Quin And Her Destiny

Quin And Her Destiny
KECURIGAAN



“Maaf, aku sedikit terlambat.” Ucap seseorang yang berjalan dari arah belakang punggung Quin.


“Tidak masalah, Felix. Duduklah!” Jawab Penyihir Agung menyambut kedatangan Putra Mahkota tersebut.


Tubuh Quin membeku mendengar siapa yang sedang masuk ke dalam ruangan. Suara itu sama dengan yang dia dengar tadi. Berarti seseorang yang menghentikan waktu dan menolongnya tidak lain adalah Putra Mahkota Felix.


“Selamat malam semua.” Ucap Felix  dengan suaranya yang dingin seperti biasanya.


“Duduklah, aku memaklumi keterlambatanmu.” Ucap Yang Mulia Raja dengan santai.


Felix kemudian duduk tepat di samping Quin, membuat gadis itu semakin gerogi. Dia tidak menyangka akan bertemu dengan putra Mahkota  di tempat ini. Felix. Quin berusaha bersikap formal meski jantungnya berdetak tidak karuan.


“Bagaimana penyelidikanmu?” tanya Penyihir Agung tanpa basa basi.


“Ternyata kecurigaan kita kemarin memang benar adanyanya, identitas Quin sebagai titisan Laksmiora telah mereka ketahui.” Ucap Putra Mahkota Felix dengan wajah dingin seperti yang terakhir Quin lihat.


“Berarti dalang dibalik penyerangan keluarga Albert adalah mereka bukan?” tanya Yang Mulia Raja.


“Sebenarnya aku belum yakin, tadi aku dan Antonio sempat mengejar seseorang yang lari ke arah kediaman Beattrix tak lama setelah aku membereskan kekacauan yang mereka buat tadi” ucap Putra Mahkota Felix singkat.


“Maksud Anda Keluarga Lovena?” tanya Quin menyela.


“Ya, seperti yang kau dengar” jawab Felix singkat.


Sekarang Quin ingat, pertemuan pertamanya degan Lowena yang berakhir dengan pertarungan memang terkesan sangat buruk. Mungkinkah semua itu benar, jika dia tidak tersulut emosi maka keberadaan dirinya tidak akan diketahui oleh musuhnya, tapi apakah benar keluarga Lowena menjadi dalang dari peyerangan tadi.


“Siapapun mereka pasti tidak akan tinggal diam, dengan keberadaan Quin, maka itu akan menjadi ancaman untuk mereka membangkitkan Azzura” kata Putra Mahkota Felix.


“Dan karena itulah Quin, kau harus cepat menjalani latihanmu, kau adalah orang yang paling dibutuhkan untuk melawan Azzura. Disamping hanya dirimu saja yang mampu menyerap separuh kekuatan Zaaragon, berarti juga bahwa hanya dirimu kelak yang akan mampu menyegel kekuatan Azzura dengan kombinasi kekuatan antara dirimu dan Zaaragon, meskipun kekuatan itu belum aktif sepenuhnya. Sebelum mereka bertindak lebih jauh maka kau harus bergegas untuk memperkuat dirimu.” ucap Penyihir Agung menjelaskan panjang lebar.


Tak lama pintu diketuk dengan pelan. Antonio yang notabene adalah tangan kanan putra mahkota Felix masuk dengan langkah tegap.


“Bagaiana Antonio, sudah kau bereskan semua?” tanya putra mahkota Felix.


“Sudah Yang Mulia pangeran, semua penghuni mension Beattrix telah diinterogasi, namun sama sekali tidak ada bukti tentang penyerangan terhadap keluarga Grand Duke Albert.” jawab Antonio menjelaskan.


“Pandai sekali mereka menyembunyikan sesuatu.” kata Grand Duke Albert.


“Kita harus menyelidikinya lebih dalam. Jangan sampai beredar rumor yang dapat meresahkan rakyat” Imbuh Grand Duke Albert.


Malam terus merangkak naik, beberapa jam lagi mungkin matahari akan menyapa. Namun orang-orang yang sedang berkumpul itu tidak sedikitpun beranjak dari tempat duduk mereka.


Quin yang merasa kelelahan pamit undur diri untuk istirahat di kamarnya. Diikuti dengan Bella yang selalu mengekor di belakangnya. Meurutnya tugasnya sudah selesai. Lagi pula dia sudah menyanggupi permintaan mereka semua untuk berangkat besok malam guna memulai latihan.


*******


Di dalam sebuah hutan terdapat bangunan kastil yang lama tak tersentuh, tanaman dan rumput tumbuh tinggi mengelilingi kastil,  namun berbanding terbalik dengan apa yang ada di dalamnya. Kastil itu begitu bersih dengan tatanan prabot yang bersih dan terawat.


Penghuni yang merupakan tuan rumah baru saja menginjakkan kaki di sana. Dengan langkah tegas dan aura membunuh menguar di sekelilingnya. Begitu dia sampai di sofa, tangannya mengepal erat.


“Kau, bodoh atau hanya sebatas itu saja kemampuanmu!” Bentak perempuan paruh baya itu.


“Maaf, ibu. Rencanaku gagal.” Ucap seorang gadis yang berusia sekitar 20 tahun.


“Ma-ma-afkan aku ibu.” Ucap gadis itu terbata.


“Maaf, maaf! AKU SUDAH MUAK MENDENGAR KATA MAAF DARIMU!” jawab wanita tersebut semakin emosi.


“Kau!! Bahkan membuat putra mahkota jatuh hati saja kau tidak bisa! Lantas apa sebenarnya fungsimu itu, hah!” lanjutnya dengan menunjuk muka gadis itu tepat di depan mukanya.


Gadis itu tahu betul jika kemarahan ibunya sangat menakutkan. Sebagai seorang penganut ilmu hitam tinggat tinggi. Tidak ada orang yang dapat meredakan kemarahan ibunya selain dirinya sendiri.


Seandainya saja jika dia tidak gegabah mengambil sikap, maka sekarang Quin akan dengan mudah dilumpuhkan. Menginggat Quin adalah gadis bodoh, namun dia tidak menyangka jika Putra Mahkota Felix terlalu cepat menyelidiki kekacauan yang ia buat sewaktu di kota kemarin.


“Tapi setidaknya ibu, kita pantas bersyukur, jika tanpa insiden di kota kemarin, kita tidak akan pernah menemukan titisan Laksmiora.” Bela gadis itu seolah membenarkan perbuatannya.


“Lowena!! Tutup mulutmu\, bahkan kalaupun kau menemukan gadis jal*** itu\, aku bahkan tidak akan bangga padamu!” hardik wanita paruh baya itu lagi.


“KAU ADALAH PEMBUAT RENCANA PALING PAYAH YANG PERNAH AKU TEMUI, PERGI DARI HADAPANKU SEKARANG!!” tambahnya lagi sengan emosi yang sudah tidak terbendung lagi.


Begitu wanita itu selesai mengucapkan kata-katanya, gumpalan asap hitam keluar dari telapak tangannya, dan melemparkan asap itu ke dinding hingga hancur berantakan.


Napasnya terengah, jelas ia sangat kecewa dengan putrinya itu. Jika bukan karena rencana besarnya, ingin sekali dia membunuh putrinya yang mempunyai otak dibawah rata-rata itu.


Dia harus tetap menjalankan rencananya. Meskipun itu harus menyamar menjadi manusia rendahan sekalipun. Tidak masalah baginya. Asalkan dia mendapatkan apa yang diinginkannya. Yaitu menjadi ratu terkuat di tujuh benua dan semua akan tunduk padanya.


*******


Lowena berlari menjauh dari ruangan yang mengungkungnya dengan ibunya tadi. Dia menyandarkan tubuhnya pada sebuah pilar tinggi di samping kastil. Hatinya sakit tentu saja, setiap hal dia lakukan untuk ibunya, namun sekeras apapun dia berusaha. Ibunya tidak pernah menghargainya.


“Kau tidak apa-apa Low” tanya seorang pelayan kepada Lowena.


“Aku baik-baik saja bi.” Jawab Lowena berbohong.


“Segeralah kembali ke kediaman Baron Beattrix sebelum ibumu mengamuk lagi.” Perintah pelayan tersebut.


Sebenarnya pelayan itu tidak tega menyuruh Lowena pulang pagi buta seperti ini. Tapi tidak ada pilihan baginya. Jika Lowena masih di sini, bisa-bisa nyawa gadis itu melayang di tangan ibunya sendiri.


“Baiklah, sampai jumpa lagi.” Ucap Lowena akhirnya.


Pelayan itu mengantarkan Lowena ke depan kastil, melambaikan tangan ketika kereta yang ditumpangi Lowena bergerak perlahan meninggalkan kastil suram tersebut.


“Kasihan kau nona, keberadaanmu bahkan tidak pernah dianggap ada oleh Madame.” Ucap pelayan itu iba.


Di dalam kereta, Lowena menangis tanpa suara. Bahkan ibunya tidak pernah khawatir tentang keadaannya. Yang ibunya pedulikan hanya kekuatan dan kekuasaan. Lowena hanyalah orang yang harus selalu siap kapan saja untuk meraih mimpi ibunya. Nasib yang sesungguhnya Lowena sesali selama dia hidup.


“Aku harus bagaimana lagi ibu? Agar ibu mau mengakui keberadaanku.” Tanya Lowena dalam hatinya.


Lowena sama seperti gadis-gadis yang lain, dia begitu ingin mendapatkan kasih sayang yang tulus serta perhatian dari orang-orang yang dia sayangi. Namun rasanya semua itu mustahil. Bahkan sejak Lowena kecil, sama sekali dia tidak pernah mendapatkan itu semua.


Semua orang di sekitarnya hanya peduli dengan kekuatan, kekayaan, dan kekuasaan. Teramat wajar jika pada akhirnya dirinya bersikap sama dengan mereka. Menjadi manusia berhati batu dan tidak memiliki empati kepada siapapun.


*******


Bersambung