Rafael Bimasakti

Rafael Bimasakti
Ramalan bukanlah kepercayaan



"Baiklah kita istirahat terlebih dahulu karna kita akan kembali besok pagi."ucap Leo memberitahu mereka.


Yang lain mengangguk, karna jujur saja mereka juga sudah lelah karna latihan.


"Rafael kau akan pergi kemana?"tanya Jupiter melihat temannya itu seperti ingin pergi keluar.


"Aku ingin berjalan-jalan sebentar."


"Baiklah kau bersama Gita saja karna dia tau semua jalan di kota ini, aku takut kau tersesat saat kita semua kembali ke penginapan nanti."ucap Leo sambil memberi usul.


Rafael dan Gita mengangguk, lagi pula gadis itu tak keberatan karna ada hal yang ingin di belinya di pasar nanti sementara Aqua terlihat ragu namun kembarannya yang memiliki sifat ceria itu meyakinkannya kalau dia tak akan pergi lama dan akan kembali sebelum makan malam.


Di Galaksi atau planet lain selain bumi, mereka tidak mengunakan jam atau hari terang dan gelap sebagai waktu.


Tetapi mereka mengunakan gradasi pada galaksi untuk menentukan waktu pagi, siang, sore dan malam.


Jika kau belum tau maka kau harus mencoba pergi ke bulan.


(Sekali lagi ini hanya imajinasi author.🙏🗿)


"Rafa kembalilah sebelum makan malam atau aku akan menjemputmu dan menyeret mu."ancam Bumi di angguki Rafael yang tersenyum kikuk mendengarnya.


Saturnus menepuk pundak Rafael lalu pemuda yang mempunyai iris mata berwarna emerald itu mengedipkan sebelah matanya seolah mengkode 'aku juga akan menunggumu, hati- hati.'ucapnya dalam telepati.


"Aku pergi teman-teman."


Akhirnya Rafael dan Gita keluar dari tempat latihan itu.


Rafa menoleh sebentar ke arah gadis berambut ungu, jika di perhatikan lebih dekat wajah Gita sangat cantik, raut ekspresi nya tenang dan manis ketika ia tersenyum menampakan dia lubang cacatnya di pipi.


Di banding Aqua penampilan Gita terlihat elegan dan humble, wajar saja walau mereka kembar tapi karakter sifat mereka sangat bertolak belakang. Tetapi perbedaan itu tak menjadi penghalang bagi mereka untuk menyayangi dan melindungi satu sama lain dan hal itu membuat Rafael selalu teringat akan kakaknya Galaksi ketika melihat interaksi si kembar.


Yah...


Seseorang paling dekat kita yang pergi memang sulit sekali rasanya di lupakan.


"Hey kau tak papa?"


Lamunan Rafael tersadar saat mendengar suara Gita menegurnya.


"Kau melamun?apa kau lelah?"


"Tidak aku baik baik saja, bukankah kita akan jalan-jalan ke kota aku jadi penasaran apa kita planet Aqua sangat berbeda dengan bumi?"


"Ya akan kutunjukan, kau ikuti saja kemana aku pergi aku pasti akan membawaku ke tempat yang menyenangkan."ucap Gita semangat, entah kemana rasa penatnya sekarang seolah hilang begitu saja saat melihat wajah Gita.


"Kau cantik."ucap Rafael tanpa sadar.


Membuat Gita bersemu merah mendengarnya tapi buru-buru gadis itu memalingkan wajahnya.


"Rafael...kau itu pemuda yang manis ya."


"Huh?apa aku bilang sesuatu?"tanya Rafael belum sadar dengan apa yang di katakan ya tadi.


Gita dengan cepat mengelengkan kepalanya, dia terkekeh kecil melihat raut wajah tampan Rafael yang lucu, lihatlah alis tebal yang bertaut seolah menyatu dan bibir tipis merahnya sedikit mengerucut seperti monyong bebek.


Rafael itu tampan dengan lekukan wajah sempurna dan hidung bangirnya, iris mata berwarna silver dan rambut hitam legam yang di sisir ke belakang hingga menampakkan jidatnya.


Tapi pemuda itu bisa menjadi manis seperti yang termuda karna ekspresi dan sifatnya yang sedikit kekanakan maklum saja karna dia bungsu di keluarganya.


Tak lama mereka sampai di perkotaan, berbeda dengan bumi jika kota di bumi indentik dengan padat kendaraan atau aktivitas, kota di planet Aqua mempunyai suasana seperti taman yang menjadi tempat healing yang cocok.


Bukan tanaman hijau yang tumbuh tetapi bunga-bunga serba berwarna biru yang bercahaya di setiap sudut.


"Kau ingin membeli apa?"tanya Rafa sedikit penasaran dengan sesuatu yang akan di beli Gita.


Gita tersenyum lalu menunjuk kearah bangunan berwarna putih dengan bentuk seperti telur ayam yang menetas.


(Imajinasi author sangat tinggi ya.🗿)


"Aku akan membeli pita cantik untuk Aqua di sana."


"Oh dia suka pita rambut ya?"


"Ya apa kau mau menemaniku dan membantuku memilih yang bagus untuknya?"tanya Gita.


Sedangkan Rafael hanya mengangguk.


Mereka berdua lalu masuk ke dalam tempat itu, dan benar saja sepanjang dinding alis tembok di hiasi oleh kolase kaca transparan yang di dalamnya terdapat pita-pita rambut yang sangat cantik.


"Selamat datang, jika anda ingin membeli atau mencari pita yang baru datang anda bisa naik ke atas dan membayarnya sesuai kriteria."ucap pemilik tempat itu.


Beda di bumi jika membeli sesuatu barang mengunakan uang atau emas maka di planet bulan atau planet zodiak mereka mengunakan tingkatkan kecerdasan maksudnya seseorang yang membeli suatu barang atau di berikan pertanyaan atau kuis jika menjawabnya dengan benar maka barang itu berhasil ia bawa pulang atau di dapatkan sama seperti hadiah ya konsepnya.


"Aqua suka warna biru,katanya  warna biru warna yang cerah dan tenang di pandang kalau aku suka warna violet karna dia lebih gelap dan indah seperti warna gradasi Galaksi, kau suka warna apa Rafa?"tanya Gita.


"Aku suka warna grey."


"Hah serius?kenapa kau menyukai warna itu?kukira sang Bimasakti menyukai warna yang cerah."


Rafael tersenyum tipis, dia memandang kearah depan.


"Aku menyukai warna itu bukan tanpa alasan khusus atau karna warna kedua mataku, bagiku grey melambangkan sesuatu kelam dan masa depan yang misterius."


"Masa depan itu misteri?"tanya Gita binggung.


"Ramalan dari bang Komet itu bentuk pengorbanan besar atau kecil kan?


Masa lalu itu sejarah tak peduli kisah berharga atau kelam mu dia akan menjadi lembaran belakang yang tak pernah pudar tulisannya, akan tetapi masa depan itu misteri tidak ada ramalan yang bisa membacanya karna lembaran depan alias baru masih kosong seperti warna abu-abu.


Dan hanya kita yang bisa mengisinya dengan tinta atau warna lain."


...


When we start to trust other people, we will eventually get two answers. Life partner or life lesson.


It's not about distance. It's more about how we give each other and keep the trust.


Four things to keep in life: trust, promise, relationship and heart. Silent, but if betrayed, it will be very painful.


Saat kita mulai memercayai orang lain, pada akhirnya kita akan mendapat dua jawaban. Teman hidup atau pelajaran hidup.


Ini bukan tentang jarak. Ini lebih tentang bagaimana kita saling memberi dan menjaga kepercayaan.


Empat hal yang harus dijaga dalam hidup: kepercayaan, janji, hubungan dan hati. Tidak bersuara, tapi jika dikhianati, akan sangat menyakitkan.