
Dibawah teriknya matahari seusai jam pulang sekolah, dua gadis itu tengah duduk dibawah rindangnya pohon taman pinggiran kota. Saat ini Pink, salah seorang gadis yang tengah duduk termenung dengan mata sedikit sembab akibat tangisannya beberapa saat lalu. Ia mencoba menegakkan punggung nya dan menengok kearah sahabat dekatnya, Jessica.
Jessica terlihat sedang bergelut dalam pikirannya, wajahnya seperti menyiratkan keraguan dan kecemasan. Pink tak tau apa yang ada dalam pikiran sahabatnya ini, tapi satu hal yang pasti Pink tahu, Jessica pasti tau sesuatu. Ia hanya perlu bersabar hingga sahabatnya mau menceritakan seperti dirinya. Ia pun mengambil langkah cepat sebelum sahabatnya larut dalam pikirannya sendiri.
Kan disini aku yang curhat, kenapa yang terlihat cemas Jessica?!
“Ah Jes….?” “Hmm… Pink??” Kata mereka serempak, mereka pun saling melempar senyum dan seraya tertawa.
“Ah… kau dulu saja Jes, ada apa?” kata pink antusias mengambil posisi menyimak.
“Hm….”
“Iya?” Lama menantikan perkataan Jessica, Pink pun menepuk pelan bahu Jess. Gadis itu tersadar dan tertawa kikuk di hadapan Pink.
“Ada apa Jes, kamu mau berkata apa? Katakan saja,. Hmm??”
Hah… Sebenarnya apa yang akan kau sampaikan Jes? Membuatku menunggu begitu lama hanya untuk mendengar desahan nafasmu. Gerutu pink tidak sabar.
Ia pun dengan sigap berdiri dan menyalurkan tangannya untuk sahabatnya.
“Ayo… sudah sore, kamu pasti dicariin orang tuamu”
“Ah.. Maaf pink, aku bingung” “Sudah tak apa, kalau sudah siap ceritakan saja. Dan terima kasih karena mau mendengarkan ceritaku” Ucap Pink sambil tersenyum hangat.
Sebenarnya Pink begitu penasaran dengan apa yang akan disampaikan sahabatnya tersebut, tapi dia tak ingin memaksakan egonya dan membuatnya tertekan. [Huhuhu… Baik sekali kau pink]. Mereka pun berjalan beriringan keluar dari taman pinggiran kota yang tak jauh dari rumah gubuk Pink, disana mereka melihat bahwa supir pribadi Jessica sudah menunggunya.
“Ah…. Aku pulang dulu ya Pink, kalau ada apa-apa cepat kabari aku, dan bagaimana dengan ponsel mu? Apa sudah selesai diperbaiki?”
“Ah…. Aku lupa menanyakannya, nanti aku coba datang ke counter-nya” “Baiklah, kalau ada apa-apa jangan sungkan untuk meminta bantuanku oke” Ucap Jess sambil mengangkat jari kelingkingnya.
“Iya janji” Jawab pink seraya menautkan kelingkingnya dengan kelingking sahabatnya.
Ia melihat Jess memasuki mobil dan berlambai kearahnya. Ia pun segera memasuki pondok mungilnya dan merebahkan diri di atas sofa kecil di ruang tengah. Sebenarnya ia masih penasaran dengan apa yang akan disampaikan Jessica, tapi dia tak berani menanyakannya. Ia masih jelas mengingat ekspresi Jessica saat ia
mengatakan hal tentang liontin ini.
Pink pun segera mengganti pakaiannya dan bergegas keluar rumah untuk mencari makan malam dan melihat keadaan ponselnya. Sebenarnya ia tidak begitu membutuhkan ponsel itu, tak ada yang menelpon atau pun yang mengiriminya pesan kecuali sahabat dan rekan kerja part-time nya.
[Kasihan sekali kamu pink, nanti author chat ya… huhuhu]
“Ah…. Padahal damai sekali tanpa kehadiran ponsel itu”
“Hei Pink….. ngapain bengong di pinggir jalan sore-sore gini, awas kesambet hantu tampan lo”
“Heh…. Mana hantu tampannya?” Ucap pink sambil melihat kanan dan kiri.
“Ini didepanmu” kata Ardo sambil memasang tampang sok keren.
“Dih…. Mau disebut hantu?? Kebanyakan halu kamu do” ucap pink sambil berlalu.
“Sedikit baik hatilah kamu dengan ku pink” katanya sambil memasang wajah sedih. “Iya Ardo, ada apa?”
“Tidak ada, aku hanya kebetulan jalan dan melihatmu. Kalau begitu aku cabut duluan ya” Ucapnya sambil berlalu.
Aneh,,, pasti ada maunya.. Pink pun kembali berjalan menuju counter untuk mengambil ponselnya yang sudah tertahan cukup lama di reparasi itu.
Dibalik pohon besar itu, pria berjas hitam itu pun tersenyum dan segera pergi dari tempat itu.
*******
Disisi lain di sebuah rumah lantai dua di komplek perumahan. Gadis itu berbaring di atas kasurnya dan mencoba mengingat kembali semua cerita sahabatnya tadi. Tangannya terulur untuk mengambil benda kotak kecil yang tersimpan rapi dalam laci meja riasnya. Perlahan ia membuka kotak itu dan menyentuh isinya.
Ia mengambil benda itu dan melihat sebingkai foto yang diletakkannya disisi lain meja riasnya. Gambar dua orang gadis kecil yang sedang tertawa riang dibawah pohon rindang dipinggiran taman kota. Menggambarkan bahagianya saat itu, saat dimana kedua orang tua sahabatnya masih ada dan mereka menghabiskan waktu liburan untuk piknik bersama di taman itu. Ia pun kembali melihat benda kecil itu seraya berucap
“Maaf Pink, harusnya aku katakan sejak dahulu….”
Oke sampai sini dulu ya… maaf kalau ceritanya kayak bola ruwet, maklum masih tahap belajar. Author Cuma mau memperjelas dulu konflik yang terjadi di dalam cerita. Minta dukungannya ya teman-teman biar authornya rajin untuk update part-part yang lainnya. Jangan lupa untuk like dan komennya ya… ditunggu.