Pink

Pink
Part 16



Sore itu kami –pink dan pak tua- duduk hening didepan perapian dirumah sederhana itu. Setelah seharian lamanya


kami mengobrol bersama perihal liontin yang aku kenakan. Kami sibuk bergelanyut dengan pikiran masing-masing, hanya suara api yang membara terdengar diantara keheningan yang kami ciptakan. Canggung, aku tak tahu harus bagaimana untuk mencairkan suasana diantara aku dan pak tua yang sudah membantuku.


Rahasia tentang liontin milik mamaku masih menjadi rahasia tersembunyi. Siang itu saat kami mengobrol di


balkon depan rumah pak tua. Setelah aku menceritakan asal-muasal aku bertemu Lex dan nenek Xandra, aku mulai berani menanyakan perihal tentang liontin yang kukenakan ini.


Awal kutunjukkan liontin ini pak tua benar-benar terkejut dengan apa yang ia lihat. Siang itu, ia bertanya.


“Darimana kau dapatkan liontin ini eh?” tanyanya dengan mata yang membelalak menatap ku.


Heran, satu kata itu yang mewakili diriku saat itu. Aku tak tahu harus menceritakan darimana? Karena jujur saja aku mendapatkan liontin ini secara tiba-tiba juga. Karena rasa penasaran yang terus membeban dalam fikiranku, ku ceritakan semua hal tentang liontin ini. Bagaimana aku mendapatkankan nya dan apa saja yang sudah terjadi padaku selama ini.


Awalnya pak tua tidak mengerti yang kuucapkan, tapi lambat-laun ia termangut-mangut mendengarkan penjelasanku. Diam dan memperhatikan secara mendetail semua hal yang aku ceritakan. Pak tua adalah pendengar yang baik, ia tak menyela penjelasanku mengenai liontin ini. Ia hanya diam mendengarkan. Sebenarnya aku penasaran dengan apa yang ia pikirkan tentang liontin ini.


“Begitulah ceritanya pak, apa pak tua tahu sesuatu tentang liontin ini?” tanyaku gugup berharap pak tua akan menjawabnya.


Kulihat jemari pak tua yang mengetuk-ngetuk ke lengan kursi dimana ia duduk sambit terus termangut-mangut


menatap datar kedepan. Seakan menerawang jauh dan memikirkan sesuatu. Pak tua tidak menjawab pertanyaanku, dan kuputuskan ia masih memikirkan nya.


Aku hanya diam mengikuti pak tua hingga sore ini, pak tua masih mengunci rapat bibirnya. Seakan liontin ini


memiliki rahasia besar tersembunyi. Aku benar-benar penasaran tentang liontin ini, tapi aku takut untuk bertanya pada pak tua. Gumanku dalam hati.


“Ehem..” suara pertama yang pak tua keluarkan setelah keheningan yang tak berpenghujung ini.


Spontan kualihkan pandanganku menatap pak tua. Berharap dengan pasti pak tua akan membuka mulutnya. Ternyata pupus sudah harapan itu. Pak tua kembali mengunci bibirnya, seakan enggan mengatakan


apapun.


Keheningan itu kembali menyelimuti atmosfer diruangan itu. Aku diam tak bergeming. Sebenarnya, sudah


gatal mulut ini, ingin segera bertanya apa yang sebenarnya terjadi, tapi aku tak berani. Uhh, Lex dimana sih? Kapan dia kembali? Canggung baget nih. Gerutuku lagi dalam hati.


Hingga tak tau kapan aku tertidur diatas sofa depan perapian itu, yang kuingat saat aku terbangun aku sudah tidur


nyaman disebuah kamar kecil dengan interior sederhana. Kuedarkan pandanganku menatap sekeliling, masih dalam keadaan setengah sadar karena bangun tidur. Kamar ini tak terasa asing, interior dan nuansanya terasa familiar.


“Ini dimana?” tanyaku tiba-tiba.


“Oh, kau sudah bangun Pink? Ayo, segera bersihkan dirimu dan kita sarapan bersama, pak tua sudah menunggu mu.” Kata seorangan pemuda yang tak lain adalah Lex. Ia tiba-tiba menyembulkan kepalanya dari pintu yang terbuka sedikit itu. “Ayo buruan jangan bengong aja” hardiknya lagi.


Dengan sedikit menggerutu akhirnya ku indahkan perkataannya. Buru-buru aku beranjak dari kasur itu dan berjalan


menuju toilet kecil di pojok ruangan. Selesai membersihkan dan merapikan penampilanku, aku berjalan keluar dan mendapati Lex dan pak tua yang sedang duduk di meja makan menunggu kedatanganku.


Perlahan aku mendekat kemeja makan yang hanya memiliki empat kursi dengan sebuah meja bundar yang menjadi


porosnya. Segera aku menarik sebuah kursi kosong dan menjatuhkan pantatku diatasnya. Menatap horror bubur yang tersaji didepanku.


Termenung sesaat dan melirik kearah Lex seakan mengatakan. “INI APA LEX?” Lex hanya menanggapiku dengan tawa kecil. Sungguh ini pertama kalinya aku melihat bubur berwarna biru. Apa ini bisa dimakan? Gumanku dalam


hati. Tapi perut ini sudah sangat lapar dibuatnya. Ini apa?


“Hei pink, lekaslah habiskan sarapanmu, bubur itu tidak akan berjalan sendiri kedalam mulutmu.” Hardiknya sambil


menyuapkan beberapa suap bubur kedalam mulutnya. Aku hanya menatapnya horor masih enggan menyentuh makanan yang tersaji dihadapanku.


Nasib ternyata sedang tak berpihak padaku, perutku sudah mulai mendemo karena lapar. Memang benar semalam


aku belum sempat makan, karena tertidur diatas sofa. Aku bahkan tidak tahu siapa yang memindahkanku kedalam kamar itu.


Dengan berat hati kusuapkan sesuap bubur itu kedalam mulutku, berharap semoga tak terjadi apa-apa dengan


diriku. Benar saja, bubur ini terasa sangat lezat, walau tak terlihat seperti itu jika dilihat dari bentuk dan warnanya. Bayangkan saja, bubur ini berwarna biru terang dengan tekstur yang lebih mirip dengan air kental. Benar-benar cair


untuk kadar bubur ditempatku.


Memang benar kita tak boleh menilai sesuatu hanya dari bentuk luarnya saja. Walau bubur ini tak terlihat


lezat dimataku, tetapi terasa lezat di lidahku. Seakan menemukan menu favorit di tempat ini.


“Bagaimana enak kan?” Tanya Lex tiba-tiba. Aku hanya menganggukkan kepalaku sebagai jawaban aku menyetujui


pertanyaan nya.


Tak butuh waktu lama, makanan kami telah kandas tak tersisa. Pak tua terlihat diam menikmati makanan nya, ia


sama sekali tak merespon perkataan Lex. Pagi ini Lex terlihat begitu bersemangat. Apa tugasnya berjalan lancar?


Dan dia dapan menyelesaikan nya dalam waktu semalam saja? Hebat. Gumanku lagi.


Selesai makan, kami masih duduk di meja makan itu, aku sudah membereskan semua bekas sarapan kami. Walau sebelumnya, ada sedikit perkelahian kecil anatara aku dan Lex yang memperebutkan siapa yang akan membereskan bekas makanan nya. Pak tua sudah pergi beberapa menit yang lalu, ia pergi begitu saja. Hanya menyisakan kami berdua dimeja makan ini. Hening, kembali menyelimuti kami.


“Jadi bagaimana? Apa kau sudah tahu sesuatu tentang liontin itu?” Tanya lex tiba-tiba.


“Hum, belum pak tua belum mengatakan apapun perihal liontin ini” Ucapku sedih.


“Tunggu saja, nanti pak tua juga bakal cerita eh” katanya lagi.


“Oh iya, apa kau sudah selesai dengan tugasmu?” tanyaku penasaran.


Spontan Lex tertawa keras, seakan pertanyaan yang kulontarkan adalah sebuah lelucon. Aku hanya menatapnya heran.


“Ya udah eh, kalau belum kenapa aku ada disini kan?” jelasnya dan hanya kujawab dengan anggukan kecil. “Lagipula tugasku kemarin bukanlah hal yang berat, aku hanya disuruh mencarikan setangkai bunga dari tanaman berduri” jelasnya lagi.


Ia mengatakan padaku bahwa ia cepat melakukan tugas itu karena sudah tau dimana letak tanaman berduri itu. Ya,


di lembah tempat dimana kami bertarung kemarin. Ia juga menjelaskan bahwa, nanti ia akan mengajakku ke perpustakaan besar yang ada dipusat kota. Sembari menunggu penjelasan pak tua. Aku hanya mengiyakan sebagai tanda setuju.


Setidaknya mungkin aku akan menemukan hal menarik dari liontin ini.


Gumanku lagi.


Halo semua, maaf ya nara slow update. Tapi tetap ikuti kisah petualangan Pink ya.. Jangan lupa like, rate, dan komen. Boleh kalau mau kasih sedikit tips buat authornya..hahaha.. papay semua.