Quin And Her Destiny

Quin And Her Destiny
BERTEMU LEBIH AWAL



Quin yang melihat dengan jelas siapa pemilik wajah itu hanya bisa membulatkan matanya. Seseorang yang tengah terjatuh bersamanya adalah orang yang sangat dia kenal.


Dengan wajah shock Quin berkata “Kau ...!!!”


Quin dan lady muda itu jatuh membentur tanah, baju keduanya kotor. Namun bukan itu yang Quin kagetkan melainkan kenapa mereka bertemu di tempat seperti ini. Menurut ingatan Quin mereka akan bertemu beberapa minggu lagi.


Tentu saja Quin tidak mempersalahkan hal ini. Yang ia pentingkan saat ini hanya nasib anak kecil yang sedang ditindas oleh lady muda yang Quin yang tau betul siapa namanya, ya lady muda yang hampir melukai anak kecil itu adalah Lowena, ya dia adalah Margareth Lowena Beatrix musuh dalam selimut di kehidupannya yang lalu.


“KAU!!! JAL***G SIA**N BERANI SEKALI KAU MELAKUKAN INI PADAKU?” teriak Lowena marah.


Quin tak kalah marah, ia membuang napasnya kasar, detak jantungnya memburu karena menahan emosi. Dengan sekali hentakan ia mendorong lagi tubuh Lowena.


Lowena membalas dengan mendorong Quin sekuat tenaga kemudian berdiri. Disusul Quin yang berdiri kemudian mencekal tangan Lowena bertepatan dengan tangan Lowena yang hendak menampar Quin. Sedangkan anak kecil itu masih gemetaran dengan wajah pucat pasinya.


“Kau taruh dimana hatimu, atau memang hatimu sudah mati hah? Kau menghukum anak kecil yang bahkan ia tidak sengaja melakukan kesalahan!” teriak marah Quin.


“Apa urusanmu, kau sama dengan mereka. Manusia rendahan, tidak tau diri!” balas Lowena pedas.


Dengan pakaian yang Quin pakai, tentu saja setiap orang tidak akan mengenalinya. Dengan penampilan seperti rakyat jelata, bahkan Lowena pun tidak akan mengenalinya.


“Kalau pun aku manusia rendahan!! Kau mau apa? Kau juga akan menghukum ku?” tantang Quin kepada Lowena.


Lowena memanggil prajuritnya “Bawa kedua orang rendahan ini ke kediaman dan penjarakan mereka di ruang bawah tanah. Aku sendiri yang akan menghukumnya nanti” titah Lowena kepada kesatria yang mengawalnya.


Madame Lyn yang mendengar perkataan Lowena segera menerobos kerumunan. Namun langkahnya terhenti ketika Lowena berkata kepadanya.


“Bukankah anda adalah madam Lyn yang terhormat, jangan ikut campur dengan urusanku.” Ujar Lowena dengan tatapan dinginnya.


“Apa maksudmu? tanya madam Lyn segera.


Lagi-lagi Quin memberikan kode dengan menggelengkan kepalannya, agar madame Lyn diam. Tentu saja dengan alasan agar madam Lyn tidak terseret terlalu jauh akibat ulahnya.


Ketika dua kesatria tersebut ingin membawa Quin dan anak kecil itu. Tiba-tiba salah satu kesatria yang mencekal tangan Quin jatuh tersungkur ke tanah. Seseorang dangan cepat menendang punggung kesatria itu dengan kuat.


“Jika kau ingin membawa nona ku maka langkahi dulu mayatku!” ucap Bella lantang.


“Prajurit, serang dia. Kabulkan permintaannya untuk mati. Jika dia tidak meregang nyawa di sini, maka nyawa kalian yang akan menjadi gantinya.” perintah Lowena dengan tatapan kejamnya.


Bella memasang kuda-kuda, ia dengan sengaja merobek rok panjangnya hingga sebatas lutut untuk memudahkan gerakannya. Dengan sigap kesatria itu menerjang Bella namun Bella tidak kalah gesit sehingga mampu menangkis serangan itu. Mau tidak mau pertarungan antara Bella dengan empat kesatria itu terjadi. Sedangkan Lowena hanya menonton sambil tersenyum.


Quin begitu terkejut dengan perbuatan Bella, dalam hati ia bertanya, sejak kapan Bella mahir bela diri. Namun ia mengabaikan itu, segera Quin menyeret anak kecil itu menjauhi tempat perkelahian. Quin merobek roknya dan mendekat ke arah bella.


“Menyingkirlah Bel!” perintah Quin tegas.


Bella tidak mendengarkan Quin. Ia masih bertarung dengan napas memburu. Tendangan dan pukulan ia layangkan kepada empat prajurit bergantian. Hanya saja, Bella mulai kelelahan. Satu gadis melawan empat prajurit berpengalaman benar-benar menguras energi Bella.


Quin yang merasa tidak dapat membantu Quin merasakan gejolak kemarahan yang menyentil hatinya. Bahkan saat ini ia merasa terus menjadi beban orang lain. Tanpa ia sengaja ada aliran dingin yang menguasai tubuhnya.


“Cukup ...!!!” teriak Quin sekuat tenaga, membuat orang-orang di sana terlonjak kaget.


Dengan langkah lambat dan tegas, Quin berjalan mendekati empat prajurit yang sedang bergantian mengeroyok Bella.


Quin mengibaskan tangannya dan gelombang angin yang kuat menerjang empat prajurit hingga terpental beberapa meter. Quin berbuat diluar nalarnya. Ia tidak tau asal kekuatan yang dimilikinya. Quin dapat melihat dengan jelas empet orang prajurit tersungkur dan berakhir dengan berbaring lemah di tanah.


Keempat prajurit itu tidak tinggal diam dan langsung kembali bangkit berdiri. Mereka tidak ingin harga diri mereka diinjak oleh gadis berpakaian lusuh itu. Mereka berempat segera mengeluarkan pedang dari sarungnya dan menerjang Quin danan brutal.


Sementara Quin terus mengibaskan tangannya dengan mengeluarkan angin untuk menghalau serangan itu. Sebetulnya Quin sudah sangat lelah dengan aktivitasnya hari ini, sungguh ia ingin pulang dan berendam air hangat.


“Aku ingin ini cepat selesai.” gumam Quin dalam hati.


Entah bagaimana, tangan Quin terangkat membuat pusaran angin, perlahan pusaran itu menjadi sebilah pedang. Ia melemparkan keempat bilah pedang itu ke arah leher prajurit dan menghentikan serangannya seketika empat bilah pedang yang terhenti di permukaan kulit leher mereka.


“Kalian kalah, pergilah atau aku benar-benar akan membunuhmu di muka umum!” jelas Quin tajam.


Keempat prajurit itu ketakutan dan memilih melarikan diri menyisakan Lowena yang terbengong dengan mulut terbuka.


“Prajurit tidak berguna!!!” marah Lowena.


Quin jatuh tertunduk kehabisan tenaga. Badanya remuk redam. Bella dan madam Lyn segera menghampirinya. Madame Lyn memeluk Quin dengan erat.


“Bagaimana kamu bisa berbuat ceroboh seperti ini Sayang?” ucap madam Lyn dengan raut khawatir.


“Nona, anda baik-baik saja?” ucap Bella tak kalah khawatir.


Quin tersenyum simpul “Aku baik-baik saja, hanya kelelahan.” ucapnya dengan suara pelan.


Quin mengurai pelukan madame Lyn, ia bangkit berdiri, karena badannya yang lemah ia sedikit oleng. Dengan cepat madame Lyn dan Bella memapahnya. Anak laki-laki yang ditolong Quin masih berdiri di tempatnya. Melihat Quin anak itu berlari mendekatinya.


“Nona .... ma-maaf maksud sa-saya Lady. Terima kasih sudah menyelamatkan saya." ucap anak kecil itu polos.


Quin kemudian duduk berjongkok sejajar dengan anak kecil itu “Siapa namamu, adik kecil” Quin mengelus kepala anak tersebut.


“Dexton, Lady.” jawab anak itu singkat.


“Kelak, tumbuhlah menjadi laki-laki hebat dan kuat, di kemudian hari kamu harus bisa menyelamatkan dirimu sendiri, oke.” ucap Quin lembut.


“Baik Lady, mulai hari ini aku akan berlatih menjadi kuat. Jika aku dewasa nanti aku pastikan aku akan menjadi kesatria hebat dan jika lady dalam kesulitan maka aku menjadi orang pertama yang akan melindungi lady dengan nyawaku sendiri” ucap Dexton panjang lebar dengan wajah seharusnya yang malah terkesan imut bagi Quin.


“Baiklah anak pintar, aku akan menunggumu dan melihat kehebatanmu kelak” ucap Quin tersenyum hangat.


“Nama lady siapa?” tiba-tiba Dexton bertanya.


Sambil tersenyum Quin menjawab “Namaku Quin.”


“Aku anak terus mengingat nama lady, suatu saat nanti aku akan berdiri di belakang lady dan akan menjaga lady, aku janji” terang anak bermana Dexton itu.


Tak lama anak perempuan yang Quin ketahui sebagai kakak dari Dexton berlari mendekat.


“Terima kasih Lady telah menyelamatkan adik saya.” ucap anak perempuan itu.


Quin hanya tersenyum dan membelai rambut anak tersebut.


“Sama-sama, adik cantik. Jagalah adikmu dengan baik, pastikan dia tidak terkena masalah lagi.” jawab Quin dengan sikap yang lembut seperti biasa.


“Baik, lady, saya akan menjaganya dengan baik.” ucap anak perempuan itu.


“Siapa namamu?” tanya Quin.


“Nama saya Rania, Lady" jawab anak perempuan itu sopan.


“Baiklah Dexton, Rania kalian segeralah pulang dan kau Rania kompres memar di pipi adikmu dengan air dingin. Jaga diri kalian baik-baik, semoga kalian selalu beruntung. Dan...semoga kelak kita bisa bertemu lagi.” Kata Quin panjang lebar.


Quin kemudian mengajak madam Lyn dan Bella untuk pergi dari tempat itu. Mereka kembali ke butik, karena kereta kuda sudah menjemput mereka di butik madame Lyn. Quin berjalan dengan digandeng dua wanita yang sangat menyayanginya itu.


Di tengah perjalanan Quin memandang Bella lekat. Bella yang ditatap menjadi salah tingkah.


“Bel, sejak kapan kamu bisa berkelahi?” tanya Quin dengan senyum tipisnya.


“Hah” jawab Bella tergagap.


*******


Tak jauh dari tempat itu, seseorang yang ditemani oleh ajudannya berdiri memperhatikan Quin sedari tadi. Mata elangnya tak pernah lepas dari gerakan yang dibuat oleh Quin. Mata tajamnya jelas menangkap setiap adegan yang ia lihat dengan mata kepalanya sendiri.


“Sejak kapan dia berubah, menjadi berani seperti itu, kekuatan itu, darimana ia mendapatkannya?” monolognya dalam hati.


“Nona Quin sangat berbeda dari yang terakhir kita lihat kan tuan?” tanya ajudan setianya.


Laki-laki tampan bersurai hitam kelam itu hanya diam tak menjawab pertanyaan sang ajudan setia, netra hijaunya terus mengawasi langkah Quin.


*******


Bersambung