Rafael Bimasakti

Rafael Bimasakti
Kekalahan pertama Komet



Saturnus mulai mempunyai ide, dia berhenti mengunakan kekuatan telekinesis membuat semua orang heran menatapnya.


"Kali ini aku menantang mu dengan kekuatan fisik jarak dekat."bersamaan itu dia berjalan mendekati Komet sambil mengangkat benda bulat seperti karbon tapi beratnya seperti besi berton maksimal entah bagaimana bisa pemuda itu mengangkatnya, sementara Komet tau ini adalah salah satu kekuatan Saturnus.


Saat benda itu di lempar ke arah Komet, jika sedikit saja pemuda bersurai putih itu tak sempat mengelak mungkin dia akan mati saat itu juga karna tertindih benda berat itu tapi beruntung Komet mempunyai refleks bagus untuk menghindar dari bahaya.


Saturnus mulai melayangkan pukulan saat berada di hadapan Komet tanpa pemuda yang lebih tua itu sadari bahwa benda itu sebagai pengecoh fokus saja.


Dan sayangnya dengan cepat Komet menekuk ibu jarinya entah itu isyarat atau kode tiba-tiba tubuh Saturnus menjadi kaku seolah ada es yang membekukannya hal itu membuat Komet menyeringainya.


"Hari ini aku akan mengalahkan mu Saturnus."


...


Saturnus memandang kearah sekitarnya, dalam jarak ini dia hampir dekat dengan Komet sebelum pemuda yang lebih tua darinya itu mengunakan mantra sihirnya.


Hingga kedua mata pemuda sedikit berwarna orange itu terbuka lebar saat menemukan solusi dari celah kekuatan lawannya.


"Kenapa kau diam?apa kau mencoba membaca situasi atau berusaha melepaskan diri Saturnus?"ucap Komet tak di gubris oleh pemuda itu.


Pengecoh berbakat adalah Venus karna pemuda itu pandai bicara tapi Komet sepertinya meluapkan hal itu.


Bibir pemuda itu membentuk ulasan senyum tipis tanpa di sadari lawan, sedangkan yang lain tampak binggung dengan situasi yang tiba-tiba hening.


"Mantra apa itu?"


"Maksud mu sihir?mana aku tau."ucap Uranus.


Venus memutar bola matanya malas.


"Kau tau sebelumnya Saturnus dapat bergerak bebas tapi mantra yang di gunakan bang Komet membuat badannya menjadi kaku seperti patung."ucap pemuda bermarga planet huruf V itu.


"Heh sudah ku bilang aku tak mengerti tentang sihir kenapa kau membicarakannya denganku?"tanya Uranus.


"Itu karna kau bodoh."celutuk Merkurius tiba-tiba.


"Hah!apa kau bilang!"ucap Uranus tak terima.


Enak saja pangeran tampan ini di katai bodoh batinnya.


"Hei kalian berdua jangan ribut disaat seperti ini!membuatku makin pusing saja!"ucap Mars.


Sementara Rafael dan Bumi yang dari tadi menyimak teman-temannya hanya diam.


Namun ucapan Venus kembali mengudara seolah memberitahu mereka sesuatu.


"Aku tau ini aneh, tapi sihir bang Komet seperti ada kaitannya dengan jarak dekat dan kalau lawannya berusaha mendekatinya maka wilayah sihir itu bisa memerangkapnya, sihir itu tak bisa luas tapi..."


"Tapi apa?"


"Menarik lawan mungkin?!"


Ucapan Venus tanpa sadar di dengar oleh yang lain terutama Saturnus yang tengah memikirkan sesuatu, lalu tiba-tiba dia berusaha mengerakkan jarinya, walau dengan susah payah sedikit demi sedikit dia bisa menggerakkannya dan tubuhnya mulai rileks tak kaku seperti tadi.


Komet yang menyadari itu sedikit tersentak.


Namun dengan cepat Saturnus memanfaatkan situasi itu, dia mengunakan kekuatan telekinesis nya untuk menyerang Komet.


Sayangnya benda-benda yang terbang melayang itu tak mengenai pemuda bersurai putih itu tetapi di saat Komet tersenyum dia begitu terkejut karna Saturnus kini berada tepat di hadapannya lalu mengunakan teknik mengunci lawannya dengan memegang kedua tangannya.


"Apa yang..."


Belum selesai Komet bicara Saturnus mengunakan tameng cincinnya sebagai borgol untuk menyegel kekuatan Komet dan itu berhasil membuat Komet terpaku sekaligus tak berkutik sekarang.


Ini adalah kekalahan pertamanya melawan klan bintang selain klan sihir.


Prok!


Prok!


Prok!


Suara tepukan tangan bersahutan rupanya berasal dari teman-temannya.


Leo yang sedari tadi memperhatikan pertarungan itu tersenyum karna Saturnus berhasil mengalahkan klan dari pemilik sihir langka, itu membuktikan bahwa klan bintang bisa lebih unggul dari klan sihir.


"Kau hebat Saturnus!"puji Uranus sambil mengacungkan jempolnya.


"Selamat ya kau berhasil!"ucap Jupiters lalu berjalan menghampiri temannya itu dan menepuk pundaknya.


Sementara Rafael yang tak mau kalah langsung merangkul temannya itu.


"Sudah ku duga IQ mu tak pernah bisa di ragukan!kau adalah temanku yang paling pintar dengan kepintaran mu pasti kau bisa mengalahkan bang Komet!"


"Kuakui dia hebat dalam mencari celah, tapi di lain waktu aku tak akan memberikan kesempatan padamu.


Kau adalah lawan pertama dari klan bintang yang berhasil mengalahkan ku oleh karna itu aku akan memberitahumu tentang kilasan dari rahasia masa depan."ucap Komet membuat yang lain ikut mendengarkannya dengan serius.


Sebagai klan bintang, mereka juga indentik dengan sang peramal maka tak heran garis perbintangan bisa di baca oleh klan sihir seperti manusia yang terkadang meminta peramal untuk membaca masa depan di telapak tangannya.


Begitulah kemiripan ras bintang dengan ras manusia.


"Pintu itu terbuka, tapi seseorang berhasil menutup gerbangnya akan tetapi...ada sebuah masalah baru karna sebelum mereka kembali sosok bayangan masa lalu menghadang dan menghentikan mereka.


Dia meminta imbalan dari sang Bimasakti."ucap Komet yang tak di mengerti sama sekali oleh mereka.


Tapi Bumi tersadar sesuatu.


"Apa maksudmu ada guide star lain?"


"Guide star?kenapa kau berbicara tentang sosok itu bukankah itu adalah kakek Rafael yang telah tiada?"tanya Neptunus yang tak mengerti dengan ucapan Bumi.


Pemuda bermata coklat madu itu menatap atau persatu teman-temannya lalu terkekeh.


"Kau benar, aku hanya berasumsi tak jelas."ucapannya.


Entah kenapa Jupiters merasa hal sama seperti Bumi.


"Guide star, setiap keturunan pasti memiliki beberapa penghulu tidak mungkin posisi itu di biarkan kosong.


Kemungkinan setelah kakek Rafael tiada ada pengganti untuk posisi itu tanpa kita semua ketahui."


...


Sure, you wish you had done things differently. However, there's no point in being burdened with regrets over things you can't change.


Some of the best lessons we ever learn come from our mistakes and failures. Past mistakes are future wisdom and success.


Take a break when you feel tired because life is not only about yesterday, but also for today and tomorrow.


Tentu, kamu berharap kamu melakukan sesuatu secara berbeda. Tetapi, tidak ada gunanya dibebani dengan penyesalan atas hal-hal yang tidak dapat kamu ubah.


Beberapa pelajaran terbaik yang pernah kita pelajari berasal dari kesalahan dan kegagalan kita. Kesalahan masa lalu adalah kebijaksanaan dan kesuksesan masa depan.


Istirahatlah ketika kamu merasa lelah karena hidup tak hanya tentang hari kemarin, namun juga untuk hari ini dan esok.