Rafael Bimasakti

Rafael Bimasakti
Langkah yang pasti



Tiba-tiba Saturnus berbicara.


"Tentu kami akan mempercayai harapanmu karna harapanmu sama dengan kami, Rafael kau benar kau tidak akan pernah sendiri karna kami akan selalu bersamamu, di sisimu, dan saling mendukung satu sama lain untuk mencapai apa yang seharusnya para bintang dapatkan.


Bukan hanya kebebasan atau kedamaian tapi kekeluargaan dan persahabatan karna kekuatan sahabat tidak bisa di kalahkan dan tidak ada kekuatan terkuat lain yang bisa menandingi nya.


Kau mungkin di bilang kuat tapi kau mempunyai hati yang lembut, itu bukanlah kelemahanmu untuk mengasihi seseorang tetapi seseorang yang justru memandang mu akan merasa dekat dan nyaman denganmu itulah daya tarik dari kekuatanmu, dan sifatmu itu sangat luar biasa."


...


Seorang pemuda berpostur tinggi dan tegap terlihat keluar dari sebuah kamar, langkahnya yang tegas dan pandangannya ke depan seolah menunjukkan ia ingin melakukan sesuatu dengan amat ketara.


Hingga tujuan berhenti ke sebuah tempat, rupanya tujuan awalnya adalah tempat latihan yang kemarin di gunakan teman-temannya.


Entah apa yang di pikirkannya, ia membuka pintu yang sengaja tak terkunci karna bisa saja ruang latihan itu di pakai oleh penduduk planet Aqua, katakan tempat itu umum tapi Aqua bilang tempat di khususkan untuk orang yang memiliki cukup umur dan kekuatan bintang yang setara dengan Leo.


Jupiters memandang sekitar ruangan itu, hingga pandangan terhenti pada senjata api yang tersimpan rapi di lemari kaca.


Dia lalu mengambil senjata itu dan bersiap membidik alis menembak target kayu yang ada di sana.


Tatapannya yang tajam bertambah tajam, dengan alis tebal dan iris mata berwarna hanzel Jupiters terlihat tampan dan keren di saat bersamaan.


Dorr!


Dan tepat sasaran!


"Pantas saja aku merasa ada orang di dalam, ternyata kau berlatih sepagi ini."


Sebuah suara familiar menginterupsinya, sontak membuat ia menoleh ke belakang dan mendapati seorang pemuda sebayanya yang memiliki ekspresi datar sepertinya.


Jupiters menaikan alisnya dan terlintas pertanyaan di benaknya.


'Apa dia datang ingin berlatih menembak juga?'batin Jupiters membuat bumi mengerutkan keningnya karna melihat tatapan pemuda dingin itu.


Hei Bumi tak sadar diri dia juga seperti kulkas saat di ajak bicara.🗿


"Kenapa kau datang ke sini?"tiba-tiba pertanyaan itu mengudara, walau mereka telah melupakan tentang kejadian di sekolah di mana dua kubu mereka menjadi musuh tapi bagi Jupiters ataupun Bumi walau kini semua telah berubah dan mereka menjadi teman tapi keduanya seolah tetap di takdirkan untuk menjadi rival berkedok sahabat.


Author gak paham cara pikir mereka.🗿


Sedangkan Bumi tersenyum remeh, dia dan Jupiter itu memang terlihat seperti rival sejati.


Ya orang lain mungkin berpikir seperti itu ketika melihat mereka, bukan apa-apa tapi sikap kepribadian yang sama dan rasa ambisius ingin menyaingi tertanam di hati mereka walau keduanya mencoba untuk tak sampai menyakiti satu sama lain dalam masalah sepele atau besar itulah batasan mereka menjadi rival.


"Mau bertanding?"


Tiba-tiba tantangan itu terlontar dari mulut Piter.


Membuat bumi entah kenapa merasa bersemangat karna sudah lama sekali mereka berdua tak saling mengadu kekuatan satu sama lain semenjak berhenti menjadi rival.


"Baiklah jika itu maumu."jawab Bumi.


Akhirnya kedua pemuda itu mengambil senjata dari kaca lemari itu, mereka memutuskan untuk mengasah kemampuan dengan senjata dan fisik tidak mengunakan kekuatan mereka sementara.


"Apa kau ingin memulainya lebih dulu?"


"Ya sepertinya."ucap Piter menjawab pertanyaan Bumi.


Mereka berdua saling mengunci tatapan dan mengikuti gerakan lawan, dan tentu Bumi yang tau kemampuan rahasia Jupiters yang bisa membaca pikiran lawan mencoba untuk tak menyusun rencana di otaknya melainkan dia akan mengunakan kegesitan dan ketangkasannya nanti dalam situasi mendesak.


"Aku tak membaca pikiranmu, kita berdua akan bermain adil."ucap Jupiter seolah barusan membaca apa yang di pikirkan Bumi.


"Hei tapi kau baru saja melakukannya tadi."


"Maaf."


Bumi sedikit tertegun mendengar kata maaf itu keluar dari mulut Jupiters walau mereka rival dan teman, tidak pernah dia mendengar seorang Jupiters meminta maaf kepada orang lain.


Ya walau pemuda itu tampak dingin di luar tapi dia diam-diam memperhatikan teman-temannya mungkin rasa pedulinya tak di tunjukkan tapi rasa menjaga untuk melindungi satu sama lain nampak jelas ketika dia bertarung dengan musuh.


Itu bisa di lihat dari raut wajahnya yang serius ketika menghadapi lawan.


"Baiklah aku percaya padamu."jawab Bumi.


Dan selanjutnya terjadi pertarungan yang tak dapat dihindarkan karna keduanya sama-sama hebat dan unggul dalam dua sisi.


...


Di sisi lain kedua kelopak pemuda itu terbuka, menampilkan iris berwarna keabu-abuan yang teduh dan indah.


Hal yang pertama kali ia lihat adalah gradasi Galaksi melalui atap kaca transparan.


Ya apa yang kau rasakan ketika dirinya bangun tidur lalu memandang kearah atap tapi yang kau lihat di atasmu adalah ribuan bintang di galaksi.


Mungkin perasaan yang luar biasa.


Jika di bumi manusia mungkin harus mengunakan roket dan atribut lainnya agar bisa berjalan di atas bulan.


"Indah sekali...apa kakak bahagia di atas sana?orang bilang bintang yang pergi tetap menjadi bintang di atas langit dan mengawasi seseorang yang ia sayangi dari bawah.


Kuharap kakak melihatku karna aku tak akan pernah bisa terus melangkah tanpa bimbingannya sampai saat ini, oh ya bagaimana ya kabar kedua orang tuaku?apa aku harus menghubungi mereka melalui telpon umum? ah aku jadi merindukan Galaksi juga."ucap Rafael yang teringat akan kucing hitamnya yang buntal bernama Galaksi seperti nama kakak sulungnya.


Sebuah langkah justru adalah sebuah awal dari kehidupan, ketika seseorang mencoba berjalan di atas langit tapi pikiran logika menghentikan khayalan itu karna mustahil, tetapi orang yang mempunyai karakter unik artinya dia lebih mengesampingkan sudut pandang logika dengan kreativitas maka ia menuangkannya ke dalam imajinasi dalam batas.


Jangan takut untuk mencoba sesuatu yang baru atau membuatnya karna bisa jadi kau adalah penemu yang hebat.


Seorang penemu tidak akan di temukan jika tidak ada orang yang memiliki kreativitas tanpa batas.


...


Creative is not a matter of definition, but rather real action.


Creative people are motivated by a desire to excel, not an ambition to beat others.


The best creativity comes from a limitation. Be brave enough to live a creative life.


Kreatif itu bukan soal definisi, tapi lebih kepada tindakan nyata.


Orang kreatif termotivasi oleh hasrat untuk berprestasi, bukan ambisi untuk mengalahkan orang lain.


Kreativitas terbaik itu muncul dari sebuah keterbatasan. Bersikaplah cukup berani untuk hidup kreatif.