
Part 20++, diharap usia dibawahnya gak usah terlalu mendalami part ini 😁😁
.....
08.00 WIB, Bianca, Yuki, dan Bella tiba di Bramble Bar dan duduk di salah satu meja menikmati alunan musik sembari menunggu kedatangan Syaa.
Di kediaman Setiawan, Syaa yang baru saja bangun dari tidurnya dan melihat jam dimeja samping kasur dan betapa kagetnya dia setelah itu....
"Astaga udah jam 8 lewat aku baru bangun belum siap-sia juga, mereka pasti udah nungguin disana, kena seprot pasti gua nanti" gerutu Syaa pada dirinya sendiri.
Setelah bangun, dia bergegas mandi dan mengganti pakaiannya, ia memakai dress di atas lutut berwarna maroon tanpa lengan hanya menggunakan tali kecil di bahunya dan heels berwarna maroon serta tas selempang hitam dengan taburan berlian dibagian samping tas, tampak sederhana namun elegant, tak lupa juga menambahkan riasan sederhana di wajahnya yang mempercantik dirinya saat ini dan rambut yang digerai. Setelah siap Syaa segera turun berpamitan dan keluar rumah.
Syaa sampai pukul 08.40 WIB dan langsung turun dari mobil sportnya lalu bergegas masuk, sesampainya dia didalam ia melihat teman-temannya yang sudah duduk disalah satu meja dan langsung menghampirinya.
"Haii sorry yah guys gua telat soalnya ketiduran tadi" kata Syaa dengan muka memelas.
"Lu sih kalau tidur kayak kebo' lama banget, untung kita gak jamuran disini nungguin lu mana belum pesen apa-apa lagi" kata Yuki sedikit kesal.
"Iya sorry lagi, kalau gitu pesen aja sekarang gue yang traktir" kata Syaa tersenyum dan mengambil tempat untuk duduk.
"Asikkk pesta nih kita, tumben-tumbenan kan jadi kita harus pesen yang banyak" kata Bella yang tak kalah antusiasnya dengan Yuki. Sedangkan Bianca dan Syaa hanya menggeleng kepala melihat tingkah sahabatnya tersebut.
Setelah memesan minuman dan makanan, akhirnya pesanan pun datang, mereka tidak memesan alkohol karna tidak minum,mereka lebih nemilih memesan jus dan minuman lain yang 0 alkohol. Mereka sangat menikmati makanan dan minuman mereka tanpa sadar makanan yang mereka pesan sudah habis setengah.
" Gue udah gak sanggup makan ini lagi deh kayaknya, perut gue udah full dan gue udah gak kuat lagi berdiri" kata Yuki yang tadi sangat antusias memesan banyak dan memakannya dengan lahap malah berhenti dan bersandar di kursi.
"Makanya kalau pesen itu kira-kira dong ki, pesen aja banyak giliran udah didepan mata gak dihabisin" kata Bianca kepada Yuki.
"Iya nih gue jg udah gak bisa masukin semua ini ke perut gua" kata Bella yang sudah terlihat mengantuk karna kekenyangan.
"Ya udah, kalau udah pada kaga kuat mending kita pulang aja, udah malem jg nih ntar kita dicariin orang tua kita"kata Syaa.
"Iyaa deh, Bi gua nebeng lagi yah pulangnya" kata Yuki sambil tersenyum manis kepada Bianca.
"Iya iya, gak usah sok manis gitu deh" kata Bianca.
" Kalian bertiga duluan aja, gue mau bayarin ini dulu, pengen ke toilet juga udah kebelet" ucap Syaa sambil berlalu meninggalkan mereka.
Selesai membayar makan dan minuman, Syaa langsung menuju toilet dan sehabis buang air kecil Syaa masih di toilet memboles sedikit bibirnya menggunakan lipstick.
Sementara Calvin yang mulai tak terkontrol akibat minum bersama temannya kini mulai merasa mual dan pusing, ia bergegas ke toilet membasuh muka dan memuntahkan isi perutnya. Dia berjalan sempoyongan sambil memegang kepalanya yang pusing dan sesampainya di depan toilet dia tak sengaja menabrak Syaa yang baru keluar dari toilet wanita, belum juga sampai di dalam toilet Calvin sudah memuntahkan isi perutnya dan mengenai baju Syaa saat bertabrakan.
"OMG!!! kalau jalan pake mata dong, mana pake muntah segala lagi di baju gua, tanggung jawab lu, beliin gue baju buat ganti baju gue" ucap Syaa melihat bajunya yang terkena muntahan. Sedangkan Calvin hanya diam memperhatikan Syaa ngoceh dari tadi.
Disaat Syaa menegakkan pandangannya matanya langsung menatap kagum Calvin begitu juga Calvin yang menatapnya tanpa kedip dan ternyata Calvin melihatnya seperti Kanita akibat mabuk. Calvin menelpelkan tangannya dikedua pipi Syaa dan menatapnya penuh arti.
" Kanita, ini beneran kamu kan nit??" ucap Calvin langsung memeluk Syaa erat.
"Kamu ikut aku sekarang yah syg, aku kangen banget sama kamu" ucap Calvin melepas pelukannya dan menarik Syaa untuk ikut bersamanya. Syaa berontak melepaskan genggaman Calvin tapi semakin diperkuat oleh Calvin, dia tidak ingin Kanita lepas lagi dari genggamannya dan pergi meninggalkannya padahal yg sedang digenggam adalah Syaa.
Sesampainya didepan VVIP room, Calvin langsung membawa Syaa masuk dan mengunci pintu dengan cepat. Syaa kaget dibuatnya karena pintunya terkunci otomatis dia tidak bisa keluar. Calvin menggiring Syaa ke kasur dan menghempaskan tubuh Syaa dengan kasar penuh emosi. Syaa meringis kesakitan dan menangis.
"Ngapain lo bawa gue kesini, gue mau keluar, buka pintunya gue mau pulang" teriak Syaa berontak. Calvin perlahan mendekat kearah Syaa dengan tatapan amarah dan emosi.
"Please!! gue mohon jangan macem-macem, gue mau keluar bokap nyokap gue pasti udah nyariin gue"ucap Syaa memelas sambil menangis.
"Nggak! kamu gak boleh pergi lagi syg, kamu tau aku hampir gila karna kamu ninggalin aku tanpa pamit dan menghilang gitu aja, aku frustasi merindukan kamu setiap hari dan mencari-cari kamu tapi gak ketemu juga" ucap Calvin dengan wajah sendu mengutarakan perasaan sedihnya ditinggalkan Kanita.
"Dan sekarang aku udah nemuin kamu trus kamu mau pergi lagi, gitu??" tambah Calvin dengan nada meninggi.
"Tapi gue bukan pacar lo yang namanya Kanita kanita itu" ucap Syaa semakin terisak dan sesegukan. Tanpa tunggu lama Calvin langsung mencium bibir manis Syaa dan me****tnya bibirnya dengan brutal, Syaa yang menerima itu sontak kaget dan berusaha melepaskannya tapi semakin ia mencoba semakin diperdalam oleh Calvin, ciuman itu kini turun ke leher jenjang Syaa yang putih mulus, Calvin menggigitnya dan meninggalkan beberapa bekas merah disana. Kini hasrat Calvin sudah semakin menggebu gebu dan penuh emosi dia melepaskan pakaian Syaa dengan kasar dan membuangnya ke sembarang tempat dan hanya menyisahkan pakaian dalam saja. Syaa terkejut dan melotot melihat dirinya sekarang tanpa busana, tak henti-hentinya dia menangis dan berusaha berontak, ia terus memukuli lengan dan dada Calvin dengan kencang tapi tak dihiraukan oleh Calvin. Dan entah sejak kapan pakaian Calvin sudah terlepas, memperlihatkan tubuh polosnya yang atletis serta dada dan perutnya yang seperti roti sobek. Tanpa berlama lama Calvin melepas pakaian dalam Syaa dan meng*c*p seluruh tubuh Syaa dari atas sampai bawah dengan lembut, Syaa semakin terisak dan menggigit bibir bawahnya menahan sakit akibat gigitan Calvin dibagian leher dan dadanya, tanpa terasa tubuh Syaa merasa panas dan seperti ada yang berdesir dibawah sana, Calvin yang sudah tak sabar langsung mengarahkan Jun**rnya kearah bagian sensitif Syaa yang sudah basah akibatnya.
Syaa menangis sejadi-jadinya merasakan sakit di bagian sensitifnya akibat Calvin yang memasukinya kasar, tidak ada kelembutan.
Calvin yang melihat Syaa merasakan sakit menatapnya dalam-dalam.
"Terimakasih syg, aku tidak akan melepaskan mu lagi, aku akan membuat mu mengandung anak ku agar kau tak punya alasan untuk pergi lagi" ucapnya yang masih terus bermain dibawah mulai sedikit lembut.
Sedangkan Syaa yang mendengarnya tak bisa berkata apa-apa lagi, dia hanya bisa menangisi nasibnya yang malang akibat pria brengs*k yang telah merenggut masa depannya.
Setelah pelepasan, Calvin langsung merebahkan tubuhnya disamping Syaa dan tertidur pulas, sedangkan Syaa masih diam dalam tangisnya memikirkan semua yang menimpanya saat ini, perlahan dia bangkit dengan rasa sakit pada selangkangannya dan membersihkan dirinya dikamar mandi, selesai itu dia langsung memunguti bajunya dan memakai kembali, lalu bergegas mencari kunci pintu ruangan tersebut.
Kunci pintu sudah ia dapatkan dan bergegas keluar dari ruangan itu dan berjalan pelan menuju parkiran Bar, ia melirik jam ditangan kirinya, sudah pukul 12 malam dia baru keluar Bar, ia menaiki mobilnya dan menjalankan mobil tersebut menuju apartemen pribadinya karna takut pulang kerumah dalam keadaan seperti sekarang.
Mobil Syaa sampai didepan apartemennya, ia turun dan masuk menaiki lift menuju lantai 6.
Syaa masuk kedalam apartemennya langsung merebahkan tubuh pada sofa ruang tamu sambil memejamkan mata tanpa terasa air matanya mulai membasahi pipi mulusnya.
Dia masih tidak percaya akan dirinya sendiri yang sudah tak suci lagi, dia berfikir bagaimana masa depannya nanti. Dalam pikirannya yang kalut dia mulai terlelap diatas sofa.
Disisi lain sebelum kejadian Syaa dan Calvin, Stella yang tadinya menunggu Calvin di ruangan tersebut merasa ada yang ketinggalan di meja tadi, dia bergegas keluar dan kembali ke meja tempat mereka minum dan benar saja handphonenya ketinggalan.
Saat dia kembali pintu kamar itu sudah terkunci rapat dan tak bisa mendengar apapun dari dalam karena itu ruangan VVIP jadi kedap suara. Ia memutuskan menunggu sampai satu jam tapi tak kunjung terbuka, akhirnya dia memutuskan pergi.
Bersambung....
**Mohon maaf readers kalau ada kesalahan kata, huruf, atau cerita yang kurang dipahami, berhubung ini adalah novel pertama ku jadi aku masih banyak belajar, dan bagi semuanya yang ada masukan atau kritikan silahkan komen dibawah biar aku bisa memperbaiki lagi cara penulisan ku atau memperbaiki cerita yang kurang dipahami 😊😊
Terimakasih untuk yang sudah baca, jangan lupa like dan vote juga yah biar aku makin semangat nulisnya 😊😊
Follow ig ku :
@fnki.kmala**