
Hari ini adalah hari libur, dan Syaa berencana mengajak teman² nya untuk jalan-jalan ke pusat perbelanjaan terbesar di jakarta yang kebetulan Mall tersebut milik orang tua Calvin. Syaa mengambil hpnya di atas nakas dan segera menelpon Bella.
Panggilan tersambung....
"Hallo Bel" ucap Syaa
"Iyaa ada apa Syaa? " tanya Bella
"Gue mau ngajak lo sama anak" jalan ke mall mumpung hari libur, bosen tau dirumah mulu" ucap Syaa.
"Wah ide bagus tuh, yaudah biar gue tanya yang lain, kita ketemu di parkiran mall aja nanti, ntar gue kabarin kalau udah mau berangkat sama Yuki dan Bianca" ucap Bella semangat.
"Yaudah byee" ucap Syaa.
Panggilang terputus, Syaa langsung bersiap-siap, mengganti bajunya dengan mini dress selutut warna pastel dan heels berwarna cream, memakai tas berwarna hitam juga memoles tipis wajahnya dengan makeup dan rambut yang terurai, membuatnya tampil cantik bak model.
Syaa bergegas menuruni anak tangga menuju ruang keluarga, disana sudah ada mommy dan daddynya.
"Mom dad, aku mau ke mall dulu ya sama temen² ku, bosen dirumah terus, janji deh gak lama" ucap Syaa dengan wajah memelas, pasalnya ini masih masa hukumannya untuk tidak keluar rumah selama seminggu dan uang jajannya dipotong.
"Gimana dad, izinin gak anak kita ini keluar sama temennya? " ucap mommy melirik ke daddy.
"Hmm.... oke daddy izini asal pulangnya gak boleh lewat dari jam 5 sore dan daddy gak kasi kamu uang karena ini masih masa hukuman kamu jadi kalau mau belanja ya pake uang kamu sendiri, inget jangan boros²" ucap daddy memperingati Syaa panjang lebar.
"Thankyou daddy ku syg, mommy juga, Syaa pergi dulu yah, byee" ucap Syaa memeluk manja daddynya dan mencium pipi mommy dan daddy sebelum pergi.
Syaa langsung berangkat menggunakan mobil sportnya ke mall tersebut setelah mendapat kabar dari Bella. Kurang lebih 45 menit,Syaa sudah sampai diparkiran mobil mall tersebut lalu turun dari mobil dan disana sudah ada teman²nya yang menunggu.
"Akhirnya lo sampai juga Syaa, gue udah gak sabar pengen berburu diskon nih" ucap Yuki.
"Iyaa gue juga takutnya keburu abis di embat emak²" ucap Bella
"Yaudah kita langsung masuk yuk, malu diliatin orang² ngerumpi diparkiran mall, hahaha" ucap Bianca sambil tertawa.
"Kuyy lah guys" ucap Syaa melangkah duluan.
Mereka memasuki mall dan sesekali mampir ke toko² yang mengadakan sale, mereka berempat heboh berebut barang² diskon yang tinggal sedikit, sampai sesekali terjadi perdebatan kecil diantara mereka. Setelah 2 jam keliling² membeli baju, tas, sepatu, dan perlengkapan wanita lainnya, mereka bergegas pergi mencari makan di restorant mall, diperjalanan tak sengaja Yuki menabrak seorang pria sangking hebohnya bercerta pada teman²nya.
Brukkk....
"Adu om kalau jalan liat² dong, masa main tabrak² aja, mana yang ditabrak perempuan cantik lagi" ucap Yuki kesal dan nyolot.
"Om² om², lo kira gue suami tante lo, gue jalan udah bener, lo aja yang jalan asik cerita gak nengok ke depan, cihh" ujar pria tersebut yang tak lain adalah Dicky.
"Pokoknya om yang salah dan om yang harusnya minta maaf, sama abg aja nggak mau ngalah, dasar egois" ucap Yuki dengan nada sedikit meninggi.
"Gak, gue gak mau dan gue gak salah, dasar abg labil" ucap Dicky melangkah pergi. Baru beberapa langkah Dicky berhenti sejenak dan berbalik.
"Oiya lo cantik banget sumpah" ucap Dicky yang membuat Yuki tadinya menatapnya sinis berubah jadi kikuk.
"Tapi boongggg.....hahaha" ucap Dicky lagi dan meninggalkan mereka. Syaa dan yang lain hanya menggelengkan kepala saling pandang melihat Yuki yang sudah ingin mengeluarkan tanduknya, muka yang sangat memerah menahan amarah. Mereka melanjutkan perjalanan menuju resto yang masih berada dalam mall tersebut.
"Aduhh akhirnya bis duduk juga gue, kaki udah pegel terus bok*ng gue kayak udah pengen lahiran pegelnya minta ampu dari tadi keliling²" ucap Bella yang duduk disalah satu kursi resto sambil merentangkan tangan dan kakinya.
"Iyaa ini semua gara² si Yuki belanja gak kira², nggak tau apa kita bukan robot bisa berdiri dan jalan berjam-jam gak duduk²" ucap Bianca kesal.
"Udah gak usah pada ribut, kita kan mau makan jdi bentar lagi energi kita bertambah, bisa lanjut belanja lagi kan.... yuhuuuu" ucap Syaa gembira dan tersenyum lebar.
"Aelah sama aja lo Syaa kayak Yuki pemburu diskon padahal duit banyak" ucap Bella.
"Duit jajan gue di potong kali jadi gak bisa boros² dulu untuk kali ini hehehe" ucap Syaa cengengesan.
"Yaudah pesen gih sana biar gue yang traktir kali ini" ujar Bianca santai dengan wajah berseri.
"Wihh tumben nih traktir kita, abis menang lotre ya??" ujar Yuki senang.
"Bukan, gue lagi bahagia aja soalnya kemarin Calvin nganterin gue ke toko buku trus sampe di anterin pulang juga" ujar Bianca tersenyum puas.
"Ciee yang roman² nya lagi jatuh cinta, seneng banget kayaknya" goda Yuki yang membuat muka Bianca seketika memerah malu.
"Apaan sihh, tapi kayaknya emang ada benernya deh, soalnya gue kalau lagi deket² sama dia suka berdebar kaga jelas mana kenceng banget lagi, haha" ujar Bianca sambil malu².
"Udah kan ngobrolnya?? gue udah laper, niat traktir gak sih" ujar Syaa kesal.
"Iya lupa gue pesen, tunggu bentar yah guyss biar gue aja yang pesen menunya" ujar Bella yang langsung memanggil pelayan.
"Lo kenapa Syaa? kayak lagi pms aja sensi benerr" ujar Yuki memperhatikan raut wajah Syaa yang datar tanpa ekspresi.
Daritadi Syaa diam karena memperhatikan sahabat² nya bercerita mengenai Calvin dan Bianca yang semakin dekat. Hal tersebut membuat Syaa kesal, pasalnya sahabat² nya tersebut tidak mengetahui bagaimana brengseknya Calvin. Syaa juga merasakan ada hawa panas yang menyerang dadanya saat mengetahui Bianca jatuh hati terhadap Calvin.
"Nggak kok, gue lagi badmood aja hari ini maka dari itu gue ngajak kalian jalan" ujar Syaa berbohong menutupi kekesalannya.
Pesanan mereka sudah datang, mereka segera menyantapnya karena sangat lapar berjalan-jalan dari tadi dan energi mereka seakan terkuras habis. Setelah menyantap makanan, mereka bercerita-cerita sebentar sambil ngemil dessert yang dipesan tadi.
Dari kejauhan terlihat tiga lelaki tampan yang menjadi sorotan cewek² yang dilewatinya. Langkah mereka terlihat memasuki restorant yang sama dengan Syaa dan sahabat² nya tempati saat ini. Bella yang menikmati puddingnya terlihat melihat-lihat sekelilingnya dan matanya tepat tertuju pada tiga lelaki tampan tersebut, ia adalah Calvin dan teman² nya yaitu Renand dan Dicky.
"Ehh Bii, lo kayaknya jodoh deh sama Calvin" ujar Bella tiba-tiba, yang membuat mereka mengerutkan sebelah alisnya.
"Iyaa, lo hadap belakang deh coba" ujar Bella lagi, yang membuat ketiganya mengalihkan pandangannya sesuai arahan Bella.
Mereka melihat Calvin duduk disana sambil menikmati secangkit kopi dan dessert dengan temannya yang membelakangi mereka, jadi hanya wajah Calvin yang terlihat. Calvin pun dengan tiba-tiba memandang lurus dan pandangannya itu langsung tertuju pada mata indah Syaa yang menatapnya sendu. Seakan ada kontak batin yang mebuat mereka saling pandang.
Calvin terus memandangi mata indah Syaa seakan-akan pernah memandangi mata indah tersebut sebelum mengenalnya sekarang, ia tak tau mengapa merasakan ada sesuatu diantara mereka yang membuat keduanya merasa enggan melepas pandang. Tak lama Syaa memutuskan pandangan tersebut karena tak ingin sahabatnya merasa curiga.
"Apa sih lo gak jelas banget deh" ujar Bianca yang tengah merona malu.
"Ajak gabung aja sama kita Bii" ujar Bella pada Bianca.
"Yaudah bentar yah gue ajak dulu" ujar Bianca sembari berdiri ingin menuju ke meja Calvin.
Bianca sudah berdiri disamping Calvin dan mengajaknya untuk join bareng temen² nya di satu meja.
"Haii Vin, lo mau makan juga" ujar Bianca gugup.
"Enggak, cuma mau nongkrong aja ngopi² sama temen mumpung weekend" ucap Calvin santai.
"Owhhh... Gimana kalau lo gabung bareng gue aja sama temen² gue" ucap Bianca sembari tersenyum penuh harap.
Calvin pun menoleh ke arah teman² nya yang dari tadi hanya memperhatikan interaksi tersebut, ia menatap kedua temannya seakan meminta persetujuan dan diangguki santai oleh keduanya.
"Yaudah...boleh deh, tapi gak apa² kan klau teman² ku juga ikut gabung" ucap Calvin seraya melihat kearah temannya.
"Iya gak apa² kok" ujar Bianca tersenyum puas. "Eh, kok kamu? " ujar Bianca lagi heran ketika menoleh kearah teman Calvin dan melihat Dicky duduk di seraya menikmati kopinya.
"Oiya gue lupa ngenalin, ini temen gue namanya Dicky, kalau Renand lo pasti udah tau kan" ujar Calvin menunjuk Dicky yang diperkenalkannya.
"Ohh... Haii gue Bianca" ujar Bianca mengulurkan tangannya.
"Iyaa, gue Dicky" ujar Dicky membalas uluran tangan Bianca seraya tersenyum.
"Oiya, gue sampe lupa, yuk gabung ama gue sama temen² gue di meja sana" ujar Bianca sambil menunjuk meja tempatnya dan teman² nya.
"Oh Okee, mari" ujar Calvin berdiri lalu mengikuti Bianca berjalan dan disusul kedua temannya.
Sesampainya dimeja Bianca, Calvin dan teman² nya mengambil tempat masing-masing. Yuki yang tengah menikmati makanannya langsung menegakkan pandangannya pada ketiga lelaki yang ada dihadapannya, dan betapa terkejutnya ia melihat Dicky begitupun sebaliknya.
"Elooo..... Ngapain lo disini heh? " tanya Yuki emosi sambil berdiri menunjuk Dicky.
"Ini restorant kan, jadi bebas lah gue mau makan disini, duduk dimana aja juga terserah gue yang penting gue bayarrrr" ujar Dicky santai dan sedikit menekan kata bayar pada akhir kalimat.
"Cihh.... Dasar penguntit, jelas-jelas disini banyak meja yang kosong, dasar modus lo sama gue, oh ya disini gue juga makan bayar kali, gausah sombong" ucap Yuki.
"Enak aja lo bilang gue penguntit, ngapain gue ikutin trus modusin lo, sok kecakepan banget lo, dasar cewek aneh" ujar Dicky yang tak kala emosi juga dan berdiri menunjuk² kearah Yuki.
"Udah-udah gak usah berantem, baru aja sekali ketemu udah berantem kayak gini, gimana kalau ketemu setiap hari nantinya" ujar Bella menengahi.
"Ga akan ketemu lagi" ujar Yuki dan Dicky serempak.
"Yaudah terserah deh kalian yang pasti kiti disini mau makan jadi kalian duduk manis, diem dan ga usah emosian kyk gini" ujar Bella.
"Oh ya gue lupa ngenalin ke kalian kan jadinya, Syaa Bell... Kenalin ini Dicky temennya Calvin dan ini kalau pasti udah tau lah ya" ujar Bianca memperkenalkan Dicky lalu beralih ke Renand.
"Haii, gue Bella temen kampusnya Bianca" ujar Bella bersalaman dengan Dicky.
"Gue Syakila, bisa panggil Syaa aja kayak temen-temen gue" ujar Syaa tersenyum manis dan bersalaman juga. Dicky yang melihat kecantikan Syaa pertama kali langsung terperangah dan terdiam sejenak, Renand yang melihat itu pun langsung melepaskan tanganan Dicky dari tangan Syaa.
"Biasa aja ngeliatnya, gak usah sampe melek terus gak kedip-kedip" ujar Renand sedikit kesal.
"Hehe.... Biasa udah lama gak liat bidadari" ujar Dicky cengengesan. Yuki yang melihatnya pun merasa malas berhadapan dengan pria yang menyebalkan dan penggombal.
"Lo sensi bener Nand, kayak punya gebetan bakal direbut sama cowok lain aja" ujar Calvin heran melihat sikap Renand.
"Emang gue gak mau gebetan gue diambil orang" ujar Renand tersenyum lalu melirik Syaa, dan yang di likir hanya kebingungan.
"Maksud lo Syaa itu.... " ujar Yuki terputus.
"Doain aja semoga jadi, haha" ujar Renand tertawa sedikit.
"Gila lo gercep juga yah, belum ada seminggu pindah kampus udah jauh aja pergerakan lo, btw udah sampai mana nih pendekatannya? " ujar Dicky meledek lalu sedikit berbisik kepada Renand.
"Sampe rumahnya ketemu keluarganya, puas lo hahha" ujar Renand yang membuat Dicky tercengang.
"Wah salut bener gue, gue doain semoga jadi haha" ujar Dicky berbisik sedikit tertawa. Interaksi mereka berdua yang dari tadi terlihat berbisik terus diperhatika oleh semuanya dan hanya Calvin yang mendengar apa saja yang mereka katakan. Calvin seakan tak suka mendengar Renand yang dengan mudah mendekati Syaa sedangkan dia hanya ingin menyentuh sedikit saja tidak bisa karena Syaa tampak ketakutan olehnya.
"Ngapain sih kalian berdua bisik-bisik disini banyak orang, bikin penasaran aja" ujar Bella.
"Ah.. Ga apa-apa kok, cuma bahas masalah pribadi sedikit" ujar Renand.
"Yaudah ngobrolnya nanti aja, sekarang mari kita nikmati pesanan kita masing-masing" ujar Bianca. Mereka duduk di meja berbentuk persegi empat, Bianca duduk disamping Calvin, Bella duduk bersebelahan dengan Yuki, Renand duduk berhadapan dengan Bella dan Dicky disampingnya yang berhadapan dengan Yuki, sedangkan Syaa duduk sendiri berhadapan dengan Calvin dan juga Bianca.
Bianca dan Calvin tampak menikmati makanannya dan sesekali berbincang lalu tertawa, Syaa melihat itu merasa miris pada dirinya sendiri, entah apa yang harus dia lakukan sekarang agar dia bisa berhenti membayangkan kejadian malam itu yang selalu saja menghantui hari-harinya. Selama Syaa dan Calvin satu Kampus baru sekali mereka ngobrol itupun karena tidak sengaja bertemu di toilet dan bertabrakan.
"Syaa, kenapa ga di makan? Ga enak yah? "ujar Renand yang sedari tadi memperhatikan Syaa mengacuhkan makannya.
"Enak kok, lagi diet aja jadi males makannya" ujar Syaa ngasal.
"Lo gausah diet-dietan deh ntar lo sakit gue yang dimarain daddy" ujar Renand tak menyadari bahwa yang lain tengah memperhatikannya.
"Ngga bakalan sakit kok, cuma ga makan sekali aja masa langsung sakit" ujar Syaa meyakinkan Renand.
"Yaudah kalau gitu lo makan salad aja yah, gue pesenin" ujar Renand yang hanya diangguki oleh Syaa.
Calvin heran karena Renand dan Syaa tampak seperti sudah dekat sekali, dan bahkan memanggil ayah Syaa dengan sebutan daddy.....