Quin And Her Destiny

Quin And Her Destiny
PERUBAHAN RENCANA



“Lihatlah, dirimu sangat cantik Quin, mau didandani dengan gaya apapun selalu cocok di wajahmu.” puji Bella dari pantulan cermin yang dapat dilihatnya.


“Pujianmu terlalu berlebihan, ayo kita segera turun, pasti ayah sudah menunggu.” ucap Quin sambil tersenyum manja.


Quin berjalan beriringan dengan Bell, ketika ia sampai di teras mension terlihat kereta kuda berukuran besar telah menunggu lengkap dengan kusir dan sepuluh orang kesatria yang akan mengawal mereka.


Yang membuat Quin lebih heran adalah saat ini mengawal mereka adalah kesatria terpilih. Dimana mereka adalah kesatria dengan kekuatan hampir di atas rata-rata. Membuat Quin semakin cemas dengan pemikirannya sendiri.


Terlihat Philip dengan pakaian kesatrianya berdiri dengan gagah. Quin ingat dialah orang yang mengantarnya waktu itu, namun akhir dari Philip Quin tidak tau pasti.


“Selamat malam, nona.” ucap Philip tersenyum ramah ketika melihat Quin memandangnya yang dibalas Quin dengan anggukan.


“Kakak, apa kakak juga akan ikut?” tanya Quin yang melihat kakaknya berdiri tegak  tak jauh dari kereta kuda.


“Tentu saja.” jawabnya singkat.


Luke yang menyadari kehadiran Bella menatap wajah Bella sejenak kemudian menyunggingkan senyum samar. Sedangkan Bella hanya menunduk tersipu. Quin yang mengetahui itu tentu saja menyenggol lengan Bella untuk menggodanya.


“Kalian sudah siap?” tanya Grand Duke yang berjalan dari dalam mension.


“Sudah ayah.” jawab Luke dan Quin bersamaan.


“Luke kau akan menaiki kereta utama, dan bawa Bella bersamamu!” perintah Grand Duke.


“Baik ayah, ayo Bella masuk.” ajak Luke dengan wajah sumringah.


Quin bingung dengan apa yang terjadi, kenapa malah kakaknya dan Bella yang menaiki kereta kuda itu. Sedangkan Bell masih bergeming di tempatnya.


“Kita akan naik apa ayah?” tanya bela bingung.


Grand Duke tersenyum teduh  “Kita akan naik kereta sewaan.” ucap Grand Duke kemudian. Entah mendapat firasat dari  mana Grand Duke merubah rencana keberangkatan mereka dan mengganti kereta utama dengan kereta sewaan sebagai cadangan.


Kereta cadangan itu akan dipakai oleh Quin dan dirinya sedangkan kereta utama akan dinaiki oleh Luke dan Bella. Lagi-lagi dia harus menggunakan Bella untuk mengantikan Quin. Baginya kesalamatan Quin adalah segalanya.


“Ini untuk keselamatanmu Quin.” ucap Grand Duke dengan wajah seriusnya.


“Pernyataan ayah itu membuatku takut.” Quin berkata dengan wajah takutnya, ia mengelus dadanya untuk menormalkan detak jantungnya yang mulai berdetak lebih cepat.


Bella yang mengetahui itu dengan cepat mengelus punggung Quin dengan lembut “Tenanglah Quin, tidak akan terjadi apa-apa, aku dan kakakmu pasti akan melindungi mu jika sampai terjadi sesuatu.” bisik Bella tepat di telinga Quin.


Karena sudah diputuskan akhirnya Quin menaiki kereta cadangan disusul Bella yang naik bersama Luke ke dalam kereta utama yang terparkir tak jauh dari kereta utama.


Tak berapa lama roda kereta mulai bergerak meninggalkan mension. Angin berhembus pelan. Menerpa wajah cantik Quin, gadis bersurai perak itu sengaja membuka jendela keretanya. Semburat senja masih tampak di kejauhan. Bintang-bintang mulai bermunculan. Quin berusaha menikmati perjalanan ini. Setidaknya pemandangan ini bisa sedikit menetralkan serta menenangkan pikirannya.


Sejenak Quin merasa semua yang akan terjadi nanti tidak semudah yang dibayangkan. Perlahan netra biru samudra milik Quin terasa berat. Namun pikirannya terus menerka tentang apa yang akan terjadi nanti. Akibat pikiran yang terus berkelana membuatnya merasa mengantuk.


Quin menguap pelan, dia menyandarkan kepalanya pada daun jendela kereta dan mulai memejamkan mata. Perjalanan dari kediaman Grand Duke ke istana tidaklah lama kemungkinan satu jam perjalanan. Tapi ia tidak dapat menahan kantuknya lagi.


Quin nyaris masuk ke dalam alam mimpi tatkala kereta yang ditumpanginya mendadak berhenti yang mengakibatkan badannya terhuyung ke depan membentur papan pembatas antar kusir dan kabin penumpang.


Grand Duke yang menyadari ada sesuatu yang salah, dengan cepat Grand Duke siap dengan pedang di tangannya. Ia mengintip ke arah depan. Dan benar saja, kereta utama telah dikepung oleh segerombolan pria bertopeng.


“Masuklah ke kotak persembunyian di bawah tempat duduk ini, nak. Ayah akan memantu kakakmu untuk melawan gerombolan yang menghadang kita.” perintah Grand Duke.


“Tapi ayah, bagaimana jika ayah terluka.” ucap Quin khawatir.


“Tenanglah, ayah sudah pernah menghadapi ratusan peperangan. Ini bukan apa-apa bagi ku.” ujar Grand Duke menenangkan Quin.


“Tuan, ada sekelompok pembunuh bayaran yang menyergap kita jumlahnya sekitar 30 orang.” lapor kesatria dari luar kereta.


Grand Duke berdesis pelan, ternyata benar dugaannya bahwa keberadaan Quin telah terendus. Membuat nyawa putrinya tidak aman lagi sekarang.


“Ingat Quin, apapun yang terjadi, berjanjilah untuk tidak keluar dari kereta.” pesan Grand Duke sekali lagi pada Quin.


Dari dalam persembunyiannya, Quin mengintip dari balik lubang kecil kereta, dia melihat kondisi kereta utama telah hancur di beberapa bagian, entah sihir apa yang mereka gunakan, kereta itu terbelah menjadi beberapa bagian.


Pertempuran berlangsung dengan sengit. Hampir kesemuanya saling beradu pedang. Desingannya benar-benar memekakkan telinga Quin. Mereka semua bergerak dengan lincah menghindari serangan mematikan dari masing-masing kubu.


Quin merasa ngeri dengan apa yang dilihatnya. Ini adalah pertama kalinya Quin melihat secara langsung adegan pembunuhan dengan nyata.


Pedang menghunus, melukai, dan menebas kepala manusia. Teriakan dan erangan kesakitan terdengar jelas di telinga Quin.


Trang...


Trang ...


Trang...


Suara pedang bergesekan semakin terdengar mendekat. Membuat Quin semakin panik. Grand Duke menatap kondisi kereta yang dinaiki Quin sekilas. Dengan gerakan cepat Grand Duke mengeluarkan jarum-jarum api kepada segerombolan pembunuh yang ingin mendekati kereta yang Quin tumpangi.  Hingga ada satu orang yang berdiri di atas keret Quin. Tanpa semua orang sadari. Dimana dia adalah pemimpin dari pembunuh bayaran itu.


“Aku tau Grand Duke yang terhormat. Anak gadismu ada di dalam sini bukan?” ejeknya dengan suara yang dibuat-buat.


“Ah, Akan sangat menyenangkan bisa membunuhnya.” imbuhnya dengan seringaian kejam.


“Maka aku akan membunuhmu terlebih dahulu!” ucap Luke dengan emosi yang sudah membakar dirinya.


“Dasar orang gila.” maki Luke. Tak memerlukan waktu lama Luke menerjang badan laki-laki itu.


Trang!


Trang!


Trang!


Ayunan pedang itu berhasil melukai lengan Luke yeng membuat genggaman pedang Luke terlepas. Melihat itu Bella seketika panik, namun ia masih berkelahi dengan beberapa orang pembunuh yang merepotkannya.


“Kau tidak akan selamat, Luke. Goresan pedangku yang berlumur racun akan melumpuhkanmu perlahan dan menyakitkan. Ha ha ha ha!!!” tawa renyah itu terdengar jelas diiringi seringai kejam menjijikkan.


“Bertahanlah Luke” ucap Bella dalam hatinya.


“Prajurit, terus serang mereka dan jangan sampai lengah!” ucap Bella dengan lantang.


Quin yang melihat itu semakin panik. Tanpa pikir panjang ia keluar dari dalam kereta.


“Lepaskan kakakku dan bawa aku!” teriak Quin sekuat tenaga.


Pemimpin itu tersenyum sendang, ternyata umpannya berhasil membuat orang yang dia cari keluar dengan sendirinya.


“Gadis bodoh.” desis nya kejam.


“Lari Quin!!” teriak Grand Duke dan Luke bersamaan.


“Tidak, mereka menginginkanku bukan? jadi biarkan mereka membawaku.” ucap Quin


“Kau bodoh atau apa? Aku tidak akan kalah hanya karena tanganku terluka.” protes Luke.


Grand Duke, Luke dan Bella dengan sigap menyerang pembunuh itu. Sekali lagi pertempuran itu kembali terjadi. Lebih parah dari sebelumnya, Grand Duke bertubi-tubi menyerang dengan mengeluarkan jarum api runcing serta ledakan bola api, sedangkan Bella menggunakan perisai tanah untuk melindungi tubuh Quin.


Meskipun mereka bertiga bertarung bersamaan, baik Grand Duke, Luke, dan Bella sama-sama mengeluarkan energi yang lumayan besar, tapi keadaan tubuh mereka mulai sedikit limbung. Mereka merasa pemimpin itu menggunakan sihir terlarang untuk melindungi dirinya dari serangan mereka bertiga.


Kondisi ini diperparah dengan Luke yang terluka di bagian lengan dan punggung membuat gerakannya tersendat. Sementara usia Grand Duke yang tak lagi muda membuat gerakannya tak segesit dulu, sedangkan Bella lawan yang dia hadapi jauh melebihi kemampuannya, bahkan mereka telah bertarung lebih dari satu jam.


Serangan dari Grand Duke, Luke, dan Bella yang bergantian bahkan tidak melukai pemimpin itu. Membuat mereka bertiga mengeram frustasi. Hingga akhirnya tanpa mereka sadari, salah satu dari pembunuh bayaran itu bergerak di belakang punggung Quin dengan belati yang siap menebas lehernya.


Cetik!


*******


Bersambung