Quin And Her Destiny

Quin And Her Destiny
PERTAMA DI KEHIDUPAN KEDUA



Cetik!


Hanya dengan satu jentikan jari, seketika semua orang yang ada di sana berhenti bergerak. Hanya menyisakan Quin dan Grand Duke yang masih tersadar, mereka terlonjak terkaget akan kedatangan laki-laki yang memakai jubah hitam yang menutupi  kepala dan sebagian wajahnya. Mereka berdua tahu betul bahwa laki-laki itu telah menghentikan waktu dengan mudahnya.


Angin berhembus sedikit kencang, membawa hawa dingin seperti dinginnya aura laki-laki berjubah hitam tersebut. Dengan tenang dia melangkah menatap lima belas orang tersisa dari pembunuh bayaran yang membuat ulah dengan keluarga Quin.


Di bawah cahaya bulan netra hijaunya berkilau di bawah cahaya malam. Menatap sinis, lalu tagannya mengeluarkan jarum tipis dan melemparkan ke leher si pemimpin itu. Laki-laki itu dengan sengaja membuat pemimpin kelompok tersadar.


“K-k-k-kau...!!” pemimpin kelompok itu tergagap mengetahui siapa yang ada di depannya.


Dengan gerakan pelan, laki-laki itu menarik tudungnya pelan. Rambut hitam kelam sepanjang leher itu berkibar tersapu angin. Sebuah kenaasan bagi pemimpin pembunuh bayaran itu mengetahu bahwa seseorang yang paling ia hindari tegah berdiri tegak dengan sejuta keangkuhannya.


“Dengan reaksimu, kau sepertinya telah mendengar rumor tentang ku?” laki-laki itu bersuara untuk pertama kalinya.


Suara indah nan merdu bercampur dingin itu sukses membuat Quin tertarik, siapa dia sebanarnya. Sedangkan Grand Duke Albert hanya tersenyum melihat orang yang dikenalnya tengah menolongnya.


“K-k-kau apa yang ingin kau lakukan? Tanya si pemimpin dengan suara bergetar.


“Hah,


bukan apa-apa, situasi seperti ini lebih cepat selesai lebih baik bukan?” tanya


balik laki-laki tersebut.


“Kalian seharusnya sudah tau bagaimana temperamenku, bukan? Kau tau?  Aku sama sekali bukan orang yang suka membuang waktu.” lanjutnya dengan senyum dingin yang tercetak jelas di bibirnya.


Pemimpin kelompok itu membulatkan matanya, otaknya kosong seketika. Dalam hitungan detik angin berhembus kencang, kumpulan awan hitam menyatu berputar di atas kepala mereka menimbulkan kilat yang menggelegar. Bahkan sinar bulan tertutup sepenuhnya. Membuat suasana mencekam lebih mencekam.


Mata pemimpin itu terbelalak saat laki-laki tersebut mengubah kiat menjadi sebilah pedang bercahaya dengan kilatan seperti petir mengelilingi pedang tersebut.


“Kau tahu konsekuensinya, bukan?” ulangnya sekali lagi.


Lolongan serigala dari kejauhan terdengar bersautan, berbarengan dengan kepakan sayap burung yang meninggalkan dahan terdengar riuh di telinga. Hanya dengan satu tebasan pedang petir itu sukses menebas kepala lima belas orang tersisa termasuk si pemimpin tersebut.


Kepala mereka menggelinding di atas tanah, bau amis seketika menguar di udara. Pemandangan yang mengerikan terpampang jelas di depan muka Quin. Membuat perutnya mual ingin muntah.


Dengan gerakan cepat pedang petir itu menghilang digantikan dengan gerakan tangan yang terlempau cepat ia membuat tanah terbelah di bawah tubuh kaku mereka, kelima belas orang berikut dengan kepala dan badan mereka yang terpisah terjun bebas ke bawah, setelah semua selesai tanah kembali bergetar menutup dengan sempurna.


Waktu masih terhenti, laki-laki itu mendekat ke arah Grand Duke Albert kemudian membisikkan sesuatu yang ditanggapi dengan senyum dan anggukan. Sekali lagi  Quin melongo kaget kenapa dengan mudahnya Grand Duke yang notabene adalah ayahnya sendiri tersenyum dengan orang asing terlebih orang itu tidak dikenalnya. Kemana larinya keangkuhan dan sikap dingin ayahnya itu?


Setelah selesai berbicara, laki-laki itu mengenakan tudungnya kembali. Dia berjalan mendekat ke arah Quin. Jantung Quin berdetak kencang. Ia begitu familiar dengan aura ini.


“Lain kali jangan bertindak ceroboh, Quin” suara berat nan tegas itu malah terkesan merdu itu menggelitik hati Quin.


“Jadilah kuat Quin, kelak aku ingin kita berdiri bersama, maukah kamu?” lanjutnya, yang membuat Quin semakin terhanyut dalam rasa penasaran.


Meski tertutup tudung hitam, namun Quin masih bisa melihat senyum indah di bibir laki-laki itu. Kulitnya begitu putih dan bersih. Membuat Quin terpana sepersekian detik.


“Sampai jumpa Quin” tangannya terulur membelai wajah Quin lembut. Dengan senyum yang begitu menenangkan.


Quin yang merasakan itu, jantungnya seolah berhenti berdetak. Perasaan ini untuk pertama kalinya di kehidupan keduanya kembali dia rasakan. Perasaan bahagia yang memuncah bercampur dengan sedih, kecewa, takut, marah,  dan apaun namanya disebut membuat air mata Quin menetes. Berbarengan dengan itu sosok yang ada di hadapannya menghilang tersapu oleh malam.


“Felix”ucap Quin lemah seiring kegelapan memeluknya.


*******


Kastil Utara


Di sebuah ruangan sederhana, setelah dua jam berlalu perlahan mata Quin terbuka, netra biru samudranya memindai seluruh ruangan itu. Di ujung ruangan terdapat perapian yang masih menyala. Tak berapa lama pintu kayu itu berderit, seperti biasa Bella datang dengan wajah cemasnya.


“Bagaimana keadaanmu Quin, apa ada yang sakit?” selalu dia bertanya dengan wajah cemas yang ketara.


“Aku baik-baik saja, sekarang kita dimana?” tanya Quin.


“Kita ada di kastil utara” jawab Qui singkat.


Flashback


Luke yang menyadari Quin terkulai di atas tanah segera menghampiri adiknya tersebut. Dengan wajah panik ia mengguncang tubuh Quin.


“Adikmu tidur, Luke” jawab Grand Duke tenang.


“Pangeran Felix sengaja membuatnya tertidur” imbuhnya.


“Jangan-jangan yang membersekan kekacauan ini adalah Putra Mahkita Felix, lalu dimana dia sekarang ayah?” tanya Luke memastikan.


“Dia sudah pergi” jawab Grand Duke singkat.


“Sekarang, kita akan berteleportasi ke kastil utara, semoga energi kalian masih cukup untuk berpindah tempat ke sana” perintah Grand Duke santai.


Jika Grand Duke telah berkata demikian , berarti Luke dan Bella harus meminum pil penambah energi dari benua timur. Mau tidak mau Luke hanya mengiyakan permintaan ayahnya itu.


Setelah memberi perintah kepada kesatria untuk kembali ke kediaman, Grand Duke menggunakan telepatinya untuk menghubungi penyihir agung dan Yang Mulia Raja Adward. Grand Duke meminta dua orang penting di Roothaand itu untuk bertemu di sana.


Flasback  End


 “Sekarang, makanlah sup ginseng ini. Sebentar lagi raja dan penyihir agung akan datang. Kita harus betemu dengannya” ucap Bell memberitahu Quin.


Quin hanya menurut, pikirannya masih melayang tentang laki-laki yang menolongnya semalam, benarkah dia adalah putra mahkota Felix. Seseorang yang tanpa sadar tengah ia rindukan, namun kenapa semua seolah berubah dari yang seharusnya.


*******


Ruangan itu tidak besar namun juga tidak terlalu sempit. Pencahayaan disana juga tidak seterang di mension. Di pojok ruangan ada perapian dengan api yang menyala. Tembok batu berwarna hitam menambah kesan horror tempat itu.


Disana ada sebuah sofa dan beberapa kursi kayu yang  berjajar dengan rapi. Di sofa itu duduk Yang Mulia Raja Andrew dan Grand Duke Albert, sedangkan di kursi kayu yeng berada tepat di sebrang sofa duduk Penyihir Agung Clause dan Luke.


Quin dan Bella berjalan menuruni tangga dengan hati-hati, takut mengagetkan  mereka. Quin tau waktu menunjukkan tengah malam namun sama sekali tidak menghalangi pertemuan mendadak ini.


“Selamat malam Yang Mulia Raja, Penyihir Agung semoga keberkahan dan kebaikan  Dewa Oliver selalu bersama Anda.” ucap Quin dengan sopan seraya membungkukkan sedikit badannya.


“Selamat malam ayah.” ucap Quin melanjutkan.


“Duduklah Quin.” titah sang raja dengan suara tegas berwibawanya.


Quin mengangguk hormat kemudian mendaratkan bokongnya di kursi kayu yang berhadapan dengan ayahnya, sedangkan Bella berdiri di belakangnya.


“Baiklah Quin, karena kau sudah datang. Maka aku tidak ingin membuang waktu lagi. Jadi, mulai besok malam kau akan ikut dengan penyihir agung untuk mempercepat latihanmu, setidaknya dengan waktu satu hari cukup untukmu bersiap bukan?” tutur raja dengan wajah seriusnya.


“Maafkan atas kelancangan saya Yang Mulia, bukankah latihan saya akan dimulai setelah saya melaksanakan pesta kedewasaan saya?” tanya Quin dengan hati-hati.


“Iya aku tahu, tapi ini mendesak, lawan mu sudah mengetahui keberadaanmu. Terbukti beberapa jam yang lalu  kalian diserang, bukan?” ujar raja Andrew.


“Sebetulnya, aku mengundangmu untuk membahas ini, tapi sayang mereka sudah mengetahuinya lebih dulu.” lanjut raja.


Jelas Quin merasa kecewa, padahal tinggal beberapa hari lagi pesta kedewasaan sekaligus ulang tahunnya akan berlangsung. Ibarat sudah di depan mata, kini semua akan berakhir sia-sia.


“Lagi pula Quin, jika kamu tetap akan mengadakan pesta itu, jelas itu akan beresiko. Mereka tidak akan segan menyerang mension dengan membabi buta, kemampuanmu juga masih sangat minim, mustahil kamu dapat menghadapi mereka” jelas Penyihir Agung sedikit menyientil perasaa Quin.


Luke yang melihat adiknya, menatapnya dengan sendu. Tentu ia tau apa yang dirasakan adik kesayangannya itu. Namun untuk masalah ini, memang Quin harus cepat melatih dirinya sendiri agar setidaknya ia dapat melindungi dirinya. Luke berharap adiknya itu mampu menghadapi kenyataan hidupnya.


“Jangan salah paham Quin, itulah kenyataan yang akan kau hadapi nanti, jangan tersinggung oke” jelas Grand Duke membesarkan hati Quin.


“Tidak apa yah, aku tidak tersinggung. Bagaimanapun cepat atau lambat aku akan menemui hal yang menyulitakan untu aku hadapi.” ucap Quin.


“Jika semua itu untuk kebaikan bersama, maka aku tidak masalah, aku janji akan berusaha dengan baik.” ucap Quin melanjutkan.


Quin memang bukan tipe pembantah, seberat apapun permintaan seseorang padanya, maka ia hampir selalu mengiyakannya. Tidak peduli dia suka atau tidak suka. Disinilah letak Quin membenci dirinya sendiri. Ia tidak pandai bersikap tegas.


“Maaf, aku sedikit terlambat.” ucap seseorang yang dari arah belakang Quin.


*******


Bersambung