
Kebanyakan masa SMA selalu menjadi masa yang paling menyenagnkan, tapi tidak bagiku. Karena hingga saat ini aku tidak merasakan adanya hal yang istimewa dimasa-masa ini. Bahkan terkadang orang-orang yang berada di sekitarku menatapku dengan tatapan aneh, entah apa yang mereka pikirkan aku tak begitu peduli. Toh ini hidupku, mau banget mereka mengurusi hidupku. Hello... kayak gak sadar hidup mereka gimana, Huh.. !!
Oke, kalian boleh memanggilku pink, aku juga gak tau kenapa orang tua ku dulu memberiku nama dengan nama warna, yah mungkin ada makna tersirat dibaliknya. But I don't really care about it 😒. Aku hidup sendiri di sebuah pondok munggil di tepi jalan, dekat SMA tempatku belajar. Yah... kalau kalian melihat pondok kayu kecil, yang didepannya di tanami bunga-bunga krokot (bunga-bunga kecil warna-warni) kalian boleh mampir kok, cuma hanya ada air mineral aja yang bisa ku berikan.
Aku ditinggalkan oleh kedua orang tuaku ketika aku masih duduk dibangku kelas 8, orang tuaku bekerja di sebuah perusahaan yang mereka rintis bersama dari awal. Mereka adalah orang yang sangat gila bekerja, bahkan bisa dihitung berapa kali dalam sehari aku dapat bertatap muka dengan kedua orang tuaku. Mereka selalu berangkat kerja pagi-pagi buta dan pulang sangat larut. Yah, aku tak pernah menyalahkan pekerjaan mereka, Toh, mereka juga bekerja untuk membiayaiku.
Waktu itu ~~
Ditengah derasanya hujan, aku yang masih duduk termenung di ruang tamu menunggu kedatangan orang tuaku. Ini sudah cukup malam dan mereka belum juga kembali ke rumah. Karena rasa penasaran dan kekhawatiran yang melandaku, aku pun memutuskan untuk menelpon mama ku. Sejujurnya aku cukup khawatir dengan keadaan mereka. Semoga tidak ada hal aneh yang menimpa mereka. Doaku dalam hati.
Tuuut, tuuut,tuut.
"Halo, Ma, Pa, kenapa masih belum pulang?" tanyaku tepat setelah nada sambung telepon berhenti.
"Sebentar ya sayang, masih ada meeting mendadak, mama belum bisa pulang sekarang. Kamu baik-baik di rumah ya" Pesan mama kepadaku. "Baik ma"
Selalu seperti ini, huh~ aku memang hidup dengan segala yang aku mau, tapi kesepian selalu menghantuiku ku, coba bayangkan dirumah yang cukup luas dan aku hanya ditemani oleh beberapa pekerja dirumah. Mana mereka udah pada tua, Menyebalkan.
11.00 PM
Kekhawatiran kembali datang menghampiriku. Kenapa belum pada pulang, ini sudah begitu larut. Jujur malam itu aku sama sekali tidak bisa tidur nyenyak, hujan sudah berhenti 2 jam yang lalu. Tapi, udara dingin terasa jelas menyentuh kulitku.
Tak lama waktu berselah, kulihat kilatan cahaya lampu mobil yang masuk memasuki pekarangan rumah. Dengan berlarian kecil aku membuka pintu depan. Kulihat wajah lelah mama dan papa, tapi mereka masih tersenyum melihatku. Aku pun membalas senyuman mereka dengan memeluk mama.
"Aku kangen mama dan papa" Jawabku jujur. "Ya sudah, malam ini kita tidur bertiga yuk." Usul mama.
"Wah.. beneran ma?"
"Iya sayang" kata mama sambil mencium pipiku.
Walau aku sudah remaja, terkadang orang tuaku masih saja memperlakukanku bagaikan anak kecil. Dalam dekapan mama, kami berjalan menuju lantai dua kamar mama dan papa. Aku langsung menjatuhkan tubuhku di atas kasur King Size itu. Kulihat orang tuaku berjalan menuju ruang ganti, untuk mengganti pakaian mereka dengan baju tidur. Malam ini, aku tidur bersama orang tuaku. Bagaikan anak berusia 5 lima tahun yang tidur diapit oleh kedua orang tuanya disisi kanan dan kiri. Love you mam, dad. Ucapku sebelum kami masuk dalam alam mimpi.
01.00 AM
Aku merasakan keringnya tenggorokanku, aku pun turun dari tempat tidur dengan perlahan berharap agar tidak membangunkan kedua orang tuakan dan berjalan menuju dapur. Dalam keadaan setengah sadar, terlihat siluet bayangan orang berlari dari halaman belakang rumah. Karena penasaran aku berjalan mengendap-endap menuju halaman belakang dan tak ada siapapun disana. Belum genap rasa heran yang bergelut dalam pikiranku. Tiba-tiba aku dikagetkan oleh suara teriakan mama.
"Aaarrgggg..!!!." Terdengar lengkingan suara teriakan dari kamar orang tuaku. Aku pun segera berlari tergopoh-gopoh menuju lantai dua kamar orang tuaku, sesampainya disana kulihat kedua orang tuaku terkapar tak sadarkan diri. Dilantai dekat jendela yang mengarah ke arah halaman belakang rumahku. Tanpa babibu, aku berteriak minta tolong. Berharap ada orang yang mendengar teriakan. Aku pun berlari menuju tempat dimana kedua orang tuaku jatuh tak sadarkan diri.
Bersamaan dengan itu, terdengar suara ledakan yang begitu keras dari arah lantai dasar. Dengan keadaan berlinang air mata, aku memeluk kedua orang tuaku sambil menangis tersedu-sedu. Tanpa kusadari ada seseorang yang berdiri dibelakangku. Dengan satu ayunan tangannya, dia memukul telak bagian tengkukku hingga aku tak sadarkan diri dan ikut terkapar di sebelah mama dan papa. Gelap, semuanya gelap, hanya terdengar sayup-sayup seseorang berbicara pada ku atau pada kami.
Apa tidak ada orang yang akan menyelatkanku dan orang tuaku?!
# Sampai disini dulu ya teman-teman\, mohon dukungannya... Selamat membaca\, terima kasih sudah mampir ke novel Pink. Salam hangat Nara_Chan .