RAZAR - First Journey

RAZAR - First Journey
Journey 29: Games



Rheina dan rekan-rekannya memasuki istana. Namun, para penghuni istana memandang aneh mereka berlima. Andi dan yang lainnya menjadi tidak percaya diri jika dipandang seperti itu. Saat itu juga, Rheina memberi tahu mereka untuk bersikap sopan seperti biasa. Mereka berlima pun dapat mengatasi masalah tersebut.


Tak lama, mereka berhadapan dengan pemimpin negeri Boress, Prince Roodis. Duke Astoradis memberi salam atas kepulangannya. Setelah itu, Prince Roodis menatap Rheina dan rekan-rekannya. Lantas, sang prince bertanya, "Siapa mereka, wahai anakku …?"


"Mereka berlima datang dari negeri lain, Ayah," jelas Astoradis. "Mereka telah menolongku sewaktu aku di luar sana."


Sang prince memandang Rheina dan rekan-rekannya lagi dengan tatapan dingin. Itu membuat mereka berlima gugup di hadapannya. Istrinya, sang princess, ingin agar sang prince mau mengungkapkan rasa terima kasih kepada Rheina dan rekan-rekannya karena telah menolong sang duke.


"Sungguh tidak meyakinkan sekali ini …." Perkataan Prince Roodis membuat mereka berlima takut. Rheina ingin menjelaskan sesuatu padanya maksud kedatangan mereka untuk mencari kota tersembunyi di negeri itu. Hal itu membuat sang prince menjadi curiga.


"Kami hanya ingin melaksanakan tugas dari Raja Rovin dan tidak bermaksud apa-apa, Yang Mulia," Zihan berkata sambil menundukkan kepala.


Prince Roodis berpikir mereka harus diuji masing-masing kemampuan mereka. "Bagaimana jika kalian ikut serta dalam sebuah permainan yang kami adakan? Aku akan percaya langsung jika kalian memenangkannya."


Rheina beserta rekan-rekannya berdiskusi sebentar hal itu dan mereka setuju. Rheina pun menyampaikan setuju mereka semua atas permintaan sang prince. Sang prince memerintah para pengawal untuk mengantarkan mereka semua ke arena game berada.


"Bukannya seharusnya bagus begini?" kata Andi.


Rheina memasang raut wajah khawatir. "I-iya, sih. Lagi pula, kita tak punya pilihan …."


"Ayo semangat, Nona Rheina." Andre tersenyum untuk menyemangatinya. "Kita hanya perlu menang, bukan?"


"Bodoh. Jangan remehkan sesuatu hal seolah itu mudah," kata Rozza.


Mereka berlima sampai di lokasi perlombaan. Sebelumnya, Rheina dan rekan-rekannya telah terdaftar sebagai peserta secara otomatis pada saat sang prince menginginkan pembuktian. Perlombaan itu beragam macamnya, seperti lomba memanah, lomba pukulan terkuat, dan masih banyak lagi. Suasananya yang ramai mengisi meriahnya acara perlombaan tersebut.


"Hey, ini pesertanya sampai sekampung begini." Zihan merasa pesimis melihat seluruh peserta lomba. "Apa yakin kita bisa menang?"


Rheina menjawabnya, "Tenanglah, Zihan. Jika ada kerja sama, kita pasti bisa mencapainya!"


"Benar sekali! Sudah lama tak bergerak aktif sendi sehat semangat gowes!" seru Andre.


Di samping itu, ada sekelompok tim mendatangi mereka berlima. Orang-orang tersebut tampak meremehkan Rheina beserta rekan-rekannya. Rheina hanya bersikap santai seolah itu adalah perlombaan biasa. Kelompok tim itu tertawa terbahak-bahak mengejek Rheina dan yang lainnya. "Wah, wah. Mereka para bocah ini boleh juga!"


"Dre. Mereka meremehkan kau, tuh," kata Andi pada Andre.


"Cuma aku?!"


"Siapa lagi?"


"Ada-ada saja kau …."


Perlombaan akan segera dimulai. Sesi pertamanya adalah permainan individual. Rheina bertanding di Magic Beauty, Andi mengikuti permainan Punch Machine, Zihan dengan Top Dart Shot, Andre bermain Domino Card, sedangkan Rozza berada di Speed Slice Game. Semuanya menempatkan posisi permainan yang diikuti.


Rheina memulai permainan Magic Beauty. Permainan tersebut merupakan aksi menunjukkan kemampuan sihir. Juri akan menilai seberapa indah sihir yang dikeluarkan. Rheina bersaing dengan 4 kontestan lainnya dan mereka semua memandang aneh dirinya.


"Baiklah. Rheina harus mencoba yang ini!" Rheina tersenyum seraya memperlihatkan keindahan sihir apinya.


[Firatier: Fiery Ring]


Dengan anggun, Rheina mengeluarkan sihir pelindung dari cincin api. Dia juga sambil memperagakan pose cantiknya. Itu membuat para juri terkesima dengan penampilan anggun Rheina. Dia mendapat skor 92, sedangkan kontestan yang lain mendapatkan 70-85. Salah satu kontestan yang meremehkannya turut kesal akan kekalahan.


Sementara itu, Andi berada dalam permainan Punch Machine. Dia terlihat antusias menguji seberapa kuat pukulannya. Ada salah satu kontestan yang berbadan kekar menghina fisiknya, namun Andi tetap berpegang teguh pada keyakinannya.


"Hey, Kerdil. Lihat ini!" hina si kontestan.


Kontestan itu memukul mesin dengan keras dan mendapatkan skor 902. Andi bertekad di dalam hati, "Akan kubuktikan padanya bahwa aku bisa!"


Andi fokus pada pencapaian dengan menutup mata, kemudian menghirup udara segar dan membuangnya. Dia pun memulai pukulan dengan kepalan keberanian.


"HIYAAA!" Andi memukul dengan tegas sampai membuat mesin bergetar hebat. Akhirnya, Andi mendapatkan skor 970. Kontestan yang menghinanya terdiam membatu setelah melihat hasil akhirnya.


"Cih. Aku harus kuat menghadapi ini semua," batin Zihan.


Zihan mulai konsentrasi dalam membidik. Dia terus memperhatikan titik pusat pada papan itu. Dengan percaya diri, dia meniup sedotan yang sudah berisi anak panah dengan kuat ke arah papan. Zihan mampu mencapai sampai titik tengah target dan berhasil melampaui skor lawannya.


Berikutnya, Andre berusaha tampil keren untuk bersaing pada satu lawannya di Domino Card. Andre mendapat 2 balak kartu dan satunya dia gunakan. Kini, Andre hanya memiliki dua kartu, sedangkan lawan memiliki satu. Mereka pun memperlihatkan kartunya. Lawan memiliki angka 2/4. Saat giliran Andre yang membuka, ternyata dia hanya memiliki angka 2/1 dan 1/1. Andre dinyatakan sebagai pemenang.


"Makan, nih, balak 1 hahaha!" cela Andre pada lawan sehingga lawannya kesal.


Terakhir, Rozza berhadapan dengan permainan Speed Slice. Permainan tersebut merupakan aksi mengiris setiap benda apapun yang menghampiri. Dia ditantang oleh lawannya, "Jika kalah, kau harus berlutut padaku."


"Siapa takut …," kata Rozza dengan tenang.


Rozza menutup mata untuk fokus melakukan aksinya. Kemudian, dia pun mulai mengiris setiap benda yang datang. Secara luar biasa, dia mampu menghindari benda-benda yang muncul dengan cepat dari arah meriam di depannya.


"Pemenangnya ditentukan oleh seberapa banyak tebasan. Dia adalah … Rozza!" Juri telah melihat hasil akhir dari permainan itu. Rozza mengiris sebanyak 87 kali, sedangkan lawan 60 kali.


"Yang kalah berlutut, bukan?" ledek Rozza membuat kesal lawannya. "Sepertinya … kau harus melakukan itu."


Sang prince yang melihat Rheina beserta rekan-rekannya sangat kagum akan kemampuan mereka masing-masing. Namun, dia masih ingin melihat mereka di sesi permainan berikutnya, yaitu bermain kelompok. Ada 3 kelompok yang telah berhasil maju ke sesi selanjutnya.


Andi bertekad, "Ini waktunya mereka membayarnya!"


"Bayar apa?" celetuk Andre. "Tagihan listrik?"


"Membayar atas hinaan mereka lah!" lanjut Andi.


"Ayo, teman-teman. Kita pasti bisa!" Rheina penuh semangat menyampaikannya.


Permainan yang kedua pun dimulai. Mereka yang maju akan berada di dalam arena. Tak lama kemudian, pengumuman dikumandangkan, "Bersedialah untuk babak akhir selanjutnya. Kalian harus mengalahkan monster dengan kerja sama tim kalian!"


"Firasatku buruk, nih." Zihan menelan lidah karena khawatir.


"Menarik," ucap Rozza, "semoga ini akan berakhir bagus."


Tak lama kemudian, Spider Veidro muncul di hadapan mereka semua. Veidro tersebut sangat agresif dan berbahaya. Sebagian tim ketakutan menghadapinya, namun tidak dengan Rheina dan rekan-rekannya. Tim yang pertama mengalahkannya akan memenangkan perlombaan.


Spider Veidro maju menghampiri seluruh kelompok tim. Veidro itu mengeluarkan jaring laba-laba untuk menyerang. Rheina beserta rekan-rekannya berhasil menghindar, sedangkan tim lain terkena serangan dan gugur. Tim yang satunya sangat ketakutan menghadapi Veidro itu. Mereka berlarian seperti anak kecil.


"Lah, kok, pada lari semua seperti bocah?" Andre cengar-cengir melihat tim lain berusaha lari.


Rheina dan rekan-rekannya bersedia menyerang Spider Veidro. Zihan dan Rozza membidik untuk menembak ke arahnya. Andi dengan Andre bersama melompat ke arah Veidro. Mereka berempat secara kompak berhasil mengenainya. Pada kesempatan itu, Rheina mengeluarkan sihir apinya ke arahnya.


[Firatier: Heat Shot]


Spider Veidro itu tumbang setelah terkena sihir tembakan api. Rheina meminta rekan-rekannya untuk menggunakan Mixture Arsenal. Mereka berlima pun menggabungkan senjata. Senjata siap digunakan. Mereka semua serentak berteriak, "TEMBAKAN GANDA … FLAME SHOT"


Tembakan api menghancurkan Spider Veidro berkeping-keping. Mereka berhasil memenangkan perlombaan itu. Semua penonton heboh dengan kemenangan mereka, begitu juga dengan Prince Roodis, sang princess, dan Duke Astoradis. Mereka takjub dengan keberhasilan mereka berlima dalam mengalahkan Veidro.


Sang prince dan keluarga mendatangi Rheina beserta rekan-rekannya. Prince Roodis mengucapkan selamat kepada mereka berlima. Duke Astoradis turut senang dengan tim Rheina yang bersemangat dalam memenangkan pertarungan.


"Aku percaya bahwa kalian orang-orang yang memiliki keyakinan kuat dalam menghadapi segala apapun, termasuk untuk bisa membuktikannya padaku," ujar Prince Roodis.


Sang princess turut senang sambil menjabat tangan Rheina. "Nak. Ini luar biasa aku bertemu dengan orang sehebat kalian."


"Hebat, Kak!" Wajah Duke Astoradis tampak ceria.


Rheina dan rekan-rekannya berterima kasih atas pujian yang diberikan keluarga kerajaan. Mereka berlima telah membuktikan semuanya pada sang prince untuk meyakinkannya. Setelah itu, Prince Roodis mengundang mereka ke istana lagi.