RAZAR - First Journey

RAZAR - First Journey
Journey 27: Trick Trap



Sebelumnya, Rheina beserta rekan-rekannya dihadapkan oleh suatu peristiwa di kota mereka singgahi. Mereka berlima bertemu dengan musuh baru, Mitra Nukaumeme dari organisasi. Rheina hilang kendali akibat dari kutukan Adinda yang merasukinya dalam peristiwa tersebut. Beruntung, setelah musuh kabur, dia mendadak tidak sadarkan diri. Semua rekan-rekannya bersama dengan Bella membawanya.


Rheina kembali siuman setelah beberapa jam pingsan. Semuanya berkumpul untuk menanyai kondisi Rheina. Rheina pun bertanya, "Ini di mana …?"


"Kita sudah berada di negeri Boress, Rheina," jawab Andi. "Ini adalah rumah sakit kota Dopalos."


Rheina bertanya lagi, "Bagaimana dengan warga kota di–"


"Sudah kubereskan. Mereka sudah kembali normal." Bella telah memberi makanan para warga yang kelaparan itu dengan roti baguette. Mereka juga diberi bahan kebutuhan sehari-hari olehnya. Mendengar jawaban Bella, Rheina menjadi sangat lega.


"Maaf, ya, teman-teman. Gara-gara Rheina, kalian jadi repot begini …," sesalnya dengan raut wajah murung.


Semua rekan-rekannya tidak ada yang menyalahkannya atas semua itu. Mereka yakin akan baik-baik saja walaupun Rheina memiliki kutukan yang diberikan Adinda padanya. Hal itu membuat Rheina bersemangat lagi. Saat Rheina pulih, mereka melanjutkan perjalanan.


Andre bertanya pada Bella, "Kami harus pergi. Kakak sendiri bagaimana?"


"Aku bebas pergi ke mana saja," jawabnya. "Yang terpenting, jika ada masalah, panggil aku."


"Siap. 86!" sahut Andre.


Rheina dan rekan-rekannya pergi menuju ke tempat yang sudah diperdiksikan oleh Veronica. Tak lama kemudian, mereka menemukan empat orang sedang memojok seseorang. Rheina melihatnya, kemudian mendatangi mereka.


"Ada apa ini?" Rheina kaget melihat orang itu dipukuli oleh empat pembully itu. "Kenapa kalian memukulnya?!"


"Kau siapa? Mau sok jadi pahlawan di sini, hah?!" bentak salah satu pembully.


Tak lama, Andi dan yang lainnya datang untuk menghentikan keempat pembully tersebut. Para pembully hendak melawan, beruntung bisa dihentikan. Andi, Zihan, Andre, serta Rozza melawan mereka semua dengan mudah.


"Sini maju kau!" Andre melawan salah satu pembully menggunakan cara yang konyol, yaitu menipu seolah dia melihat sesuatu dengan menunjuk ke depan, seketika si pembully menoleh ke belakang. Andre pun memegang 'anu' si pembully, kemudian dia lempar ke arah kandang babi. Babi itu mengencingi si pembully.


"Parah kau, Andre. Anak orang kau masukkan ke kandang babi," kata Andi sambil tertawa.


Para pembully itu pun lari ketakutan. Kemudian, Rheina segera menolong si anak korban bully dan berkata, "Kamu tidak apa-apa?"


Si anak menjawab, "Tidak apa, Kak. Terima kasih sudah menolongku."


Kemudian, anak itu menjelaskan alasan dia dipukul. Orang-orang tidak percaya bahwa kota tersembunyi itu benar-benar ada. Anak itu memberi tahu bahwa kota itu berada di tengah hutan. Rheina pun mempercayainya. Namun, Andi dan yang lainnya merasa curiga pada si anak.


"Hey, Rheina …," bisik Zihan. "Kau yakin percaya pada anak ini?"


"Siapa tahu, dia benar. Kita hanya memeriksanya, bukan?" balas Rheina.


Mereka semua pun setuju dengan perkataan anak itu. Rheina memutuskan untuk pergi ke tempat yang sudah diberi tahu oleh anak tersebut. Mereka berlima pergi ke hutan rimbang di suatu daerah. Tak lama, mereka melihat kilatan cahaya di arah depan mereka.


"Kurasa kita harus ke sana," ajak Rozza.


Rheina beserta rekan-rekannya pergi ke arah cahaya tersebut. Tak lama kemudian, sesampainya di sana, mereka kaget ada El Joque Bersaudara berada di tempat tersebut.


Andi mewaspadai mereka. "MATIAS!"


"ALEJANDRO!" lanjut Andre.


"Kok … kalian ada di sini, sih?!" Matias keheranan sambil menggaruk kepala. Mereka semuanya kebingungan dengan kedatangan yang secara kebetulan.


Alejandro berkata, "Kami tak ada waktu untuk meladeni kalian! Katanya di tempat ini ada kota tersembunyi!"


"Apa?" tanya Zihan. "Kalian tahu dari mana?"


"Ada anak kecil yang memberi tahu kami. Sudah dicari sampai berhari-hari dan kami masih belum menemukannya!" jelas Matias.


Rheina berkata, "Anak tadi telah menipu kita semua …."


"Kalian juga kena tipu, ya?" ledek Andre terhadap El Joque Bersaudara. "Kasihan …."


El Joque Bersaudara tidak terima mereka di hina. Rheina dan rekan-rekannya diserang oleh kedua bersaudara tersebut. Pertarungan pun berlangsung. Keributan itu ternyata diketahui oleh Adinda. Dia melihat mereka bertarung, namun merasa ada yang aneh.


"Tunggu … ada apa ini?" batin Adinda. "Ini kerjaannya siapa …?"


[Buff Firatier: Flame Up]


Rheina membuat daya tahan rekan-rekannya meningkat dengan sihir kekuatan api. Mereka semua dapat melawan El Joque Bersaudara dengan mudah.


"Apa-apaan mereka?" resah Matias.


"Kita mundur saja. Tempat ini menjengkelkan." Pertarungan singkat itu berakhir dengan kaburnya mereka berdua. Tak lama, Rheina dan rekan-rekannya mulai merasa sesuatu tidak enak. Banyak serangga, aroma busuk, dan suasananya dingin menusuk. Mereka berlima bergegas meninggalkan tempat itu.


"Tempat itu mengerikan juga …," ujar Andi.


"Sialan itu anak. Bisa-bisanya menipu kita!" kesal Andre.


Kemudian, ada seorang paruh baya mendatangi mereka. Dia menjelaskan bahwa hutan itu tidak seharusnya dikunjungi orang-orang. Konon, tempat itu merupakan bekas korban peperangan dan menjadi tempat terangker yang pernah ada. Zihan menjadi merinding setelah mendengar penjelasan orang itu. "Pantas suasananya seram begitu!"


Setelah itu, mereka berlima memulai pencarian. Tak lama, mereka mendengarkan sebuah pengumuman. Pengumuman itu bersuarakan, "Kepada warga kota setempat. Mulai diadakan sebuah perlombaan di arena. Perlombaan ini diikuti secara berkelompok. Jika memiliki teman, kalian bisa mendaftar sekarang juga di pusat kota. Terima kasih!"


"Wah, ada lomba lagi! Kita ikut yuk!" ajak Andi.


Andre berkata, "Kau, nih. Ada hal menarik pasti ingin ikutan, haha."


Di samping itu, Zihan melihat anak kecil yang tadi. "ITU DIA!"


Saat semuanya menoleh, anak itu kabur ketakutan. Mereka berlima mengejarnya. Andre tidak sengaja menabrak orang lagi. Kali ini dia menabrak seorang pemabuk jalanan. Pemabuk itu pun terjatuh ke sumur.


Sambil berlari, Andre berbatin panik, "Waduh … malah kecebur!"


Tanpa disadari, anak itu berlari sampai ke jalan buntu. Rheina mendekatinya, namun dia didorong anak itu. Beruntung, Andre menangkap anak itu. "Ketangkap basah kau, Bocah Nakal!"


Rheina memohon, "Jangan sakiti dia, teman-teman!"


"Tapi anak ini sudah menipu kita!" kata Andi.


"Kita harus tahu dulu sebabnya, Andi." Rheina ingin si anak menjelaskan semua. Anak itu pun mau membuka mulutnya. Dia sebenarnya disuruh oleh seseorang menyampaikan berita bohong kepada masyarakat. Dia bahkan rela dibayar untuk melakukan itu.


"Hey …," Zihan bertanya, "siapa orang itu?!"


"Aku taktahu, Kak. Dia memakai jubah dan cara bicaranya aneh sekali. Itu saja yang kutahu!" jelas si anak.


"Orang-orang Prime Syndicate sialan …," kesal Rozza bernada rendah.


Mereka berlima pun membiarkan si anak untuk pergi. Tak lama kemudian, Adinda datang dan menangkap si anak. Rheina beserta rekan-rekannya terkejut dengan kehadirannya.


"ADINDA. SIALAN KAU!" kesal Andre.


"Aku akan membawa anak ini, hihihi …," ujar Adinda. "Akan kubuat kalian bermain petak umpet bersamaku!"


Adinda pun menghilang bersamaan dengan si anak. Rheina dan yang lainnya panik setelah melihat Adinda menyandera anak itu. Zihan berpikir bahwa dia yang telah memanfaatkan si anak. Mereka berlima harus mencari Adinda dengan berpencar ke tempat yang sama.