Pink

Pink
Part 4



Saat ini aku -pink- duduk bersama dengan nenek Xandra dan Lex dikursi panjang depan rumah nenek Xandra. Hari sudah beranjak gelap, matahari pun mulai menyembunyikan sinarnya dibalik pegunungan di ufuk barat, sedangkan para penduduk sudah kembali kerumah masing-masing, menyisakan gelapnya malam yang tenang dan tentram.


"Hei, Pink. Dari tadi kau melamun terus ada apa?" Tanya Lex tiba-tiba.


"Eh, tak apa, aku hanya menikmati malam yang tenang ini." Ku lirik nenek kembali asik dengan rajutannya. Lex hanya mangut-mangut mendengar jawabanku dan dia pun kembali membenarkan busur panahnya.


"Nak, nenek sampai lupa, bagaimana kamu bisa sampai disini?" tanya nenek Xandra kepadaku.


"Aku pun tak mengerti nek, secara tiba-tiba liontin yang aku pakai menarikku kemari." Jawabku jujur


Nenek pun memperhatikan liontin itu dengan seksama dan tiba-tiba bangkit dari kursi goyangnya.


"Pink,  Apa kamu tahu ini liontin apa nak?" Tanya nenek antusias. Aku hanya menggelengkan kepala tanda tak tahu.


"Ini adalah salah satu benda bersejarah dari negeri jauh, orang-orang disana menyebutnya portal ruang dan waktu. Tidak sembarang orang yang dapat menggunakannya. Hanya orang-orang terpilih dan memiliki jiwa suci yang dapat menggunakannya." Jelas nenek


"Aku masih tak mengerti nek, aku mendapatkannya di rak tempat penyimpanan barang gudang tempat aku bekerja paruh waktu. Aku pun tak tahu itu milik siapa, aku hanya menemukannya bersinar dan memanggilku untuk aku ambil, entah kenapa mengingatkanku pada kedua orang tuaku yang sudah tiada" Tuturku sedih


Nenek pun mendekat dan duduk disampingku.


"Dengar Pink, nenek memang tidak tahu apa yang sebelumnya menimpamu, tapi ingatlah satu hal. Kamu adalah yang terpilih, kamu memiliki jiwa yang suci, banyak hal yang nantinya akan kamu hadapi. Menurut nenek kamu adalah anak yang kuat dan berani." Kata nenek Xandra menasihati.


Seketika tangisku pecah, sudah lama tidak ada lagi yang mendekapku seperti ini. Seakan semua bebanku terangkat sepenuhnya. Malam ini dihadapan orang yang bahkan belum aku kenal 24 jam. Aku menceritakan beban yang selama ini kupikul sendiri. Lega, Itulah yang kurasakan saat ini. Seperti kembali memilki sandaran dan penopang hidupku. Aku pun juga tak tahu apa yang akan terjadi nantinya. Jalani dan hadapi saja apa yang nantinya akan terjadi.


#######


"Biarkan dia istirahat dikamar tamu malam ini Lex dan jangan mengganggunya. Dan segeralah istirahat,"


"Baik nek"


Kudengar sayup-sayup percakapan nenek dan Lex sebelum aku benar-benar terlelap dalam tidurku.


Putri Cahaya, Bangunlah


"Emmm... Siapa?? Aku masih sangat mengantuk"


"Putri Cahaya"


"Baiklah, aku bangun" Kataku sambil memaksa mataku untuk terbuka sepenuhnya. Terasa benar-benar berat mataku untuk dibuka, mungkin karena aku habis menangis dan tanpa sadar hingga aku tertidur aku masih menangis. Seketika cahaya terang putih kembali memenuhi pupil mataku. Sontak aku kembali menutup mataku.


Ugh, Kenapa susah sekali membuka mata batinku.


"Sayang bangunlah, mama disini"


Sontak aku membuka mata dan benar mama ada disampingku. Apa aku bermimpi? Apa ini hanya imajinasi yang kuhasilkan karena terlalu rindu dengan keluargaku?


"Tidak sayang, mama memang disini, maaf kan mama karena tidak cepat-cepat menemuimu,  pasti kamu sangat kesepian." Ucap mama sambil membelai ku.


"Huhuhuhu, Mama" Isakku sambil memeluk mama dan aku kembali menangis.


"Cup.. cup.. Pink kan kuat dan berani, Hem? Mama tidak bisa tinggal terlalu lama sayang, mama cuma mau berpesan, jaga baik-baik liontin yang mama berikan kepadamu. Suatu saat kamu akan menjadi seseorang yang hebat dan bersinar." Tutur mama


"Maksud mama ini? -kataku sambil menunjukkan liontin itu- Jadi mama yang memberikannya kepadaku?"


"iya sayang, jaga baik-baik ya"Kata mama sambil mencium keningku dan menghilang


Kuamati dengan seksama liontin perak yang ada dalam genggamanku. Baru kali ini kuperhatikan liontin putih berbentuk oval dengan ornamen ke emasan. Disudut bawah liontin ada gambar bintang kecil bersinar. Kalau dilihat sekilas, liontin ini terlihat murahan dan biasa saja. Tetapi setelah diamati lebih detail, liontin ini memilki corak yang tidak seperti pada umumnya. Ukirannya indah dan seperti mengandung makna tersendiri. Aku pun mencoba membukanya sekali lagi dan--


Splashhhh....


"Aku ingin kembali pulang."


"Baiklah putri"**


Seketika sekelilingku menjadi putih tak terlihat dan aku kembali terperosok kedalam sebuah lubang kembali.


"Aaaahhhh!! Apa tidak ada cara yang lebih baik? Wuaahhh"


Brukk!! "Aduhh "


Eh,  bukannya ini disupermarket? kok aku masih berada disini? Bukannya aku sudah seharian berada di tempat nenek tadi? kenapa masih siang juga disini? Aneh Tanyaku heran


"Pinkk, Kenapa lama sekali mengambil stock nya?" Kata salah satu pegawai yang lebih senior ditempat ku bekerja.


"Eh, iya kak sebentar" Jawabku sambil membawa satu kardus produk yang baru datang.


"Huaaa, Hari ini begitu melelahkan,  Terasa lebih panjang dari pada hari-hari biasanya." Keluhku


Kalau dipikir ulang, waktu yang kuhabiskan disana lebih singkat dari pada dibumi. Seakan satu menitnya satu jam disana. Apa mama cuma bisa menemuiku disana juga ya?


Memang banyak hal yang tak kkuketahui di dunia ini, banyak hal yang sudah terjadi. Tapi apapun itu akan kuhadapi. "Oh iyaa,  Apa nenek dan Lex tidak mencariku ya?"


"Nanti saja lah, aku mau cari sesuatu untuk mengisi perutku dahulu"


Kulangkahkan kaki ku ke dapur mungil disudut ruangan. Semenjak aku hidup sendiri, memang aku mulai terbiasa melakukan semuanya mandiri. Aku tak mau merepotkan orang lain ataupun menggantungkan hidupku pada mereka. Biarlah aku berusaha semampuku.



Sedangkan itu di demensi yang berbeda -Disebuah rumah sederhana-


"Hei, Lex dimana Pink??" tanya nenek khawatir


"Bukannya masih ada dikamar tamu nek?" Jawabku acuh sambil terus menyuapkan makanan ke mulutku.


"Hei.. Tak ada siapa-siapa disini. Apa dia sudah pergi?" Kata nenek sambil berjalan ke arah meja makan.


"Sepertinya begitu nek, nanti Lex tanyakan pada pink" "Baiklah kalau begitu" Kata nenek mengakhiri


Hah, dasar Pink, kemana perginya dia tanpa pesan apapun. Keluhku.


Memang semalam aku mendengar suara pink berbicara pada seseorang, tapi aku tak berani menintip atau menegurnya. Aku hanya melanjutkan tidurku di ruang tamu depan kamar yang ditempati oleh Pink.


Flashback


"--kamu akan menjadi seseorang yang hebat dan bersinar''"


"Huhuhu!!"


Sayup-sayup suara isak tangis pink dengan seseorang yang bahkan aku tak tahu siapa itu. Kemudian muncul secercah cahaya dari kamar pink.


"Hah! Itu tadi apa?"


Karena penasaran aku berjalan ke arah kamar pink dan yang kutemukan hanya bubuk perak. Pink pergi-


Maaf ya cuma sampai segitu dulu... Ikutin terus ya :)