Pink

Pink
Part 9



“Heh…pagi-pagi dah bengong aja” Ucap jesica sambil menaruh tas dibangkunya.


“Oh,..hai Jes, morning” “Yah.. morning too babe…”


“Adamasalah apa?? Cerita gih..” Tanya Jes sambil mengerutkan alisnya hingga bertautan


“Nothing”Jawabku singkat.


Jes tidak lagi menggangguku, ia kembali mangembil beberap bukunya dan meletakkan nya di atas meja. Aku pun kembali hanyut dalam pikiranku. Menerawang jauh dan kembali tenggelam dalam pikiranku yang entah sampai dimana ujungnya. Kembali menilik ulang kejadian yang terus berputar-putar dalam pikiranku seperti kaset rusak. Mimpi semalam seakan memberikan sebuah clue yang aku sendiri tak begitu yakin akannya.


Apa itu sebuah petunjuk?? Aku masih belum paham cara kerja liontin ini..


Kataku sambil memandang lurus kearah liontin yang menggantung cantik di keher jenjangku. Kalud dalam pikiranku sendiri sampai aku pun tak sadar bahwa seseorang sedang menatapku dan memanggil namaku berkali kali. Sampai sebuah benda panjang seukuran jari telunjuk melayang menghantam dahiku. Spontan akupun mengaduh “Argh…”


Sontak suara tawa memenuhi ruangan kelasku, dan aku pun mulai tersadar dari lamunanku. Sial.. aku melamun.


“Apa sudah sadar nona Keneth? Bisa kah kau maju dan menyelesaikan soal nomor 1 itu?” Perintah Mrs. White tanpa bantahan.


Aku hanya tersenyum kecut sambil jalan kearah papan tulis, sekilas memandang Jesica yang juga


menertawakan kelakuanku.


“Sorry… Mrs. White… Saya belum paham” Ucapku sambil menunduk dan mempersembahkan senyuman terbaikku.


“Bagus nona Keneth, silahkan pilih kembali mengikuti kelasku atau keluar dan tunggu didepan kelas?” tawar


Mrs. White.


Sambil menunduk aku kembali ke kursiku dan mendengarkan penjelasan panjang Mrs. White. Jesica menyenggol lenganku, sambil mengucapkan beberapa kata dari gerak bibirnya.


“Ada apa??” aku hanya menjawab sambil menggelengkan kepala, tanda bahwa aku tidak mau membicarakannya


sekarang.


Maaf Jes, aku belum siap.. nanti pasti akan ku katakana apa yang terjadi sebenarnya, tapi bukan sekarang.


Sebenarnya aku merasa tak enak dengan Jesica, bagaimanapun ia dan keluarganya sudah banyak membantuku


hingga saat ini, dan dia satu-satunya sahabat yang aku percaya.


******


Jam istirahat kedua gadis itu berjalan kearah kantin dan memesan menu favourite mereka bakso dan mi ayam serta ditemani dengan dua gelas es jeruk peras. Menikmati jam makan siang mereka dengan tenang sampai seseorang menyenggol tangan pink dan menyebabkan garpu yang ia pegang jatuh ke lantai.


“Argh… dasar kau Ardo” Sarkas Jesica tiba-tiba


“Calm down Jes, lagian dia sudah minta maaf” Kataku sambil mengambil garpu baru di tempat nya.


“Huh… Kau jadi cewek jangan terlalu baik pink, aku khawatir padamu. Dan apa yang mempengaruhi kepala kecilmu itu hingga kau tidak memperhatikan penjelasan Mrs. White?” Tanya Jesica


Ah… inilah pertanyaan yang ingin ku hindari, padahal sedari tadi aku sudah merapalkan doa agar Jesica lupa kejadian di kelas tadi. Gara-gara acara Ardo menyenggol tanganku sih.. hah…oke tak baik juga terus-terusan memendamnya sendiri. Setidaknya Jesica bukan orang yang gampang menyebarkan gosip tak jelas.


Sekali kulirik wajah Jesica yang sudah tak sabar mendengar jawabanku. Ia pun sudah menyelesaikan acara makan siang nya. Sedangkan mangkuk mie ayamku masih hilang seperempatnya. Aku tidak terlalu lapar siang ini, ingatan itu benar-benar menggangguku saat ini.


“Oke.. akan kuceritakan semuanya tapi tak disini, terlalu ramai. Nanti pulang sekolah kita pergi ketempat biasa kita bertemu. Bagaimana?” kataku bernegosiasi


“Baiklah” Ucapnya menyetujui


****


Di taman pinggirian kota, tempat biasa Pink dan Jesica bermain sedari kecil, dibawah pohon rindang dan ayunan yang tergantung disalah satu dahan pohonnya. Pink dan Jesica pun berjalan bersisihan menuju tempat favorit mereka. Hari ini cuacanya cukup bersahabat dengan angin bertiup sepoi-sepoi. (Hah… nyamannya.. ngantuk aku.. plakkk… bangun thor.. eh iya ya.. :D)



“Oke sekarang ceritakan masalahmu” Ucap Jesica ketika mereka sudah menemukan tempat duduk nyaman


mereka. Pink pun menarik nafas panjang dan mulai menceritakan semua kejadian yang menimpanya. Diawali saat pertama kali ia mendapatkan liontin itu sampai beberapa mimpi buruk yang seakan potongan puzzle yang memaksanya mengingat memori lama yang sudah terpendam jauh bersama dengan kenangan kedua orangtuanya.


“Begitulah… aku… aku tahu, memang ini tak masuk akal dan aku pun tak berharap kau akan mempercayainya..


aku hanya ingin berbagi bebanku” lepas gadis itu mengatakan keluh kesah nya, seakan beban yang ia pikul sendiri teangkat dan membuatnya lebih damai dan ringan.


Jesica pun menggenggam tangan sahabatnya sambil tersenyum hangat pada Pink, sebelum ia menarik pink dalam pelukan nya. Seketika tangis Pink pun pecah dan menangis sesegukan di pundak sahabatnya ini. Dia tahu dia sudah tak punya siapa-siapa lagi. Papanya adalah seorang anak panti yang tak jelas asal-usul kedua orang tunya dan mamanya bukan manusia dari dimensi ini yang baru saja ia ketahui kebenarannya. Hanya sahabat terbaiknya lah yang ia percaya saat ini.


“Pink…. Aku paham semua beban yang menimpa mu saat ini dan itu bukanlah sebuah hal yang mustahil, percayalah padaku” Kata Jesica menenangkan sahabatnya itu. Ia pun menepuk-nepuk pundak sahabatnya itu penuh kasih saying. Pink adalah sahabat terbaiknya, ia pun sudah menganggap Pink adalah saudaranya sendiri.


“Pink… apa kamu tahu…”


 


 


 


Sampai sini dulu ya gaes.. dukung author-nya dongs biar semangat untuk up ceritanya dengan cara  vote dan saran kalian…… menurut kalian apa yang bakal diberitahu oleh Jesica ya?? Apa dia punya rahasia seperti mama Pink?? Ikuti terus ceritanya ya…