
Quin membuka matanya ia mendapati dirinya berdiri bersama dewi Thike diantara awan-awan, dirasakannya awan berarak berarak pelan, di bawah kakinya ia melihat bangunan megah yang sangat dikenalnya.
“Bukankah itu Kerajaan Roothaland? Apa Dewi akan mengirimkan aku kembali? Apakah aku bisa menyelamatkan keluargaku?” tanya Quin beruntun pada dewi Thike yang berdiri tak jauh darinya.
“Apa aku harus menjawab semua pertanyaanmu itu, Quin?”
“Bukan begitu dewi saya hanya penasaran kenapa, dewi membawaku ke sini”
“Buang saja rasa penasaranku itu Quin, waktunya kamu megetahi yang terjadi di sini. Aku akan menunjukkan sesuatu yang terjadi pada ayah dan kakakmu, lihatlah ke sana.” dewi itu menunjuk tempat yang dimaksud dengan telunjuknya tepatnya di alun-alun kerajaan Roothaland.
Mata Quin pun melihat ke arah jari telunjuk dewi Thike. Disana, ditengah alun-alun luas kerajaan, terdapat sebuah panggung yang menampakkan kondisi dua orang laki-laki dewasa dengan keadaan yang jauh dari kata baik. Pakaian compang camping, luka dan lebam dan bercak darah yang hampir mengering di sekujur tubuh mereka, ditambah dengan tangan yang terikat ke belakang. Membuat Quin miris melihatnya. Ya, dua orang itu adalah ayah dan Luke.
Samar-samar Quin dapat mendengar caci maki yang ditujukan untuk ayak dan kakaknya.
“Dasar keluarga bia*** hukuman mati pantas untuk mereka!”
“Keluarga Grand Duke adalah keluarga iblis, ia pantas mendapat hukman mati”
“Ayah dan anak sama-sama sampah tak berguna!”
“Dua baj****n itu adalah sampah menjijikkan\, tidak pantas untuk diampuni”
“Bunuh....bunuh...bunuh!!!”
“Mati saja kau sampah!!!”
“Orang seperti kalian harus lenyap dari bumi Roothaland!!”
Panas rasanya telinga Quin mendengar sumpah serapah itu. Manusia tak berhati nurani seperti mereka tidak pantas mengucapkan cacian seperti itu. Lagi pula apa yang mereka tahu hingga berkata sekejam itu, mereka adalah rakyat yang tidak tau apa-apa.
Seseorang mendekat ke arah Gran Duke dan Luke kemudian melemparkan bungkusan hitam yang dilempar dengan kasar “Itu hadiah mu tuan Duke yang terhormat, semoga kalian menikmatinya.”
sinis laki-laki itu.
"Itu adalah hukuman bagi siapa saja yang berusaha melarikan diri dari hukum." tambah laki-laki itu.
“Apa ini? Tanya Grand Duke dengan tatapan sinis dan tidak suka.
Kesatria yang diketahui bernama Antonio itu mengayunkan pedangnya lalu membuka bungkusan itu hanya dengan satu gerakan bungkusan itu terbuka dengan sempurna. Bungkusan itu tidak lain dan tidak bukan adalah potongan kepala Quin yang dibawa dari dalam hutan setelah malam tragis itu.
Grand Duke dan Luke yang melihat bungkusan itu terkejut dengan air mata yang menetes di pipi mereka. mereka tidak percaya dengan penglihatannya.
"Quin...!!!!!" teriak Grand Duke sekuat tenanganya.
Seketika dunia laki-laki paruh baya itu hancur seketika. Buah hati yang dia besarkan dengan penuh kelembutan dan kasih sayang telah pergi dengan cara mengenaskan.
“Aaaaaarrrrgggghhhhh\, baj***an sialan\, aku akan membunuhmu!” teriak Luke dengan suara yang cukup keras dan dengan mata yang membelalak. Dadanya sakit\, adik yang disayanginya berakhir tragis\, sementara ia tidak dapat menyelamatkannya disaat adiknya itu sangat membutuhkan bantuannya.
"Cobalah kalau kau bisa" ucap Antonio mengejek
Dewi Thike yang melihat itu memeluk tubuh Quin. Meskipun Quin sudah mati namum ia masih bisa menangis dan merasakan sakit hati yang teramat sangat.
****
“Hormat kepada Yang Mulia Raja Andrew Vas Roothaland, Yang Muia Putra Mahkota Felix Zouch Roothaland, dan Putri Mahkota Margareth Lowena Batterix” Teriak penjaga dengan lantang menandakan kedatangan anggota kerajaan di alun-alun itu.
“Beri Salam kepada Yang Mulia Raja!” teriak penjaga dengan lantang
Seluruh rakyat yang hadir di alun-alun itu menunduk sambil berseru “Hormat kami kepada Yang Mulia semoga keberkahan dan keberuntungan dari Dewa Oliver selalu memberkati Anda sekalian."
Setelah mereka duduk di kursi kebesaran masing-masing, seorang gadis yang disebut dengan putri mahkota itu menunduk hormat kepada sang raja “Yang Mulia izinkan saya berbicara dengan tuan Albert, bagaimanapun beliau adalah ayah dari sahabatku, setidaknya saya ingin mengucapkan salam perpisahan dengan beliau.” Lowena berbicara kepada yang Mulia Raja dengan suara mendayu yang lemah lembut.
“Kau adalah Lady yang sangat baik serta murah hati, beruntung putraku memilikimu.” jawab sang raja dengan senyum wibawanya.
“Benar ayah, Lowena adalah perempuan terbaik yang hadir dalam hidupku” tutur putra mahkota Felix sambil mengenggam lembut tangan Lowena tunagannya. Namun perlakuan itu berbanding terbalik dengan apa yang ada dalam hatinya.
Kemudian Lowena berdiri dan melangkah dengan anggun menghampiri panggung dimana Grand Duke Albert dan Luke putranya sedang terikat tak berdaya. Sebelum berbicara ia menyuruh Antonio untuk menyingkir.
“Bagaimana rasanya menghitung mundur kematiamu Grand Duke yang terhormat? Ah, menyenangkan sekali rasanya aku melihat keluargamu hancur, aku kira akan sulit meruntuhkanmu ternyata semuanya berjalan begitu mudah. Semua ini berkat kebodohan putrimu yang to**l itu. Ucapkan rasa terima kasihku kepada putrimu yang bodoh itu jika kalian bertemu di neraka...hemmm” ucap Lowena dengan badan menunduk, dia tersenyum licik seraya berkata dengan nada rendah meremehkan.
“Kau adalah perempuan paling menjijikkan yang pernah aku lihat” sinis duke Albert penuh kebencian. Luke yang berada di sampingnya juga menunjukkan sikap yang sama. Ia sangat membenci perempuan licik berkedok malaikat itu.
“Sebelum aku selesai bicara sebaiknya aku bungkam dulu mulutmu.” perlahan muncul sinar hitam bening dari tangan Lowena yang tidak disadari oleh orang-orang, ia mengarahkan tepat ke arah muka Grand Duke Albert dan Luke sehingga mereka tidak bisa mengeluarkan suara sepatah katapun.
“Oh ya, dengarkan aku baik-baik Grand Duke yang terhormat, aku akan membalas semua yang pernah leluhurmu dan tujuh benua ini lakukan kepada sembahanku. Aku berjanji akan meratakan kerajaan ini dengan tanah dan membangun kerajaan ku sendiri yang tentunya aku akan menjadi ratunya serta ibuku yang akan menguasai tujuh benua ini. Sayang ya, perjuangan leluhurmu dan juga perjuanganmu selama ini, dengan jiwa ragamu kamu mempertahankan kedamaian semua akan berakhir sia-sia.. Lihatlah semua orang yang ada di sini akan mati di tangan ku, dan sekali lagi janjimu kepada leluhur mu juga akan berakhir dengan sia-sia. Sekarang, apakah kamu ingat entang Azzura dengan dan ramalan itu? Semoga kamu tidak lupa Grand Duke yang terhormat” setelah berbicara cukup lama,
Lowena berdiri dan pergi dari hadapan Grand Duke Albert dengan muka yang dibuat sesedih mungkin dengan air mata yang membasahi pipinya. Tentu saja hanya dirinya yang tau bahwa sesungguhnya ia adalah orang yang paling bahagia saat ini dengan kehancuran keluarga itu.
Mata Grand Duke itu melotot tajam. Ia tidak pernah berpikir bahwa hal yang begitu ditakutan akan benar-benar terjadi. Sesuatu yang selalu ia hindari. Haruskah cerita itu terulang kembali? Haruskah perjuangan yang telah dilalui ini berakhir sia-sia. Ia benar-benar tidak menyangka bahwa dibalik kemalanngan ini ada hal besar yang mengejutkan. Ia menyesal, sangat menyesal.
“Tolong Dewi, berikanlah kesempatan kedua kepada kami” ia berbicara dalam hati seraya berharap sang Dewi memberi kesempatan itu sesuai janjinya dulu kepada leluhurnya terdahulu, sedangkan sang Dewi yang mendengarkannya pun hanya tersenyum penuh arti.
Setelah Lowena pergi, Antonio mendekati mereka “Ada kata-kata terakhir Grand Duke William Jason Albert ?” ejek si Antonio disertai senyum sinis.
Karena tidak ada jawaban, laki-laki itu menyuruh regu panah itu bersiap untuk melayangkan busurnya untuk mengakhiri hidup kedua laki-laki itu.
Splash.....splash.....splash.... busur itu mengenai titik vital tubuh Grand Duke, ia dan putranya mengeluarkan darah segar dengan muka yang membiru hanya dalam waktu kurang dari satu menit.
Tubuh itu ambruk membentur papan. Tangannya masih terikat tak berdaya. Kematian yang menyedihkan dengan panah beracun. Meninggalkan sorak sorai kebahagiaan yang bergema di tiap alun-alun kota. Akhirnya dua orang yang dianggap “penjahat dan pemberontak” itu telah mati.
Tak berapa lama, dari tangan Antonio mengeluarkan api yang cukup besar, ia melemparkan api itu ke tubuh kaku yang ada di depannya. Api yang berkobar membakar keduanya hingga tak tersisa.
“Pergilah kalian ke neraka, tempat kalian ada di sana. Manusia rendah tidak pantas hidup lama di kerajaan ini” Antonio berkata dengan senyum sinisnya.
*******
Bersambung