Quin And Her Destiny

Quin And Her Destiny
MASALAH



 “Ngghhh..” lenguh Quin pelan samil memegangi kepalanya yang berdenyut sakit.


Luke yang menyadari pergerakan adiknya langsung duduk di samping ranjang Quin “Quin, kau sudah sadar?” ujar Luke dengan nada khawatir jelas tergambar dalam wajahnya.


Quin memijit pelan kepalanya kemudian mengedarkan pandangannya “Hemm, kenapa semua ada di sini?" Ucapnya kemudian.


Di dalam kamar Quin terlihat ramai, di dalam ruangan itu ada Grand Duke, kakaknya, tabib Gulea, dan Bella pelayan setianya sedang berdiri dengan wajah yang menunjukkan rasa khawatir yang berlebihan..


“Kau pingsan selama dua hari, putriku” jawab Grand Duke dengan mimik muka yang tercetak jelas begitu khawatir.


Quin membelalakkan matanya terkejut “Apa? Pingsan dua hari?”


Luke dan grand duke mengangguk bersamaan. “Kemarin ketika kita berkumpul di ruang kepala sekolah Clause, dirimu pingsan sehingga aku dan ayah harus membawamu pulang sesegera mungkin” jelas Luke sambil membelai sayang rambut Quin.


“Biarkan tabib Gulea memeriksa mu dulu putriku” ucap grand duke menyela Quin yang ingin menanyakan sesuatu.


Setelah Luke berdiri tabib Gulea memeriksa Quin dengan teliti dan hati-hati. Tabib memberikan obat pemulih stamina dari negeri timur, untuk dikonsumsi Quin selama satu minggu, setelah memastikan Quin baik-baik saja, tabib itupun pamit mengundurkan diri.


Grand Duke mendekati ranjang Quin dan tersenyum lembut “Ayah senang kamu baik-baik saja, nak. Untuk sementara, jangan beraktivitas dulu, habiskan obatmu...kamu mengerti” ucap Grand Duke Albert.


“Jangan memikirkan sesuatu yang tidak penting, Quin” kata Luke kemudian.


“Sekarang istirahatlah, ayah dan kakakmu akan keluar sebentar” ucap Grand Duke.


“Bella, jagalah nona mu dengan baik, jika ada apa-apa langsung laporkan ke padaku” lanjut Grand Duke kepada Bella, sedangkan bela hanya mengangguk patuh mendengar perintah tuannya itu.


*******


Selama dua hari ini Quin benar-benar menuruti permintaan ayahnya untuk beristirahat di kamarnya. Dan selama waktu itu ia merasakan sesuatu mengalir dalam dirinya. Seolah ada kehidupan lain yang ada dalam tubuhnya.


Selama dua malam ini pun Quin tidak dapat tidur nyenyak, ia merasa begitu emosional. Dia merasakan perasaan marah yang teramat sangat besar. Perasaan yang dia rasakan dalam dirinya cukup mendominasi, rasa marah bercampur luka untuk membalas perlakuan buruk yang ia terima di masa lalu.


Entah kenapa selama dua hari ini, ingatan Quin terus tertuju pada masa dimana dia melihat kematiaan dirinya, ayah, dan kakaknya. Bayangan itu seolah menempel di depan mata Quin. Selama dua malam berturut-turut dia akan bangun dengan napas terengah-engah dan keringat dingin membanjiri tubuhnya..


“Kenapa aku jadi seperti ini? Kenapa aku ingin sekali meledakkan amarahku, apa benar aku belum bisa berdamai dengan kehidupan pertamaku?” gumam Quin dalam hati.


Selama dua hari juga Bella dengan setia menemaninya. Bahkan gadis itu juga tidur di kamar yang sama dengan Quin.


“Nona, apa nona membutuhkan sesuatu? nona terlihat gelisah.” tanya Bella.


“Tolong ambilkan aku air dingin, rasanya tubuhku panas sekali.” pinta Quin.


Entah kenapa tubuhnya terasa panas membakar dari kulit tangannya timbul bercak merah. Dia panik, tapi tidak tau harus berbuat bagaimana.


“Ini nona air putihnya.” Bella menyodorkan air putih yang diminta Quin.


“Terima kasih Bella.” jawab Quin dengan napas terengah.


“Nona, kenapa mata nona berubah?” tanya Bella panik.


“Akh...sakit Bell, aakkhhh” erang Quin tiba-tiba, dalam wajah Quin tercetak jelas dia sangat kesakitan.


Dengan menahan sakit, Quin merasakan keinginan mengamuk yang kuat. Diantara sisa kesadarannya ia bergumam pelan “Aku menyayangimu Bella, aku tidak ingin menyakitimu, ku mohon pergilah Bella. Tinggalkan aku. Aakkhh.... sakit, akh...” air mata mengalir membasahi pipi Quin.


Meski ketakutan, Bella menggeleng cepat “Tidak nona, sedikitpun saya tidak akan pernah meninggalkan nona.” ucap Bella dengan bibir bergetar dan air mata mengalir di pipinya.


Warna mata Quin berubah menjadi keemasan membuat Bella ketakutan. Hampir Bella menyentuh wajah nonanya namun pergelangan tangan Bella dicekal kuat oleh Quin.


“DENGAR BEL, PERGILAH!! KENAPA KAU TIDAK MENGERTI!!” teriak Quin kencang.


Grand duke dan Luke yang mendengar teriakan Quin berlari menuju kamar Quin.


“Ada keributan apa ayah?” tanya Luke dengan panik


“Cepat, kita ke kamar Quin, ada yang tidak beres di sana” ucap Grand Duke Albert.


Pintu kamar Quin didobrak begitu saja. Alangkah kagetnya ayah dan anak itu melihat Quin bersimpuh dengan baju dan rambut acak-acakan dengan mata keemasan yang berurai air mata.


“Jangan mendekat!!” teriak Quin sekali lagi.


“Ada apa Nak, ini ayah. Tenangkan dirimu.” pinta Grand Duke.


Luke yang melihat itupun tidak kalah panik, ia mencoba untuk mendekati Quin, namun dengan cepat dia mengagkat tanggannya mengeluarkan angin yang cukup kuat sehingga tubuh Luke terhempas membentur tembok membuat kakaknya terbatuk darah. Kekuatan angin yang dikeluarkan Quin membuat mata Grand Duke, Luke, dan Bella shock.


Dalam sepersekian detik muncul pusaran angin di sekitar tubuh Quin, jendela dan pintu terbuka dengan sendirinya karena terpaan angin itu. Sedangkan Quin terus meraung kesakitan. Garand Duke pun mencoba menghalau terpaan angin, ia mendekat namun berakhir sama dengan Luke ia terpental hingga keluar ruangan.


Bella dapat melihat retakan tembok hingga ke langit-langit kamar. Ia jatuh terduduk melihat nona nya tak berdaya dalam ketidaksadarannya. Hampir sepuluh menit pusaran angin itu berlangsung. Perlahan pusaran itu mengecil dan dengan sisa keberanian yang dimiliki Bella, gadis itu menerjang Quin, memeluknya dengan erat.


“Sadarlah nona, kumohon, sadarlah, ini bukan nonaku” ucap bela dengan memelas.


“Aku sangat menyayangi nona seperti tuan Albert dan Tuan Luke, sadarlah, kumohon .... kumohon nona .... hiks ... hiks ... hiks” tangis Bella pecah pada akhirnya.


“Hentikan suaramu yang menjijikkan itu!!” ujar Quin dengan suara rendah menakutkan.


Tubuh Bella seperti tertusuk-tusuk, angin yang mengelilingi Quin seperti jarum hingga dapat menggores gaun dan  tembus ke kulitnya hingga berdarah, dalam tangisnya ia memeluk erat gadis yang sangat disayanginya itu. Salah satu tangannya ia gunakan untuk mengelus pelan punggung Quin seraya berkata dengan suara yang sangat lembut.


“Lepaskanlah amarahmu nona, aku mengerti hatimu....” ucap Bella pada akhirnya.


Diantara kesakitan yang membakar Quin, ia sudah berusaha keras mempertahankan kesadarannya. Ia tidak ingin mengikuti kemauan yang entah datang dari mana asalnya.


Namun begitu Bella memeluknya serta mengelus punggungnya dengan rasa sayang, ia merasakan cinta yang menyapa kesadarannya. Perlahan dengan nafas terengah, kesadaran Quin kembali dan jatuh tak sadarkan diri.


“Nona” lirih Bella menyusulnya terjatuh tak sadarkan diri.


*******


Dua hari kemudian di ruang kerja Grand Duke


“Apa aku mengganggumu?” tanya Penyihir Agung Clause yang tiba-tiba muncul ke ruang kerja Grand Duke dengan sihir teleportasinya.


“Ah, tidak juga, duduklah.” jawab Grand duke seraya tersenyum tipis.


“Kau selalu saja tidak sopan” imbuhnya.


“Ah, ayolah. Kau lupa kita sudah sepakat menjadi teman sejak kau lahir.” ucap Penyihir Agung tersebut.


“Seandainya, rakyat Roothaland tau, mereka tidak aka menghormatimu lagi.” cibir Grand Duke.


“Harapanmu terlalu tinggi, kawan.” balasnya


Dua orang yang saling bersahabat sejak lama itu biasa berbicara formal, jarak usia yang terpaut ratusan tahun, tapi entah kenapa sejak Grand Duke lahir, penyihir agung itu telah memilihnya sebagai sahabat, dan memudakan kembali penampilannya. Terkadang dua orang itu saling mengejek atau berdebat hal tidak penting. Kedua orang itu akan selalu menampakkan muka serius dan dingin mereka masing-masing bila berhadapan dengan orang lain.


“Bagaimana keadaan Quin?” tanya penyihir agung to the point


“Putriku tidak sadarkan diri lagi sejak semalam” ucap grand duke dengan wajah yang sedih.


“Aku sudah menduganya, dia akan kesulitan menerima kekuatan barunya, aku tidak menyangka bahwa putrimu yang akan menerima setengah dari kekuatan itu, ternyata setelah ratusan tahun ucapannya terbukti sekarang” ucap penyihir agung.


“Ada banyak orang di dunia ini, tapi kenapa harus Quin.” tanya Grand Duke.


“Sikapmu yang dingin dan bengis itu ternyata berbanding terbalik dengan sikapmu pada Quin.” sindir penyihir agung.


“Dia putriku, asal kau tau.” jawab grand duke ketus.


“Aku tau, dia adalah peninggalan istrimu yang berharga.”


Penyihir agung membetulkan letak kaca matanya kemudian berbicara dengan wajah yang lebih serius “ Aku harus melatihnya. Jika Quin tidak bisa mengendalikan kekuatan barunya itu akan menyakiti dirinya sendiri dan seluruh Roothaland”


“Kau yakin? Kau tidak sadar usiamu sudah terlalu tua. Biar aku saja yang melatihnya” ejek Grand Duke.


“Enak saja, usiaku boleh tua, tapi jiwaku akan selalu muda. Apa kau meragukan kemampuanku, hah” balas penyihir agung.


“Baiklah, aku percayakan putriku padamu”


“Aku akan berbicara dengan Yang Mulia Raja malam ini” imbuh pria tua yang telah berusia ratusan tahun itu.


Sebetulnya inilah hal yang paling ditunggu oleh penyihir agung. Sejujurnya diaa senang, teramat sangat senang mengetahui bahwa manusia terpilih itu telah hadir. Menjadi harapan baru bahwa perang melawan iblis akan dapat diatasi. Ia juga telah hidup ratusan tahun untuk menunggu lahirnya gadis ini hadir dan melatihnya secara langsung bersama sahabat-sahabatnya di tujuh benua.


“Percayakan semua kepadaku, dan hemm ... ... kamu bisa mempercayakan latihan pedang Quin pada gurumu yang legendaris itu.” hibur penyihir agung.


“Tentu saja, aku akan berbicara langsung padanya, lagi pula guruku adalah sahabatmu. Apa kau lupa ingatan?” ketus grand duke.


"Tentu saja aku ingat, bagaimana aku bisa lupa dengan seseorang yang telah menjadikamu murid pertamanya" jawab Penyihir agung tersenyum.


"Baiklah, sampai jumpa." imbuhnya kemudian menghilang meninggalakan udara kosong di depan Grand Duke.


"Penyihir gila, tidak tahu sopan santun" ucap Grand Duke geram.


*******


Bersambung