Quin And Her Destiny

Quin And Her Destiny
KEJUJURAN



Setelah berbicara dengan ayahnya, Quin memutuskan untuk menemui Bella yang terbaring lemah. Kaki gadis itu menyusuri bangunan yang dikhususkan untuk pelayan. Bangunan itu ada di sayap timur mension. Hati Quin sedikit tidak enak ketika ia dengan sengaja menyakiti pelayan yang sudah ia anggap sebagai kakaknya itu.


“Bella bagaimana keadaanmu?” Quin bertanya dengan perasaan khawatir.


Bella yang kaget dengan kedatangan Quin segera bangun dari tempat tidurnya. Namun dengan cepat Quin mencegahnya “Jangan duduk Bel, tetaplah berbaring.”


“Saya baik-baik saja nona.” jawabnya cepat.


“Dari banyaknya perban di tubuhmu, kau tidak baik-baik saja, lihatlah tubuhmu penuh luka begitu, jelas itu karena ulahku.” ucap Quin dengan pandangan sedih.


“Maafkan aku Bel, sudah membuatmu terbaring begini.” sesal Quin.


“Kenapa nona minta maaf, nona tidak salah. Nona melakukan itu karena nona sedang tidak sadar.” ucap Bella menghiburnya.


“Kamu memang selalu baik padaku Bel, bahkan ketika aku salah pun kamu selalu membelaku dan selalu memakluminya.” ucap Quin, sungguh ia sangat menyesal atas perbuatannya.


“Apakah tabib sudah memeriksa mu lagi?” lanjutnya.


“Sudah nona, kata tabib Gulea, saya dapat beraktivitas dua hari lagi.” jawab Bella.


“Aku senang mendengarnya.” ucap Quin seraya tersenyum.


“Hum... Bella bisakah kamu memanggilku dengan namaku saja, aku sudah sering mengingatkanmu kan?” ucap Quin sambil mendudukkan bokongnya di ranjang Bella.


“Tentu saja, saya tidak bisa nona, bagaimanpun nona adalah majikan saya, san saya adalah pelayan nona. Memanggil dengan panggilan saja, tentu saja itu tidak sopan.” jelas Bella.


“Baiklah, ini adalah hari terakhir kamu memanggilku dengan kata nona dan dalam dua hari kedepan aku ingin  kamu memanggilku langsung dengan namaku saja. Dan tentu saja aku tidak mau dibantah, kamu mengerti?” kata Quin dengan muka seriusnya


“Sekarang, aku akan meninggalkanmu untuk istirahat. Aku tidak sabar menunggumu sehat. Karena setelah kamu sehat, kita akan jalan-jalan ke kota. Sungguh aku ingin sekali melihat keramaian.” ucap Quin panjang lebar dan tanpa menunggu jawaban Bella gadis itu berlalu pergi setelah mengelus pundak Bella lembut.


*******


Malam telah datang, entah kenapa mata Quin enggan terpejam. Ia memilih melangkahkan kakinya ke taman. Di sana ia dapat melihat taburan bintang dengan bulan sabit bergantung indah di langit, ia sangat takjub dengan keindahan langit malam. Dingin, gelap, dan misterius.


“Kenapa kau belum tidur Quin.” tanya Luke yang datang dari arah belakang, di tangannya ia membawa selimut, tak lama kemudian di membungkus pundak Quin dengan selimut.


“Aku belum mengantuk kak dan terima kasih untuk selimutnya.” jawab Quin sembari tersenyum manis.


“Aku sudah mendengarnya dari ayah.” ucap Luke tiba-tiba.


Tubuh Quin menegang, ia tidak bisa menutupi apapun dari kakaknya. Cepat lembat kakaknya pasti akan tau.


“Hem ...” jawab Quin singkat.


“Kemarin aku sempat berbicara dengan ayah, tak lama lagi, setelah perayaan ulang tahunmu, kamu akan melakukan latihan untuk meningkatkan kekuatanmu.” ucap Luke.


“Iya, seperti yang kau ketahui kak, ayah pasti sudah bercerita tentang ramalan leluhur itu bukan?” tanya balik Quin.


Seperti yang diketahui Luke, bahwa Quin adalah titisan Laksmiora. Entah dia dewi atau bukan, tapi tentang ramalan itu membuat Luke dan juga ayahnya khawatir. Sejak lahir Quin tidak pernah mengalami kesulitan dalam hidup. Sebisa mungkin ayah dan dirinya selalu membuat Quin hidup dengan nyaman.


Membayangkan Quin akan berperang suatu saat nanti di garda depan membuatnya cemas. Berat baginya untuk melepas Quin yang bahkan usianya belum genap 20 tahun untuk menerima takdirnya. Setahu Luke, latihan yang akan dihadapi Quin adalah latihan yang sulit dan menyakitkan.


“Apa kamu sudah memutuskan untuk mengikuti latihan setelah pesta ulang tahunmu nanti?” ujar Luke.


“Jika ramalan itu benar, maka aku harus bisa mengusahakan yang terbaik. Lagi pula aku pernah melihat kematian yang mengerikan, jadi tidak ada alasan untukku mundur.” jawab Quin dengan tatapan lurus ke depan.


“Maksudnya? Kematian yang mengerikan bagaimana? Kamu selalu hidup di dalam mension Quin.” tanya Luke dengan raut penasarannya.


“Hah .... Bagaimanapun, aku tidak bisa menyembunyikan rahasia ku” jawab Quin.


“Rahasia?”


“Iya, di dunia ini selain ayah, kakak adalah orang yang paling aku percaya di dunia ini. Tidak mungkin bagiku untuk menyembunyikan apapun dari kalian. Dan maafkan aku jika kejujuranku nanti membuatmu.... hemmm.... tidak percaya padaku”


“Aku selalu percaya padamu Quin, kau selalu tau itu kan?” jawab Luke.


“Iya... aku tau itu... "jawabnya dengan senyum simpul.


"Ketahuilah kak, bahwa sebenarnya jika aku tidak berlatih untuk memiliki kekuatanku, maka di saat usia ku yang ke 23.... kita...., ayah, kakak, dan aku akan mati dengan cara yang paling tidak terhormat.” ucap Quin memandang sendu kakaknya.


Dengan menghembuskan nafas kasar Quin berkata lagi “Aku tau bagaimana akhir kehidupan kita. Menyakitkan, bisakah kakak merasakan bagaimana sakitnya aku? melihat ayah dan kakak mati terpenggal di alun-alun kota.”


“Jangan kau bilang, dirimu telah mengulang waktu? Ini sulit untuk dipercaya....” tanya Luke tidak percaya.


“Apa yang terjadi sebenarnya?”


“Kumohon, jangan membuatku bercerita bagaimana aku bisa berakhir seperti ini, jika aku bisa melupakan bagaimana kematian itu terjadi maka aku akan dengan senang hati melupakannya. Tujuanku hidup bukan untuk membalas dendam, owh ya... aku hanya bisa memperingatkan mu kak, jika suatu saat nanti kakak bertemu dengan gadis yang bernama Lowena, maka gadis itu harus kakak selidiki, dan selidiki siap orang-orang yang ada di belakangnya. Karena dialah dalang dibalik kehancuran keluarga kita dan kerajaan Roothaland atau mungkin ketujuh benua akan hancur karenanya. Sebab ia bersekutu dengan ratu iblis” quin bicara panjang lebar tanpa jeda.


“Kata-katamu sebenarnya sulit utuk aku percaya, tapi aku selalu mendukungmu Quin, bagiku, bagi ayah. Kamu adalah permata berharga keluarga. Aku selalu berdiri di belakangmu untuk mendukungmu” ujar Luke setegar mungkin.


"Kak, bisakah ini menjadi rahasia kita? Jangan sampai orang-orang mengetahui apa yang telah aku alami." pinta Quin pada Luke.


"Baiklah, apapun untukmu." jawab Luke singkat.


Tanpa diminta Luke, Quin memeluk kakaknya dengan sayang “Terima kasih kak” ucap Quin yang masing membenamkan kepalanya di dada bidang Luke.


*******


Dua bulan kemudian


Malam berganti malam, hari berlalu dengan cepat. Tidak banyak yang Quin lakukan selama hampir dua bulan ini. Ia benar-benar menghabiskan waktunya untuk menikmati hidup dengan berkeliling mension setiap hari. Menghabiskan waktu dengan Bella di taman untuk berkebun atau membaca buku di perpustakaan. Terkadang ia menemani ayahnya bekerja di ruang kerjanya atau menemani kakaknya yang sedang melatih kecakapan kesatria di mension Grand duke.


Ia selalu memperhatikan dan menyimpan semua dalam otaknya. Dalam hidupnya kini, ia memanfaatkan waktu berharganya hanya untuk keluarganya saja.


“Quin sayang, sebentar lagi makan malam.” ucap Bella dengan lembut. Seperti yang dikatakan Qui kemarin, Bella tidak lagi memanggil dengan sebutan nona jika mereka sedang berdua.


“Aku akan segera turun, apa kah kakak sudah pulang?” tanya Quin


“Sudah, tadi aku lihat tuan Luke naik ke kamarnya, kemungkinan beliau sedang bersiap.” jawab Bella dengan rona merah di pipinya.


Tidak perlu diberitahu pun Quin sudah tau bahwa Bella menyukai kakaknya dan itu membuatnya sangat senang. Karena Quin tau Bella adalah gadis yang baik, teramat baik malah.


“Bel, mukamu merah, apa kamu sakit?” goda Quin


“Tidak, aku tidak sakit.” jawabnya Bella polos.


“Owh, kalau begitu tolong pergilah ke kamar kakak. Bilang saja aku sudah menunggu di ruang makan.” suruh Quin dengan muka yang dibuat-buat seserius mungkin.


Bella yang gugup berkata “ Apa? tidak ... mau... aku sibuk... ya... aku... sibuk!” jawabnya terbata saking gugupnya.


Tawa Quin meledak, sambil menghampiri Bella Quin berbisik “Aku tau perasaanmu Bel, jika kamu mau mendekati kakak ku, aku akan mendukungmu, jujurlah padaku, kamu menyukai kakakku kan?.... aaa...haa... bukan menyukai, tapi kamu mencintai kakakku kan?”


Quin mengepalkan kedua tangannya dan berkata di depan Bella “Semangat, calon kakak iparku.”


Bella yang sangat malu langsung berlari membuka pintu dan menghilang. Sedangkan Quin tertawa terbahak-bahak di dalam kamarnya.


*******


Makan malam berjalan seperti biasa, entah sejak kapan suasana makan lebih santai dari biasanya, baik Grand Duke, Luke, atau Quin saling mengobrol ringan, terkadang mereka melemparkan candaan yang membuat mereka bertiga tertawa.


Ayah dan dua anak tersebut terkadang melupakan etika bangsawan pada umumnya. Mereka seolah tidak peduli, bagi mereka kehangatan keluarga jauh lebih penting.


Pemandangan yang membuat seisi mension mewah itu semakin hangat. Setiap pelayan, penjaga, dan pengawal di kediaman itu ikut merasakan kebahagiaan di hati mereka.


Selesai makan malam, Quin merebahkan dirinya di kasur empuk. Pikirannya melayang, beberapa minggu lagi pesta ulang tahunya. Itu menandakan bahwa latihannya juga akan dimulai.


Sampai sekarang ia tidak tahu siapa yang akan menjadi gurunya dan bagaimana latihannya. Bahkan Quin tidak pernah mencari tahu tentang latihan yang akan dijalaninya. Quin benar-benar hanya fokus dengan sisa hidup tenang yang sebentar lagi berakhir. Agar kelak ia tidak menyesalinya. Hampir setiap hari Quin membuat kenangan indah dengan ayah dan kakaknya, serta penghuni mension yang lain.


Menyimpan sebanyak-banyaknya kenangan dalam kotak ingatan yang ada dalam pikirannya. Menjadikannya kekuatan untuk tetap bertahan suatu hari nanti.


Namun yang paling mengganggu Quin adalah keberadaan Pangeran Felix dan Lowena. Sejak ia hidup kembali. Ia tidak pernah mendengar kabar dua orang itu.


Seharusnya mereka bertemu di akademi, tapi ternyata tidak. Terakhir yang Quin tau bahwa pangeran Felix dan kakaknya sempat pergi bersama untuk bertugas mengawasi perbatasan. Hanya itu saja, selebihnya ia tidak tahu.


“Apakah nanti aku juga akan jatuh hati padanya, dan kembali menyimpan cintaku dalam diam?” gumam Quin, ia tau betul bahwa hampir 5 tahun lebih hingga kematiannya ia menyimpan perasaan pada pangeran tampan itu.


Dalam kehidupan pertamanya, Quin ingat kapan pertama kali ia jatuh cinta pada pangeran Felix, yaitu pada pertemuan pertama mereka, saat menghadiri kelulusan kakaknya. Namun di kehidupan ini tentu saja sekarang itu tidak terjadi.


Sedangkan Lowena, seharusnya ia akan bertemu dengan gadis itu pada saat pesta ulang tahunnya nanti.


“Rasanya aku tidak sabar bertemu dengan Lowena, dulu aku sangat mempercayainya. Wanita ular itu benar-benar memerankan tugasnya dengan baik, kali ini aku tidak akan tertipu dengan wajah polos itu lagi.” cerocos Quin dalam hati.


*******


Bersambung