
Hari beranjak sore dan mahatari mulai kembali bersembunyi diufuk barat, mega merah pun mulai terlihat. Hewan-hewan noktural mulai terlihat memulai aktifitasnya. Seorang gadis berseragam putih abu-abu itu tampak terlidur disebuah ayaunan kayu di halaman rumah mewah.
Wajah lelahnya terlihat jelas, bahkan raut kesedihan terukir nyata di wajah cantiknya. Hampir setiap tahun, selepas ia berkunjung ke makam kedua orang tuanya ia selalu tertidur di ayunan itu. Belum ada keberanian dalam dirinya untuk masuk ke dalam rumah mewah itu.
Memang rumah itu tetap bersih dan rapi, karena ia juga tahu setelah kejadian kebakaran yang hampir menghanguskan setengah rumahnya dan membakarnya hidup-hidup beberapa pembantu setia keluarganya enggan berhenti. Walau mereka tahu anak majikannya itu sudah tidak memiliki apapun untuk membayar upah mereka.
Karena kesetian mereka kepada sang majikan yang dahulu merawat mereka ketika mereka berada dalam kesulitanlah yang membuat mereka mengatur sebuah jadwal untuk tetap membersihkan rumah besar itu dan merawat tanaman-tanaman nya.
Sebuah tepukan hangat dipundak gadis itu, sontak membuatnya terbangun dari mimpi indahnya di sore hari. Dengan perlahan ia membuka matanya dan duduk sesaat, merajut kesadarannya. Ia pun melihat sekeliling dan tersadar bahwa hari mulai gelap. Ia tertidur lagi.
“Maaf bi, pink tertidur lagi” ucapnya lemah masih terduduk di ayunan.
“Kenapa tidak masuk aja putri? Kan putri juga membawa kunci rumah?” tanya wanita paruh baya itu, yang tak lain adalah salah satu pembantu gadis itu yang sedang dalam piket membersihkan rumah sore ini.
“Tidak bi, kapan-kapan saja. Pink pamit dulu ya bi” Kata pink sambil berlalu.
“Tunggu putri, ini bibi bawakan nasi dan lauk, bisa putri makan dipondok putri”
“Terima kasih banyak bi” jawab pink dan berlalu dari rumah itu.
Sebenarnya pink sudah beberapa kali memberi tahu mereka bahwa tak perlu datang kembali membersihkan rumah itu. Tetapi mereka selalu menyangkalnya dengan kalimat “Ini adalah bentuk balas budi kami ke keluarga putri” itulah yang membuat pink tidak enak hati dan menyuruh mereka berhenti. Tapi ya sudahlah, toh mereka juga tak minta apapun kepadanya.
Begitulah setiap saat ia pulang dari makam kedua orang tuanya. Rasa lega tapi juga sesak di dada yang selalu ia rasakan. Lega karena sudah menceritakan segalanya ke orang tua nya, sesak karena ia terus terbayang dengan bayangan masa lalu nya.
Perjalanan dari rumah lama nya ke rumah yang sekarang ia tempati memang tak memakan waktu yang lama. Karena rumah nya yang sekarang memang terletak dipersimpangan jalan terakhir dari rumah lamanya. 20 menit waktu yang ia lalui agar sampai ke rumah pondoknya.
*****
“Ugh...lelahnya.. hari yang panjang.” Kata pink sambil menghempasakan dirinya ke sofa kecil di ruang tamu mininya. Setelah duduk sejenak selama 5 menit, ia pun berjalan ke arah dapur mini disudut ruang. Mulai membuka bingkisan dari salah satu pembantu rumah tangganya dulu (pengasuhnya ketika ia masih kecil).
Terlihat dua kotak makanan dengan warna yang berbeda, putih dan coklat. Ia pun membuka dua kotak itu dan memindahkannya ke piring. Dalam diam gadis itu mulai melahap makan siang dan makan malam nya. Sebenarnya, ia benar-benar bersyukur karena bibi yang merawatrnya masih peduli kepadanya.
Jam pun menunjukkan pukul 8 malam, pink mulai beranjak dari ruang makan dan membersihkan sisa makannya. Ia berjalan ke arah kamarnya yang terletak disebelah kanan ruang tamu.
Ia berjalan mendekat ke arah jendela kamarnya menghirup sedikit udara malam, yang cukup melegakan pernafasannya. Seakan mengisi kembali oksigen didalam paru-parunya yang masih terasa sesak didada.
Hufh... besok aku tidak punya kegiatan, apa yang harus aku lakukan ya? Hmm... ahh.. tak tau lah, lebih baik aku beristirahat malam ini dan mulai memikirkannya esok hari, aku benar-benar lelah. Ucap pink dalam
Gadis itu mulai berjalan ke arah tempat tidurnya yang munggil single bed ya karena ia tinggal sendiri dirumah pondok ini, jadi segalanya minimalis. Ia menghempaskan tubuhnya di kasur yang cukup empuk dan nyaman itu. Memandang sebentar ke langit-langit kamar yang ia pasangi lampu-lampu led warna hijau berbentuk bintang dan bulan.
Tidak butuh waktu yang lama ia pun terlelap dalam mimpinya. Berharap bahwa esok hari, semuanya akan baik-baik saja. Berusaha melangkah sendiri dan meyakinkan dirinya bahwa ia mampu serta untuk membuktikan pada mama dan papa nya bahwa ia baik-baik saja.
***
“Huff... Huff... aku benar-benar lelah Lex” ucap pink sambil tersenggal-senggal
“Ayolah pink, kau bahkan belum kembali ke titik awal kau berlari” kata Lex mengejek, “Baiklah kau boleh istirahat, tapi jangan kau ulangi lagi” imbuh Lex pada akhirnya. "Oke" jawab pink sekenanya.
Gadis itu pun juga menjawabnya dengan cengiran khas nya dan langsung menjatuhkan tubuhnya diantara rerumputan yang empuk dipadang rumput tempat mereka latihan ini, bukan tempat Lex menghukumnya.
Memang Pink memutuskan untuk kembali belajar memanah lagi, sejak ia lulus dari Sekolah Dasar ia sudah tidak pernah memegang busur panah lagi. Mama dan papa nya menganjurkannya untuk belajar tentang bagaimana mengurus perusahaan dan sebagainya. Hal itu sangatlah membosankan baginya.
Teknik dasar yang ia kuasai dulu seakan melebur, ia benar-benar seperti orang awam yang baru belajar menggunakan busur panah. Bahkan diawal ketika ia meminta bantuan Lex untuk mengajarinya memanah lagi ia membuat kesalahan yakni ia melakukan Dry Fire merelease busur panah tanpa anak panah.
Hal itu lah yang membuat Lex menghukumnya untuk berlari keliling padang, alasannya bahwa dia harus gesit dalam berlari juga. Akh.. mana ada alasan macam itu. Memang yang dilakukannya salah, karena mereleas busur panah tanpa anak panah. Tapi bukannya cukup keterlaluan jika ia harus berkeliling padang rumput?
Ia juga baru ingat kalau menarik busur tanpa anak panah nya dapat merusak stringnya atau bisa membuatnya putus. Karena busur pada saat ditarik akan memiliki energi tersimpan yang cukup besar. Ketika direlease tanpa anak panah, energi tersebut tidak tersalur dan kembali "menghantam" busur tersebut. Apalagi tanpa anak panah kecepatan string akan bertambah karena tidak ada beban. Hah tidak bisakah dia sedikit bersabar mengajariku? Keluhku dalam hati.
“Hei kita mulai saja latihannya esok hari? Bagaimana? Kau datang kemari sudah terlalu sore, dan nenek akan marah kalau aku pulang terlambat” jelas Lex
“Baiklah... tapi janji ya besok kau ajarkan aku melesatkan anak panah” kataku sambil mengacungkan jari kelingking
ke arahnya.
“Iya janji” katanya sambil menyematkan jari kelingking nya.
Kami pun berjalan melintasi padang rumput dan pulang ke rumah nenek Xandra. Aku belum terlalu memahami bagaimana cara kerja liontin ini dan perbandingan waktu di dimensiku, karena pada saat aku tiba disini keadaan sudah siang menjelang sore. Padahal di dimensiku masih pagi hari.
****
oke author luruskan disini, pink ketika masih bersama keluarganya ia memang dipanggil putri oleh seluruh pembantu rumah tangga yang ada dirumahnya. Makanya ketika dipanel awak kemarin papanya menyapa nya dengan sebutan princess, karena ia satu-satunnya anak dari pasangan itu. Dan kehidupannya dulu layaknya seorang putri. :) oke papay semua,,, jangan lupa like, komen sama votenya yak.. hahaha