
Malam gelap diiringi hujan rintik. Hawa dingin menyeruak menusuk kulit. Malam dimana setiap orang di penjuru kota lebih memilih untuk berlindung dibawah selimut atau berdiam diri di dekat perapian. Namun tidak dengan kondisi yang dialami seorang gadis bangsawan yang kini tengah berlari menerjang malam serta rintik hujan. Semuanya berbanding terbalik, suasana nyaman berubah hanya dalam satu sepersekian detik dalam kehidupannya.
Gaun ala bangsawan yang sobek dan kotor tidak dia pedulikan. Hawa dingin yang menusuk-nusuk tulang akibat gaun yang ia kenakan basah merembes menyentuh kulit putihnya. Saat ini fokusnya hanya satu mencari jalan keluar dari gelapnya hutan yang mengelilinginya. Ia takut, panik, napasnya memburu dan tersengal.
Zannia Quin Antonia Albert, itulah nama gadis itu. Serang gadis bangsawan berusia 23 tahun dengan surai panjang berwarna perak, manik mata biru sejernih samudra, badan indah nan ramping, dan kecantikan yang ia dapatkan dari perpaduan ibu serta ayahnya. Harus mengalami malam yang buruk yang bahkan tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Quin adalah anak kedua dari seorang Grand Duke. Ia memiliki seorang kakak laki-laki bernama Luke Albert Junior. Quin adalah gadis yang sangat disayangi oleh seluruh penghuni mension Grand Duke yang megah, Quin diperlakukan seperti permata langka di dunia. Ia adalah gadis yang periang, polos, dan baik hati meskipun ya, sering bersikap ceroboh tapi tidak ada yang mempersalahkan itu. Lalu apa sebenarnya kesalahannya?
Quin tidak tau menahu tentang apa yang terjadi. Ketika ia sedang menikmati udara malam di balkon kamarnya, ayahnya datang dengan kepanikannya dan mengajaknya pergi ke belakang mension lantas menyuruhnya untuk melarikan diri bersama salah satu kesatria kepercayaan ayahnya. Sedang kakaknya Luke sedang berbicara dengan kesatria kerajaan yang diutus datang ke kediamannya. Dari cerita singkat ayahnya, saat ini mension sedang digerebek oleh pasukan kerajaan yang ingin menangkap ayah, kakak, dan dirinya dengan alasan percobaan pembunuhan salah satu keluarga kerajaan yang tidak lain dan tidak bukan adalah Yang Mulia Raja Andrew sendiri dan pemberontakan terhadap kerajaan.
#FLASHBACK#
“Quin, kamu harus pergi nak, ayah sudah mengirim pesan kepada teman ayah untuk menjemputmu dengan kereta di perbatasan kota. Sekarang kamu harus mengikuti jalan setapak ini untuk sampai di samping jalan utama. Di sana ada Philip yang akan mengantarmu ke perbatasan.” tutur Grand Duke Albert dengan wajah cemas, raut muka nya tidak berhasil menyembunyikan ketakutannya, ia tidak ingin menyeret buah hatinya ke dalam konflik politik yang kejam.
“Tapi ayah, izinkan aku bersama ayah dan kakak.” pinta Quin memelas dengan menggenggam lembut tangan ayahnya.
“Tidak nak, di sini berbahaya. Ayah dan kakakmu tidak akan membiarkanmu berada dalam kesulitan yang lebih sulit lagi.” Grand Duke Albert menghirup udara dan menghembuskan dengan kasar.
“Ayah, benarkah yang ayah katakan tadi di kamarku tadi, benarkah ayah melakukan pemberontakan dan percobaan pembunuhan anggota keluarga kerajaan?” tanya Quin kepada ayahnya dengan hati-hati.
“Percayalah, nak. Tidak mungkin ayah melakukan perbuatan sehina dan serendah ini. Pantang bagi ayah mengusik kehidupan orang lain. Ayah curiga, saat ini ayah sedang dijebak oleh seseorang untuk menghancurkan keluarga kita” Duke memandang lekat wajah putrinya dan tersenyum sendu “Sekarang pergilah nak, jaga dirimu baik-baik, semoga masalah ini cepat selesai sehingga kita bisa berkumpul lagi dan kamu harus tau ayah dan kakak Luke sangat menyayangimu. Kamu adalah segalanya untuk ayah dan Luke. Kamu mengerti....hemmm?” sekuat tenaga Grand Duke Albert menahan air matanya, ia tidak ingin putrinya melihat ia menangis. Seberat apapun masalahnya sekarang, ia harus tegar melepas kepergian buah hatinya itu.
Quin memeluk erat ayahnya, air matanya mengalir keluar diiringi isakan, dadanya terasa sakit teriris. Ayah dan anak itu sama sekali tidak pernah membayangkan akan berpisah dengan cara seperti ini.
Di tengah perjalanan menuju perbatasan kota Quin dan Philip dihadang oleh kesatria dari kerajaan. Philip meminta Quin untuk lari lebih dulu sedangkan ia akan menghadapi prajurit yang menghadang mereka.
Karena panik dan takut akhirnya Quin berlari ke jalan yang salah, bukan jalan menuju perbatasan kota melainkan jalan menuju hutan.
#FLASHBACK END#
“Kurang ajar, berhenti kau perempuan iblis!” teriak seorang kesatria dengan suara melengking tinggi.
Suara teriakan disertai derap langkah yang terburu-buru sama dengan dirinya tak mengurangi fokus gadis itu. Dan entah sudah berapa kali ia mendengar teriakan itu, ia lebih memilih untuk terus berlari dengan tatapan lurus ke depan.
Splash.....splash.....!!!
Akh....
Gadis itu jatuh tersungkur menghantam semak-semak dan tanah dengan begitu keras, punggungnya terasa terbakar perih sangat menyakitkan. Napasnya tersengal, terbatuk mengeluarkan darah segar.
Akh...akh....!!! teriakan gadis itu bergema di dalam hutan penuh dengan kesakitan. Dua anak panah dicabut dengan paksa dari punggung ringkihnya membuatnya mengerang hebat dan terbatuk mengeluarkan darah dari mulutnya yang lebih banyak. Ia bisa merasakan seseorang berdiri di sampingnya. Hanya dengan satu gerakan tubuhnya terpental membentur pohon akibat tendangan yang begitu keras. Habis sudah tenaganya, ia dipaksa untuk duduk bersimpuh.
Dengan mulut mengeluarkan darah dan sesak di dada yang terasa sangat menyakitkan.
“Mau lari kemana kau Jal***! Apa kau pikir bisa lari secepat pikiranmu!”
“...”
“Owh mendadak bisu kau rupanya.” suara itu membentak penuh dengan emosi.
“...”
“Setelah apa yang dilakukan keluargamu, kau pikir bisa lari dengan selamat, kau adalah orang bodoh sekaligus konyol jika memiliki pemikiran untuk bebas?”
Quin tau betul siapa pemilik suara itu, dia adalah Antonio tangan kanan putra Mahkota kerajaan Roothaland.
“Baiklah kita percepat saja hukumanmu agar kau cepat bertemu dengan ib*** neraka.” tutur Antonio dengan suara tegasnya
“Aku jijik lama-lama berurusan denganmu, lagipula kau adalah orang yang tidak berguna” lanjutnya dengan suara merendahkan.
Quin hanya diam seribu bahasa, otaknya tidak dapat mencerna kata-kata Antonio berikut dengan sumpah serapahnya.
Splash.....splash..... anak panah itu melesat mengenai jantungnya.
Akh...!!! ia jatuh terduduk dengan rasa yang tak dapat ditampung tubuh rampingnya. Pertahanannya habis tak bersisa, tubuhnya ambruk menyentuh tanah yang basah.
Kesadarannya menipis, ia sulit untuk menghirup oksigen. Badannya kejang-kejang tanda ia berada di ambang kematian. Tak berselang lama mata dengan nerta biru secerah lautan itu tertutup sempurna seiring dengan lemahnya goncangan tubuh akibat terkena panah beracun itu. Ya tak berapa lama, gadis itu tidak lagi bergerak.
“Akhirnya, inikah akhir hidupku? Ayah, kakak aku sangat menyayang kalian, kenapa aku berakhir seperti ini? Apa salah kita sebenarnya? Bisakah kita bertemu lagi?” Gumam Quin dalam hati, air mata bening menetes dari pelupuk matanya. Seiring dengan kematiannya yang sia-sia.
Badan ramping itu tak lagi bergerak. Jiwa gadis itu melayang keluar dari tubuhnya. Kini dengan jiwanya ia dapat melihat ternyata ada beberapa orang kesatria termasuk tangan kanan laki-laki sang Putra Mahkota itu sedang memandang jijik tubuhnya.
Jiwanya melayang meninggalkan raga melesat mengikuti cahaya terang ke angkasa. Dan hanya dirinya lah yang dapat melihat bahwa cahaya itu adalah jalan untuk kembali menuju nirwana. Malam ini, malam gelap dengan guyuran rintik hujan menjadi saksi berakhirnya hidup seorang Zannia Quin Antonia Albert.
*******
Bersambung