
Di tengah perjalanan Quin memandang Bella lekat. Bella yang ditatap menjadi salah tingkah.
"Bel, sejak kapan kau bisa berkelahi?" tanya Bella dengan senyum misteriusnya.
"Hah!" jawab Bell tergagap.
"Kenapa kamu gugup, Bel?" tanya Quin semakin curiga.
"Ah, tidak nona. Jika nanti waktunya tepat saya pasti akan menjelaskan semuanya kepada nona." Jawab Bella dengan teramat hati-hati.
Mereka bertiga pun melanjutkan perjalanan tanpa bersuara sedikitpun. Mereka tenggelam dalam pikiran masing masing.
*******
Waktu berlalu tak terasa tinggal lima hari lagi pesta ulang tahun sekaligus pesta kedewasaan Quin akan digelar. Semua persiapan telah dilakukan, undangan sudah siap untuk disebar, dekorasi ruangan mulai dikerjakan, dan menu hidangan sudah dipersiapkan semua bahan-bahannya.
Pagi-pagi sekali Quin sudah dibangunkan oleh Bella, seperti biasa dia akan terus mengoceh bila Quin tak segera bagun. Dalil yang Bella gunakan tetap sama, jika seseorang sengaja malas bangun, maka rezeki mereka akan dimakan oleh ayam. Jika sudah begini, maka Quin dengan berat hati akan segera bangkit dari ranjangnya.
Bella meninggalkan Quin setelah dia pergi ke kamar mandi, namun sampai Quin menyelesaikan ritual mandinya Bella belum kembali dari dapur untuk mengambil sarapan untuknya. Memanfaatkan waktu, akhirnya Quin memilih untuk duduk di balkon kamarnya menikmati udara pagi.
Dari arah gerbang depan terdengar suara kereta kuda memasuki mension. Dari ukuran dan lambang bendera Quin tau bahwa itu adalah kereta kerajaan, Quin sedikit berdiri memastikan bahwa apa yang dilihatnya benar adanya. Dahinya berkerut, sedikit heran ada apa gerangan ada kunjungan dari kerajaan.
“Quin, ayo sarapan dulu.” tiba-tiba suara Bella membuyarkan lamunan Quin.
“Ah, ya. Makan bersamaku Bel.” pinta Quin.
“Aku akan makan di dapur bersama yang lain.” jawab Bella halus.
“Apa kau sedang menghindari ku Bel?” tanya Quin tanpa basa-basi.
“Tidak, tentu saja tidak.” jawab Bella cepat.
“Kalau begitu makanlah bersamaku, dan kau juga perlu menjelaskan sesuatu padaku nanti” ucap Quin menatap Bella dengan wajah seriusnya.
“Baiklah, aku akan mengambil makanan dari dapur dan membawanya kesini.” ucap Bella pasrah.
“Oke, cepatlah. Perutku sudah lapar.” ucap Quin pada akhirnya.
Bella berbalik dengan wajah cemas. Seharusnya ia tidak gegabah untuk melakukan hal bodoh kemarin. Hingga membuat Quin penasaran terhadapnya. Mau tidak mau ia harus jujur jika Quin memintanya. Apapun hasil akhirnya nanti. Ia hanya bisa pasrah.
*******
Sementara di ruang kerja Grand Duke Albert
Di sebuah ruangan yang lumayan besar. Grand Duke Albert sedang duduk di kursi kebesarannya. Ia melihat dengan malas dokumen-dokumen yang harus diperiksanya. Didepannya ada sang putra yang dengan setia membantu pekerjaan ayahandanya.
“Bagaimana perkembangan penyelidikan yang ada di perbatasan timur Luke? Tanya Grand Duke
“Sejauh ini belum ada yang berarti ayah, aku rasa pemberontak itu masih menyusun rencananya.” ujar Luke.
“Apa mereka belum tau tentang titisan Laksmiora?” lanjut grand duke.
“Aku rasa itu juga belum, beberapa minggu aku dan yang mulia putra mahkota tidak ada pergerakan dari aliran sihir hitam itu.” jelas Luke.
“Jikalau mereka tau, cepat atau lambat mereka akan memburu Quin.” imbuh Luke dengan hati-hati.
Garand Duke dan Luke tau pasti yang akan terjadi bila, golongan hitam itu mengetahui keberadaan Quin. Jelas mereka akan berusaha keras melenyapkan Quin. Karena satu-satunya penghalang kebangkitan raja iblis hanya Quin seorang. Quin satu-satunya yang dapat melawan kekuatan dahsyat raja mereka.
Tidak berapa lama, terdengar pintu diketuk dengan pelan. Seorang pengawal memberitahukan bahwa ada utusan kerajaan yang datang berkunjung. Setelah memberikan perintah, pengawal itu berbalik untuk mempersilahkan masuk sang utusan.
“Salam Grand Duke dan tuan muda Luke, semoga keberkahan Dewa Oliver senantiasa bersama Anda.” sapa Dozan dengan menunduk hormat.
Sebenarnya Grand Duke terkaget dengan kedatangan Dozan, tidak mungkin Yang Mulia Raja mengirimnya datang secara langsung ke kediamannya jika tidak membawa berita yang penting.
“Baginda Raja Andrew mengirimi anda pesan.” Dozan menyerahkan surat yang dia bawa dengan penuh hati-hati ke hadapan Grand Duke.
“Ini bukan undangan biasa?” kata Grand Duke Albert setelah memeriksa surat tersebut, sedangkan Luke yang duduk di depannya mengerutkan dahi penasaran.
Yang membuat Grand Duke penasaran adalah kenapa surat itu diserahkan kepadanya dengan pengawalan khusus, bahkan yang menyerahkannya sendiri adalah tangan kanan raja. Grand duke perlahan membuka surat itu dan membacanya.
Grand Duke Albert membacanya dengan serius, dahinya berkerut. Tercetak jelas kekagetan dalam wajahnya.
“Ada apa ayah?” tanya Luke, dia tidak bisa menahan keingintahuannya tetang isi surat itu.
“Yang Mulia Raja ingin bertemu dengan Quin, namun pertemuan itu harus dirahasiakan.” ucap grand duke dengan wajah kecewa. Ia sengaja tidak memberitahukan lanjutan isi surat itu, ia takut itu membuat Luke murka.
“Apa yang Yang Mulia Raja inginkan, ayah?” tanya Luke sekali lagi.
“Aku rasa baginda sudah tau, mengenai insiden di kota kemarin.” jawab Grand Duke pada akhirnya setelah beberapa lama terdiam.
“Saya rasa begitu.” ucap Dozan tiba-tiba. Sedangkan ayah dan anak itu hanya saling pandang. Mereka sangat yakin bahwa tidak ada satupun berita yang dapat disembunyikan dari telinga raja.
Namun jika diperhitungkan dari segi waktu kenapa Raja baru memanggil Quin sekarang. Apa ada sesuatu yang tidak mereka ketahui. Baik grad duke dan Luke hanya diam berkelana dengan pikiran mereka masing-masing.
*******
Quin sedang di perpustakaan ketika Grand Duke memberitahukan bahwa nanti malam ia diundang oleh Yang Mulia Raja ke istana.
“Kenapa undangannya mendadak ayah?” tanya Quin kepada ayahnya.
Grand Duke Albert hanya diam saja dengan pertanyaan anak gadisnya itu “Ayah juga tidak tahu.” jawab Grand Duke Albert akhirnya.
Dalam benak Grand Duke sebenarnya ada banyak sekali prasangka namun ia juga tidak mau terlalu banyak menduga tentang apa yang akan terjadi nanti. Ia bahkan tidak sanggup menghancurkan harapan anak gadis satu-satunya, biar Quin mengetahuinya langsung dari yang mulia raja.
Meskipun posisinya berada di urutan kedua setelah yang mulia raja. Namun grand duke sama sekali tidak pernah menggunakan kedudukannya untuk mendapatkan keinginannya. Ia akan mendapatkan apa yang dia inginkan dengan usahanya sendiri. Tapi bagaimana jika itu berhubungan dengan Quin?
“Haruskah aku menentang raja nanti?” gumam Grand Duke dalam hatinya.
Sedangkan Quin hanya memperhatikan ekspresi ayahnya dengan seksama. sebenarnya ia curiga, Quin sagat yakin ayahnya saat ini sedang menyembunyikan sesuatu. Ya... Quin yakin akan hal itu.
“Segeralah kamu bersiap, putriku.” perintah Grand Duke.
“Kita akan berangkat setelah matahari tenggelam.” lanjutnya.
Quin menghembuskan napasnya kasar. Sebetulnya ia enggan untuk hadir dalam undangan itu. Firasatnya mengatakan akan datang hal yang tidak dia inginkan. Apalagi di sana ada putra mahkota. Jangan-jangan mereka berdua akan bertemu di sana.
“Baiklah ayah.” jawab Quin lemah.
Quin berdiri dari duduknya, setelah membungkukkan badan quin melangkah pergi. Tapi sebelum tangan Quin memutar gagang pintu grand duke berkata “Untuk malam ini, pakailah pakaian yang tidak terlalu mencolok”
“Hah, apa aku tidak salah dengar, sejak kapan aku suka menggunakan gaun mencolok, ayah?” tanya balik Quin.
Grand Duke tersenyum malu, ia tidak lupa bahwa anak gadis yang ia miliki itu hampir tidak pernah menggunakan gaun yang glamor dan mencolok “Maafkan ayah nak, ayah lupa.”
“Tidak apa ayah, aku mengerti, dan ayah juga harus bersiap juga kan?” ujar Quin dengan senyum lembutnya.
“Iya, ayah hanya tinggal berganti pakaian saja, kebetulan ayah juga sudah mandi” jawab grand duke.
“Baiklah ayah, sampai nanti.” ucap Quin.
Setelah mengucapkan itu Quin berlalu pergi dari perpustakaan. Mempersiapkan dirinya untuk sesuatu yang akan dia temui nanti di dalam istana.
*******
Bersambung