Quin And Her Destiny

Quin And Her Destiny
NEGERI YANG ASING



Mata lentik dengan netra biru jernih sejernih lautan itu mengerjab berapa kali. Semilir angin berhembus pelan menyentuh wajahnya, ia duduk dan menyapukan pandangannya ke segala arah, dihadapannya terbentang padang rumput hijau yang ditumbuhi aneka ragam bunga warna warni, dari kejauhan ada air terjun yang begitu indah, bahkan di benua di tinggal ia tidak pernah melihat pemandangan yang sangat menakjubkan ini.


“Dimana aku? Kenapa aku ada di negeri yang asing? Apa ini adalah surga?” Gumam Quin dalam hati. Kepalannya menengok ke kanan dan ke kiri mencari orang lain di tempat asing ini.


“Bisakah aku kembali ke tempat asalku. Aku merindukan ayah dan kakak.” gumamnya


 lagi. Wajahnya sendu, tanpa ia sengaja air matanya kembali menetes.


“Quin” suara lembut perempuan membuyarkan lamunanya. Ia kaget kenapa tiba-tiba ada


wanita secantik Dewi ada di sini.


“Anda siapa? Tempat apa ini?” tanya Quin dengan suara lirih.


“Aku Thike atau bisa dibilang aku adalah dewi keberuntungan” tuturnya lembut dengan aura positif yang kental menyelimuti tubuhnya.


Wanita dengan surai emas itu tersenyum lembut. Ia berjalan mendekati Quin dan duduk di sampingnya. Pandangannya lurus ke depan. Tangannya menggenggam lembut tangan Quin.


“Adakah yang ingin kamu tanyakan Quin? Sepertinya dengan banyak kerutan di dahimu itu kamu memiliki banyak pertanyaan untukku” Dewi itu sedikit terkekeh melihat sekilas wajah Quin yang berkerut.


Setelah diam cukup lama, dengan sekali tarikan napas, Quin menyuarakan isi kepalanya “Hem, ini dimana Dewi?  apa yang terjadi pada saya?  Bagaimana ayah dan kakakku? Apakan mereka selamat? Benarkah ayah melakukan pemberontakan dan melakukan percobaan pembunuhan kepada raja? Apa dewi akan mengembalikan ke rumah? Sungguh saya angat merindukan ayah dan kakak?” cerocos Quin tanpa jeda.


“Wow, pertanyaanmu banyak sekali.” dewi Thike itu kembali terkekeh.


“Maafkan saya dewi, saya hanya penasaran.” Quin menjawab dengan wajah tertunduk karena malu.


“Baiklah, aku akan menjawab pertanyaanmu satu per satu, tenang saja.” dewi Thike berkata dengan lembut sambil mengusap tangan Quin


“Tempat ini, adalah kediamanku dan tentang dirimu kenapa kamu bisa ada di sini karena kau sudah mati Quin seperti saat terakhir kau merasakan jiwamu terlepas dari ragamu mengikuti cahaya terang


menuju langit, tempat ini adalah jalan menuju nirwana yang sesungguhnya atau bisa dibilang tempat ini adalah pemberhentian sementara sebelum jiwamu benar-benar kembali pada pemilik mu yaitu Dewa Oliver pemilik alam semesta ini termasuk dirimu dan aku” lanjut Dewi Thike.


“Lalu bagaimana dengan ayah dan kakak saya, dewi?” tanya Quin kembali penasaran.


“Kau akan mengetahuinya nanti” jawab dewi Thike sambil tersenyum simpul.


Sebenarnya Quin ingin sekali protes, bagaimanapun ia sangat ingin mengetahui keadaan ayah dan kakaknya. Tapi niat itu ia urungkan, ia tidak mau menyinggung dewi Thike.  Mau tidak mau Quin mencoba menikmati pemandangan yang ada di depan matanya. Melayangkan pikirannya mencari kemungkinan-kemungkinan bahwa semua akan baik-baik saja.


“Quin, aku tau, kamu ingin sekali mengetahui keadaan kedua orang yang sangat kamu sayangi itu, namun biarkan waktu berjalan sebagaimana mestinya, agar .... sesuai keinginannya .... terkadang kita harus bersabar untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan kita dan mengambil keputusan terbaik setelahnya” suara dewi Thike membuyarkan lamunan Quin.


“Saya tidak mengerti maksud dewi, apa maksud dewi sesuai keinginannya?” tanya Quin penasaran.


“Kau tau Quin, seseorang dilahirkan ke dunia bukan tanpa alasan. Setiap insan memiliki tugasnya masing-masing, ada yang dengan rela melaksanakannya, ada yang lari, bahkan ada yang berusaha mengubahnya. Semua ada konsekuensinya serta balasannya. Perbuatan baik akan dibalas baik, begitu pula sebaliknya.” jelas dewi Thike yang tidak dimengerti oleh Quin.


‘Astaga, aku tidak mengerti perkataan dewi ini’   batin Quin


Quin berusaha mencerna perkataan dewi Thike, meskipun sebenarnya otaknya sama sekali buntu dan tidak terkoneksi dengan baik. Sedangkan dewi Thike yang mengetahui kepusingan Quin hanya terus tersenyum simpul dan melanjutkan perkataannya.


“Perlu kamu tau Quin, kamu sebenarnya memiliki takdir sebagai seorang yang terpilih. Namun karena kebodohan ayahmu dia tidak pernah menceritakan padamu. Padahal menurut perjanjian disaat usiamu genap 12 tahun kamu harus mulai melatih kekuatanmu serta belajar mengendalikannya. Karena cinta ayahmu yang sangat besar dan ketakutannya  akan kehilanganmu, akhirnya jadi seperti ini.” lanjut dewi Thike.


‘Kekuatan? Ayah? Apa yang ayah sembunyikan dariku? Aarrkkhhh.... Aku bisa gila memikirkan ini, haha aku pikir orang yang sudah mati tidak diwajibkan berpikir, ternyata aku salah, apa karena sudah mati? jadi otakku sudah tidak berfungsi? Ah, seandainya aku mati dengan membawa otakku yang pas-pasan itu pasti aku bisa sedikit mengimbangi obrolan ini yang pasti tidak akan terlihat setolol ini, ah.... lagi pula selama aku hidup aku tidak suka membaca, salahkan saja pemciptaku. Kkenapa aku diberi otak beku bila berhadapan dengan buku dan pelajaran dari profesor-profesor kaku itu’ gerutu Quin dalam hati sambil mengerucutkan bibir mungilnya


“Astaga Quin ternyata kamu cerewet juga ya, jangan salahkan otak kecilmu itu terus menerus, ekspresimu itu bener-benar membuatku gemas, pantas saja ayah serta kakakmu begitu menyayangimu dan melindungi mu.” kekeh dewi Thika dengan muka menahan tawa.


“Kamu hanya tidak tau Quin, karena kekuatan yang ada dalam dirimu memang sengaja tersegel bersama kekuatan lain sampai usia 12 tahun dan berimbas kecerdasanmu ikut tumpul, tapi karena kecerobohan ayahmu sampai usia 23 tahun kamu tidak menyadarinya, tapi aku salut denganmu, kamu masih bisa menikmati kehidupanmu dengan kecerdasan (otak) yang pas-pasan itu.” kembali dewi Thike terkekeh, entah kenapa ia merasa sangat senang berada di samping gadis cantik ini.


“Dewi menyindirku atau mengolok ku?” sungut Quin


“Tidak, sayang. Malah aku sangat bangga padamu. Apapun kekuranganmu, sama sekali kamu tidak mempermasalahkannya dan tetap ceria mejalani hidupmu, kekuranganmu kamu bungkus dengan kelebihan yang tidak pernah kamu sadari dan ... bukankan itu bagus?” jawan dewi Thike jujur.


“Owh.... dan untuk apapun itu, sanya sangat mengucapkan terima kasih atas pujian dewi terhadap saya. Tapi...., Dewi, sungguh saya ingin mengetahui segala sesuatu yang tidak saya ketahui. Tentang kematian saya, bisakah dewi menceritakannya sedikit saja, ya....” Quin kembali bertanya dengan nada yang sedikit manja.


“Baiklah, namun kamu harus berjanji untuk tidak menyela perkataanku, oke”


“Baik dewi, lagi pula saya senang menjadi pendengar yang baik”  jawab Quin dengan cengiran imutnya.


Sungguh dewi Thike gemas sekaligus suka dengan karakter Quin yang apa adanya. Kembali dewi Thike terdiam beberapa saat, ia menghirup napas dalam seolah sedang menata kata yang pas agar mudah dicerna oleh Quin.


“Quin, kematianmu adalah hal yang disengaja.” kalimat itu meluncur begitu ringan dari bibir sang dewi seolah tidak ada beban didalamnya, dengan pandangan menerawang dan terdiam beberapa saat.


Jederrr!!!! Bagai di sambar petir siang bolong, Quin terpaku mendengarkan kalimat pertama itu meluncur dari bibir sang dewi. Namun ia tetap diam tanpa menyela. Bagi Quin sangat penting mengetahui cerita hingga tuntas.


Setelah beberapa lama terdiam sang dewi melanjutkan “Seseorang dengan sangat apik merancang pembunuhan dan kehancuran keluargamu dengan dalil pemberontakan dan percobaan pembunuhan.


Masih ingatkah kamu dengan seleksi pemilihan putri mahkota Roothaland dimana dirimu bersaing dengan satu gadis yang bernama Lowena, dia adalah sahabatmu bukan? Dan sayangnya kamu kalah dengan kompetisi itu. Sebenarnya caramu menyikapi kekalahan itu membuat ayahmu bangga, karena kamu mampu menerima kekalahan itu dengan lapang dada. Namun tetap saja ada seseorang yang mengetahui kebenaran tentangmu, karena seseorang itu mengetahui ramalan leluhur kalian. Kesempatan ini, dia gunakan untuk mengakhiri dirimu dan keluargamu.


Sampai pada akhirnya datanglah kesempatan itu,  ketika kamu datang membawakan hadiah kepada Putri Mahkota berupa bubuk teh dari perkebunan keluargamu dan tanpa kamu sadari Quin,  saat itulah semuanya dimulai. Dengan bekal sifat yang dia miliki dan merasa haus akan kasih sayang serta pengakuan akhirnya gadis itu menjalankan rencana yang telah disusun matang.


Lowena pada saat itu sengaja membuat pesta jamuan teh, yang dihariri anggota kerajaan.. Sebelum teh dissajikan, perancang skenario yang sesungguhnya itu dengan sengaja mencampurkan bubuk teh dengan racun. Malangnya teh itu diminum oleh raja sehingga raja mengalami kejang dan batuk darah yang hebat.


Dari kejadian inilah, ayahmu di kambing hitamkan, gadis itu memberi kesaksian bahwa teh itu diberikan oleh Grand Duke Albert melalui dirimu sebagai hadiah. Karena mereka semua tau bahwa dirimu menaruh hati pada Putra Mahkota Felix.


Keluarga kerajaan berasumsi ayahmu marah dan tersinggung bahwa putri yang disayanginya kala dalam kompetisi, ayahmu membalas dendam kepada Raja yang telah mengeluarkan dekrit tentang penobatan putri mahkota tanpa pertimbangan Grand Duke. Dan tepat sasaran, hanya dengan satu langkah kamu dan keluargamu hancur seketika, sedikit informasi untukmu Quin, ayah dan kakakmu Luke telah disidang dan sebentar lagi menerima hukuman.” tutur panjang lebar dewi Quin


”Maafkan saya dewi jika menyela, mengapa harus ayah yang di kambing hitamkan? Dan mengapa kakak juga terseret? Kenapa bukan saya saja?” tanya Quin tidak sabar


“Karena, ayahmu adalah orang  penting dan berpengaruh di kerajaan Roothaland, jika mereka menyingkirkan mu dengan tuduhan itu, ayahmu akan dengan sangat mudah membuat kerajaan itu rata dengan tanah dalam satu malam hanya dengan kekuatan ayahmu sendiri, sedangkan kakakmu adalah penerus kepala keluarga, menyingkirkan kakakmu juga merupakan keharusan bagi mereka yanng berkepentingan”


“Dari mana dewi tau tentang semua ini?” tanya Quin dengan bodohnya


“Hem, Quin apakah kamu lupa bahwa saya seorang dewi? tentu saja saya tau, apapun yang terjadi di alam dunia dapat mudah aku melihatnya tanpa ada yang disembunyikan”


“Kemudian bagaimana keadaan Raja Andrew dewi?” tanya Quin kemudian


“Tenang saja, raja sudah baik-baik saja sekarang, berkat sihir penyembuhan yang dimiliki Putra Mahkota Felix, beliau selamat.” tutur sang dewi


Tak berapa lama sinar putih terang memenuhi tempat itu, menelan tubuh Quin. Rasa takut melingkupi perasaan Quin. Himpitan kuat menyakitkan ia rasakan sekali lagi, seolah-olah tubuhnya melesat jatuh dari ketinggian tak terhingga dengan kecepatan yang tak bisa dinalar manusia.


“Aaaaaaaa.....aaaaa.....!!!” teriaknya sekuat tenaga. Tangannya menggenggam kuat tangan sang Dewi.


*****


Bersambung