
“Bibi, aku mohon buatkan aku beberapa kemeja dan celana yang bisa aku gunakan untuk latihan berpedang dan bela diri.” Quin berkata sambil memeluk manja Madam Lyn.
“Hah, tidak salah?” jawab Madame Lyn sedikit terkaget.
“Ayolah bibi, jangan kaget begitu” rengek Quin.
“Bukan begitu sayang, gadis bangsawan sepertimu, untuk apa capek-capek berlatih pedang dan apa itu tadi .... bela diri? Ah, yang benar saja”
“Memang gadis bangsawan tidak oleh berlatih bela diri dan berpedang?”
“Ya, tentu saja boleh. Tapi di sini hampir semua gadis bangsawan tidak melakukan itu, nak." jelas madame Lyn.
“Aku kan sudah besar, aku ingin mandiri, apalagi aku seorang perempuan. Aku harus bisa menjaga diriku sendiri bibi, aku tidak mau selalu bergantung pada orang lain untuk melindungi ku. Pantang bagiku untuk terus menerus merepotkan orang. POKOKNYA BIBI TIDAK BOLEH MENOLAK KU. TITIK!!” sungut Quin dengan gaya manja pemaksanya.
“Baiklah ... baiklah .... apapun untukmu, sayang” jawab madame Lyn akhirnya mengalah.
Quin tidak mungkin menceritakan semuanya pada wanita yang sangat disayanginya itu. Dia tidak mau, jika menambah beban pikiran wanita paruh baya itu yang masih terlihat cantik meskipun usianya tak muda lagi.
Bagi Quin Madame Lyn adalah sosok yang spesial, meskipun Madame Lyn bukan kerabatnya dan fakta bahwa dia adalah seorang janda, yang tidak memiliki anak membuat hubungan mereka semakin dekat. Yang Quin tahu , suami madam Lyn adalah seorang Marques yang telah meninggal karena sakit keras.
Ketika ia sedang bersama Madame Lyn Quin selalu merasa bahwa dapat merasakan kasih sayang seorang ibu. Di kehidupan yang lalu, terkadang Quin berharap wanita paruh baya tersebut mau menjadi ibunya. Ia akan banyak bercerita dan terkadang bersikap manja dengan wanita paruh baya tersebut.
Hampir setiap bulan Quin meminta ayahnya untuk mengundang madame Lyn berkunjung ke rumah entah itu untuk makan malam, minum teh, atau hanya mengobrol. Quin akan selalu memaksa ayahnya untuk mendatangkan wanita paruh baya yang selalu ia anggap sebagai sandaran selain ayah, kakak, dan Bella.
Quin cukup tahu, bahwa ayahnya juga bersahabat dekat dengan madame Lyn, terkadang tanpa sepengetahuan Quin, mereka sering melewatkan waktu bersama ketika sedang berkunjung ke Mension. Tapi entah kenapa baik ayah atau madame Lyn enggan untuk melanjutkan ke hubungan serius. Haya mereka yang tahu.
“Kenapa menatap bibi seperti itu, sayang?” tanyanya kepada Quin.
Quin tersentak, ia tersenyum simpul dan berkata “Ah, tidak ada apa-apa bibi.”
Madame Lyn tersenyum hangat, kemudian mereka berdua mendesain gaun yang akan digunakan Quin dalam pesta ulang tahunnya. Dua orang berbeda usia itu juga berdebat tentang pakaian yang diminta Quin untuk berlatih. Dari memilih warna hingga bahan yang akan digunakan. Namun pada akhirnya perdebatan itu diakhiri dengan tawa kegelian mereka berdua.
“Ngomong-ngomong, kemana perginya pelayanmu Quin?” tanya madame Lyn kemudian.
“Owh, tadi Bell aku suruh pergi mencari aksesoris untuk gaun yang akan aku pakai bibi” jawab Quin.
“Owh, begitu ... Karena kita sudah selesai, bagaimana jika kita pergi makan di luar. Bibi lapar.” pinta madame Lyn.
“Baiklah, lagi pula aku juga lapar bibi.” jawab Quin semangat.
*******
Atas rekomendasi Quin kini mereka berdua tengah berada di kedai mie yang terkenal di pusat kota Roothaland. Mie dengan bahan dan bumbu khusus yang di datangkan langsung dari negeri timur.
“Wah, mie ini enak sekali kan bibi.” ucap Quin penuh semangat, sambil menggoyangkan badannya.
Madame Lyn merasa senang melihat Quin makan dengan lahap. Ia merasa seperti menjadi ibu yang paling bahagia bisa makan berdua seperti ini. Bisa menghabiskan waktu bersama putri tercinta dengan banyak cinta yang ia punya. Hatinya menghangat, terharu dengan kebersamaan ini.
“Hati-hati sayang, jangan buru-buru, kau bisa tersedak nanti.” pinta madame Lyn
Sedangkan Quin hanya menunjukkan cengir kudanya dengan mulut penuh mie. Ia benar-benar menikmati makanan yang sangat lezat itu.
Setelah merasa kenyang, madame Lyn membayar pesanan mereka, madame Lyn mengajak Quin untuk jalan-jalan untuk menghabiskan waktu.
Keadaan pasar kota ini sangat ramai. Di kanan kiri berdiri toko-toko dari yang besar sampai toko dengan bangunan kecil. Jika diibaratkan, mungkin tempat ini adalah jantung dari kerajaan Roothaland untuk transaksi jual beli.
Namun sedari tadi ia tidak menemukan peralatan sihir sama sekali. Bahkan kesannya sama sekali di kerajaan ini tidak menggunakan peralatan seperti itu.
“Bibi, kenapa di pasar seramai ini tidak ada yang menjual peralatan sihir dan juga aku tidak menemukan orang yang menggunakan sihir?” tanya Quin berbisik di telinga madame Lyn.
“Ah, masalah itu. Yang aku ketahui karena zaman dulu terjadi perang besar dan memburu kekuatan rakyat baik bangsawan atau rakyat jelata di seluruh benua termasuk Roothaland. Maka dari itu penduduk melepaskan kekuatan sihir mereka bahan tidak ingin menggunakan peralatan sihir sekalipun dan lebih memilih hidup normal, berharap tidak menjadi korban kekejian iblis.” jawab madame Lyn dengan suara berbisik
“Jadi, di kerajaan ini tidak ada sihir lagi?” tanya Quin polos
“Owh ... “ jawab Quin ber owh ria.
Quin masih menikmati waktunya di taman. Enggan rasanya untuk dia pulang. Meski diperlakukan baik dengan dihujani cinta dan kasih sayang, namun hidup Quin hampir 17 tahun banyak dihabiskan di dalam mension.
Harum bunga memanjakan hidung Quin, di sana di tepi jalan terdengar jeritan anak kecil yang mengaduh kesakitan. Quin dan madame Lyn yang penasaran mendekat ke arah suara itu. Tidak lupa ia mengenakan kembali tudung kepalanya.
“Dasar anak bodoh!!! Kau buta hah!!! Tidak berguna!!!” hardik seorang lady muda dengan pakaian bangsawannya, mukanya merah padam penuh emosi. Tamparan keras terdengar diantara kerumunan itu.
Quin mendekati kerumunan lebih dekat, di sana, didepannya terlihat anak laki-laki berumur sekitar 6 tahun tengah berdiri dengan tubuh kurus yang gemetar. Wajahnya terlihat lusuh, pipinya merah akibat tamparan lady muda yang berdiri di depannya, pakaian yang kumal dan terlihat robek di beberapa bagian.
Orang-orang yang berdiri di sekitar bahkan hanya diam tak bergeming melihat hardikan lady itu. Mereka semua lebih memilih diam dan menghindari lebih banyak masalah.
“Ma-ma-maafkan saya Lady, saya tidak sengaja.” cicit anak kecil itu.
“Maaf, katamu. Kamu tidak lihat badanku kotor karena ulahmu hah!!” nada wanita muda itu dengan nada tinggi.
Jika diperhatikan memang pakaian lady muda berambut coklat itu tidak baik-baik saja, bagian belakang gaun yang ia kenakan kotor karena cipratan lumpur, tatanan rambutnya juga berantakan.
“Pengawal...!!, cepat ambil cambuk!!” perintah wanita muda itu tegas menyeramkan.
“Baik Lady” jawab salah satu pengawal.
Pengawal itu datang lagi dengan membawa cambuk yang terbuat jalinan tali hitam panjang. Siapapun di sana merasa ngeri melihatnya. Terlebih mereka tau bahwa cambuk itu akan digunakan untuk menghukum anak kecil malang itu.
Pengawal tersebut menyerahkan cambuk itu kepada majikannya. Dengan tatapan sadisnya wanita muda itu berjalan maju ke depan dengan langkah tegasnya.
“Anak kurang ajar, berani sekali kau menghinaku” hardik wanita itu kembali. Dia sekali lagi menampar bocah kecil itu sebanyak empat kali tepat di wajah anak tersebut.
Anak kecil itu diseret kasar kemudian didorong ke atas tanah. Semua yang melihat hanya menatap dengan tatapan iba seraya menutup mulut mereka. Mereka semua tau siapa wanita muda itu.
Quin yang berdiri di belakang wanita itu hatinya memanas menyaksikan pemandangan yang terpampang jelas di depan wajahnya. Buku jari-jari Quin memutih seiring dengan kuatnya kepalan tangannya.
“Perhatikan dan lihatlah, kelak di kemudian hari. jangan sekalipun kalian bermasalah dengan ku!” cambuk itu diangkatnya tinggi-tinggi.
“Ini, akibat kau telah menghinaku” tegasnya kemudian.
“Lady tolong maafkan, adik saya, saya mohon.” teriak seorang anak perempuan yang mungkin usianya hanya terpaut 2 tahun dari anak laki-laki itu. Ia duduk bersimpuh di bawah kaki wanita muda tersebut.
“Minggir, dasar sampah!!” teriaknya dengan amarah yang meledak. Anak perempuan itu ditendang hingga terjungkal.
“Tidak lady, tidaaaakkk.... jangan lakukan ini pada adikku” teriak anak perempuan itu menggema ditelan udara.
Warga yang melihat hanya diam tertunduk ketika cambuk itu mengayun hendak mengenai punggung kecil nan rapuh itu.
Dan ....
GREBB
Dengan gerakan cepat tak terprediksi, Quin menerjang tubuh wanita itu hingga tersungkur ke depan dan hampir menindih tubuh bocah kecil itu jika sedikit saja salah prediksi.
“BA****T...!! SIA**N...!!” teriak wanita muda berambut coklat itu menggelegar.
Quin yang melihat dengan jelas siapa pemilik wajah itu hanya bisa membulatkan matanya. Seseorang yang tengah terjatuh bersamanya adalah orang yang sangat dia kenal.
Dengan wajah shock Quin berkata “Kau ...!!!”
*******
Bersambung