mengeluarkan sihir dan diarahkan ke perut Mitra.
[Shaditier: Shadow Beam]
Mitra terkena luka fatal pada perut karena sihir tembakan bayangan. Hal itu membuatnya harus mundur dari pertarungan. "BERUNTUNG NYAWAMU SELAMAT!"
Rheina terdiam sesaat. Tak lama, dia pun pingsan tidak sadarkan diri. Andi dan yang lainnya hendak menolongnya. Saat itu juga, Bella mendatangi mereka berlima. Setelah melihat kondisi Rheina, dia menyuruh mereka untuk membawanya ke rumah sakit.