
“Quin ayo bangun, bukankah hari ini kita akan ke butik Madame Lyn untuk membuat desain gaun ulang tahunmu?” ucap Bella dengan lembut sambil berusaha untuk menyibakkan selimut Quin.
Kini Bella memanggil Quin hanya dengan namanya saja seperti yang Quin menta. Hubungan keduanya pun semakin dekat layaknya kakak dan adik kandung. Rasa sayang Bella terhadap Quin semakin bertambah besar, dan kemanjaan Quin yang kadang semakin menjadi bila kemauannya tidak dituruti. Namun Bella begitu menikmatinya.
“Ehhh... sebentar lagi Bel, aku masih mengantuk.” gumam Quin sambil memeluk erat gulingnya.
“Hem ... baiklah akan aku beri waktu 10 menit, sembari aku menyiapkan air hangat untukmu, sementara itu silahkan untuk melanjutkan mimpimu gadis cantik.” ucap Bella yang berlalu ke kamar mandi yang terhubung dengan kamar Quin.
Setelah satu jam berlalu, Quin kini telah siap. Hari ini ia mengenakan gaun yang sangat sederhana dengan riasan tipis, surai panjang peraknya dikepang samping dengan gaya simple.
“Wow .... kau cantik sekali Quin.” puji Bella.
Quin hanya tersenyum menanggapi pujian Bella “Ayo kita berangkat.” ajak Quin kemudian.
Setelah meminta izin kepada Grand duke, Quin dan Bella bergegas keluar dan naik kereta kuda dengan lambang keluarga Albert. Mereka berdua juga diikuti pengawal untuk menjaga keselamatan Quin.
Jarak pasar kota dengan kediaman Grand duke Albert sekitar 20 menit. Quin sengaja menyuruh kusir turu agak jauh dari pusat pasar. Sehingga siapapun dia, dipastikan tidak akan mengenali dirinya. Quin menyuruh kusir dan pengawal untuk kembali ke kediaman.
“Kenapa kita berhenti di sini Quin?” tanya Bella di sampingnya setelah kereta pergi.
Sambil tersenyum Quin menjawab “Aku tidak mau orang mengenaliku dengan lambang keluarga yang menonjol itu.”
“Tapi Quin, akan sangat berbahaya jika tidak ada pengawal.” protes Bella.
“Tenang saja, yakinlah tidak akan terjadi apa-apa.” balas Quin ringan.
Quin dengan langkah ringannya mengajak Bella untuk segera berjalan. Sedangkan Bella terus bergarap semoga dewa Oliver dan dewi Olevea akan melindung mereka berdua.
-Pasar kota Roothaland-
“Wah, ternyata pasar kota itu ramai sekali” ucap Quin bersemangat.
Quin dengan semangatnya berjalan di tengah kerumunan orang yang berlalu lalang. Di samping kanan dan kiri banyak penjual yang menjajakkan dagangannya. Matanya berbinar ketika melihat kedai mie dari benua timur. Ia akan ke kedai itu setelah menyelesaikan urusan dengan madam Lyn.
“Quin, sebenarnya kita akan kemana?” tanya Bella menyadari jika Quin berjalan ke arah yang salah.
“Kita berkeliling sebentar Bel, aku ingin menikmati suasana ramai seperti ini. Aku hampir tidak pernah keluar Mension, kau tau itu kan?” balas Quin dengan pandangannya yang melihat ke kanan dan ke kiri.
Bella dengan cepat berdiri di depan Quin, dan menyeret tangan nona nya itu “Tidak, nanti saja jalan-jalannya, kita ke butik dulu.”
“Kamu sungguh tidak asik Bell...!” protes Quin sambil mencebikkan mulutnya
Quin dan Bella akhirnya sampai di butik Madame Lyn. Quin melangkahkan kakinya ke dalam, di sana dia melihat ada dua pelayan. Quin berusaha menyapa serta meminta bantuan keduanya namun kedua pelayan itupun mengabaikannya. Bella yang ingin menegurnya, dengan segera dicegah oleh Quin. Akhirnya ia berlalu pergi dan memilih gaun yang ada di pajangan.
Quin tidak akan kaget jika ada yang mengabaikannya. Ia telah memiliki seluruh ingatannya dulu. Apalagi dengan pakaian sederhana ini, siapa yang akan menganggapnya, hampir semua orang tidak tau bahwa ia adalah putri satu-satunya Grand Duke Albert yang disegani oleh semua kalangan bahkan oleh raja sendiri. Quin juga tidak memiliki waktu untuk memikirkan sikap mereka. Bagi Quin dialah bangsawannya dan kedua gadis muda itu masih pelayan.
“Nona, baju mana yang ingin anda beli, dari tadi saya lihat anda hanya melihat-lihat saja.” ucap salah satu pelayan yang tadi dilihat Quin.
Sambil tersenyum Quin menjawab “Ah, maaf. Kebetulan aku belum menemukan yang cocok.”
“Gaun model apa yang nona cari?, ah ya, gaun di sini harganya mahal, mampukan nona membelinya.” gadis itu menjawab dengan tatapan menilai, gadis itu memindai penampilan Quin dari atas ke bawah sinis.
Bella yang melihat Quin dihina rasanya ia ingin merobek mulut gadis yang berdiri di depan nona nya itu. Ketika Bella hendak membuka mulutnya, Quin menghadap ke arahnya dan menggenggam tangan Bella lembut sambil menggeleng samar.
Kemudian Quin mengambil acak salah satu gaun yang terlihat mewah dan berkata “Boleh aku mencoba gaun ini nona?”
“Oh, silahkan.” pelayan itu berkata sinis.
Quin menuju ruang ganti tanpa ditemani Bella. Tak berapa lama Quin keluar dari ruang ganti dan memamerkan gaun itu kepada Bella. Namun dengan sengaja ia menginjak renda bagian bawah gaun itu sehingga terjatuh.
“Apa-apa kau nona, lihatlah gaun ini sobek, tidak taukah kau harga gaun ini sangat mahal! Berani sekali kau merusaknya.” teriak marah pelayan itu.
Seketika perhatian pelanggan yang ada di butik tersebut tertuju pada keributan yang melibatkan Quin. Gunjingan-gunjingan dapat dia dengar dengan jelas di indera pendengarannya.
“Maafkan aku nona, kakiku tergelincir.” jawab Quin gugup.
“Aish... baju ini mahal, bahkan dengan seluruh harta keluargamu, kamu tidak akan dapat membayarnya!!” maki pelayan dengan wajah merah padam.
“Lancang, pelayan Jil!! kamu tidak sadar, sedang berbicara dengan siapa, hah!?” teriak seorang wanita paruh baya dari dalam ruangan khusus.
Setelah mengucapkan itu wanita paruh baya tersebut mengangkat tangannya berniat menampar pelayan yang mematung dengan pandangan shock.
Grebb...
Sebelum tangan tersebut mendarat di pipi pelayan, tiba-tiba tangan Quin menahan tamparan itu.
“Ku mohon, tenanglah bibi, bermain tangan pada wanita tidak penting haya akan menimbulkan gosip yang tidak-tidak untuk bibi.” ucap Quin tenang.
Dengan manarik napas panjang, akhirnya wanita paruh baya yang tidak lain adalah Madame Lyn menatap garang pada pelayan tersebut.
“Minta maaflah pada Lady Quin, dia adalah putri Grand Duke Albert. Lagi pula sikapmu cukup kasar sebagai pelayan. Jangan selalu memandang orang dari penampilannya. Sikapmu itu sungguh tidak terpuji. Dan mulai hari ini, kau ku pecat, segera angkat kakimu dari tempat ini” ujar Madame Lyn panjang lebar, wanita paruh baya itu mati-matian menahan emosinya.
Beberapa pelanggan yang ada di butik tersebut kaget bukan main, mengetahui gadis itu adalah seorang putri Grand duke.
Wajah pelayan itu pucat pasi, ia tidak menyangka bahwa gadis sederhana ini adalah putri dari seorang yang dihormati di seluruh Roothaland. Dengan cepat ia bersimpuh di lantai.
“Sudahlah bibi, jangan dipecat. Biarkan dia tetap bekerja. Setelah kejadian ini, aku yakin dia akan belajar bersikap” ujar Quin.
“Tapi, Quin” protes Madame Lyn.
“Percayalah padaku, bibi.” mohon Quin.
“Baiklah dan kau Jil jangan pernah sekalipun kamu ulangi perbuatanmu ini, sampai disini kamu paham?” Madame Lyn dengan suara tegas.
“B-b-baik madame” cicit pelayan yang bernama Jil itu.
“Ma-ma-maafkan saya nona, maafkan atas kelancangan saya.” ucap pelayan itu sambil duduk bersimpuh.
“Saya janji akan bekerja lebih baik lagi.” air mata terlihat menetes di pipinya.
“Sudahlah, aku tidak mau memperpanjang ini. Pergilah, lain kali kau harus lebih berhati-hati dengan sikapmu.” ucapnya dengan wajah tenang.
“Te-te-rima kasih nona, se-se-sekali lagi, saya minta maaf nona.” jawab pelayan itu kemudian berdiri dan berjalan cepat ke ruang belakang.
Munafik jika Quin bilang ia tidak marah. Jelas dirinya marah, andai di dalam hatinya ada dibenamkan sebuah telur, pasti telur itu sudah meledak sedari tadi.
Sebenarnya ingin sekali Quin mencakar wajah pelayan itu, namun sama sekali ia tidak berniat untuk memperburuk citranya. Lagi pula ketika kelak ia meninggalkan kerajaan ini, ia ingin dikenal sebagai gadis bangsawan yang baik.
Cukup orang melihatnya sebagai seseorang yang sederhana, yang tidak suka dengan kekerasan. Mau dipanggil lady sederhana, gadis polos, gadis penakut, nona pengecut, nona tak berguna, atau apapun itu dirinya disebut ia tidak peduli.
Semakin orang meremehkannya, semakin baik untuknya. Karena orang lain juga tidak akan pernah tau seberapa pesat ia tumbuh nanti. Tekadnya masih sama tidak pernah berubah.
*******
Bersambung