
Bulan dan temannya bintang-bintang mulai bersembunyi dibalik sinar matahari yang sebentar lagi menampakkan cahayanya. Hari mulai berganti menjadi lembaran baru, para warga di pusat kota mulai bersiap untuk menjalankan aktifitas mereka masinh-masing. Begitu juga dengan dua pasang anak remaja yang sedang bersiap turun mencari rumah makan guna mengisi perut mereka yang sudah minta diisi dari dini hari.
Gadis itu dengan wajah masam nya berjalan mengikuti kemanapun perginya Lex, ia masih jengkel dengan kejadian semalam yang di alaminya. Sedangkan Lex berjalan canggung memimpin di depan. Mereka tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing. Hingga gadis itu tidak sadar bahwa mereka sudah memasuki salah satu kedai kecil dengan interior terbuat dari logam-logam perak sebagai dindingnya.
Pink mulai menegakkan kepalanya, melihat sekeliling, rumah makan ini tidak begitu ramai hanya beberapa orang yang mengisi bangku-bangku terbang yang disediakan oleh pemilik kedai itu. Sebuah benda pipih berwarna perak menghampiri mereka. Lex segera nyalurkan tangannya ke depan dan muncul sebuah sinar. Hingga bunyi "Ting, Pembayaran anda diterima" segera Pink dan Lex menaiki benda pipih tersebut.
Benda pipih itu membawa mereka ke sebuah meja dengan bangku bulat dan meja bulat berwarna perak. Pink dan Lex terduduk diam menunggu pesanan mereka. Kedai ini memiliki sistem pembayaran di muka, dimana semua makanan berharga sama, dan mereka bisa memesan berapapun jumlah makanan yang mereka mau. Pink dan Lex sudah memesan makanan mereka dan segera tidak lama dari itu. Kepulan uap panas dari makanan yang mereka pesan menyeruak masuk ke dalam indra penciuman Pink.
Dengan antusian Pink memakan makanannya dengan lahap. Lex yang melihat Pink makan dengan sangat lahap nya hanya bisa diam, ia sama sekali tidak berani untuk berkomentar apapun. Memang dia lah yang membuat Pink sangat kelaparan hingga seperti ini. Ia hanya nyengir membayangkan bagaimana kesalnya Pink padanya.
"Ehem, kalau makan jangan cepat-cepat, makanan nya tidak akan hilang kok." Kata lex menasihati. Pink hanya menjawab nya dengan mendengkus kesal. Ia sama sekali tidak menindahkan perkataan lex dan terus saja menyantap makanan nya dengan lahap. Lex hanya dapat mendesah pelan tak sanggup berkomentar.
Setelah selesai menyantap makanan mereka, Pink kembali diam dan memilih untuk mengacuhkan Lex dengan memandang ke arah jendela kecil di sisi kiri mereka. Ia benar-benar kesal dengan Lex. Bagaimana ia tidak kesal, Lex ternyata pulang ke penginapan mereka sekitar pukul 3 dini hari dan selama itu, Pink hanya bisa meringkuk di atas kasur dengan menahan lapar yang terus mengganggunya. Ia tidak berani keluar untuk mencari makan. Karena alasan ia memang tidak punya uang. Lex yang baru mengetahui kejadian itu tadi pagi benar-benar tertawa keras karena hal itu, dan tawa lex lah yang membuat kejengkelan Pink bertambah padanya.
"Pink, aku benar-benar minta maaf" kata Lex tiba-tiba. "A-aku minta maaf eh?". ucap Lex tulus.
"Iya, maaf aku marah juga ke kamu, lagian semalam aku memang sangat lapar" Jawab Pink sekenanya.
"Okeh, kita lanjutkan perjalanan kita ya" Ucap lex pada akhirnya. Pink mengangguk mengiyakan permintaan Lex
Mereka pun melanjutkan perjalanan mereka, Lex juga mengatakan bahwa ia mulai hari ini sampai besok harus mengawal kepala kota menuju kota seberang. Dan selama Lex menjalankan tugasnya, Pink akan ia titip kan pada Pak tua yang mungkin mengetahui perihal tentang kalung Pink tersebut. Pink hanya bisa mengiyakan apa yang dikatakan Lex, memang karena ia sama sekali tidak tahu seluk-beluk pusat kota ini, lebih tepatnya dimensi ini.
Perjalanan menuju tempat pak tua tidaklah jauh, mereka kembali menaiki benda bulat itu. Setelah memberikan koordinat yang jelas, benda itu mendesis sebentar sebelum melayang melesat ke arah koordinat yang sudah di cantumkan sebelum nya. Pink memandang takjub pemandangan dibawahnya. Pusat kota benar-benar kota yang besar yang hiruk-piruk keramaian yang ada. Ia juga melihat banyak nya benad bulat melayang yang hilir mudik mengantarkan penumpangnya.
Kurang dari 10 menit mereka sampai disebuah rumah dengan model gaya kuno. Rumah ini benar-benar terlihat mirip dengan rumah nenek Xandra jika diperhatikan dengan seksama. Lex menjelaskan bahwa pak tua itu berasal dari kampung halaman yang sama dengan nenek Xandra. Jika diperhatikan ulang, pusat kota memilki banyak sekali gaya rumah dan toko yang beraneka ragam sesuai dengan tempat asal pemilik nya. Sehingga banyak sekali orang yang sudah pindah ke pusat kota enggan untuk kembali ke kampung halaman mereka.
Kedua remaja itu pun menaiki tangga kayu menuju pintu utama, belum sempat mereka mengetuk pintunya. Tiba-tiba saja pintu itu sudah terbuka dengan sendirinya. Menampil kan sosok pria tua yang seumuran dengan nenek Xandra, menggunakan tongkat kayu sebagai sarana untuk membantunya berjalan dan tak lupa kacamata bulat kecil bertengger manis di hidung mancung pak tua itu.
"Siapa kalian?" tanya pak tua dengan suara seraknya.
Pak tua hanya terlihat menimang-nimang penampilan kami. Dari yang kudengar sebelum nya dari Lex, banwa pak tua memilki ingatan yang cukup buruk, sejak muda ia mudah lupa dan sekarang di usianya yang tidak muda akan menambang kurang nya daya ingat pak tua.
"Hah, kalian pikir aku sudah pelupa?" tegas pak tua tiba-tiba, sontak pink terkejut dengan teriakan pak tua. Ia pun bersembunyi dibalik punggung Lex. Ia benar-benar terkejut dengan teriakan pak tua.
"E-eh, kami tidak mengatakan hal seperti itu" kata Lex salah tingkah dengan menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Baiklah, mau apa kalian kesini?" tanya pak tua pada Lex.
"Lex ingin menitipkan Pink disini untuk dua hari saja pak tua, karena ada tugas yang harus Lex kerjakan, serta tak mungkin Lex membawanya bersama ku" Jelas Lex. Pak tua hanya termangut-mangut mendengar perkataan Lex. Ia pun menyuruh mereka masuk dan beristirahat sejenak.
"Baiklah aku akan menjaganya, karena memang Xandra lah yang memintanya" Ujar pak tua pada akhirnya. Lex sudah menjelaskan maksud ia menitipkan Pink pada pak tua, selain itu hal ini juga permintaan langsung dari nenek Xandra sahabatnya.
Setelah kepergian Lex menjalankan misinya, Pink duduk di kursi depan bersama pak tua. Pink benar-benar tidak tahu harus berkata apa. Hingga pak tua lah yang pertama mengajaknya mengobrol. Pink pun mulai nyaman dan menceritakan tentang dirinya. Ternyata pak tua memiliki kepribadian yang humoris walau terkadang ia lupa dengan apa yang baru saja dia katakan.
"Pak tua, saya mau bertanya tentang liontin yang membawaku ke dimensi ini, kata nenek Xandra pak tua akan memberi tahuku." Kata pink memecah keheningan.
"Mana liontin nya?" tanya pak tua pada pink antusias, ia terlihat memikirkan sesuatu.
Pink pun mengeluarkan liontin itu dari balik bajunya. Seketika mimik wajah pak tua berubah dan memandang Pink dengan pandangan yang tak bisa pink tarsirkan. Ia juga terkejut dengan reaksi yang diberikan oleh pak tua. Memang ada apa dengan liontin ini? kenapa wajah pak tua seperti itu? Pikir Pink dalam hati.
"Da-dari mana kau mendapatkan nya?" kata pak tua dengan terbata-bata.
Halo semua... makasih ya yang sudah mau mampir, jangan lupa bom like, komen, rate, favorite ya... dan kalau kalau kalian suka dengan ceritaku, jangan lupa untuk mengikuti perjalanan Pink ya... sampai jumpa di episode selanjutnya.. Papay..