
Sinar matahari perlahan menyelinap masuk melalui celah-celah tirai, di dalam ruangan yang mewah berarsitektur kuno itu terdapat seorang gadis bangsawan yang masih terlelap. Napas halus naik turun seolah menandakan bahwa ia masih tertidur dengan nyenyak. Ya, gadis itu adalah Zannia Quin Antonia Albert.
Tiba-tiba kelopak matanya terbuka menampakkan netra biru sejernih samudra. Ia edarkan pandangannya ke penjuru kamar yang mewah itu. Seolah tersadar akan sesuatu, ia melompat dari ranjang menuju cermin besar yang menampakkan seluruh tubuhnya.
“Bagaimana mungkin aku hidup kembali?” dia termenung menatap pantulan dirinya yang masih utuh dan ia masih bisa merabanya. Tubuhnya masih sempurna tidak ada yang hilang. “Tidak mungkin kan yang aku alami adalah mimpi!!” gumamnya
Quin sangat yakin, apa yang dialami serta dilihatnya bukanlah sekedar mimpi bahkan ia masih teringat jelas runtutan kejadian dari awal hingga akhir. Dari pantulan kaca dimana ia berdiri, Quin melihat seseorang sedang menatap dirinya sambil tersenyum simpul.
Ia melebarkan mata kaget, dengan cepat ia meloncat kembali ke ranjangnya dan menutupi tubuhnya dengan selimut tebal. Gadis itu menggigil ketakutan, dadanya berdetak cepat, ia sangat takut jika wanita yang dihadapannya sekarang adalah hantu. Tapi mengapa hantu muncul di pagi hari? Pikirnya.
“Jangan takut Quin, asal kau tau, aku bukan hantu seperti yang ada dalam kepala kecilmu itu.” ujar wanita itu sedikit tersinggung.
‘Eh, dia tau namaku?’ jagan-jangan dia adalah dewi yang aku temui di dalam mimpi itu’ batin Quin, pelan-pelan Quin meloloskan kepalanya dari dalam selimut, ia memandang wanita itu takut-takut.
Sambil tersenyum dan menggelengkan kepala wanita itu berkata “Kita bertemu lagi Quin dan aku ucapkan selamat datang kembali, dari sini kehidupan keduamu dimulai.” ujar wanita itu dengan lembut.
“Apapun yang kamu alami bukanlah mimpi, itu adalah hidupmu di kehidupan yang akan datang dan segala kenaasan itu akan terjadi bila kamu tidak hati-hati. Maka dari itu ubahlah selagi kamu bisa.” lanjut wanita itu.
“Aku percaya padamu.” imbuhnya
“Selamat Tinggal” dan wuuss... tiba-tiba wanita itu hilang ditelan angin.
“Yah, belum juga aku bertanya, main menghilang saja.” gerutu gadis itu
“Yang jelas jika yang dewi itu sampaikan adalah benar bahwa aku tidak bermimpi, baiklah aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku tidak mau mati mengenaskan seperti itu. Aku sudah bertekad jikalau sampai aku harus mati, aku akan pastikan mati dengan terhormat” cerocos kuin
*******
“Nona sudah bangun?” sapa seorang gadis dengan senyum ramahnya.
Gadis dengan seragam pelayan itu adalah pelayan pribadi Quin yang bernama Bella. Ia lebih tua dua tahun dari Quin. Bella telah bekerja selama 10 tahun di kediaman Gran Duke Albert, dia sangat menyayangi Quin dengan sepenuh hati, ia menganggap Quin seperti adik kandungnya sendiri.
Quin yang tersadar dari lamunannya, mengedarkan pandangannya ke arah gadis yang sedang berdiri di depan pintu kamarnya yang baru saja ditutup Bella, ia bergegas turun dari ranjang dan menghambur ke dalam pelukan Bella
“Aku merindukanmu Bel.” bisik Quin
“Nona kenapa? Apa nona sakit?” tanya Bella khawatir
“Tidak, aku hanya terlalu senang bertemu denganmu.” kilah Quin
“Nona yakin? nona terasa lain dari biasanya.” ucap Bella
“Iya,,,,, sudah ku bilang kan, aku baik-baik saja.” bohong Quin, tidak mungkin ia berbicara jujur tetang yang ia alami, ia sangat beruntung bisa kembali lagi. Ia berjanji setelah ini, dirinya akan berusaha sebaik mungkin.
“Hah, kelulusan...!! owh... baiklah.” jawabnya singkat
Sambil memandang heran pada nona nya “Jangan bilang nona lupa?”
“Tidak. Tidak tentu saja aku tidak lupa, sudah sana pergilah, siapkan air untukku setelah itu siapkan gaun yang akan aku kenakan, ah..., pilihkan aku gaun yang sederhana, kalau ada yang tidak pakai korset, aku malas memakai gaun yang menyiksa itu” perintahnya.
Setelah kepergian Bella. Quin duduk di ranjangnya. Ia berpikir jika kakaknya tahun ini lulus, berarti usia kakaknya 21 tahun dan dirinya berusia 17 tahun. Berarti ia masih punya 6 tahun untuk merubah nasib tragis dirinya dan keluarganya.
*******
Quin berjalan dengan anggun menuju ruang makan. Dari jarak yang lumayan jauh, Quin dapat melihat ayahnya sudah hadir di meja makan, laki-laki paruh baya itu duduk di bangku yang khusus kepala keluarga. Ia dapat melihat ayahnya masih gagah dan tampan meskipun usianya hampir menginjak usia 46 tahun. Tak terasa bulir air mata menetes keluar dari pelupuk matanya, namun cepat-cepat ia mengusapnya. Sungguh, ia ingin sekali menghambur ke pelukan ayahnya.
“Nona, kenapa berhenti?” tanya Bella yang masih setia mengekor di belakangnya.
Quin tersadar dari lamunannya “Ah, iya. Ayo kita ke ruang makan.” jawab Quin gugup.
Quin kembali berjalan dengan anggun. Pagi ini ia mengenakan gaun yang lain dari biasanya. Dulu Quin suka sekali mengenakan gaun dengan warna yang mencolok dengan banyak pernak pernik, namun tadi ia menyuruh Bella memilihkan gaun sederhana namun terlihat elegan.
“Maaf, ayah aku terlambat.”
Laki-laki paruh baya yang sedari tadi menunggu kedatangan putrinya itu tersenyum dengan lembut. “Tidak apa-apa putriku, ayah juga belum lama duduk di sini.”
Mendengar suara berat dari orang yang sedari kemarin dirindukannya membuat pertahanan Quin runtuh, ia menghambur memeluk ayahnya. “Terima kasih ayah sudah menungguku, aku menyayangi ayah, sangat sayang.”
Laki-laki itu pun membelai sayang rambut panjang Quin, “Sama-sama putriku, perlu kamu catat putriku bahwa ayah bahkan lebih menyayangimu, dan pagi ini kamu kenapa, apa ada sesuatu yang menganggu mu?”
“Tidak ada, aku hanya ingin memeluk ayah saja sebagai tanda terimakasih karena ayah selalu memaklumi keterlambatan ku dan hemm... mulai pagi ini aku akan sering-sering memeluk ayah.” ucap Quin dengan wajah yang ia buat sumringah mungkin. Ia tidak ingin ayahnya tau tentang yang terjadi dengan dirinya.
Laki-laki itu pun tersenyum dan mengangguk “Apapun untuk putriku, ayo kita makan.”
“Baik ayah.” ucap Quin sambil tersenyum lembut.
Setelah mereka siap, pelayan dengan sigap meletakkan menu sarapan pagi di piring Quin dan ayahnya. Acara makan dihabiskan dengan suara denting sendok dan garpu. Mereka berdua larut dalam pikiran masing-masing. Quin dengan rencana-rencananya untuk berlatih bela diri serta membangkitkan kekuatannya sedangkan ayahnya yang dalam diam seribu bahasa ia merasa ada sesuatu yang terjadi dengan putrinya. Namun entah apa, dia akan bertanya nanti.
Setelah selesai sarapan. Grand Duke menyuruh pelayan untuk memberitahukan penjaga untuk menyiapkan kereta kuda, seperti rencananya kemarin, ia akan membawa putrinya untuk menghadiri upacara kelulusan kakaknya di akademi. Sudah tiga tahun Luke menimba ilmu di sana, dan sebentar lagi keluarga kecil itu akan berkumpul kembali. Membayangkan kebersamaan mereka membuat hatinya menghangat.
*******
Bersambung