Rafael Bimasakti

Rafael Bimasakti
Kehebatan Jupiters



"Wah kau pandai mengunakannya Merkurius!"puji Rafa melihat temannya itu berlatih menembak dengan shotgun dan berhasil mengenai target berkali-kali.


Uranus yang mendengar itu jadi iri.


"Keahlianku lebih baik darinya."


"Jangan bicara omong kosong, kau tak lihat bagaimana aku mengenai lima target itu dengan baik?"


Ucap Merkurius berdecak bangga pada dirinya sendiri.


Memang tembakan Merkurius dari awal tak pernah melesat, jika dari pengamatan dekat maka tembakan Merkurius termasuk tembakan jitu karna beberapa dari target yang terbuat seperti papan kayu yang panjang itu hampir saja roboh karna Merkurius mengenai titik lemahnya.


Sementara Leo serta yang lain yang melihat itu hanya mengangguk setuju.


Ini hanya latihan tapi mereka sepertinya sangat serius, batin Leo.


"Rafa kau ingin mengunakan senjata apa?"tanya Saturnus sambil mengusap peluh di dahinya, ya dia dari tadi melatih ketahanan tubuhnya dengan bertarung tangan kosong dengan Komet.


Klan sihir memang bisa mengunakan kekuatannya dari jarak jauh karna mereka mengucapkan mantra sama halnya bintang seperti Saturnus, akan tetapi mereka tidak akan pernah tau bahwa kelemahan musuh itu terkadang dari jarak dekat hingga mereka harus menyerangnya lebih dekat seperti saat melawan monster laut Aqua.


"Aku ingin mengunakan panah."ucap anak itu karna tertarik dengan salah satu senjata manual yang tadi di pakai Jupiters.


"Baiklah aku akan mengajarimu."ucap Piter.


Pemuda itu menatap netra warna silver di kedua bola mata Rafael, semenjak segel Galaksi terbuka warna mata coklat hanzel yang dulu di miliki bocah itu tak pernah kembali.


Kasus perubahan bukanlah hal yang jarang, jika bintang lain telah menemukan kekuatan istimewanya maka warna mata mereka yang coklat juga akan berubah warna. Kata Leo warna mata ayahnya berwarna gold saat dewasa nanti dan ketika itu juga warna matanya juga akan berubah gold.


Intinya apa yang di miliki makhluk bintang seperti mereka sangat berbeda dengan makhluk bumi.


Karna mereka juga bukan berasal dari bumi.


Setiap makhluk di ciptakan khusus dan mempunyai keunikan tersendiri.


Unik di sini dalam artian istimewa, karna serusak apapun kehidupan seseorang selama ia berjalan di jalan takdir maka ia akan selalu baik-baik saja sampai ajalnya tiba.


Bintang atau di sebut zodiak tidak akan pernah bisa memprediksi masa depan meski sering di gunakan sebagai ramalan kartu tarot.


Tidak ada yang sempurna atau mencari bukti yang memperkuatnya.


Tentang bagaimana penglihatan masa depan seseorang, intinya tidak akan ada seseorang yang bisa menjelaskannya secara rinci kecuali sang penciptanya.


Mereka yang tetap berjalan di jalan kebenaran akan lama meraih kebajikan dunia, tetapi mereka yang memilih kegelapan, secara instan mendapatkan kebahagian walau itu hanya sementara.


Waktu sedikit memuaskan diri mereka akan berganti waktu yang membuat mereka menderita dan penyesalan seumur hidup.


Srett!


Tanpa sadar panah Rafael meleset kearah Jupiters membuat semua orang panik, akan tetapi refleks cepat Jupiters menghindarinya dengan mudah.


Bagaimana bisa itu terjadi?


"Tunggu...kau tadi itu mustahil jika orang bisa mempunyai refleks secepat itu."ucap Leo sedikit binggung.


"Mungkin karna latihannya kekuatan aslinya mulai muncul."tiba-tiba Komet berbicara seperti itu membuat yang lain belum paham.


"Jupiter memiliki kekuatan petir kan?dia juga bisa mengunakan kekuatan itu karna kecepatan kilat seperti kecepatan cahaya itu artinya dia bisa menghindari serangan apapun melebihi batas manusia...ini salah satu pengendali halilintar yang langka, apa-"tanya Komet serius.


"Kristal hijau."jawab Jupiters memotongnya, sebelum Komet bertanya dia sudah membaca pikiran pemuda itu.


Sedangkan Jupiters hanya mengangguk jujur saja dia merasa dirinya ceroboh karna musuh bisa berada di antara temanmu, dia bukannya tak setia hanya saja cukup sulit baginya untuk menerima orang baru setelah insiden penghianatan teman Galaksi bernama Astro itu.


Komet yang tampaknya menyadari perubahan suasana hati Jupiters walau di tutupi oleh wajah dinginnya merasa tak enak, Komet bisa tau karna dia telah berteman lama dengan pemuda itu.


Dulu dia mereka adalah empat teman yang dekat, dan ya Komet tau bahwa di balik sikap acuh tak acuh Jupiters dia adalah junior yang sangat perhatian terhadap orang terdekatnya.


Seandainya waktu itu bisa di putar, mungkin komet akan mencegah pertemanan mereka hancur karna menerima satu musuh dalam selimut.


Yaitu Astro, sosok keturunan dark star zodiak yang paling di hindari para bintang, tanpa rasa belas kasian dia juga menindas yang makhluk lemah.


"Jupiters..."


"Boleh aku mencobanya?"


Tiba-tiba pertanyaan Jupiters membuat yang lain menjadi binggung.


"Mencoba apa?"tanya Mars.


"Aku akan melatih kecepatan ku dengan tembakan dari senjata kalian."


"Kau serius?!tapi itu beresiko jika kau sampai terluka!"


"Ku pastikan aku tak terluka."jawaban Jupiters membuat Komet mau tak mau harus mempercayai temannya itu.


"Kita harus percaya pada kemampuannya aku yakin, dengan ini kita akan melihat kehebatannya dari kekuatan dirinya sendiri, Jupiters adalah contoh bintang yang mempunyai ambisi kuat."ucap Gita menilai karakter yang melekat pada pemuda dingin itu.


Sementara yang lain mengangguk mengerti, mereka akan menyerang secara bergiliran dan pertama adalah Rafael karna dia mulai mahis menguatkan senjata manualnya.


"Kau yakin Piter?"tanya Rafa ragu.


"Jangan ragu Rafa, kalian berdua kerja tim jika yang lain ragu maka di antara juga sama di situ kalian berdua bisa kehilangan kepercayaan atau tekad untuk menang."tegur Leo dengan petuahnya.


Rafa menghela napas lalu mulai menarik busurnya ke arah Jupiter dan saat panah itu meleset cepat alangkaj ajaibnya Jupiters tepat sekali memiringkan badannya hingga tak terkena panah itu.


"Selanjutnya aku!"ucap Merkurius yang merasa tertantang untuk mengungkap kekuatan Jupiters.


Dia mulai membidik dengan shotgun di tangannya dan...


Dorrr!


Bahkan peluru tak mampu menandingin reflek cepat Jupiter untuk mengelak.


"Ini tidak mungkin!dia luar biasa!"


"Apa kita perlu revolver karna kecepatan peluru itu lebih cepat dan akurat dari pada shotgun kan?"


...


No one has ever made a difference by being like everyone else.


Don't ask yourself what the world needs, ask yourself what makes you live. And then go do that. Because what the world needs is people coming alive.


Tidak ada yang pernah membuat perbedaan dengan menjadi seperti orang lain.


Jangan tanyakan pada diri sendiri apa yang dibutuhkan dunia, tanyakan pada diri sendiri apa yang membuatmu hidup. Dan kemudian pergi melakukan itu. Karena yang dibutuhkan dunia adalah orang-orang yang menjadi hidup.