
Splassshhh
Ugh, Ini dimana? kenapa aku gak bisa melihat dengan jelas? mana jalannya terang banget pula. Keluhku dalam hati. Tepat setelah aku membuka liontin itu muncul sebuah cahaya yang sangat terang hingga menghalangi pandanganku, sehingga aku tak dapat melihat dengan jelas.
Aku pun berusaha menyesuaikan banyaknya cahaya masuk kedalam pupil mataku ini, dengan perlahan aku membuka telapak tanganku yang sepat kugunakan untuk menghalau masuknya cahaya berlebih. Setelah merasa bahwa mataku bisa beradaptasi, dengan perlahan kubuka kelopak mataku. Hal pertama yang kulihat adalah sebuah ruangan kosong dengan warna putih yang mendominasinya.
Belum pulih rasa penasaran dalam benakku, tiba-tiba aku dikagetkan oleh suara menggema yang menyapaku dengan intonasi yang ramah. "Selamat datang Putri Cahaya, Semoga perjalanan anda menyenangkan"
"Eh, K-kamu siapa?", tanyaku "Kenapa aku tak melihat seorang pun disini? k-kamu dimana?", Ucapku takut-takut.
Belum genap pertanyaanku tiba-tiba aku terjerumus kedalam sebuah lubang yang ada dibawah kakiku, entah sejak kapan ada lubang dibawah sana. Membuatku terperosok masuk kedalamnya. Seakan aku sedang berseluncur dalam perosotan yang cukup tinggi.
"Wuaaaaaa!"
Bruukk!!
"Aduh, pantat ku sakit sekali, kenapa gak ngomong-ngomong sih kalau ada lubang disitu." Jatuhku terduduk yang pasti membuat pantatku terasa ngilu.
"Waaahhhh, Ini dimana? Bagus banget tempatnya? Halooooo! ada orang disini?" Tanyaku sambil menyusuri tempat asing yang baru saja aku datangi.
Seketika aku disuguhkan pemandangan yang membuatku terkagum-kagum, bahkan aku melupakan nyeri di disekitar pantat ku. Sebuah padang rumput yang luas dengan dikelilingi pohon-pohon sejenis pinus. Banyak bunga warna-warni, dilengkapi pula dengan kupu-kupu yang berterbangan, hinggap satu tangkai bunga ke tangkai bunga lainnya. Aku terjatuh ditengah padang ini. Kalau menitik dari tempatku sekarang, yang pasti ini bukan dikota tempat tinggalku. Sebuah tempat yang mungkin saja terletak didalam hutan. Masih asyik menikmati pemandangan yang disajikan, tiba-tiba seekor rusa berlari kearah padang rumput tak jauh dari tempatku.
Cantik sekali rusa itu. Gumanku dalam hati.
Buuummmm!
Belum habis rasa takjubku menikmati pemandangan yang disajikan, tiba-tiba aku dikagetkan dengan suara dentuman keras dari sisi kanan padang rumput. Reflek seluruh sensor motorik tubuhku menyuruhku untuk menelungkup menghindari bahaya yang ada, bersembunyi diantara rerumputan dan bunga warna-warni dan berharap agar rumput-rumput ilalang itu dapat melindungiku. Jujur aku sangat takut.
Apa ada ******* ditempat secantik ini? Ya tuhan, apa ini waktunya aku bertemu dengan mama dan papa? Huhuhu, Ma, Pa, aku sangat takut. Ucapku dalam gemetar hebat yang melanda tubuhku.
Dalam keadaan masih gemetar, tiba-tiba ada yang menepuk bahuku.
"Huaaaa! Maafkan saya, wahai penunggu hutan. Eh, padang, eh ladang, eh apalah itu. Maaf saya tidak bermaksud mengganggu, saya juga tidak tahu kenapa saya bisa berada disini, maafkan saya, saya-" Ucapku terbata-bata dengan posisi tangan yang mesih melindungi telingaku.
"Pffff! hahahaha, hei kau tak apa? Apa aku mengejutkanmu?" Ucap seorang anak laki-laki yang mungkin seumuran denganku.
"Eh, k-kamu siapa?" Ucapku memastikan dengan ragiu-ragu.
"Hei, jawab dulu pertanyaanku malah balik bertanya, heh!"
"Hehehe, iya saya tak apa, i-iya anda cukup mengejutkan saya" Jawabku sekenanya, emang aku masih terkejut dengan apa yang baru saja terjadi.
Siapa cowok didepanku ini? Dilihat dari penampilannya, ia terlihat aneh dengan mengenakan pakaian ala-ala kesatria perang dikomik-komik dan membawa busur ditangannya. Heranku.
"Hei, namaku Lex, kau bisa memanggilku begitu. Daaann siapa namamu?" Tanyanya heran dengan penjulurkan tangan kanannya padaku.
"Em, namaku Pink" Kataku sambil membalas menjabat tangannya.
Dari informasi yang kudapat dari Lex. Aku berada disebuah daerah yang bernama Sparkle. Dan Lex memiliki kemampuan mengenali bahasa apapun dengan membaca gerak tubuh lawan bicaranya. Ia pun juga dapat memanah dengan jarak yang cukup jauh sehingga mengeluarkkan suara berdentum seperti tadi. Ini adalah sebuah tempat bagi para petarung yang berada diseluruh galaxy. Aku bahkan tidak tau ada daerah macam ini, dan tak pernah sedikitpun aku mempelajarinya disekolah.
"Hei, Kau berasal dari mana?" Tanya nya tiba-tiba.
"Eh, aku berasal dari sebuah kota bernama Alexander. Kau tahu?" Tanyaku balik.
"Dimensi yang lain? A-apa maksudmu?" tanyaku heran.
"Apa kau tidak sadar kalau kau tidak sedang berada dibumi? Kau tahu aku juga memiliki kemampuan sihir dan menilai sesuatu, dan dari pakaian yang kau kenakan, kau berasal dari dimensi yang lain."
Sejenak aku termenung dan menatapnya dengan tatapan menyelidiki.
Apa maksudnya? Dimensi lain? Bukan dibumi? Tapi kenapa tempat ini seperti dibumi?
"Hei, aku tahu kau memiliki banyak pertanyaan di kepala kecilmu itu, ayo nanti aku ceritakan ketika kita sudah sampai di rumahku." Ajaknya sambil menyeretku.
"Eh, t-tidak perlu, aku menginap saja dipenginapan" Tolakku halus
hei, siapa dia? dia bukan orang jahat kan? atau dia mau menculikku dan membohongiku?.
"Hahaha, Tenang saja. Ada nenekku dirumah. Kau aman disana dari pada ditengah hutan menjelang malam ini. Bisa-bisa besok kau sudah tak bernyawa.. Hahaha" katanya seakan membaca kekhawatiranku.
"Gak lucu." kataku sambil mengerucutkan bibirku. "Hahahha, Hei, ini menyenangkan"
Kami pun berjalan menyusuri padang rumput yang semula hijau mulai berganti warna menjadi kekuningan akibat pantulan sinar matahari yang mulai tenggelam dikaki gunung. Rumah Lex tidak begitu jauh dari padang rumput tadi, mungkin sekitar 15 menit kami sampai disebuah gerbang besar bertuliskan bahasa yang tidak kumengerti.
Apa benar aku berada didimensi yang lain? Sebuah rumah sederhana tapi nyaman, dengan halaman yang tidak begitu luas ditanami dengan berbagai macam sayur dan bunga warna-warni seperti yang kulihat dipadang rumput tadi. Rumah Lex bernuansa kayu dengan interior seperti yang ada di desa.
Seorang wanita paruh baya dengan menyulam sebuah syal, duduk takzim di kursi goyangnya sambil bersenandung ria menikmati indahnya pemandangan disore hari. Bahkan kedatangan kami seakan tak mengusik ketenangannya.
"Nek, Lex pulang"
Wanita paruh baya yang dipanggil Lex pun menghentikan aktivitasnya dan memandang ke arah kami sebelum ia bangkit dari kursi goyangnya menyambut kedatangan kami dengan senyum hangatnya. Sejenak nenek itu mengingatkanku pada eyangku yang sudah tak ada.
"Oh, kau sudah pulang nak, Eh, dan kau siapa?"
"Selamat sore nyonya, saya Pink." Kataku sambil menunduk takzim menghormatinya.
"Dia berasal dari dimensi lain nek" Sahut Lex tiba-tiba.
"Eh, sudah lama kami tidak menerima tamu dari dimensi lain, selamat datang di kota Sparkle Pink, kau bisa memanggilku nenek Xandra." Katanya lembut sambil menuntunku ke arah kursi ruang tamu.
"Baik nek" Jawabku sambil mengangguk tersenyum.
"Bagaimana kamu bisa berada disini nak?" Tanyanya antusias
"Eh, saya juga tidak tahu nek" Ucapku jujur.
Sejenak aku pun teringat dengan lionton yang aku buka tadi, bagaimana aku bisa sampai disini? dan bagaimana aku kembali nanti?
Terima kasih bagi teman-teman yang mau mampir dikaryaku, Hehehe! Maaf bahasanya masih belepotan. Oh iya aku menulis cerita ini berdasarkan mimpi-mimpi malamku yang terkadang sampai berkelanjutan. Maaf juga masih slow update, karena saya juga masih pelajar, terkadang masih sudah membagi waktunya. :) Semoga kalian suka. Jangan sungkan-sungkan meninggalkan komen, like dan rate bintang 5 nya ya :) Terima kasih.