
Sepanjang perjalanan Quin tidak banyak bicara, ia hampir menghabiskan waktunya dengan menikmati pemandangan yang dapat ia lihat dari jendela kereta, angin sepoi-sepoi menerpa wajah cantiknya, merayunya menuju lamunan. Dalam kehidupan yang lalu, tepatnya hari ini ia akan bertemu dengan putra mahkota Felix untuk pertama kalinya. Ia bisa saja menghindarinya, tapi tentu saja itu bukan pilihannya, karena cepat atau lambat ia juga akan bertemu dengannya. Entah langsung bertatap muka atau hanya mendengar kabarnya saja. Ia akan tahu nanti.
Tak terasa dua jam berlalu, kini ia sudah sampai di sebuah bangunan sekolah yang luas. Quin memandang dengan takjub, tempat ini masih sama seperti yang terakhir ia lihat di kehidupan pertamanya. Akademi Aldmoor adalah akademi sihir yang begitu terkenal, memiliki banyak fasilitas khusus untuk siswa dengan kemampuan sihir, pedang, dan bela diri.
Gedung tinggi dengan menara empat menara tinggi lancip beratap merah, dinding batu bata berwarna pastel, di tengah bangunan itu ada taman yang luas dan juga indah.
Di kehidupan lamanya, di sinilah Quin menempuh pendidikannya. Meskipun sihir yang ia miliki lemah namun ia tetap diterima karena ia adalah putri satu-satunya keluarga Grand Duke yang terhormat. Kekuatan koneksi, mungkin begitulah namanya disebut sehingga dia dapat dengan mudah diterima di akdemi Aldmoor.
Meskipun pada saat itu perlakuan yang ia terima jauh dari kata baik. Dan di masa kini sungguh Quin ingin sekali tertawa, menertawakan kebodohannya, menertawakan kepolosan, dan kelemahannya yang diam saja ketika ditindas, dikucilkan, dan dianggap remeh.
Sebenarnya banyak sekali penyesalan yang ia rasakan namun menyesal pun rasanya percuma, semua sudah selesai, sudah berlalu bersama kematiannya terdahulu. Quin sangat mensyukuri diberi sebuah keajaiban untuk mendapatkan kesempatan kedua dalam putaran waktu, semua yang ia alami kini adalah sebuah berkah yang tidak ternilai harganya. Ia tidak ingin repot-repot mengeluh untuk kehidupan pertamanya.
Meskipun terkadang, ia tidak munafik jika sakit hati terkadang mendominasi. Quin sekali lagi lebih memilih untuk mengabaikannya. Mengabaikan rasa dendam yang menggelayut dalam pikirannya.
Bagi Quin begitu kehidupannya kembali ia tau bahwa segalanya tidak lagi sama. Itu adalah tekadnya. Dan ia akan membuat semua perubahan itu nyata.
“Selamat datang Grand Duke Albert dan nona-...” sapa seorang profesor yang bernama profesor Albus, ia adalah wakil kepala sekolah di Akademi Aldmoor.
Grand Duke Albert hanya tersenyum simpul dan sedikit menundukkan kepalanya. Ya, seperti itulah pembawaan ayahnya, ia terkesan dingin kepada siapa saja terkecuali Quin dan kakaknya, serta beberapa orang kepercayaan dikediamannya.
Dengan mengangkat sedikit gaunnya seraya membungkukkan sedikit badan ”Perkenalkan profesor nama saya Zannia Quin Antonia Albert, panggil saja Quin, senang bertemu dengan anda profesor.” jawab Quin seramah mungkin.
“Senang bertemu juga denganmu nona Quin.” jawabnya tak kalah ramah.
Setelah sedikit berbasa-basi kini Quin beserta ayahnya memasuki aula yang luas dengan kesan mewahnya, lampu gantung yang terbuat dari kristal mahal tergantung di langit-langit ruangan.
Tamu-tamu yang merupakan orang tua dan keluarga lulusan juga sudah memenuhi ruangan. Ada juga perwakilan dari pihak kerajaan yang mendampingi kelulusan putra mahkota. Mungkin karena urusan kerajaan yang tidak dapat ditinggalkan, pangeran itu hanya didampingi oleh wakil ayahnya, dan itu juga buka urusan Quin sebenarnya. Bahkan pangeran itu tidak tampak batang hidungnya. Dan sekali lagi, lupakan soal mereka itulah yang ada di pikiran Quin sekarang.
Dari kejauhan Quin dapat melihat kakaknya tampannya duduk di barisan wisudawan sedang tersenyum ke arahnya sambil melambaikan tangan. Bohong jika Quin tidak merindukan kakaknya itu.
Acara demi acara telah selesai, pengumuman siapa siswa lulusan terbaik juga sudah diumumkan, jelas Quin tau siapa lulusan terbaik itu, Felix dialah si jenius dengan rupa bak dewa yang berhasil menjadi lulusan terbaik, terdengar curang namun itulah kenyataannya.
Putra mahkota itu memiliki bakat hebat bahkan sejak ia lahir. Dibekali elemen air, tanah, dan petir ditambah ia memiliki kemampuan seorang healer. Membuatnya terkesan sempurna, dan menjadi buruan lady lajang di seluruh kalangan bangsawan bahkan oleh kerajaan tetangga.
*******
Kini Quin tengah berada di taman asrama tempat tinggal kakaknya selama tiga tahun sini. Sedangkan ayahnya jangan ditanya. Entah sedari kapan Grand Duke itu menghilang bersama profesor Clause sang kepala sekolah.
Quin dikagetkan dengan seseorang yang menutup kedua matanya dari belakang.
“Kakak.” ucapnya
“Kau selalu tau Quin.” Setelah mengatakan itu laki-laki yang bernama Luke itu mengacak rambut adiknya dengan sayang.
“Aku merindukanmu, sungguh.” secepat kilat Quin membalikkan badannya dan memeluk erat kakaknya. Quin adalah adik yang cukup manja bila berhadapan dengan Luke. Mungkin jika ada yang tidak mengetahui hubungan mereka. Banyak yang akan mengira mereka adalah sepasang kekasih. Namun semua sikap manja Quin sama sekali tidak mengganggu Luke.
“Ayo, jalan-jalan, aku akan tunjukkan beberapa tempat yang sering aku kunjungi.” ajak Luke sambil menggenggam tangan adiknya.
Kini Quin dan Luke puas menjelajah setiap sudut asrama. Menyusuri tempat-tempat favorit kakaknya selama tiga tahun ini.
Sekarang mereka hampir sampai di taman belakang asrama. Taman dengan rumput yang lumayan luas, di sana juga ada kolam ikan besar di tengah-tengahnya, di pinggiran kolam bunga warna warni bermekaran mengelilinginya, gemericik air mancur dan suara kicau burung di antara pepohonan yang berjejer rapi di sekitar taman menenangkan pikiran Quin.
“Quin, kakak akan meninggalkanmu sebentar. Kakak akan mengurus administrasi kelulusan di ruang profesor.” pinta Luke pada adiknya.
“Kenapa kakak dan ayah malah meninggalkanku sendirian?” protes Quin dengan mengerucutkan bibirnya.
“Aku hanya sebentar, hanya menyerahkan berkas saja, setelah itu aku akan segera kembali.” jawab Luke menjelaskan.
“Baiklah, jangan lama-lama, aku akan menunggumu di bawah pohon itu, oke.” ucap Quin sambil menunjuk ke arah pohon yang cukup rindang, serta mendorong kakaknya untuk segera pergi.
Quin duduk menyenderkan tubuhnya di pohon besar yang rindang. Tanpa disadarinya seseorang sedang duduk di antara batang-batang pohon yang rindang itu. Mata hijaunya mengawasi tiap gerakan Quin, senyum simpul tercetak jelas pada bibirnya. Ingin rasanya ia melompat turun dan memeluk gadis itu.
Seorang gadis yang memiliki kecantikan, kemurnian, rasa sabar, dan kesederhanaan. Ia merindukan gadis itu. Cinta dan rindu yang ia simpan dalam diam selama sembilan tahun terkadang membuatnya sulit bernafas.
Sedangkan Quin di bawah pohon sedang menikmati ketenangan yang merayap masuk dalam dirinya. Dapat dilihatnya langit biru berhias awan berarak tipis , angin bertiup sepoi-sepoi membelai wajahnya benar-benar menggodanya untuk terlena dalam mimpi. Quin hampir jatuh tertidur ketika Luke memanggilnya. Dengan malas Quin membuka matanya.
“Quin, ayah memanggilmu untuk menyusul ke ruang kepala sekolah.” ucap Luke.
Quin mengerutkan keningnya “Kenapa ayah memanggil ku untuk ke ruangan profesor Clause?” gumamnya, rasanya di kehidupannya dulu tidak ada pertemuan dengan profesor itu.
Dengan malas ia berdiri, “Ayo, antarkan aku ke sana” pinta Quin
*******
Di ruang kepala sekolah
Quin dan Luke berdiri di depan pintu besar coklat berukiran rumit. Tak perlu mengetuk, pintu itu terbuka dengan sendirinya, seolah tau bahwa pemilik ruangan telah menunggunya.
“Selamat siang profesor” sapa Luke
“Selamat siang Profesor. Maafkan kami telah membuat anda menunggu.” ucap Quin dengan sopan.
Quin mengedarkan pandangannya sekilas mengamati ruangan kepala sekolah. Ini adalah kali pertama ia masuk ke dalam ruangan itu.
Ruang kepala sekolah tidak terlalu luas. Dinding ruangan itu berlapis kayu yang dicat dengan warna coklat tua, meja dan kursi juga terlihat sederhana. Di dinding ruangan itu ada sebuah lukisan yang cukup besar, di sana terpampang kepala sekolah pertama akademi ini, di ruangan itu juga ada perapian yang masih menyalakan api. Secara keseluruhan ruang kepala sekolah adalah ruangan yang sederhana, akan tetapi benar-benar mencerminkan karisma pemiliknya.
Dari sekilas pandangannya ada sebuah tirai berwarna merah di belakang kursi kepala sekolah Clause yang menarik perhatiannya serta membuat dadanya berdenyut nyeri, namun Quin mengabaikannya.
“Duduklah Luke, Quin.” ucap profesor Clause. Ia menunjuk kursi kosong di sebelah Grand Duke Albert yang masih kosong.
Profesor Clause adalah seorang Penyihir Agung, dia juga merangkap sebagai kepala sekolah, Profesor Clause memiliki sihir yang hebat, dia terkenal dengan kebijaksanaannya, hampir setiap masalah dapat ia kerjakan dengan baik. Yang Quin tahu di kehidupan sebelumnya seluruh siswa menyukai dan menghormatinya.
Profesor Clause memiliki kulit putih pucat dengan rambut putih sepanjang punggung, kulitnya yang sedikit keriput namun entah kenapa ia tidak terlalu menggambarkan usianya yang mungkin sudah ratusan tahun. Entah berapa pasti umurnya tidak ada yang tahu. Ia adalah kepala sekolah kedua di Akademi Aldmoor. Ia menggantikan ayahnya yang meninggal karena berperang melawan iblis.
“Bagaimana kabarmu Quin, terakhir aku bertemu usiamu masih 5 tahun.” tanya profesor Clause basa-basi, entah perasaan Quin mengatakan itu.
Belum sempat Quin menjawab, ia merasakan dadanya sakit, tubuhnya gemetar, keringat dingin membasahi tubuhnya. Dalam penglihatan Quin tirai yang berada di belakang kursi kepala sekolah itu mengeluarkan sinar merah keemasan yang menyilaukan mata. Sinar itu melesat masuk menghantam tubuh Quin. Pandangan Quin menggelap, tubuhnya terpental ke belakang.
"Quin...!! teriak Grand Duke dan Luke bersamaan dengan kepanikan yang melanda diri keduannya.
Quin hanya mendengar teriakan ayah dan kakaknya samar sebelum dia jatuh ke dalam ketidaksadaran yang gelap dan panjang.
*******
Bersambung