Pink

Pink
Part 11



Di padang rumput yang sejuk dikelilingi oleh pepohonan yang rimbun dipinggiran desa Sparkle. Dua remaja itu tengah asik dengan latihan yang sudah seperti rutinitas disetiap siang menjelang sore. Gadis itu dengan memasang kuda-kuda yang kokoh, ia mulai merentangkan busurnya. Mata nya tajam menatap target sebuah lingkaran merah di salah satu pohon yang cukup jauh dari pandangan mata. Seluruh kekuatannya ia kerahkan dan pusatkan pada satu titik di anak panahnya.


Syuuutt…. Tak!!!


Seketika bola matanya membelak takjub, akhirnya setelah kerja keras dan latihan rutinnya ia dapat mengenai tepat di tengah lingkaran merah itu. Sontak ia berteriak histeris dan melompat setinggi-tingginya sambil mengepalkan tanganya dan bersorak “Yess, Finally!!!”


“Wow… Bravo Pink,… kau cepat belajar.. Hebat” puji Lex


“Hahaha… ini juga karena kamu mau bantu aku, makasih banyak ya Lex..” Ucap Pink tulus sambil tersenyum ke arah Lex.


“Hei.., tak masalah… aku senang kok bisa bantu kau” Katanya sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


Mereka pun menyelesaikan latihan mereka sore ini lebih cepat dari pada biasanya, yaps, karena Pink kali ini berhasil mengenai sasara lebih dari 3 kali. Hal ini sudah membuktikan bahwa kemampuan memanah Pink sudah meningkat, selain itu, cahaya terang yang dihasilkan dari energi dalam Pink sudah dapat dikatakan lebih dari cukup hanya untuk seorang pemula.


Rutinitas mengasah kembali kemampuan Pink ini, sudah ia tekuni selama dua pecan terakhir ini. Semenjak ia mendatangi pusara orang tuanya dan bertemu dengan mama nya saat itu. Ia berharap dengan nya bertambah kuat di dimensi ini, ia dapat menyusun kembali kepingan puzzle ingatannya dan kemampuan rahasia yang di simpan mamanya rapat hingga saat ini.


Desa Sparkle mulai terlihat, warga desa pun mulai membersihkan peralatan berkebun mereka dan beranjak pulang ke rumah masing-masing. Satu dua orang yang mulai mengenal Pink dan menerimanya di desa Sparkle menyapa nya. Tak jarang mereka memberikan Pink makanan ataupun jajanan tangan buatan mereka untuk Pink, seusai latihannya.


“Eh…, kalian pulang lebih cepat hari ini, selamat datang Pink, kamu pasti lelah. Mandilah dan makan malam, nenek tunggu kalian di meja makan”


“Baik nek, terima kasih banyak. Pink merasa mendapatkan keluarga baru disini”


“Kita kan memang keluarga Pink” Timpal Lex sambil berlalu mendahuluinya.


Pink dan nenek Xandra hanya bertukar senyum dan melanjutkan aktifitas mereka. Tak lebih dari lima belas menit Pink membersihkan dirinya, sekarang ia sudah duduk manis di ruang makan keluarga. Lex lebih dahulu mengambil jatah makan malamnya. Perlu kalian tahu, disini semua makanan terbuat dari gandum, apapun olahannya berasal dari gandum. Nenek Xandra sangat pintar dan terampil, setiap hari ia membuatkan makan malam yang berbeda-beda walau berbentuk sama. Tapi cita rasa yang dihasilkan sangat enak dari pada bentuknya yang mirip dengan bubur.


“Lex, kepala desa tadi memberi tahu nenek, kalau besok kamu diminta oleh kepala kota untuk pergi ke pusat kota” Kata nenek memberikan pesan dari kepala kota*


“Oh… baiklah”


“Hm.. ke pusat kota? Apa aku boleh ikut?” Tanya Pink


“Tentu saja sayang, nenek baru akan menyuruh Lex untuk mengajak mu, disana ada seorang ahli batu ukir, kamu bisa bertanya padanya tentang asal usul liontin mu itu nak” Ucap nenek Xandra sambil mengusap kepalanya.


“Wah.. terima kasih nek” “Lex kenal orang tua itu, Hei… Lex kau ajak besok Pink menemui orang tua itu” Suruh nenek Xandra


Lex pun hanya mengiyakan sambil mengangguk.


*******


“Ayo… kau sudah siap kan? Tak ada yang tertinggal?” Tanya Lex sekali lagi untuk memastikan.


Aku hanya menjawabnya dengan menggelengkan kepala, tanda tidak ada lagi barang yang tertinggal. Kami pun berpamitan pada nenek Xandra dan bersiap untuk berangkat. Nenek Xandra hanya berpesan untuk berhati-hati dengan tanaman berduri. Meski aku tak paham dengan maksud nenek Xandra, tapi aku hanya mengiyakan dengan menganggukkan kepala.


Perjalanan yang kami tempuh bisa dibilang jauh dari kata aman, sepanjang perjalanan banyak hewan-hewan liar yang mungkin entah kapan bisa menerkam kami sewaktu-waktu kami lengah. Walau begitu pemandangan yang diberikan begitu indah dan jarang Pink temui di tempat tinggalnya.


Waktu


sudah beranjak siang, kami pun telah sampai di sebuah lembah yang cukup tenang dari pada hutan yang sebelumnya kami lalui. Lex pun memutuskan untuk beristirahat sejenak dan membuka bekal yang sudah disiapkan oleh nenek Xandra. Selang beberapa menit kami menyantap makanan kami, tiba-tiba Lex bendiri dan mengambil pedangnya, memasang kuda-kuda awas. Aku pun spontan berdiri dan mengambil busur dan anak panah yang tergeletak tak jauh dariku.


Lima menit berselang, mata Lex awas melihat sekitar. Aku pun ikut waspada dan memasang kuda-kuda siap bertarung dengan apapun yang akan menyerang kami. Wala aku juga tak mengetahui apa yang dirasakan oleh Lex sehingga ia memasang wajah awas tersebut.


Srekk


sreek…


Semak-semak yang berada tak jauh dari tempat ku berdiri bergoyang. Menandakan adanya hewan atau seseorang yang tengah bersembunyi. Lex pun mengambil langkah didepanku. Ia berbisik untukku agar mempersiapkan anak panah saat Lex mengatakan tembak.


Pluk..


Seekor hewan kecil pun melompat dari persembunyiannya dan aku terlanjur terkejut melepaskan anak panahku, tepat mengenai hewan tersebut. Aku pun membelakkan mata takjub serta ngeri dengan apa yang ada didepanku.


Hewan kecil yang aku kira kelinci itu tiba-tiba membesar menyerupai monster kelinci besar. Lex pun bergegas mengayunkan pedangnya dan menebas tubuh raksasa hewan itu.


“Kau tak apa Pink?” Tanya Lex khawatir


“Aku tak apa…” Jawabku jujur.


Kami pun melanjutkan perjalanan yang tertunda itu, dalam benakku aku masih terpikirkan hewan itu, kenapa bisa menjadi sangat besar? Apakah itu bentuk aslinya? Banyak pertanyaan yang ingin kutanyakan pada Lex, tapi aku tak mau menggangu nya yang fokus mencari jalan untuk kami lewat. Kalau kalian mau tahu kami kembali memasuki hutan dengan tinggi rumput mencapai dada.


*catatan: di pusat kota, kepala kota yang dimaksud sama hal nya dengan walikota dan mereka menyebutnya kepala kota.



Sampai sini dulu ya… jangan lupa dukung authornya agar rajin up novelnya… see you..