RAZAR - First Journey

RAZAR - First Journey
Journey 33: Arrest



Luca dan Veronica menyaksikan kejadian yang dialami RAZAR di perjalanan mereka melalui monitor jarak jauh. Mereka berdua panik saat melihat Rheina beserta yang lainnya diserang beberapa anggota Prime Syndicate. Luca menyuruh Veronica untuk melapor ke pihak kerajaan, namun Veronica ragu melakukannya.


"Apa yang kau pikirkan?" Luca meminta, "Ayo hubungi saja!"


"Tapi … aku takut jika Yang Mulia takpeduli dengan mereka berlima …." Veronica berkeringat dingin dan wajahnya pucat.


Luca memegang kedua bahu Veronica sambil berucap, "Hey. Nyawa mereka berlima itu penting! Lagi pula, Yang Mulia Raja Rovin amat menyayangi mereka. Mana mungkin dia takpeduli!"


Veronica pun menghubungi pihak kerajaan untuk mengabarkan Rheina dan rekan-rekannya. Petugas dari kerajaan berhasil dihubungi, lalu dia akan segera menyampaikannya ke Raja Rovin.


"Syukurlah …." Veronica mengelus dada. "Semoga Rheina baik-baik saja …!"


***


Rheina dan rekan-rekannya masih bertarung dengan anggota Prime Syndicate. Mereka berlima hampir di ujung kekalahan karena dengan jumlah mereka yang tidak seberapa itu. Anggota Prime Syndicate menyerang tanpa belas kasihan kepada RAZAR.


Rheina kesulitan menghadapi Diane dan Mitra sekaligus. Kedua orang tersebut begitu antusias melawan Rheina, terutama Mitra yang sangat liar. Namun, Rheina tidak menyerah dengan segala kesulitan itu. Dia menggunakan beberapa sihir, meskipun itu dapat membuang seluruh energi sihirnya dengan sia-sia.


"Kau takkan bisa mengalahkan kami hanya dengan bertahan seperti itu, Gadis Pengecut!" ledek Diane.


Sementara itu, Andi dibuat kewalahan oleh Riki. Dia tidak bisa menyerang dengan baik lantaran Riki tidak memberinya kesempatan.


"Takbisa, ya?" Riki menyerang secara beruntun. "Ini bukan waktu di kota itu, Bodoh, hahaha!"


"Kalian keparat! Aku takkan menyerah, SIALAN!" tekad Andi.


Riki menantang, "O ya …? Kalau begitu sini sentuh aku, haha …."


Di lain sisi, Zihan, Andre, dan Rozza, tidak seimbang menghadapi 5 orang. Itu sangat mustahil bagi mereka bertiga, apalagi Hannibal mengontrol El Joque Bersaudara, juga Thea beserta Michael yang kompak dalam menyerang.


"MATI!" teriak Hannibal sembari menyerang.


Di samping itu, Adinda menyaksikan pertarungan tersebut. Dia hanya duduk di atas ranting pohon seraya menertawai mereka semua. Dia berpikir akan lebih bagus diam untuk menunggu kekalahan Rheina dan rekan-rekannya. "Ayo teruskan, hahaha …."


Rheina tidak sanggup menahan serangan Diane dan Mitra. Andi tidak dapat menyentuh Riki sama sekali. Zihan, Andre, serta Rozza sangat kesulitan menghadapi El Joque Bersaudara, Thea, Michael, dan Hannibal. Mereka berlima pun kalah telak melawan Prime Syndicate.


Ben Juneau, sang ketua, mendatangi Rheina dan rekan-rekannya. "Itu sangat luar biasa kalian mampu bertahan berjam-jam lamanya untuk mengalahkan pasukanku …."


"Diam …!" Andi berusaha bangkit, namun kepalanya ditendang Riki.


Riki menyentuh dan membungkam mulut Andi. "Kau yang diam, Pecundang, haha."


"Sekarang …," tunjuk Ben, "kita harus cepat-cepat merebut semua zat mistis dari mereka!"


El Joque menggeledah tempat penyimpanan mereka semua. Akhirnya, mereka merebut keempat zat mistis dari Rheina. Ben memerintah para anggotanya untuk mengurung Rheina dan rekan-rekannya ke suatu tempat.


Tibanya di tempat seperti penjara, Rheina dan rekan-rekannya melihat banyaknya tahanan yang ditangkap oleh Prime Syndicate. Mereka berlima juga mengira bahwa tempat yang dimasuki mereka adalah markas Prime Syndicate.


"Sstt …," bisik Andre pada Andi, "ini markas mereka, kan?"


"Aku pun juga pikir begitu," jawab Andi bernada rendah.


Zihan berbisik juga, "Diam, bodoh. Kita bakalan dihajar lagi."


Mereka diletakkan ke satu sel bersama seorang wanita bernama Deborah Covet. Di sana, mereka berlima ditanya olehnya. Rheina dengan senang hati menjelaskan semua yang terjadi. Wanita tersebut pun menjelaskan latar belakang sedihnya pada mereka semua.


"Aku … hanya anak tunggal. Pergi merantau dan sekarang … aku terjebak di tempat ini …," Deborah berkata lirih. "Orang tuaku pasti sedih sekali melihatku begini … kasihan mereka."


Rheina dan yang lainnya menaruh simpati pada si wanita bernama Deborah itu. Rheina berjanji akan melepaskannya. "Tenang, Mbak. Saya yakin akan ada jalan keluar."


El Joque Bersaudara yang menjaga jeruji besi tempat Rheina ditahan merasa kesal melihat keberisikan Rheina. Mereka berdua mengancam akan membunuh mereka semua.


"Galak benar, anjir …," ucap Andre.


Di samping itu, Rozza melihat celah kecil di bagian dinding samping. Dinding tersebut menghubung ke jeruji lain yang tidak ditempati oleh tahanan. Di samping jeruji itu, ada kunci tidak terpakai yang diduga adalah kunci untuk semua pintu.


Rozza berbisik sembari menunjukkan ke arah celah, "Aku menemukan itu. Pastikan kalian berjaga-jaga melihat keadaan sekitar."


Rheina dan yang lainnya setuju untuk mengikuti instruksi dari Rozza. Rozza pun melakukan aksinya. Dia berusaha meraih kunci di sebelah jeruji melalui celah menggunakan sejenis kawat. Rozza berhasil mendapatkan kuncinya.


"Sip!" Andre berbisik, "Ayo cepat!"


Di saat El Joque Bersaudara berpaling lengah menjaga, mereka berkesempatan membuka pintu. Setelah pintu dibuka, Andi dan yang lainnya menghajar El Joque. Rheina berusaha membuka seluruh pintu jeruji pada setiap orang yang masih ditahan.


"BAJINGAN KALIAN …!" teriak Alejandro El Joque.


Tak lama, Riki dan Mitra datang untuk menyerang Rheina beserta rekan-rekannya yang berhasil kabur. Zihan dengan Rozza menahan kedua orang tersebut. Rheina masih berusaha menyelamatkan orang-orang yang masih ditahan.


"Ayo, semuanya." Rheina menyuruh para tahanan. "Kalian kaburlah …!


"HENTIKAN, ANDI …!" teriak Zihan sampai suaranya menjadi serak.


Andi meminta, "Aku akan menahan mereka. Jangan ganggu …."


"Wah, wah …," tantang Riki, "Mau mencoba mengalahkanku? Silahkan!"


Riki menghadapinya dengan tegas. Hal itu membuat Andi tidak berkutik. Andi melemah, namun tekadnya masih kuat. "Akan kulindungi rekan-rekanku tanpa ragu!"


Sementara itu, saat Rheina selesai menyelamatkan para tahanan, dia datang menolong Andi dan yang lainnya. Tak lama kemudian, batu Magic Conductor berwarna kuning bersinar di kantung Rheina. "Begitu, ya …. Rheina paham!"


"ANDI … TANGKAP!" Rheina melemparkan Magic Conductor petir itu ke Andi.


Andi menangkapnya, namun dia kebingungan. "Kenapa, Rheina …?"


"Tekad Andi membuat batunya bersinar," jelas Rheina. "Kekuatan itu memilihmu, Andi. Gunakanlah …!"


Andi menyetujui permintaan Rheina. Dia taruh Magic Conductor petir itu ke ujung gagang pedangnya.


[Electric Gate]


Andi merasakan kekuatan yang luar biasa pada pedangnya. Dia mendapatkan kekuatan petir dalam jumlah besar. Mitra menjadi tertarik dan menghampiri Andi. "AKU SANGAT SUKA ORANG KUAT!"


Andi menebas Mitra dengan penuh percaya diri. Tebasannya membuat Mitra tersetrum arus listrik yang kuat, seketika membuatnya terhempas.


"Anjir … keren sekali dia." Andre mulutnya menganga melihat aksi Andi.


"Sudah merasa hebat, ya?" Riki bersedia menyerang Andi. "AYO KEMARI, ANDI!"


SLASH …!


Andi berhasil mengenai Riki dengan goresan luka yang cukup dalam di tubuh. Riki juga kesakitan akibat dari sengatan aliran listriknya. "Sialan kau, Andi …."


Andi berhasil menumbangkan Riki dan Mitra. Namun, tidak sampai di situ saja. Rheina dan yang lainnya diserang El Joque dari belakang. Ben juga datang bersama yang lainnya. Mereka berlima dihalang supaya tidak kabur.


"Kalian para tikus mau berusaha lari, ya …." Ben memerintah untuk menghajar Rheina dan rekan-rekannya.


SHOT! SHOT! SHOT!


Tiba-tiba, Matias ditembak oleh kedua pengawal Bella. Bella datang menyelamatkan Rheina dengan tongkat sihirnya. Andre menggaruk kepala keheran. "Kak Bella?!"


[Raintier: Thunder Rain]


Sihir hujan petir itu menghujani pada anggota Prime Syndicate.


"Siapa kalian?!" kesal Thea.


Bella membalas, "Kau tak perlu tahu!"


Kemudian, para prajurit Veroeland yang dipimpin oleh Perdana Menteri Jovi datang dan melawan para anggota Prime Syndicate. Menteri Jovi juga bisa menggunakan kemampuan pedangnya untuk melawan beberapa anggota.


"Ternyata kalian dalangnya, ya …!" serang Menteri Jovi.


Raja Rovin dan Princess Lira juga muncul melihat Rheina beserta rekan-rekannya terluka. Bantuan itu datang pada mereka berlima berkat Luca dan Veronica yang memanggil kerajaan.


"Rheina …!" Princess Lira mendatangi Rheina.


Rheina dipeluk oleh sang princess. "Princess …."


Tak hanya itu, Duke Astoradis mendatangi Rheina. Princess Lira kaget dengan kedatangan sang duke dari Boress itu. Astoradis menanyai keadaan Rheina. Rheina pun menjawab, "Rheina tak apa-apa, Duke."


"Kalian beruntung!" tunjuk Ben. "Awas saja!"


Para anggota Prime Syndicate pun kabur. Rheina dan rekan-rekannya ditolong oleh pihak kerajaan beserta Bella. Rheina berterima kasih pada mereka semua yang telah menolong. Sang raja sebenarnya berhutang budi pada mereka berlima, begitu juga Princess Lira yang amat menyayangi Rheina.


"M-maaf, Yang Mulia. Kami kehilangan semua zat mistisnya …." Rheina menunduk menyesal pada sang raja.


Tak lama, Duke Astoradis menunjukkan sesuatu, "Kak. Sebenarnya … itu semua ada bersamaku."


Rheina dan rekan-rekannya kaget melihat sang duke menunjukkan keempat zat mistis tersebut. Lantas, Zihan bertanya, "Bagaimana bisa?!"


"Aku tak rela kalian pergi. Jadi, aku memalsukan keempat benda-benda itu dan mengambil yang asli semua dari tangan Kak Rheina. Tapi, kalian malah terkena masalah. Maafkan aku!" Untuk pertama kalinya, sang duke menunduk kepala atas penyesalannya.


Rheina pun mengelus pundak Duke Astoradis. "Kamu sudah menolong kami, duke. Itu hal baik yah seharusnya patut dipuji!"


Sang duke melirih, "Kakak …."


Raja Rovin sangat khawatir dengan kondisi Rheina dan rekan-rekannya. Mereka berlima dibawa oleh pihak kerajaan untuk perawatan. Bella dengan sukarela mau menuntun Rheina dan yang lainnya agar ikut serta bersama dengan Raja Rovin dan rombongan.