Quin And Her Destiny

Quin And Her Destiny
PERMINTAAN SANG DEWI



Quin masih menangis, ia tidak sadar sudah berapa lama ia ada di dalam dekapan lembut dewi Thike. Hatinya hancur menyaksikan kematian ayah dan kakaknya. Quin ingin sekali memeluk erat tubuh ayahnya. Ia masing ingin mengucapkan berjuta kata sayang kepada ayah dan kakaknya. Ia masih ingin bermanja, dan merawat satu-satunya orang tua dan kakak yang ia miliki.


Selama hidup, meskipun Quin sering dijadikan bahan gunjingan karena memiliki otak yang pas-pasan oleh para bangsawan, tapi ia tidak ambil peduli, karena selalu ada ayah dan kakaknya yang menerimanya sepenuh hati. Tidak pernah ada kemarahan atau bentakan bila ia gagal dalam ujian akademi. Di dalam hidupnya ia selalu berusaha menjadi anak dan adik yang baik.


Sekarang, semua sudah tidak ada, semuanya sudah hancur. Seandainya ia diberi satu kesempatan sekali lagi untuk hidup, ia akan berusaha untuk menjadi anak dan adik yang lebih berguna dan berusaha keras untuk melindungi orang-orang yang disayanginya.


“Menangislah Quin, aku tau perasaanmu” tutur lembut dewi Thike sambil mengelus kepala Quin dengan sayang.


“....” tidak ada suara yang keluar dari bibir tipis Quin, seolah suaranya menghilang entah kemana.


“Itulah hidup, setiap manusia yang hidup pada akhirnya akan berpulang (mati) dengan caranya masing-masing”


“....”


Dewi Thike menghela napas degan sedih “Sadarkah kamu Quin, kenapa kamu sampai berakhir di sini, bukan langsung ke surga ata neraka?”.


”Saya tidak tau dewi” jawab Quin kemudian.


“Karena aku memiliki janji pada leluhur pertamamu” jawab dewi Thike masih dengan gurat kesedihan yang ketara di wajahnya.


“Janji pada leluhur, apa maksud dewi?”


Kemudian dewi Thike menceritakan kisah pertempuran antara manusia dan raja iblis yang berlangsung selama tiga tahun lamanya. Dewi Thike yang memiliki tugas sebagai dewi keberuntungan harus memastikan bahwa manusia terpilih harus lahir ke dunia untuk kedua kalinya.


Dewi Thike juga berjajnji pada semua leluhur ketujuh benua jika terjadi ketidakadilan atau malapetaka sebelum kekuatan besar itu melebur menjadi satu, maka dia akan memutar kembali waktu atas persetujuan dewa Oliver dan dewi Olevea.


“Dan apakah dewi akan memberikan anugrah kepadaku?” tanya Quin dengan tidak sabar.


“Ya, aku akan memberikan anugrah itu kepadamu.” ucap dewi Thike dengan senyumnya.


“Namun terlebih dulu, aku akan membereskan kekurangan yang ada di dalam kepalamu.” lanjut dewi Thike dengan senyum jahil.


Dengan sekali gerakan jari lentik dewi Thike menyentil jidat Quin, “Aduh, sakit dewi.” refleks Quin menggelengkan kepalanya.


“Sakit bagaimana? Kamu adalah jiwa tanpa tubuh Quin, jagan mengada-ada.” ucap dewi Thika sambil geleng kepala.


“Owh, iya ya, maaf dewi, entah kenapa saya selalu lupa, hahaha.” jawab Quin dengan cengiran khasnya.


“Quin, aku akan memberimu kesempatan kedua untuk hidup kembali ke dunia, kamu akan mengulang waktu, dirimu akan mengulang hidup dari usia 17 tahun. Usia yang sebenarnya sudah sedikit terlambat, kamu harus berusaha keras untuk mengasah, berlatih, dan mengendalikan kekuatanmu.” jelas dewi Thike panjang lebar


“Namun aku meminta beberapa permintaan untukmu, dan anggap ini adalah beberapa syarat yang harus kamu setujui, karena dalam hal ini aku tidak ingin ada penolakan”


“Syarat apa dewi?” tanya Quin penasaran.


“Kamu harus mampu berdamai dengan kehidupanmu sebelumya, atau boleh dibilang kamu tidak boleh menggunakan alasan balas dendam untuk membenarkan tindakanmu nantinya, tapi selama itu untuk tujuan yang baik misalnya untuk meningkatkan kemampuanmu itu tidak apa-apa”


“Bagaimana? Kamu mau” lanjut dewi Thike


“Maksud dewi saya harus jadi orang baik? Dan membiarkan mereka mengulang waktu juga untuk membunuhku untuk kedua kalinya juga, hah, yang benar saja ?” cerca Quin


“Bukan begitu, tadi kan sudah aku bilang padamu, bahwa kehidupanmu yang kedua nantinya bukan hidup yang dipenuhi dengan dendam, melainkan kamu harus berdamai agar bisa menyelesaikan tugasmu dan hidup bahagia setelahnya, sederhana bukan?” jelas dewi Thike


“Hemmm, percuma menjelaskan panjang lebar padamu, lagi pula isi kepalamu belum berfungsi dengan baik, kamu harus melatihnya sendiri, kelak akan ada seorang guru yang membimbing mu”


“Sampai disini tugasku sudah selesai, sedangkan tugasmu sedang menunggu, cari tahulah apa yang ingin kamu tau, ingatlah Quin bahwa dirimu lebih dari apa yang kamu ketahui, maka dari itu bersikap bijaklah” tutur dewi Thike untuk kesekian kalinya.


Melihat kefrustasian dewi Thike, Quin hanya bercengir ria. Sebenarnya ia sudah sangat berusaha mencerna dengan segala penjelasan sang dewi, tapi lagi-lagi ia gagal. Gadis bersurai perak itu hanya menghembuskan nafasnya kasar, ia juga frustasi dengan keadaannya yang tidak bisa berpikir.


Quin tahu betul, putri kesayangan Grand Duke Albert yang terkenal itu bukan terkenal karena bakatnya maupun rupa cantiknya, sebenarnya ia dikenal karena tidak bisa mengasah kemampuan dan selalu gagal dalam nilai akademik.


Sindiran sudah sering sekali ia dengar. Namun selalu ia tidak ambil peduli. Lagi pula siapa yang mau berurusan dengan dua malaikat penjaganya yang tidak lain dan tidak bukan adalah ayah dan kakaknya sendiri. Bagi Quin ia hidup bukan untuk mencari muka kepada orang lain. Ia hanya hidup dengan siapa adanya dirinya. Makanya ia tidak ngotot serta berontak ketika kalah dalam pemilihan puteri mahkota. Ia tau apa kekurangannya dan bagaimana kemampuannya (hanya itu).


“Ingatlah Quin, kehidupanmu akan dimulai lagi dari awal, gunakanlah kesempatan itu sebaik mungkin.” ucap dewi Thike dengan penuh harap.


Kehidupan kedua, tidak munafik Quin ingin sekali mendapatkan kesempatan itu. Tapi untuk berdamai dengan kehidupan pertama apakah itu mungkin? Ia terlalu sakit hati dengan apa yang dilakukan kepadanya dan kepada keluarganya. Ketika ia sudah berbuat serta berperilaku baik selama hidupnya kenapa balasan yang dapat begitu menyakitkan? Salahkan ia jika ingin membalas dendam atas kematian tragisnya? Dalam diri Quin ia ingin orang lain ikut merasakan apa yang ia rasakan.


“Dendam tidak akan menyelesaikan masalah Quin, ketika kamu berhasil membalas dendam, yakinlah bahwa kamu kalah dalam sebuah permainan hidup. Hatimu akan kosong, dan terus mencari kepuasan untuk dirimu sendiri” kata-kata dewi Thike membuyarkan lamunan Quin.


“Aku tidak bisa janji dewi, sungguh... aku perlu waktu untuk menerima semuanya.” jawab Quin lemah.


“Aku tau jiwa terdalam mu Quin, aku tau siapa dirimu. Lagi pula kelak kau akan memiliki sahabat yang hebat yang akan mengisi dan menguatkan hatimu, percayalah” jelas dewi Thike


“Kalau boleh tau, siapa sahabatku dewi?” tanya Quin


“Dirimu akan tau nanti seiring perjalananmu, sekali lagi percayalah, bahwa ia telah rela menunggumu selama ratusan  tahun lamanya  untuk bertemu kembali dengan” jawaban dewi Thike masih dengan teka-teki misteriusnya.


“Baiklah, saya mengerti dewi.” jawab Quin pada akhirnya.


“Ayo!” ajak dewi Thike mengambil tangan Quin untuk digenggam.


“Kemana” jawab Quin singkat.


“Kau akan tau” ucap dewi Thike lagi-lagi membingungkan Quin


Quin dan sang dewi berjalan beriringan melewati jalan setapak, kanan dan kiri jalan itu ditumbuhi beraneka ragam bunga. Sepanjang jalan Quin dapat mencium wangi bunga itu. Gadis bernetra biru samudra itu benar-benar menikmati pemandangan bunga yang terhampar luas. Kemudian mereka menaiki sebuah bukit landai yang ditumbuhi rumput nan hijau. Setelah cukup lama berjalan mereka sampai di sebuah air terjun yang mengalir lumayan deras.


“Sekarang, waktunya kita berpisah. Kembalilah Quin, pulanglah ke duniamu... rumahmu.... keluargamu.... ayah dan kakakmu....” ucap dewi Thike sangat lembut dengan senyum yang tersungging di bibirnya.


Dengan wajah shock dan mata melotot Quin bertanya “Jadi dewi akan menenggelamkan saya disini?”


“Tentu saja tidak, air terjun ini tidak akan menyakitimu, sekarang pejamkan matamu” titah sang dewi


Quin pun memejamkan matanya, perlahan tubuh Quin menghilang tersapu air terjun dengan arus yang berbalik ke atas dengan sendirinya.


Samar-samar Quin dapat mendengar suara dewi Thike “Kelak kamu akan tumbuh menjadi wanita yang hebat Quin sehebat ibumu, aku sangat menyayangimu.”


*******


Bersambung